Strangers Helping Strangers
Editor | Kolom Tetap | April 20th, 2009
Oleh: Maria Saumi*
Genggaman tangan kami terlepas. Saya terbawa arus massa yang besar. Saya mencoba untuk menepi, menguatkan diri dari desakan orang-orang di sekitar saya, dan terus perlahan-lahan mencoba berjalan. Berjalan, berdesak-desakan menuju ke arah pintu keluar. Sendiri, terpisah dari kekasih saya, juga teman-teman yang ikut dalam liburan bersama kami. Ratusan orang berjejalan, setelah menikmati acara pesta kembang api berkerumun di Twin Tower, Kuala Lumpur, Malaysia malam itu. Malam pergantian tahun, new year eve 2008 ke tahun 2009. Setelah acara usai, semua orang menuju pintu keluar. Padahal sebelumnya, baru dalam hitungan menit, situasi kami amatlah berbeda.
Beberapa menit sebelumnya, kami sangat bahagia menikmati berhamburannya kembang api ke udara dengan berbagai macam bentuk dan warna, sambil membuat harapan-harapan baru, menyongsong tahun yang juga baru. Hamburan pesta kembang api yang menjadi acara puncak sekaligus penutup di setiap acara pesta malam tahun baru. Hingga selesailah sudah acara itu.
“Di mana kekasih saya, saat saya terombang-ambing oleh desakan orang-orang di sekitar saya?” tanya saya dalam hati. Orang-orang di kanan-kiri, depan-belakang saya terasa dempet, menempel lengket hingga ke kulit saya, terasa sangat panas dan gerah—karena saking dekatnya jarak saya dan mereka. Situasi yang tidak terkendalikan ini sedikit memicu aksi keributan anak-anak muda (ABG), walaupun akhirnya tidak terjadi kejadian yang terlalu mengkhawatirkan.
Ternyata usut punya usut, setelah bertemu di arah menuju pintu keluar, kekasih saya memberikan penjelasan mengapa ia melepaskan genggaman tangan saya ketika berada di kerumunan massa tadi. Dia memang dihadapkan oleh dua pilihan. Dilema antara terus menggenggam tangan saya, atau membantu seorang ibu dan anak kecilnya. Memang, tadi persis di depan kami, ada seorang ibu, dengan anaknya yang baru berusia mungkin batita, berada dalam stroller-nya, terseok-seok, berjuang dengan impitan kerumunan massa yang menyeruak menuju arah keluar dari arena pertunjukkan pesta kembang api di lapangan Menara Kembar malam itu.
Kekasih saya terpaksa mengambil pilihan dengan menolong ibu dan anaknya yang masih kecil itu ketimbang diri saya. Kok? Alasannya, karena menurut pertimbangannya, saat itu kondisi saya dianggapnya lebih “berdaya” dibandingkan dengan ibu dan anak itu. Lagipula, saya masih kuat dan masih bisa berjalan mengikuti beberapa teman saya yang berada beberapa meter di depan saya. Walaupun memang agak sedikit terhalangi oleh orang-orang asing di depan, belakang, kanan, dan kiri saya.
Pilihannya tersebut membuat kami bertengkar, saat itu, dan saya jadi senewen karenanya. Pikir saya dalam hati, “Kenapa sih ibu itu pakai bawa anak kecilnya segala malam-malam?” Anggota keluarga lainnya ke mana, suaminya di mana? Terus, kenapa dari sekian banyak lelaki yang ada di sana, kok cuma kekasih saya yang beri perhatian lebih kepada si ibu itu dan anak batita-nya itu? Saya tahu dan menyadari, di level berpikir ini, saya telah mengedepankan kecemburuan dan keegoisan saya pribadi di atas yang lainnya. Memang kadang-kadang, sejujurnya itulah diri saya.
Saya mungkin tergolong pribadi yang lebih mengutamakan memberikan kebaikan atau kebajikan untuk golongan terdekat saya dahulu. Setelah itu, baru saya mencoba lingkaran di luar diri saya. Pribadi saya memang biasa saja, umum, ordinary people. Perbedaan pandangan ini mungkin yang memicu pertengkaran kami saat itu, yang menurut saya seharusnya sayalah yang lebih didahulukan, karena kondisi juga bisa membuat saya tertimpa kejadian yang tidak diinginkan saat itu. Realitasnya, saya juga terdesak dan hampir kehabisan napas, karena kerumunan orang. Tapi sekali lagi, itu adalah pilihannya. Saya terpaksa menghormatinya, walaupun bertengkar adalah sebagai suatu konsekuensi bagi kami berdua.
Kekasih saya berargumen, apa salahnya membantu orang lain yang tidak kita kenal sama sekali? Apalagi bersifat darurat. Lagipula, dia berpikir jika, jika tidak ada aksi pertolongan, maka akan dapat menelan korban jiwa. Sebenarnya, memang tidak ada yang salah atas tindakannya itu. Yang salah memang respon saya yang berlebihan terhadap tindakannya itu. Walaupun kondisi perasaan saya dongkol, toh dalam hati saya yang paling dalam, saya membenarkan tindakan kekasih saya pada malam itu.
Pikiran saya seperti disentakkan kembali ketika zaman kuliah dahulu. Pulang pergi naik bus umum. Pada suatu hari, ada suatu kejadian “aneh” ketika saya berada dalam bus umum menuju kampus saya di Depok. Entah mengapa saya yang duduk bersebrangan dengan seorang bapak. Tanpa setahu saya, ongkos bus saya ternyata telah dibayari oleh bapak itu. Sehingga siang itu, saya tidak perlu lagi membayar ongkos bus tersebut. Perasaan saya pada saat itu, jujur saja antara senang karena telah dibayari, juga takut dan bertanya-tanya karena kebaikan orang asing, orang yang tidak kita kenal sebelumnya. Takut bila ternyata kebaikannya itu cuma menutupi niat jahatnya saja (saya memang agak paranoid tentang ini).
Kondisi itu tidak bisa saya tolak, toh ongkos bus telah dibayar olehnya. Tentu saja ucapan terimakasih dan senyum malu-malu dan takut saya berikan kepada bapak yang baik hati itu. Mungkin, tampang saya sangat memelas saat itu, atau memang terlihat banyak pikiran, atau si bapak itu memang ingin melakukan perbuatan baik saja hari itu, tanpa maksud dan tujuan apa pun. Sampai sekarang, peristiwa itu tetap jadi misteri bagi saya.
Memberi dan menerima
Profesor Sonja Lyubomirsky dari Universitas California melakukan riset hubungan antara kebaikan yang dilakukan dengan kebahagiaan seseorang (Reader’s Digest edisi Maret 2009). Dalam penelitiannya itu, seluruh participant melakukan kebaikan apa saja selama lebih dari 10 minggu. Bahkan, kebaikan dalam skala kecil pun, misalnya membantu membukakan pintu bagi orang yang tidak kita kenal sama sekali. Riset ini menunjukkan bahwa kebaikan ternyata juga dapat menimbulkan kebahagiaan.
Hasil penelitian juga menunjukkan, bahwa tidak ada bedanya kebahagiaan yang didapat jika Anda membantu kesulitan baik itu orang asing ataupun orang yang kita cintai dan sayangi. Yang berbeda hanya dari efek/dampaknya. Perbuatan kebaikan kecil kepada orang yang tidak kita kenal membantu terciptanyanya perasaan seperti menjadi “seseorang yang baik”. Tetapi, bila hal itu dilakukan kepada orang yang kita kenal, efek atau hasilnya mereka sungguh-sungguh sangat berterimakasih kepada kita, dan menganggap kita sebagai orang yang benar-benar “teman”. Sehingga, terciptalah hubungan yang lebih baik dari sebelumnya.
Sementara, Profesor Stephen Post, penulis buku Why Good Things Happen to Good People? telah mempelajari dan membuktikan bahwa melakukan kebaikan adalah bagus buat kesehatan. “Ada korelasi yang kuat antara berbuat baik, kebahagiaan, dan kesehatan seseorang. Kebaikan (kindness) dapat membantu mengatur emosi yang berdampak positif bagi kesehatan seseorang.”
Mundur ke tahun 1968, peneliti Bibb Latane dan John Darley menemukan fenomena yang dikenal dengan by stander effect: Fenomena di mana ketika seseorang memerlukan pertolongan di tempat umum, di mana banyak orang berada di sana, malah mendapatkan intensitas pertolongan yang lebih sedikit. Karena, kewajiban menolong terhadap seseorang telah terwakili oleh orang lainnya. Jadi, saling mengandalkan orang lain untuk membantu melakukan pertolongan. Di komunitas kota besar, malah perasaan tidak aman timbul ketika berinteraksi dengan orang asing/orang yang tidak kita kenal.
Jujur, saya ikut dalam golongan ini. Saya masih harus belajar dari orang-orang terdekat saya, untuk hal seperti ini. Tindakan yang dilakukan kekasih saya waktu itu termasuk dalam klasifikasi strangers helping stranger dengan tanpa ekspektasi atau tujuan personal apa pun. Kebaikan adalah masalah pilihan, perilaku berbuat baik yang kita lakukan yang dapat membawa perubahan–walaupun kecil, dalam hidup seseorang.
Saat menulis ini, sebenarnya saya pun sedang menunggu kantung-kantung darah dari Palang Merah Indonesia. Kantung-kantung “pemberi kehidupan” yang dapat membawa perubahan level Hemoglobin (butir-butir darah merah) di dalam tubuh Ibu saya, untuk keperluan kesehatannya. Di sini, saya juga sedang menunggu hasil dari proses kebaikan orang lain. Orang yang tidak kenal dengan Ibu saya, dan juga sebaliknya. Jadi, stranger helping stranger, mestinya sesuatu yang lumrah dan wajar dilakukan oleh kita semua, yaitu saya dan Anda. Lalu, tunggu apa lagi?[msa]
* Maria Saumi lahir di Jakarta, 27 Agustus 1976 dengan nama asli Mariatun Meima Saumi. Ia adalah lulusan Jurusan Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Indonesia, tahun 2000. Maria adalah praktisi bidang investasi, dengan spesialisasi futures trading investment, dan saat ini bekerja di PT Sentratama Investor Berjangka, Sudirman, Jakarta. Ia juga alumnus workshop Proaktif “Cara Cerdas Menulis Buku Bestseller” Batch VIII, Februari, 2009 dan dapat dihubungi melalui pos-el: mariasaumi[at]yahoo[dot]com atau nomor telepon: 021-99111527.

April 20th, 2009 at 5:59 pm
Betul Mar, berbuat baik untuk komunitas kota besar memang sedikit rumit. Serba salah, antara mau berbuat baik atau berfikir dua kali untuk waspada, karena beberapa, mungkin trauma dengan kejadian ketika sepintas org butuh pertolongan ternyata malah berbalik menghipnotis atau menjahati kita.
Kalau yang dilakukan kekasih Bu Maria, biasanya hal itu terjadi karena reflex dan naluri penyelamatan sesama manusia muncul mendadak, tidak perduli siapa dia.
April 21st, 2009 at 12:58 am
Kasus yang dilontarkan Maria menarik! Saya kok jadi mikir ya? antara tetap menjaga kekasih (yang saat itu menjadi tanggung jawabnya) dan membantu stranger (yang saat itu benar2 membutuhkan pertolongan). Kalau boleh meminjam istilah test masuk perguruan tinggi jawabannya “B” dua-duanya benar tapi tidak saling berhubungan!
April 21st, 2009 at 8:26 am
Sekali lagi temanku satu ini…menuliskan sebuah pelajaran yang diambil secara mendalam dari sebuah pengalaman yang mungkin bagi kebanyakan orang biasa saja. Mantep!
So, do not talk to strangers…just take your action and help them! Huehehehe…take care Tun, maju truz! Oya, guwe bakal seneng baca komen lu di blog guwe lho…thx!
April 21st, 2009 at 9:01 am
@fita n pak agung: yg jelas pd saat itu dua hari liburan kita jadi sewot2 an..hahahhah
April 21st, 2009 at 10:28 am
nice article tun… kita memang kadang2 lupa untuk menolong sesama, apalagi di sikon sekarang ini yang rawan kejahatan, kita malah bawaannya curiga dan takut mulu sama strangers. Good reminder for us.
April 21st, 2009 at 12:56 pm
pilihan yg sulit, dan akan lebih sulit lagi jika kita dihadapakan pilihan yi menyelamatkan pasangan kita atau ayah/ibu di kala kita hanya diberikan kesempatan olehNya untuk menyelamatkan 1 jiwa dalam suatu kondisi yg sangat2 genting! jadi bagaimana menurut ANDA ???
April 21st, 2009 at 1:24 pm
http://www.MARIALUARBIASA.com
MENARIK!!
April 21st, 2009 at 6:21 pm
kala kita dihadapkan pada suasana yg seperti itu memang kadang action tidak sama dengan perasaan. Namun tindakan kekasih anda memang benar, dan kalau anda bertukar posisi, saya yakin anda akan melakukan hal yg sama karena saya yakin ada kebaikan dalam diri setiap orang. Semoga kita semua bisa menghargai setiap orang walaupun ’stranger’..
April 22nd, 2009 at 11:39 am
Sangat bermanfaat. Semoga kita bisa menjadi orang yang lebih baik setiap waktu, sehingga bisa saling tolong menolong (untuk kebaikan), walaupun mungkin kita tidak mengenalnya.
April 22nd, 2009 at 11:45 am
Mungkin apa yang terjadi di situ, antara Atun dan Sang Kekasih, tidak ( atau belum ya ? ) akan terjadi di kehidupan saya dan eks pacar saya, karena sejak saya kenal dengan eks saya itu hingga sampai sekarang menikah, beliau belum pernah berlaku seperti itu. Seandainya saya dihadapkan dengan pilihan seperti itu, jujur, saya akan lebih memilih beliau untuk menolong ’stranger’ yang membutuhkan… tapi sesuai dengan kepribadian masing2, rasanya saya yang akan maju untuk menolong ibu dan anaknya itu. Kembali lagi…itu tergantung dari pribadi masing-masing… Saya setuju sekali dengan kata2 “kebaikan akan membuahkan kebahagiaan”..intinya seh..ngga pamrih saat menolong…
April 25th, 2009 at 2:35 pm
Saya antusias sekali membaca tulisan ini sampai akhir. Tp mba,perlu ada pesan jg untuk berhati2 dan waspada selalu terhadap strangers. Pasti sering denger kan di film2,”kids, don’t ever talk to strangers ok.”
April 26th, 2009 at 10:07 am
@adit: thx dear..gw dah mampir ke blog lo dr kapan2 tau..tulisanlo dikirim donk ke website2 pak guru…hehe
@myda: you’re the best friend I ever had..
@cifuk: kalo gw belum kawin, gw pilih ortu gw donk. kalo gw dah nikah,gw pilih suami gw..krn gw jg tau, dia pasti sekaligus menolong ortu gw..krn gw yakin dia org baik..hehe..
@riska: berarti lo org baek n ngk cemburuan sis!..good.
@etoy: gw blm pny anak sih..tetapi kalo punya gw jg akan menasehati spy berhati2..tetapi jg hrs menolong kalau memang darurat diperlukan..biar dia jd org baek kyk “bapaknya” hehe