Soul Searching
Editor | Kolom Tetap | April 20th, 2009
Oleh: Alexandra Dewi*
Kita cukup sering mendengar istilah soul searching . Maksudnya apa kadang kurang jelas, sebab soul kan kira-kira artinya roh kita, sedangkan searching maksudnya mencari. Jadi, kalau diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia adalah mencari roh.
Tetapi, kemungkinan besar ketika orang mengatakan “I want to do some soul searching” adalah maksudnya mau menemukan di dalam dirinya sendiri suatu pesan, kepastian, atau jawaban dari apa yang sedang dialami, sehingga dapat membuat keputusan yang tepat, keputusan yang paling bijaksana, keputusan yang terbaik.
Biasanya, baik saya atau orang lain yang sedang soul searching tengah mengalami suatu kejadian dalam hidupnya, yang butuh ketenangan luar biasa untuk bisa mengumpulkan pikiran dan hati, serta meramunya menjadi suatu ketenangan batin. Lantas, kondisi itu dapat digunakan untuk membuat keputusan akan langkah apa yang mau kita ambil dalam menghadapi dinamika kehidupan yang sedang dialami.
Tidak sedikit orang pergi ke luar kota, bahkan ke luar negeri untuk melakukan soul searching itu tadi. Berdiam diri, di luar hiruk-pikuk lingkungan yang bisa tambah membingungkan, dan lebih pusing lagi kalau ditambah hiruk-pikuk pikiran sendiri. Intinya: berdiam diri.
Berdiam diri , untuk sebagian orang mungkin mudah dilakukan karena sudah menjadi habit. Tetapi, sebagian orang menemukan berdiam diri—mendekatkan diri kepada Tuhan, apa pun agama yang dianut, ternyata susah-susah gampang, gampang-gampang susah. Ketika pergi ke luar kota, tetap saja tidak berdiam diri–wong bawa laptop, bawa HP, atau bawa BlackBerry. Atau akhirnya, pergi dengan teman malahan, wisata di kota tersebut.
Belum lama ini, saya berangkat ke Singapura dan ke Bangkok bersama suami saya, dan kebetulan BlackBerry saya mati di sana. Tidak bisa jalan walau diapakan saja. Hari pertama saya kesal sekali, tetapi lama-lama saya malah bersyukur BlackBerry tersebut tidak jalan. Karena, saya bisa benar-benar fokus akan apa yang ada di sekeliling saya, dan juga akhirnya dapat—walaupun awalnya terpaksa—berdiam diri.
Ketika berdiam diri bukan artinya saya meditasi, bukan juga saya mengurung diri di kamar, tetapi saya benar-benar ada di saat itu. Pikiran, batin, dan semua panca raga ya ada di situ, di detik itu, di tempat itu, di saat itu. Sebenarnya, itu pengalaman yang berharga. Kita selalu mau semua serba cepat, sibuk membuat rencana, dan tanpa disadari lupa bahwa sekarang ya sekarang. Makanya, ada perkataan, “Yesterday is history, the future is mystery, today is the present.” Makanya, today atau hari ini adalah hadiah.
Kembali ke soul searching dan berdiam diri—sebenarnya bisa kita lakukan di hari Minggu misalnya, tanpa harus ke luar kota atau ke luar negeri. Saya masih belajar bagaimana bisa berdiam diri. Ayah saya berkata, bahwa mengendarai mobil pelan-pelan ternyata lebih susah daripada mengendarai mobil dengan tancap gas, alias fast and furious. Sama dengan kehidupan sehari-hari, anxiety, keinginan semua cepat beres, membuat kita kadang mengambil keputusan terburu-buru, atau bahkan melakukan aktivitas ini dan itu, yang belum tentu ada faedahnya. Yang ada malahan distraction/pengalihan perhatian daripada berdiam diri, dan ‘mendengarkan’ emosi/roh kita yang sebenarnya bisa memberikan pesan-pesan kepada kita, terlebih kalau kita peka dan mau latihan mendengarkannya.
“Mendengarkan” emosi diri bicara kepada diri kita belum tentu merupakan pengalaman yang selalu menyenangkan. Kita bisa sedang merasa kosong, merasa takut, atau mungkin marah, kecewa dan lain sebagainya, yang mana semua emosi negatif. Namun, emosi yang positif pun seperti rasa content, rasa senang, rasa tenang, juga tidak bisa benar-benar kita nikmati kalau kita tidak berdiam diri sejenak . Semua emosi tadi ternyata menyampaikan pesan yang sangat penting untuk hidup kita, atau tepatnya earth school/sekolah dunia.
Di dunia kita diberi berbagai macam tes dan berbagai macam ujian lewat pengalaman kita, baik pengalaman menyenangkan atau pengalaman kurang menyenangkan. Kalau kita sudah lulus dari suatu tantangan di sekolah dunia ini, maka akan ada tantangan baru. Terus demikian, karena kita di dunia ini ternyata ada untuk belajar. Tetapi, pada umumnya orang mengeluh, “Masalah itu tidak ada habisnya, habis masalah ini selesai, lantas ada masalah itu. Habis itu selesai…. Ada lagi dan ada lagi!” Padahal, sebenarnya masalah itu, ya itu dia tadi tes, ujian, atau pelajaran buat kita semua selama alamat kita masih di dunia ini.
Dan kita diberi emosi–makanya orang perlu soul searching segala–adalah sebagai guidance/petunjuk untuk kita lulus dari segala ujian tersebut. Hanya saja, karena kita sibuk membuat rencana, sibuk melakukan ini dan itu, mencari jawaban dan kepuasan eksternal, lama-lama kita akan merasa berdiam diri itu juga menjadi suatu tantangan.
Akhirnya, saya coba berlatih. Pertama, apa yang saya lakukan saat itu, saya coba benar-benar ada di moment tersebut. Bukan hanya badan dan pikiran saya saja, tetapi hati saya pun ada di sana. Kedua , latihan berdiam diri. Teman saya yang sudah menemukan yang dia sebut “keintiman dengan penciptanya” bersaksi bahwa setelah ia benar-benar merasa intim dengan penciptanya, ia merasakan hidup ini indah luar biasa. Saya benar-benar harus ngantri ikut program itu.
Teman saya ini pulalah yang mengatakan bahwa berdiam diri, mendengarkan emosi kita sendiri bicara kepada kita, jujur kepada diri sendiri, dan membangun kedekatan dengan yang Mahakuasa, itulah yang perlu kita lakukan. Walaupun tidak jarang dorongan semacam ini ditemukan ketika seseorang mengalami masalah yang cukup berat.
Jadi, akhirnya berputar-putar: Masalah terjadi sebagai bagian dari sekolah dunia/earth school. Untuk lulus kita harus belajar berdiam diri dan mendengarkan emosi kita yang mau menyampaikan pesan kepada kita. Bagian dari berdiam diri dan mencari kedekatan kepada Tuhan, mencari petunjuk akan apa yang Tuhan inginkan dari kita (bukan melulu minta kepada Tuhan apa yang kita inginkan supaya terjadi) sering kali bukannya dilakukan dan malah kita hindari dengan melakukan berbagai macam aktivitas, belanja, nonton, kerja atau apa saja deh, asal tidak diam untuk merasakan emosi kita yang tentunya tidak selalu emosi positif.
Karena diam, merasakan emosi negatif bukan pengalaman yang menyenangkan—akhirnya segala distraction kita lakukan, yang ujung-ujungnya menimbulkan banyak masalah lagi.
Dan lama-lama, masalah bisa semakin berat sehingga ujung-ujungnya… ya tetap juga harus soul searching atau berdiam diri, entah dengan doa di dalamnya atau tidak—tetapi biasanya, siapa lagi yang kita cari kalau sudah dapat masalah yang berat, kalau bukan Tuhan?
Jadi saya coba urut-urut, daripada toh ujung-ujungnya saya harus berdiam diri dan berdoa (tapi dengan “suka paksa” karena masalah sudah sangat rumit), bukankah lebih baik, kalau tidak yang terbaik, untuk latihan berdiam diri sejenak dan latihan mendengarkan emosi kita? Dan, kita bisa minta petunjuk kepada Tuhan lewat roh kita untuk bisa lulus dari segala macam ujian di earth school ini? Kalau tidak dengan suka cita kita lakukan, kemungkinan besar dengan suka paksa, soul searching mencari tahu apa yang Tuhan mau kita lakukan, akan tetap harus jadi jalan satu-satunya.[ad]
* Alexandra Dewi adalah seorang eksekutif sebuah perusahaan, penulis buku Queen of Heart dan co-writer buku I Beg Your Prada. Saat ini sedang menantikan penerbitan bukunya yang ketiga tentang fashion, dan yang keempat tentang kehidupan rumah tangga.
April 25th, 2009 at 3:18 am
Alexandra dewi bisa belajar berdiam diri, mendapatkan ketenangan batin dekat dengan tuhan. Aku susah belajar berdiam diri, kalo ngambek aja berdiam diri. Itu juga ngambeknya gak lama hahaha:)