Songket Minang, Tenun Lama yang Hampir Hilang
Editor | Kolom Lepas | October 28th, 2009
Oleh: Linda Helvira*
Bertamu di rumah seorang Arsitek Swiss, Benhard Bart, yang telah bertahun-tahun mendalami sSongket di Asia, akhirnya membuat saya tertarik dengan songket lama minangkabau. Saya bertamu ke kediamannya Kompleks SMKN 1, Batu Taba, Ampek Angkek Agam, Sumbar setelah membaca bukunya yang sarat dengan pendapat-pendapat para budayawan, penghulu, dan sesepuh Minang, yang telah membuka satu per satu pemahaman saya tentang budaya Minangkabau.
Songket yang dihasilkan melalui helaian benang-benang yang ditenun itu ternyata mengandung makna yang dalam, yaitu tentang perjalanan kebudayaan dan masyarakat Minangkabau. Pada motif sebuah songket lama, kita dapat melihat daya hidup dan kreativitas nenek moyang Minangkabau 100 tahun yang lalu. Motif-motif songket minangkabau ditampilkan dalam wujud simbol-simbol alam terutama tumbuhan yang kaya makna tersurat, tersirat, bahkan tersuruk. Berikut contohnya:
1. Motif kaluak paku (pakis), menyiratkan bahwa pentingnya bersikap introspeksi karena pucuk paku bergelung ke dalam terlebih dulu baru keluar.
2. Motif pucuak rabuang (bambu), menyiratkan bahwa bambu selalu bisa dimanfaatkan dari muda sampai tua. Dari rebung untuk dimakan sampai bambu untuk kerajinan. Dan, makna tersirat juga dapat dilihat bahwa semakin tua dan berpengalaman orang Minang hendaknya semakin merunduk.
3. Motif bungo antimun (mentimun), yang mana mentimun selalu dapat dimanfaatkan. Selain dapat dimakan mentimun juga berguna untuk perawatan kecantikan. Dari cara tumbuhnya yang menjalar dan selalu melekatkan akarnya ke penopang seruas demi seruas, makna tersuratnya menurut Abdul Hamid Dt. Rangkayo Sati adalah melakukan sesuatu haruslah secara sistematis dan mengakar. Atau, jika beragumentasi harus jelas dan dengan dalil yang kuat.
4. Motif bijo (biji bayam), yang mana tanaman bayam mudah tumbuh di mana saja. Jika sudah tua bijinya yang halus dan ringan mudah menyebar. Ini diumpamakan bahwa seorang berilmu memberikan ilmu dengan ikhlas dan menerima imbalan juga dengan ikhlas. Dalam budaya Minangkabau, murid biasanya mengisi cupak nan tangah (mengisi tempat beras di rumah gurunya) sesuai kemampuannya.
5. Motif ilalang rabah (rebah), yang artinya ilalang yang rebah jangan diinjak dengan sembrono. Sebab, akarnya yang merentang tersembunyi bisa menjadi ranjau yang dapat menjatuhkan. Artinya, kewaspadaan, kehati-hatian, dan kecermatan seorang pemimpin adalah hal yang utama. Kekuasaan harus bersifat arif agar tidak terjadi kesewenang-wenangan. Tidak selamanya orang lemah menyerah pada penindasan. Bahkan, akar rumput pun bisa menjelma kuat hingga meruntuhkan kezaliman.
Ada lebih dari 14 motif lagi yang sarat dengan filosofi adat Minangkabau yang tersembunyi di dalam songket lama yang pengerjaannya lebih rumit. Namun, zaman dulu nenek moyang kita mengerjakannya dengan ketekunan dan kesungguhan hati. Motif-motif tersebut saat ini tidak sepenuhnya ada lagi karena kerumitan dan tuntutan pasar yang semakin menyamarkan arti filosofi Minangkabau tadi. Saat ini, mungkin melalui generasi muda, budayawan, serta kebijaksanaan pemerintah yang mengertilah yang perlu merevitalisasi kembali tradisi songket lama minangkabau. Ia merupakan identitas budaya yang hampir dilupakan. Semoga songket lama minangkabau lestari.[lh]
* Linda Hevira adalah seorang wanita multi-talenta yang menjabat direktur di CV Komitmen. Selain menjadi dosen, ia juga berprofesi sebagai motivator, instruktur model, dan sering juga menjadi MC, juri, pembaca puisi, pemain teater, dan presenter televisi. Saat ini Linda sedang menantikan penerbitan beberapa buku. Linda tinggal di Bukittinggi, Sumatera Barat, dan dapat dihubungi melalui pos-el: lindahevira[at]gmail[dot]com atau blog: lahevi.blogspot.com.
October 30th, 2009 at 9:12 pm
Mantap bu Linda, lestarikan terus hasil karya seni dan budaya kita
October 30th, 2009 at 9:38 pm
bangkitkan budaya kita, seperti mambangkik batang tarandam