Siapa Mau Menjadi Tua?
Editor | Kolom Lepas | April 28th, 2009
Oleh: Ingrid Gunawan*
Hari libur Nyepi kemarin, saya pergi ke panti werdha, panti perawatan orang tua. Berarti dalam bulan tersebut saya sudah dua kali mengunjungi panti werdha dengan tempat yang berbeda. Di awal bulan ke Parung, dan di akhir bulan ke Bandung. Sebenarnya, bukan masalah di mana tempat panti werdhanya, karena keduanya sama-sama menampung para orang tua yang harus tinggal sendiri di sana. Sebab, tidak ada keluarga yang mengurus, atau tidak ada yang mau mengurus dengan berbagai macam alasan. Bisa karena alasan ekonomi, atau bisa juga karena anaknya tinggal di tempat yang jauh. Dan, ada juga yang memang tidak mempunyai anak serta saudara yang bisa ditumpangi.
Apa pun alasannya, ketika saya bertemu dan melihat mereka, saya sedih bahkan menangis. Bukankah ketika kita berulang tahun, orang sering kali mengucapkan selamat panjang umur? Jadi, kita pasti akan menjadi tua, dan dengan semestinya tubuh jasmani akan mengalami kemunduran-kemunduran. Tenaga akan melemah, pendengaran, penglihatan, dan penciuman semakin menurun, sehingga akhirnya mau tidak mau kita akan menjadi tergantung pada orang lain.
Orang-orang tua yang tinggal di panti werdha umumnya banyak yang sudah lemah fisik dan tidak kuat lagi melakukan pekerjaan. Bahkan, berjalan pun ada yang sulit. Kami tiba di Panti Werdha Senjarawi, (kenapa yah, namanya kok dipilih sesuai dengan kondisi penghuninya?) saat masih cukup pagi. Sebagian besar orang tua yang masih sanggup berjalan sudah berkumpul di serambi gedung. Mungkin ada sekitar 60 orang dan mereka sudah bersiap untuk memuji Tuhan.
Setelah duduk sebentar, saya berjalan ke samping gedung dan melihat-lihat keadaan kamar-kamarnya. Dalam satu bangunan ada tiga ruang yang diisi oleh tiga orang, masing-masing satu sekatan dan di ujung kamar ada kamar mandi. Akhirnya, saya berjalan ke arah belakang dan melihat ada seorang emak tua yang sedang berdiri di balik pintu, berpegangan pada ambangnya. Saya hampiri dia dan menyapanya, apakah dia mau keluar dan saya bermaksud membantunya karena jalannya sudah susah.
Dia hanya meraba untuk berpegangan pada pinggiran benda-benda yang dilewatinya, tubuhnya sudah bungkuk. Tetapi, ternyata dia tidak mau saya bantu, malah berjalan masuk dan menuju ke kamarnya. Saya mengikutinya karena memang ingin tahu seperti apa sih kamarnya. Ada satu tempat tidur nomor 3, kursi rotan, rak samping, dan lemari tua di ujung menutup sebagian jendela. Kamarnya cukup bersih, dan emak itu pun bersih, sepertinya baru mandi. Dia menyuruh saya duduk di kursi rotan yang ada, sementara dia sendiri duduk di pinggir ranjang.
Saya tanya, “Emak, sudah lama tinggal di sini?”
“Sudah sudah 6 tahun di sini. Sebelumnya kamarnya di sebelah depan. Karena banjir (ditunjukkannya bekas banjir yang membekas di tembok), lalu dipindah ke sini. Di depan 30 tahun….”
“Hah…! Sudah 36 tahun tinggal di panti werdha?!” tanya saya dalam hati.
Kemudian, dia bercerita masa lalunya, bahwa dia orang Semarang, namanya Anna Oei, anaknya satu, cucunya dua orang, suaminya sudah lama meninggal ketika masih muda. Dia bilang, “Dulu saya guru, pernah kerja di Jakarta di rumah sakit Yang Seng Ie (sekarang RS Husada) sebagai perawat merangkap bagian pemberian obat.”
Dan, masih beberapa saat dia bercerita, kalau saya total-total dari ceritanya umurnya berarti 91 tahun. Sebelum ceritanya habis, saya pamit keluar sebentar karena takut nanti dicari teman-teman yang lain. Memang, acara puji-pujian sudah hampir selesai dan dilanjutkan dengan pembagian bingkisan yang kami bawa dan makan siang yang telah dipesan.
Saya ambil beberapa bingkisan untuk dibagi-bagikan kepada oma-oma dan opa-opa, termasuk saya mau kembali ke kamar si emak Anna Oei tadi. Saya lihat dia sudah keluar dari kamarnya dan berdiri lagi di balik pintu. Kemudian, saya berikan bingkisan untuknya, dan dia mengucapkan terima kasih, lalu berjalan ke kamarnya.
Kembali saya ke luar untuk memberikan bingkisan kepada penghuni panti lainnya dan melewati lagi kamar emak itu. Saya lihat dia sedang berusaha membuka kantong kertas bingkisan yang distaples. Lalu, saya membantu membukakan dan mengeluarkan isinya. Yah, karena saya yang membungkusnya, saya sudah tahu isinya. Saya keluarkan handuk, mug plastik, dan biskuit. Dia bilang, “Bagus yah, bagus yah….” Mukanya pun berseri-seri.
Saya bilang, “Dipakai, ya handuk dan mugnya, biskuitnya dimakan….” Dia bilang mau kasih lihat anaknya dulu. Ternyata, seorang ibu tetap saja ingat anaknya, apakah demikian juga dengan anak akan selalu mengingat orang tuanya? Saya sih sungguh berharap, begitulah adanya.
Karena waktunya sebentar, saya segera berpamitan. Saya bilang, “Hati-hati ya, Tuhan Yesus memberkati.” Dia bilang terima kasih dan Tuhan memberkati saya juga. Dia sempat bertanya apakah saya sudah berkeluarga, saya bilang belum. Dia segera mendoakan saya agar mendapatkan jodoh dan berkeluarga. Kemudian, kami berpelukan dan saling mendoakan. Lalu, saya buru-buru meninggalkannya sebelum air mata saya mengalir, saya tidak mau menangisinya.
Saya sungguh menghimbau teman-teman yang masih mempunyai orang tua, agar menjaga dan merawat orang tua Anda. Jangan pernah menaruh mereka di panti werdha. Bukan panti werdhanya yang tidak baik, bahkan saya sungguh salut dengan para pengurusnya yang bersedia mengurus para orang tua itu. Namun, perasaan tidak dikasihi dan ditinggalkan sendirian itulah yang membuat sedih. Ketika mereka sudah tidak mampu melakukan sesuatunya sendirian, ah… enggak tega deh memikirkannya. Hormati dan kasihilah orang tua Anda, agar damai sejahtera hidup Anda. Amin.[ig]
* Ingrid Gunawan adalah seorang executive secretary sebuah perusahaan swasta. Meminati bidang tulis-menulis, aktif dalam pelayanan sosial, dan ia dapat dihubungi melalui pos-el: ingridguna[at]yahoo[dot]com.
Leave a Reply