Siapa Jesus?

msOleh: Miranda Suryadjaja*

Tuhan Jesus, Raja Diraja, itu adalah Jesus versi seorang teman saya yang Kristen. Ada pula yang menyebutnya Jesus Kristus. Hhmmmm… ini berbeda dari pengalaman saya tentang Jesus atau Jeshua. Mungkin anggapan umat Islam yang percaya bahwa Jesus adalah seorang Nabi adalah lebih dekat dengan anggapan Jeshua tentang dirinya. Jeshua ben Joseph yang saya kenal selalu menekankan bahwa Jesus tidak berbeda dengan kita, bahwa Jesus adalah saudara tua kita, dan apa yang Jesus lakukan kita pun bisa melakukannya, bahkan lebih sekalipun. Jesus tidak membutuhkan semua puja-puji dari umat manusia, maupun pengakuan bahwa Ia yang tertinggi.

Tuhan tidak sama dengan Jesus. Jesus menyebut Tuhan sebagai Bapa/Ibunya, sumber dari segala yang ada. Meskipun kita adalah satu dengantanpa pembatas dan tanpa pemisahTuhan tetap adalah Sang Pencipta dan kita, seluruh dan semua yang ada adalah yang diciptakan.

Yang membedakan kita dengan Jesus ialah bahwa sejak kecil Ia telah diajarkan oleh guru-guru-Nya, dan kedua orang tua-Nya, untuk mengenal dan melihat Tuhan pada semua yang ada. Ketika Ia berusia dua belas tahunan, hal favorit-Nya adalah duduk di pesisir pantai dan menatap alam semesta sembari bertanya, bagaimana semua ini ada? Lewat pertanyaan yang terus-menerus Dia ulang, Ia diyakinkan bahwa kita bukanlah pencipta, melainkan yang diciptakan. Kita tidak menciptakan anggota tubuh kita, kita tidak bisa menciptakan impuls yang menggerakkan tangan kita. Kita tidak bisa menciptakan pohon, langit, bintang, air dan sebagainya. Dan, siapa diri kita bukanlah badan kita, pikiran kita, perbuatan kita, identitas kita, melainkan sesuatu yang tidak pernah berubah, tidak dapat berubah dan tidak akan berubah, dan abadi selamanya.

Bahkan, kejadian penyaliban-Nya pun dijalani-Nya dengan penuh kesadaran untuk mengetes diri-Nya sendiri seberapa besar keyakinannya akan Tuhan, dan bahwa jasadnya tidak kekal, namun yang ada dalam diri-Nyalah yang kekal dan satu dengan Tuhan. Bukan untuk menyelamatkan dan menebus dosa-dosa manusia melainkan untuk mengingatkan diri-Nya dan mendemonstrasikan bahwa Tuhan itu ada dan siapa kita sebagaimana kita diciptakan oleh Tuhan kekal dan abadi adanya.

Penyelamatan atas umat manusia hanya dapat dilakukan oleh diri kita sendiri. Kedatangan Sang Juru Penyelamat yang kedua kalinya tak lain dan tak bukan ialah kesadaran dan pengakuan manusia sendiri tentang siapa dirinya yang sebenarnya, ciptaan Tuhan yang tidak terbatas, tidak dibatasi oleh ruang dan waktu, yang kekal dan abadi untuk selamanya.

Kesadaran dan pengakuan itu akan tuntas tatkala manusia telah bisa merangkul, mencintai, dan memaafkan dirinya sendiri dari semua penilaian (judgment) atas persepsi yang diciptakannya secara salah (perceptions made in error) dalam ketidaktahuannya (ignorance).

Jeshua juga mengingatkan dan mengimbau berulang kali agar umat manusia selalu mulai dengan pertama-tama mencari kerajaan Tuhan terlebih dahulu, dan dengan demikian semua akan diberikan padanya. Maksudnya adalah agar kita mengingat dan berserah diri pada Tuhan sebelum kita melakukan segalanya, bahkan sebelum kita menghirup napas maka semua akan baik dan benar adanya.

Banyak orang berdoa mengatakan hal yang sama, namun pada kenyataannya tetap ngotot memakai pikirannya sendiri. Saya pun terkadang, walau telah mengatakan Apa Kau ingin aku lakukan, Tuhan? terkadang tetap memaksakan kehendak saya, dan mau semua terjadi sesuai seperti yang saya inginkan dan bayangkan.

Sebenarnya, pada waktu kita memanjatkan doa itu, jawabannya begitu instan dan pasti, sebagaimana terdengar dalam batin dan hati kita. Masalahnya, kadang yang yang diinstruksikan Tuhan tidak sesuai dengan yang kita harapkan atau seperti yang kita bayangkan, sehingga kita berdebat dengan Tuhan, Tetapi Tuhan itu tidak masuk akal, dan saya tidak mau itu terjadi seperti itu. Kemudian kita berdoa lagi dan memohon jalan dari Tuhan. Dan hebatnya Tuhan, Ia tidak pernah berhenti memberi kita apa yang kita minta. Hanya saja dari 1.000 jawaban yang diberikan-Nya kita menunggu sampai ada yang pas dengan kemauan kita.

Atau, kita tidak percaya bahwa kita berhak mendengar langsung dari Tuhan, merasa tidak pantas menerima karunia-Nya karena kita mahluk yang penuh dosa dan tidak berarti di mata Tuhan. Sehingga, jadilah kita membuang waktu, berusaha dengan upaya kita sendiri yang terbatas, menemukan rintangan dan hambatan berkali-kali, dan membuat kesalahan yang percuma. Sementara, jalan Tuhan seperti kata Jeshua sangat simple dan mudah kalau kita ikuti seruan-Nya yang pertama kali.

Jawaban Tuhan memang sering kita anggap tidak masuk akal atau susah kalau kita gunakan logika kita berdasarkan apa yang kita tahu. Tetapi, kita tidak sadar bahwa pengetahuan, tingkat kesadaran, dan kemampuan kita memahami Tuhan teramat sangat terbatas. Sehingga, terlalu cepat kita menilai instruksi-Nya sebagai tidak mungkin, atau kita tidak mau melakukannya karena gengsi, karena takut pada apa kata orang, karena merasa tidak mampu. Padahal, tidak ada yang tidak mungkin bagi Tuhan, dan Tuhan tidak mengenal batasan waktu maupun ruang.

Karenanya sering kali kita mendengar atau bahkan menyaksikan dengan kepala sendiri kejadian-kejadian atau mukjizat yang dilakukan oleh para master, avatar, nabi dan orang-orang suci lainnya. Hal itu dapat terjadi karena ketika mereka berdoa dan memohon sesuatu mereka tidak pernah berpikir dua kali untuk melaksanakannya begitu jawaban Tuhan mereka terima. Hasilnya adalah pengurangan waktu yang luar biasa, dan seolah-olah tampak begitu effortless–tanpa usaha sama sekali.

Tuhan selalu mendengar kita. Pikiran kita, keinginan kita, impian kita sebelum kita untai menjadi doa pun sudah terdengar oleh Tuhan. Ada seorang wanita muda yang datang pada saya, karena berharap mungkin saya bisa membantu dia mewujudkan impiannya. Sudah sejak sepuluh tahun yang lalu dia punya dream yang sangat kuat untuk bisa pergi ke Spanyol, untuk bisa berbahasa Spanyol, dan hidup di sana. Dia mendatangi saya karena dia dengar saya bisa berbahasa Spanyol. Gadis ini tampaknya cukup supel, gampang bergaul, cerdas, dan mempunyai kemampuan komunikasi yang baik.

Apa saja yang telah pernah kamu lakukan demi menggapai dream kamu itu? Apakah kamu pernah mengikuti kursus bahasa Spanyol? tanya saya.

Dia mengatakan, Well, saya kan dari keluarga sederhana, sekolah cuma lulus SMA, dan saya merasa pasti akan susah untuk mewujudkan mimpi tersebut.

Wah…wah…wah…, belum-belum sudah negative thinking. Lalu, dia lanjutkan ceritanya dan memberikan saya semua alasan kenapa sangat sulit mewujudkan impiannya tersebut. Padahal, saya lihat dan rasakan memang besar sekali keinginannya. Kalau begini harus cepat di-cut story dan pembenarannya.

Saya bilang, Do you really want your dream so badly?

Yes, jawabnya langsung dan pasti.

Apa yang kamu sedia berikan dan lakukan untuk mencapai dream kamu itu? tanya saya lagi.

Everything! katanya tegas.

OK, saya akan memberi kamu sebuah usul.

Saya beri dia usulyang menurut saya paling cepat dan efektifuntuk langkah pertama menuju pencapaian dream-nya. Yaitu bekerja sebagai housekeeper di tempat teman saya orang-orang expatriate berbahasa Spanyol di Jakarta. Saya paham image bekerja sebagai PRT tidak nyaman baginya. Sudah saya jelaskan mereka ini orang-orang yang saya kenal, dan orang bule biasanya memperlakukan stafnya dengan sangat manusiawi dan terhormat. Bahkan, sering kali lebih baik daripada orang kita memperlakukan pegawai kantornya. Namun, usulan saya itu ditolaknya.

Saya katakan padanya bahwa dengan mulai di sana dia akan banyak berkenalan dengan orang-orang berbahasa Spanyol. Dengan kepribadian dan pengetahuannya, saya yakin dia akan cepat mendapatkan kontak dan kesempatan untuk mendapatkan pekerjaan yang lebih baik dan sepadan.

Namun intinya, seperti saya paparkan padanya, tidak ada yang kebetulan. Sebagaimana disampaikannya dia menemukan saya lewat serangkaian kejadian yang tampaknya tidak disengaja. Saya tanya padanya, sadarkah dia bahwa sebetulnya selama 10 tahun terakhir mungkin telah ratusankalau tidak ribuan kaliTuhan mengulurkan tangan padanya, namun selama ini ditolak terus dengan berbagai dalih ketidakcocokan. Dan sekarang, bukan kebetulan dia dipertemukan dengan saya oleh Tuhan, tetapi masih belum cocok juga usulan-Nya. Mungkin ia harus menunggu sepuluh tahun lagi sebelum dapat jawaban yang pas dengan logika dan kemauannya.

Contoh lagi Ibu saya. Beliau sangat religius, Katolik, dan sangat rajin berdoa. Katanya, dia dekat dengan Tuhan dan yakin doa-doanya pasti dikabulkan Tuhan. Usianya hampir 80 tahun, sakit-sakitan, dan sering dilanda rasa sakit pada bagian-bagian tubuhnya. Beliau bilang sudah pasrah dan siap dipanggil Tuhan, dan selalu berdoa supaya jangan hidup lama tetapi dengan menderita sakit. Cuma, katanya, dia kasihan pada suaminya, ayah saya, yang kalau ditinggal siapa yang urus dan jaga. Jadi, dia mau ayah saya pergi duluan.

Kalau saya jadi Tuhan, permohonan yang saya dengar kira-kira begini: Tuhan, panggil saya kembali ke pangkuan-Mu, saya sudah siap menghadap-Mu kapan saja. Tetapi, tolong jangan saya dipanggil sebelum suami saya berpulang karena nanti tidak ada yang mengurus dia seperti saya mengurus dan menjaganya. Oh ya, Tuhan, selama saya belum dipanggil, tolong hilangkan semua sakit saya, supaya saya tidak merasakan sakit kalau saya harus hidup lebih lama untuk mengurus suami saya. Nah, bingung enggak kalau ada mixed messages seperti itu? Tuhan akan bilang, Jadi maumu apa?

Kita manusia, memang kalau berdoa memohon pada Tuhan sering kali memakai syarat. Dan, dianggapnya Tuhan itu seperti manusia pula. Atau, favorit Ibu saya yang satu lagi: Tuhan beri anak saya kebahagiaan supaya saya bisa bahagia juga. Lho, kok kebahagiaan harus bersyarat? Saya tanya pada Ibu saya: Bagaimana wujud kebahagiaan yang Ibu maksud? Jawabnya: Ya, hidup harmonis, suami-istri tidak bertengkar. Jadi, kalau pas lagi bertengkar, apa kebahagiaan itu sirna? kejar saya. Ya, makanya Ibu tidak mau sering-sering lihat anak-anak. Ibu enggak mau lihat kalau mereka lagi bertengkar.

Aneh ya, rupanya Ibu saya sendiri pun tidak tahu apa wujud kebahagiaan baginya. Yang dimilikinya adalah suatu wujud ideal bagaimana seharusnya kebahagiaan itu menurut anggapan dan keyakinannya. Bukan kebahagiaan yang dirasakan di hati yang tidak ditentukan oleh suatu yang eksternal. Tidak heran kalau ibu saya jarang sekali merasa bahagia. Selalu menunggu, dan menunggu, dan menunggu….

Banyak orang berdoa sembari berjanji, Tuhan kalau saya diberi… saya akan…. Tuhan bukan manusia, yang biasa suka barter dan pakai pamrih. Apa pun yang diminta, Tuhan pasti memberi yang terbaik dan tertinggi bagi kebesaran dan keagungan roh/spirit manusia. Tanpa syarat, bukan kepicikan atau kekerdilan ego manusia yang penuh keterbatasan. Hanya saja persepsi kita dan persepsi Tuhan tentang apa yang terbaik bagi diri kita berbeda.

Andaikata kita belum mau menerima pemberian Tuhan pun, Ia tak akan henti-hentinya mencurahkan berkah dan kasih-Nya, seolah-olah mengatakan, Kau tidak mau yang itu? Ok, bagaimana dengan yang ini, kuturunkan frekuensinya supaya kau dapat menerimanya dalam ilusi keterbatasanmu? Oh, masih belum bisa menerima, Ok, aku turunkan lagi frekuensinya?

Akhirnya, yang kita peroleh… ya sesuai dengan seberapa kita mau menerima anugerah Tuhan, yang kita rasa pantas untuk kita. Setelah banyak waktu berlalu dengan susah payah, setelah kebentur dan blunder di sana sini. Jesus mengatakan bahwa beda Dia dengan kita adalah bahwa Dia selalu bermuara pada Tuhan, dan selalu memilih frekuensi yang setinggi-tingginya, yaitu frekuensi Tuhan, frekuensi Kasih Sayang. Dan, Ia tahu bahwa Ia dan Tuhan satu, karenanya Tuhan Mahatahu, bahkan sebelum kita ucapkan pun, sebelum kita pikirkan pun, Tuhan telah tahu apa yang kita butuhkan.

Sering saya mengalaminya, baru terpikir sesuatu, jawabannya telah datang. Dan, karena cepatnya, bahkan sebelum sempat saya selesaikan pikiran saya, saya tahu itu bukan datang hasil olah pikiran saya sendiri. Karena, kalau saya pikirkan jawabannya tidak akan begitu yang keluar. Sebagian orang akan bertanya, Bagaimana bisa tahu itu datang dari Tuhan? Saya dan Tuhan adalah Satu, berarti segala-galanya hanya ada Satu.

Yang datang pada saya semua datang dari Tuhan, dan karena saya tahu bahwa yang datang dari Tuhan selalu yang terbaik dan tertinggi untuk saya, maka apa pun yang terjadi dalam hidup saya selalu karena Tuhan menginginkan yang terbaik, terindah, dan tertinggi bagi saya. Apa pun wujud kasarnya, betapa tidak mengenakkannya pun tampaknya pengalaman tersebut bagi saya. Karena, kemampuan saya menilai, menganalisis, dan membuat kesimpulan sebagai manusia teramat sangat terbatas.

Intinya ajaran Jeshua hanya satu: I and my Father are One. Kalau kita benar-benar paham itu, kita tahu siapa sebenarnya kita: Perwujudan dari pikiran cinta kasih yang sempurna, tak berbatas, tak berubah selamanya.[ms]

* Miranda Suryadjaja adalah seorang public speaker dan konsultan bisnis yang berdomisili di Bali. Selain itu, Miranda juga seorang life coach dan jewelry designer yang meminati bidang motivasi dan pemberdayaan perempuan. Peraih gelar MBA dari National University, San Diego, USA yang juga hobi menulis, membaca, mendesain, dan traveling ini telah dikarunia seorang putra. Saat ini, ia tengah menulis sebuah buku tentang pribadi Yesus dalam kacamata seorang penganut agama Hindu. Miranda dapat dihubungi melalui pos-el: sayamiranda[at]gmail[dot]com atau HP: 0811389432.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 5.5/10 (2 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: 0 (from 0 votes)

2 Responses to “Siapa Jesus?”

  1. Budi Says:

    Ngawur banget nih artikelnya. Mohon utk dituliskan dari perspektif mana Anda menulis artikel ini. Sungguh tidak berdasar karena Anda mencoba membahas sesuatu yang perlu disertai dengan landasan, bukan hanya pendapat. Faktanya bisa Anda peroleh di Alkitab yang sudah pasti teruji jauh sebelum Yesus dilahirkan. Sekali lagi artikel Anda tidak berdasar sama sekali. Gunakan hati dan pikiran yang menyatu untuk memahami masalah. Maaf jika saya sangat tidak setuju dengan artikel Anda karena perspektif yang Anda gunakan juga tidak jelas dasarnya dari mana, karena untuk mengetahui siapa Yesus hanya terdapat di Alkitab yang sudah jelas dasarnya. Dan, membaca Alkitab tidak sama dengan metode dan cara memahami buku-buku yang mungkin selama ini sudah sangat banyak Anda baca. Jadi, walaupun Anda katakan bahwa Anda juga mencari informasi dari Alkitab, cara Anda untuk memahami dan menafsirkannya yang masih tidak tepat. Terima kasih.

    UN:F [1.6.9_936]
    Rating: 5.0/5 (1 vote cast)
    UN:F [1.6.9_936]
    Rating: +1 (from 1 vote)
  2. Lina Kartasasmita Says:

    @ Pak Budi, saya setuju pak, kita tidak bisa membaca Alkitab seperti kita membaca buku-buku biasa.
    @ ibu Miranda, maaf bu, saya baru sempat membaca tulisan ibu. Tutur kata ibu bagus sekali tapi isinya yang sulit untuk saya pahami.

    UN:F [1.6.9_936]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    UN:F [1.6.9_936]
    Rating: 0 (from 0 votes)

Leave a Reply

Comment moderation is enabled. Your comment may take some time to appear.

Motivasi Dunia

Motivasi Dunia

Kolomnis

<
Edy Zaqeus Eni Kusuma Avanti Fontana Alexandra Dewi Miranda Suryadjaja Sofa Nurdiyanti
Anang Y.B. Hartati Nurwijaya Aleysius H. Gondosari Sulmin Gumiri Relon Star Sri Budiastuti
Agus Riyanto Iftida Yasar Fida Abbott Ery Prasetyawan Tanenji Ingrid Gunawan
Maria Saumi Ely Susanti Agung Praptapa Putu Adnyana Fita Irnani Nathalia Sunaidi
M Sebastian Wijaya Abdul Muid Badrun Kak Sugeng Akhmad Sirodz Lisa Nuryanti Abidin Noor
Wuryanano Petriza Giovanni Amelia Devina Tri Wahyuni Endang Setyati Vina Tan
Lianny Hendranata Emmy Angdyani Erawati E. Setyo Hartono Fatma Kartika Sari Supandi Radinal Mukhtar Harahap
Sawali Tuhusetya Gatut Heru Susanto Effendi Budi P. Fajar S. Pramono Ade Asep Syarifuddin Melly Kiong
Guntur Novizal Ida Rosdiana Natapermadi Risfan Munir Sri Julianti Sawiji Farelhana Dewi Rhainy
Deni Kurniawan As’ari Johanes Ariffin Wijaya Indari Mastuti Enggar Kusumaningsiwi Daniel Kurniawan Sayuri Yosiana
A.A. Kunto A. Lina Kartasasmita K. Hanna Fransisca Wahidunnaba Yusuf Tantowi Dwiatmo Kartiko
Meta Sekar Puji Astuti M. Adi Prasetyo Abd. Basid Lily Choo Rina Dewi Lina Berny Gomulya
Zee Cardin M. Iqbal Dawami Sidik Nugroho Emmy Liana Dewi Ridwan Sumantri Dwiyana Apriandini
Andrew Abdi Setiawan Gobind Vasdhev J. I. Michell Suharli Yusnita Rifai Gagan Gartika

Check Google Page Rank

Buku Baru

Obrolan yang Bikin Kamu kaya

Judul: Obrolan yang Bikin Kamu kaya
Oleh: Don Gabor
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama, 2009
ISBN: 978-979-22-5073-2
Tebal: xviii + 380 hal

Jangan hanya membangun jejaring luas-berjejaringlah dengan cerdas!
Obrolan yang Bikin Kamu Kaya menyajikan pendekatan baru revolusioner pada topik berjejaring yang tak lekang waktu. Penulis buku laris dan pelatih komunikasi Don Gabor memperkenalkan Anda pada empat gaya berjejaring—Kopetetif, Supel, [...]

Full Story | February 24th, 2010

Best Viewed With Mozilla FireFox