Semangat, Semangat, Semangat!

ggOleh: Gagan Gartika*

Semangat membuat tubuh, jiwa, dan pikiran kita yang terasa lemas menjadi bangkit kembali.

~ Gagan Gartika

Untuk menyegarkan tubuh, pagi-pagi saya suka jalan kaki, sekitar rumah dan keliling stadion di Jakarta Utara. Kata dokter cukup berolahraga tigapuluh menit saja sehari, badan kita sudah sehat. Dan karena itu, saya mencoba menjalankan terapi dokter tersebut. Selain supaya menjadi sehat, biar hidup saya bisa semangat dan bergairah kembali.

Memang terbukti. Pak Jaya misalnya, semula berpenyakit stroke. Untuk melangkah ke depan rumah saja tak sanggup. Namun, ia paksakan agar bisa jalan. Ia sendiri menyesal ketika jatuh sakit. Ia ingin sekali berolahraga, tetapi selagi sehat malas banget sehingga badan hancur dan kolesterol tinggi. Untuk itu, meskipun selangkah dan selagi masih bisa berdiri, ia bertekad bisa melangkah lagi.

Seminggu kemudian, Pak jaya sudah bisa melangkah lebih jauh, meskipun masih di sekitar rumah. Tetapi sebulan kemudian, ia sudah bisa keliling stadion, sama seperti yang saya lakukan. Bahkan, bulan berikutnya ia terlihat mampu keliling dengan bersepeda.

Di stadion terlihat banyak orang berjalan kaki, berlari, dan berolahraga lainnya. Mereka lakukan kegiatan itu setiap pagi. Saya lihat berbagai cara orang ingin sehat. Mereka berjalan sambil mengobrol sama teman, meskipun baru bertemu saat berolahraga. Saya sendiri kadang ikut nimbrung, berbagi cerita sambil jalan pagi. Ada cerita  menggembirakan dan menyedihkan. Dan yang paling kasihan, ada teman yang setiap membuka usaha selalu rugi.

Saat awal, ceritanya, ia buka bengkel kendaraan motor bekerja sama dengan seorang ahli perbaikan kendaraan. Kebetulan ia keluar dari tempat kerjaan pas ketemu saya yang kebetulan baru pensiun. Tak lama dari situ, kerja sama pun terjadi, mereka mendirikan usaha bengkel. Ia kebagian mempersiapkan tempat dan peralatan bengkel, sementara temannya yang mengoperasikan.

Saat awal berusaha bengkel itu banyak pelanggan dan bengkel pun mengalami kemajuan. Namun saat pembagian hasil, sering mengalami kendala. Mereka merasa yang kerja atau bagian operasional langsung perlu mendapatkan bagian lebih. Sementara, teman saya menginginkan uang dikumpul terlebih dahulu—baru dibagi, lagian modal seharusnya kembali dahulu.

“Semula saya mengalah, namun lama-kelamaan ia malah semakin menjadi-jadi. Mengambil uang tanpa sepemgetahuan saya. Wah repot, pikirku. Ujungnya terjadi perceraian, usaha tak berlanjut meskipun dalam keadaan maju, jelas teman saya ini.

Ia menyesalkan kejadian tersebut. Tapi harus gimana? “Meskipun bengkel banyak pelanggan, dan saat awal usaha kita baik-baik saja, bahkan usaha dilakukan dengan semangat sekali, sebelum ada penlanggan, saya dan mereka gencar berpormosi, mulai mengontak tetangga, memperkenalkan dengan menyebar brosur, yang terus menerus, sehingga bengkel dikenal orang. Namun karena permasalahan itu tadi, setelah berhasil pembagian menjadi tidak jelas dan sering selisih pendapat, usaha menjadi bangkrut, meskipun dalam kemajuan dan banyak pelanggan”, paparnya,

Semangat, semangat, semangat!pekik pejalan kaki lainnya yang berpapasan dengan kami, mengingatkan kami agar berolahraga penuh semangat.

Pembicaraan pun terhenti karena stop press dari pejalan kaki tersebut. Kemudian kata teman saya, “Saya bekerja sama dalam membangun perumahan karena melihat kawannya yang berhasil bergerak di bidang itu. Saya menyaksikan sendiri dan datang ke kantornya. Perusahaan dia berhasil mengembangkan usaha properti. Melihat saya pensiun dan menganggur tak ada pekerjaan, saya diajak bergabung mengembangkan lahan baru.

Si teman ini melanjutkan ceritanya, “Karena melihat keberhasilannya, saya bergabung bersama teman lainnya kumpulkan dana untuk membebaskan lahan baru. Kemudian, proses perizinan dan pembebasan tanah dilakukan. Saya yakin banget akan berhasil karena ditangani orang yang berpengalaman. Tetapi, ternyata di luar dugaan proses pembebasan tanah itu tak mulus. Terjadi sengketa. Padahal, banyak uang sudah keluar. Akhirnya, karena tanahnya luas dan banyak uang mati dalam pengurusan tanah tersebut, proyek tak bisa berjalan. Dan, usaha kedua kembali gagal.

Begitulah, nasib setelah pensiun. Menurut teman saya ini, ternyata membuka lahan usaha tidak gampang dan mendingan bekerja saja. Dalam berusaha, katanya, penuh intrik dan tipuan yang belum pernah ditemukan saat bekerja sebelumnya. Belum lagi kita harus berani menanggung rugi. Uang hasil pensiun bisa terkuras habis bila usaha terus begini. “Lantas, harus bagaimana? Kalau diam saja di rumah menjadi jenuh. Ketika berusaha, malah rugi terus!” keluhnya.

“Semangat, semangat, semangat,” teriak pejalan kaki tadi mengingatkan kami saat berpapasan lagi.

Kami yang lagi seru-serunya mengobrol sambil berjalan kaki jadi kaget dan seakan diingatkan. Apa pun masalahnya, kita memang harus tetap semangat berusaha. Memang begitulah, membuka usaha baru tidak gampang karena kita perlu berkenalan dulu dengan usaha yang kita jalankan. Baik mengenai produk, pasar, konsumen, harga, letak lokasi, tenaga kerja, termasuk teman kerjasama, dll. Dalam hal ini saya teringat selagi saya bekerja di perusahaan baru, perusahaan garment asal Korea. Saat awal berpoduksi—untuk menyamakan ritme bekerja—perusahaan mulai melakukan pelatihan karyawan. Kemudian sebelum menerima pekerjaan untuk ekspor, perusahaan terlebih dahulu mengerjakan pekerjaaan subkontrak. Dalam hal ini perusahaan bekerja membantu pekerjaan perusahaan lain yang memang perlu bantuan dan kelebihan order. Pekerjaan subkontrak ini dipakai untuk latihan sehingga pekerjaan dari luar negeri tidak langsung diterima, tetapi lebih menerima pekerjaan asal domestik atau pekerjaan teman.

Enam bulan kemudian tenaga kerja sudah mahir. Mereka sudah seirama dalam mengerjakan sesuatu. Kelemahan bekerja dan kekompakan terus telah mengalami perbaikan selama trial produksi. Setelah hasilnya bagus, kompak, dan lancar barulah perusahaan mulai berani menerima order untuk tujuan ekspor. Dan akhirnya, sebagai tenaga bagian ekspor, saya mulai mengurus dokumen ekspor perdana peusahaan tersebut. Pengguntingan pita perdana oleh pejabat sebagai bukti ekspor perdana sukses. Dan kesuksesan tersebut karena ada kesamaan dalam ritme bekerja yang sudah terlatih sebelumnya; mulai dari pimpinan, karyawan, bagian produksi, cutting, jahit, quality control, bahan baku, packing, dan ekspor terpadu menjadi satu irama kekuatan sehingga usaha bisa berhasil.

“Semangat, semangat, semangat!pekik pejalan kaki yang tadi berpapasan. Memang, apa pun masalah yang dihadapi, kita harus tetap semangat menjalani kehidupan ini. Karena dengat semangat itulah kita sudah membuka peluang agar suatu saat kita bisa berhasil. Jangan lupa, “Semangat, semangat, semangat ya Pak!demikian pesan saya sambil berpisah mengakhiri olahraga jalan kaki pagi itu.[gg]

*Gagan Gartika adalah Praktisi Silaturahmi Marketing (Simark), Pengusaha di bidang Forwarding, Transportasi dan Pengurusan Jasa Kepabeanan pada PT. Kumaitu Cargo dan PT. Penata Logistic. Ia pemilik Lembaga Pendidikan dan Pengembangan Bisnis (LPPB) Sinergi Indonesia. Pendidikan terakhir, S2 Manajemen dari Ibii. Selain itu pada dibidang pengajaran, mengabdi menjadi Dosen Sekolah Tinggi Manajemen Transpor Trisakti, Jakarta. Email: gagan@kumaitucargo.co.id atau website: www.silaturahmimarketing.com.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 10.0/10 (1 vote cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +2 (from 2 votes)

Leave a Reply

Comment moderation is enabled. Your comment may take some time to appear.

Motivasi Dunia

Motivasi Dunia

Kolomnis

<
Edy Zaqeus Eni Kusuma Avanti Fontana Alexandra Dewi Miranda Suryadjaja Sofa Nurdiyanti
Anang Y.B. Hartati Nurwijaya Aleysius H. Gondosari Sulmin Gumiri Relon Star Sri Budiastuti
Agus Riyanto Iftida Yasar Fida Abbott Ery Prasetyawan Tanenji Ingrid Gunawan
Maria Saumi Ely Susanti Agung Praptapa Putu Adnyana Fita Irnani Nathalia Sunaidi
M Sebastian Wijaya Abdul Muid Badrun Kak Sugeng Akhmad Sirodz Lisa Nuryanti Abidin Noor
Wuryanano Petriza Giovanni Amelia Devina Tri Wahyuni Endang Setyati Vina Tan
Lianny Hendranata Emmy Angdyani Erawati E. Setyo Hartono Fatma Kartika Sari Supandi Radinal Mukhtar Harahap
Sawali Tuhusetya Gatut Heru Susanto Effendi Budi P. Fajar S. Pramono Ade Asep Syarifuddin Melly Kiong
Guntur Novizal Ida Rosdiana Natapermadi Risfan Munir Sri Julianti Sawiji Farelhana Dewi Rhainy
Deni Kurniawan As’ari Johanes Ariffin Wijaya Indari Mastuti Enggar Kusumaningsiwi Daniel Kurniawan Sayuri Yosiana
A.A. Kunto A. Lina Kartasasmita K. Hanna Fransisca Wahidunnaba Yusuf Tantowi Dwiatmo Kartiko
Meta Sekar Puji Astuti M. Adi Prasetyo Abd. Basid Lily Choo Rina Dewi Lina Berny Gomulya
Zee Cardin M. Iqbal Dawami Sidik Nugroho Emmy Liana Dewi Ridwan Sumantri Dwiyana Apriandini
Andrew Abdi Setiawan Gobind Vasdhev J. I. Michell Suharli Yusnita Rifai Gagan Gartika

Check Google Page Rank

Buku Baru

Obrolan yang Bikin Kamu kaya

Judul: Obrolan yang Bikin Kamu kaya
Oleh: Don Gabor
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama, 2009
ISBN: 978-979-22-5073-2
Tebal: xviii + 380 hal

Jangan hanya membangun jejaring luas-berjejaringlah dengan cerdas!
Obrolan yang Bikin Kamu Kaya menyajikan pendekatan baru revolusioner pada topik berjejaring yang tak lekang waktu. Penulis buku laris dan pelatih komunikasi Don Gabor memperkenalkan Anda pada empat gaya berjejaring—Kopetetif, Supel, [...]

Full Story | February 24th, 2010

Best Viewed With Mozilla FireFox