Sejumput Pesan dari Balik Jeruji Besi
Editor | Kolom Lepas | February 23rd, 2009
Oleh: Ingrid Gunawan*
Sabtu pagi itu, saya tiba di kantor pukul 08.05. Kami akan mengadakan aksi sosial dengan mengadakan kunjungan ke Lembaga Pemasyarakatan (LP) Wanita dan Anak, Tangerang. Rekan-rekan sudah berkumpul di lobi kantor dan menunggu mobil yang akan membawa kami ke sana.
Perjalanan Sabtu pagi itu lumayan lancar. Dalam waktu 45 menit kami sudah tiba di lokasi LP yang berpagar hijau dengan halaman luas. Dari jalan raya mungkin ada sekitar 30 meter ke pintu gerbang LP. Karena tidak tahu pasti apakah tempat yang dimaksud benar atau tidak, saya mengontak perantara yang mengatur kunjungan. Ternyata tempatnya benar, jadi kami menunggu teman-teman dari beberapa mobil lain di halaman.
Tak lama kemudian, ibu perantara tiba dan mengatur persiapan untuk masuk ke dalam LP. Pukul 09.45 kami semua masuk ke dalam melewati gerbang pemeriksaan. Karena sudah diinformasikan sebelumnya agar sebaiknya tidak membawa tas dan HP, maka pemeriksaan tidak bertele-tele.
Setelah melewati gerbang pemeriksaan, kami berjalan melalui jalan bersemen sekitar 25 meter menuju aula. Di kiri kanan jalan ada bangunan seperti bangsal rumah sakit dan sepintas terlihat ranjang besi. Tetapi, kami tidak bisa melihat jelas karena agak jauh dan dibatasi jalan tanah yang cukup lebar. Di sepanjang jalan kami berpapasan dengan beberapa perempuan muda berpakaian kaos seragam Natal 2007 dari sebuah gereja di bilangan Jakarta Pusat. Untuk sopan-santun, saya memasang muka tersenyum kepada mereka, karena mengira mereka adalah pengunjung dari gereja lain yang juga sedang melakukan aksi sosial.
Sampai di aula sudah berjejer bangku-bangku plastik warna hijau. Dan ternyata, perempuan-perempuan tadi yang saya jumpai di jalan, juga sudah berkumpul di dalam aula. Saya bertanya-tanya di dalam hati, “Siapa mereka, ya? Penghuni LP atau pengunjung?”
Pukul 10.00 kami memulai acara kebaktiannya. Rombongan kami duduk terpisah dengan perempuan-perempuan berseragam tadi. Kemudian, ada sedikit penjelasan dari pembina dan perantara kami, bahwa kami diminta duduk berbaur dengan mereka. Oh, jadi ternyata mereka adalah penghuni LP. Kaget bercampur tidak percaya, dan hati terenyuh melihat perempuan-perempuan muda, berwajah manis, putih bersih, dan tidak ada tampang jahat atau garang, meski ada satu dua yang bersorot mata tajam.
Mulailah kami mencari pasangan dan duduk bersama dengan mereka. Sambil menyanyikan lagu pembuka, dilanjutkan kemudian dengan lagu kedua, “Aku Datang Ya Tuhan”. Sampai pada bait “Aku tau kau Pembelaku, Aku tau kau Penolongku...,” tak terasa air mata menetes. Cepat-cepat saya hapus karena malu kalau kelihatan menangis.
Ada pertanyaan dalam hati saya, “Apakah mereka juga merasakan, bahwa Yesus adalah pembela dan penolong mereka juga? Mengapa mereka bisa sampai berada di sana? Apa yang sudah mereka lakukan di masa lalu?” Terlintas di hati, bagaimana perasaan orang tua kalau melihat anaknya berada di LP.
Di sela-sela nyanyian, saya berusaha mencari tahu dengan memperkenalkan diri dan menanyakan namanya. Seorang gadis menyebutkan namanya, sebuah nama yang manis, seperti nama teman sekantor saya. Anaknya kecil, putih, mata sedikit sipit, rambutnya dipotong jongenskop. Sekolahnya hanya sampai SMP di sebuah kota di Kalimantan. Dengan tanpa malu-malu dia mengatakan kenapa berada di sana, ”Karena narkoba… Saya sudah tujuh tahun menjadi pemakai dan kemudian jadi pengedar. Asal-muasalnya mengenal narkoba dari diskotik.” Kata anak ini, dia ditangkap tahun 2005 dan harus menjalani hukuman selama 4,5 tahun. Dia berharap dan sedang mengajukan permohonan, supaya dalam waktu empat bulan lagi bisa keluar dari sana. Sebenarnya, banyak yang ingin saya ketahui, tetapi tidak enak kalau harus mengorek terlalu detail.
Kemudian, saya bertanya kepada satu anak lainnya. Anaknya juga manis, mukanya putih bersih tanpa jerawat, rambut hitam dan panjangnya sepunggung. Dia terkena narkoba juga karena pergaulan yang tidak terkontrol. Dia dikenalkan dengan narkoba oleh cowoknya, dan akhirnya tertangkap serta ditahan 4,5 tahun juga. Umur gadis-gadis muda ini rata-rata 23 tahunan. Memang, rata-rata kasus mereka adalah narkoba dan beberapa di antaranya terlibat penipuan/pemalsuan.
Ah, sedih sekali rasanya hati ini…. Masa muda yang seharusnya penuh dengan vitalitas, semangat, ternyata harus dihabiskan di balik jeruji besi dan tembok tinggi. Penuh dengan teman-teman senasib yang tidak baik pergaulannya. Waktu yang terbuang sia-sia karena di sana tidak ada kegiatan belajar. Yang ada hanya kerja masal mengarit rumput. Memang, setiap harinya dari Senin sampai Jumat ada waktu besuk untuk orang luar. Namun, waktu kunjungan dibatasi hanya setengah jam. Bahkan, di hari Minggu pun tidak ada kegiatan sama sekali. Mereka hanya diam di blok masing-masing. Berbagai peraturan mengisolir mereka, dan sungguh terenyuh hati ini.
Saya berkata dalam hati, ”Mereka berada di sana itu, apakah semata-mata kesalahan mereka? Siapa sebenarnya yang bersalah… orang tua, lingkungan, atau keadaan?” Tentu, banyak faktor penyebabnya. Mungkin orang tua konflik, orang tua yang tidak peduli dengan anaknya, keluarga yang broken home, pergaulan bebas, dan macam-macam penyebab lainnya. Akibatnya, mereka terjebak dalam lingkaran setan narkoba. Bagaimana mereka nanti akan menuliskan riwayat hidupnya?
Oleh karena itu, wahai para orang tua, di tangan Andalah masa depan anak-anak Anda. Bertanggung jawablah dalam membina kehidupan rohani dan jasmani mereka. Arahkan mereka kepada hal-hal yang benar supaya mereka tidak salah jalan. Kesalahan yang akan membuat penyesalan selanjutnya.
Wahai anak-anak, hargai pengajaran orang tuamu dan carilah Tuhan selalu, agar kalian diberikan pengawalan supaya selamat dalam perjalanan hidup kalian.
Kita yang berada di luar seharusnya bersyukur, bahwa kita bisa bekerja yang berguna untuk diri sendiri dan orang lain. Dapat berkumpul dengan keluarga, bertemu dengan teman/saudara tanpa halangan, dan bisa pergi berjalan-jalan ke mana saja dengan bebas.
Ini baru cuplikan kecil atas pemandangan yang saya lihat di LP. Masih banyak yang tidak terlihat dan saya ketahui, yang pastilah dialami serta terjadi pada masing-masing penghuni LP itu. Saya hanya berdoa, mohon kepada Tuhan supaya selalu melindungi dan menjaga agar saya, keluarga saya, dan mereka semua tidak tersesat atau salah jalan.
Apakah mereka bisa menghayati dan meyakini lagu penutup yang kami nyanyikan saat itu…..”S’mua Baik, S’mua Baik; S’gala yang t’lah Kau perbuat di dalam hidupku, S’mua baik, sungguh teramat baik, kau jadikan hidupku berarti….”Semoga, Amin.[ig]
* Ingrid Gunawan adalah seorang executive secretary sebuah perusahaan swasta. Meminati bidang tulis-menulis, aktif dalam pelayanan sosial, dan ia dapat dihubungi melalui email: ingridguna[at]yahoo[dot]com
Leave a Reply