Sebuah Renungan: Tiket Perjalanan ke Masa Depan
Editor | Kolom Lepas | June 8th, 2009
Oleh: Ida Rosdiana Natapermadi*
Ada kisah menarik selagi saya duduk mengantri di ruang tunggu salah satu bank swasta di Jakarta. Seorang ibu paruh baya duduk di sebelah saya. Saya menoleh kepadanya dan tersenyum. “Menabung, Bu…?” begitulah saya mengawali obrolan kami pagi itu.
“Ehhmm… iya dan tidak Mbak…,” jawabannya, membuat saya penasaran.
“Maksud Ibu?”
Lalu, ibu itu meneruskan kata-katanya, “Saya selalu menabung, tetapi uangnya selalu tidak terkumpul….”
Wah, saya jadi tambah penasaran dengan penjelasan si ibu. Rupanya, ibu itu melihat keheranan di wajah saya. Lalu ia meneruskan, “Uang hasil menabung selama beberapa tahun ini selalu berpindah ke tangan orang lain. Niat semula menabung untuk pensiun hari tua saya, tetapi ternyata selalu saja ada yang lebih dulu membutuhkannya.”
“Ehmmm... selalu..? Maksud Ibu?” saya masih saja penasaran.
“Begini lho Mbak…,” si ibu mulai menceritakan pengalamannya kepada saya dengan wajah ikhlas tanpa beban sedikit pun. Saya pun fokus mendengarkan.
“Saya ibu dari satu orang anak, dan saya bekerja. Sedari muda saya membiasakan diri menabungkan sebagian uang penghasilan saya. Tentunya setelah dipotong kewajiban zakat sebagai seorang muslim,” begitu ia menjelaskan. “Setelah beberapa tahun menabung dan uang terkumpul, mulanya adik laki-laki saya membutuhkan uang untuk membuka usaha kecil-kecilan, karena dia susah mencari kerja di kantor. Dengan sedikit berat hati, akhirnya saya berikan seluruh uang tabungan saya. Dan, saya mulai menabung lagi. Setelah beberapa tahun dan uang saya terkumpul lagi, tanpa diduga kakak laki-laki saya meminta bantuan saya untuk membiayai pendidikan anaknya ke perguruan tinggi. Tidak ada pilihan lain, saya pun meyerahkan uang tabungan saya kepadanya, dan saya mulai menabung lagi. Kembali uang terkumpul setelah beberapa tahun menabung. Eh... datang saudara saya yang lain meminta anaknya disekolahkan ke perguruan tinggi juga. Alhamdulillah saya pun memenuhinya….”
Ibu itu menghela napas, lalu meneruskan ceritanya, “Begitulah semua bermula, Mbak. Hingga tanpa saya sadari, setelah membantu kebutuhan saudara-saudara terdekat, saya mulai mencari-cari orang lain yang tidak mampu untuk saya sekolahkan.”
“Oooh….” pikir saya, mengagumi kebaikan ibu itu. Begitu rupanya yang terjadi dalam hampir separuh usianya. Menabung, terkumpul, lalu dipindahkan ke tabungan orang lain yang memerlukannya. “Semuanya Ibu sekolahkan di perguruan tinggi, Bu?” saya bertanya sekedar ingin tahu.
“Oh tidak, Mbak. Saya tidak semampu itu, walaupun ingin sekali. Ada anak tukang kebun yang saya sekolahkan dari sekolah dasar hingga saat ini sedang saya daftarkan di SMK otomotif. Dia bilang ingin cepat kerja di perusahaan mobil agar dapat membantu keuangan keluarganya. Ada juga seorang pembantu rumah tangga lulusan sekolah dasar yang saya kursuskan menjahit. Dan, alhamdulillah sekarang dia bekerja di perusahaan garmen. Terus ada lho Mbak, anak tukang bangunan yang saya kursuskan komputer dan nasib baik membawanya ke negara Kuba. Sampai sekarang dia masih bekerja sebagai local staff kedutaan Indonesia di Kuba….”
Ibu itu begitu semangat menceritakan keberhasilan “anak-anaknya”. Saya semakin tertarik, ingin tahu lebih dalam lagi. “Ehmm… anak ibu sendiri kuliah di mana? Ibu suka membantu orang ya…. Apakah semua itu sepengetahuan suami Ibu?” tanya saya berturut-turut.
“Anak saya sudah di semester dua di sebuah universitas swasta yang cukup baik di Jakarta. Apa yang saya lakukan ini mendapat dukungan dari suami dan anak saya. Lagi pula sekalian memberi pendidikan kepada anak kami tentang hal berbagi kepada orang lain. Khususnya kepada orang tak mampu,” jawabnya.
“Ibu baik, ya…,” kata saya memuji kebaikannya.
“Aaah… tidak…,” sanggahnya. “Saya hanya membelikan tiket perjalanan untuk mereka, dengan harapan mereka bisa sampai ke masa depan yang lebih baik dari sebelumnya.”
Obrolan terhenti karena giliran si ibu masuk ke antrian pelayanan. Saya masih merenungkan kata-kata terakhir si ibu. “Membelikan tiket perjalanan….” Hmm… barangkali si ibu benar, uang yang kita tabung saat ini akan lebih berguna dan akan lebih besar artinya jika kita membelikan tiket perjalanan ke masa depan bagi mereka yang sangat membutuhkan.
Saya tercenung sambil memandangi buku tabungan saya. Perlahan saya membuka lembaran buku tabungan itu, di sana tercetak sederet angka-angka dengan jumlah uang yang lebih dari cukup untuk membelikan setidaknya satu buah tiket untuk satu orang anak tak mampu.
Sekarang keputusan ada pada diri saya. Sanggupkah saya memindahkan sebagian atau bahkan semua hasil tabungan saya untuk membelikan tiket perjalanan ke masa depan yang lebih baik bagi mereka yang membutuhkan? Tuhan punya cara sendiri untuk mengetuk hati umat-Nya. Melalui ibu itu, Tuhan mengetuk hati saya. Bagaimana dengan Anda?[irn]
* Ida Rosdiana Natapermadi, lahir di Bandung pada tanggal 24 April 1960. Ibu yang senang membaca puisi dan menonton pertunjukan teater drama ini adalah seorang karyawati di salah satu perusahaan televisi swasta di Jakarta. Ibu dari satu orang anak ini tidak pernah mengira dirinya bisa menulis. Setelah disemangati oleh teman-teman penulisnya dia kini mulai menulis. Ia dapat dihubungi di pos-el: aten_kck18[at]yahoo[dot]com.

June 8th, 2009 at 2:40 pm
Sangat menarik mba Ida, ada sebuah keluarbiasaan di hati si ibu. Sukses selalu buat Anda.
June 9th, 2009 at 10:40 am
Ruarbiasa seorang Ibu yang sederhana dan berhati mulia, semoga sang penulis menjadi ketularan seperti Ibu yang berhati mulia itu, Amien . . sukses selalu ya Ida . . .
June 9th, 2009 at 11:40 am
Menyentuh sekali tulisannya. Membuat saya jd berpikir, apa yg sdh saya lakukan utk membantu orang-orang di sekeliling saya. Sungguh andai saja semakin banyak orang yg mau spt sosok Bu Ida ini, mgk semakin byk saudara-saudara kita yg bisa lbh maju hidupnya. sbb, kadang kemiskinan itu begitu menghimpit shg si miskin nyaris tdk bisa melakukan apa-apa. tks & salam.
June 9th, 2009 at 10:03 pm
Mengagumkan. Memang benar bahwa dengan memberi sebenarnya kita menabung kebaikan
June 10th, 2009 at 11:10 am
bagaimana ya supaya bisa berhati ikhlas seperti ibu yang baik hati itu?
June 11th, 2009 at 10:22 am
luar biasa
sukses
June 14th, 2009 at 8:20 am
Bagus sekali mbak Ida, sangat jarang ada ibu yg seperti diatas , apakah saya bisa mengikuti langkahnya ?