Seberapa Besar Niatmu
Editor | Kolom Tetap | May 18th, 2009
Oleh: Fita Irnani*
Anda tentu memerhatikan iklan suatu produk rokok yang tervisualisasi melalui obsesi seorang pemuda mendapatkan pacar. Berbagai jalan ditempuh guna mendekati sang pujaan hati, termasuk menaklukan ayah dan anjing penjaga. Satu-dua jalan dilalui tak kenal lelah. Pengunaan tiang pelontar tubuh adalah titik pungkas pencapainnya, dan ketika badannya hinggap di jendela lantai dua, ayah si gadis menyambutnya dengan tanya: “Lagi ngapain kamu?” Dengan muka kocak si pemuda menjawab, “Ngejalanin niat, Om ?” Tak berhenti di situ, si Om masih bertanya, “Seberapa niatmu?”
Jika kita punya sedikit waktu untuk mencermati tingkah si pemuda, sebenarnya yang dia lakukan adalah gambaran dari perjuangan hidup yang sesungguhnya. Tidak salah jika si Om dalam iklan tersebut menanyakan ‘seberapa niatmu’, karena sesungguhnya niat yang besar berperan penting dalam penentuan sukses tidaknya perjuangan seseorang. Niat adalah dasar utama penyusun batu bata perjuangan hidup. Kesuksesan seseorang berawal dari sini.
Pada dasarnya niat adalah keinginan untuk mendapatkan atau melakukan sesuatu. Keinginan ini akan menghujam jauh ke dalam hati, dan dari sinilah niat terlahir. Dari dalam hati, niat akan tersampaikan ke otak. Selanjutnya otak akan memerintahkan seluruh panca indera dan tubuh kita untuk berbuat mewujudkan niat, seperti yang dilakukan si pemuda dalam iklan tersebut, niatnya mendapatkan pacar memaksa otaknya mencari jalan cerdik mendekati gadis pujaannya.
Seandainya si pemuda gentar menghadapi sang ayah dan anjingnya yang sangar di rintangan pertama, kemudian menyerah, apakah dia akan berhasil bertemu dengan si gadis? Belum tentu. Kesuksesannya hinggap di jendela rumah si gadis adalah bagian dari besarnya niat pemuda itu, lalu seperti apakah niat yang besar itu?
- Simpan niat dalam hati dan yakini kebenarannya.
Dalam cerita iklan, hal ini telah tertulis di awal pembukaan iklan.
- Biarkan panca indera bekerja menegaskan niat.
Dalam cerita iklan, si pemuda mantap menyebut keinginannya.
- Biarkan tubuh bergerak melakukan perbuatan mewujudkan niat.
Dalam cerita iklan, jelas sekali apa yang dilakukan si pemuda.
Untuk memastikan terwujudnya keinginan kita, maka ketiga hal tersebut harus diselaraskan, satu sama lain harus focus untuk tujuan yang sama. Hal yang sia-sia juga jika memiliki niat namun tidak diwujudkan dalam perbuatan. Ini berarti niat yang tidak besar atau malah setengah-setengah. Jika memang demikian, apakah keinginan kita akan terwujud?
Niat terlahir dari dalam hati, niat adalah perbuatan hati. Dia mendasari seluruh perbuatan kita, baik atau buruk. Niat akan menjadi jiwa dari seluruh perbuatan, jadi jangan sampai salah meniatkan sesuatu. Perbuatan kita akan menjadi positif jika berawal dari niat yang baik, dan sebaliknya akan menjadi negatif karena niat yang salah.
Oktober tahun lalu saya mendapat e-mail mengenai workshop “Cara Gampang Menulis Artikel dan Buku Bestseller” batch VII dari Pembelajar Writer Sschool. Tentu saja saya meresponnya dengan baik karena sejak dahulu saya memang ingin menulis artikel. Formulir pendaftaran sudah saya layangkan, namun beberapa hari menjelang hari H, saya diliputi ‘keraguan’, antara membatalkan workshop karena kesibukan kantor yang tidak bisa ditinggal atau tetap mengambil cuti untuk mengikuti workshop, dan pada akhirnya saya memilih absen dalam workshop batch ini.
Penting untuk dilakukan adalah meyakinkan niat dan memastikan bahwa dia selalu ada di dalam hati, karena dalam perjalanan ‘berbuat’ untuk mewujudkan niat, akan banyak kendala yang menghalangi. Jangan biarkan dia pergi dari hati, sekali dia pergi, maka otak akan diliputi keraguan untuk mewujudkannya.
Febuari lalu, kembali saya mendapat email mengenai workshop yang sama, namun judulnya menjadi “Cara Gampang Menulis Buku Bestseller” batch VIII. Tidak mau absen untuk kedua kali, dengan mantap saya ikuti workshop ini, kendati target saya hanya belajar menulis artikel, bukan menulis buku bestseller. Keinginan saya terwujud, saat ini Anda tengah membaca salah satu artikel saya.
Ada kalanya orang meniatkan sesuatu untuk memperoleh hal-hal yang barangkali tidak luar biasa, maka hasil yang diperoleh pun menjadi tidak luar biasa. Seperti ketika saya mengikuti workshop dengan niat hanya untuk dapat menulis artikel saja. Andai saat itu saya meniatkan untuk mampu menulis buku bestseller, apakah saat ini Anda tengah membaca buku saya? Bisa jadi, karena semakin kita meniatkan sesuatu yang luar biasa, saat itu juga hati, pancaindra dan tubuh kita akan bekerja sama mewujudkannya.
Niatkan hal-hal positif yang luar biasa mulai dari sekarang karena potensi yang besar sesungguhnya sudah tersimpan dalam tubuh Anda. Niat adalah nyawa dari seluruh perjuangan hidup, apa yang kita peroleh saat ini berasal dari niat kita sendiri, seberapa besarkah itu?[fi]
* Fita Irnani lahir di kota Semarang 13 Juni 1975. Sulung dari tiga bersaudara ini menghabiskan masa kecil hingga SMA di kota kelahirannya. Alumnus workshop Proaktif “Cara Cerdas Menulis Buku Bestseller” Batch VIII, Februari 2009 ini menetap di kota Bogor dan saat ini bekerja sebagai HR Executive pada sebuah perusahaan multinasional yang berkantor di Sudirman. Fita dapat dihubungi melalui pos-el: acho_fit[at]yahoo[dot]co[dot]id.

May 19th, 2009 at 10:26 am
Setuju bu Fita, dan mungkin bisa ditambahkan bahwa niat yang sudah setinggi dan sekokoh gunung harus dilengkapi dengan kemampuan dan kreativitas untuk mewujudkannya.
May 20th, 2009 at 3:20 pm
Setuju bu vit… Niat yang jelas dan kuat mendorong ke aktivitas untuk meujudkannya..