Sebelum Terlambat
Editor | Kolom Lepas | July 21st, 2009
Oleh: Vina Tan*
“Kita hanya hidup sekali, tetapi sekali saja sudah cukup
jika kita menjalaninya dengan benar.”
~ Gary Ryan Blair
Pada tanggal 25 Juni yang lalu, dunia dikejutkan oleh kematian Michael Jackson yang begitu mendadak. Dua belas hari kemudian atau tepatnya tanggal 7 Juli 2009, berpuluh-puluh juta pasang mata ikut menyaksikan acara penghormatan terakhir untuk Michael Jackson yang digelar di Stadion Staples Center Los Angeles. Hati kita tersentuh saat lagu-lagu Michael dilantunkan oleh para penyanyi sekaliber Mariah Carey sampai Usher. Perasaan kita pun terenyuh ketika Queen Latifah, Brooke Shield, dan Pendeta Al Sharpton menyampaikan kata-kata perpisahan mereka untuk Michael. Namun demikian, yang paling menyayat hati adalah ketika Paris Jackson, putri mendiang Michael Jackson berbicara kepada dunia dari atas podium, “Saya hanya ingin bilang… Sejak saya lahir, Daddy telah menjadi ayah terbaik yang tidak pernah bisa kalian bayangkan. Dan, saya cuma mau bilang bahwa saya amat sangat mencintainya.”
Hebatnya lagi, acara peringatan Michael Jackson tersebut tidak cukup disiarkan hanya sekali. Sampai tanggal 11 Juli yang lalu, kita masih bisa menyaksikan siaran ulangan yang ditayangkan oleh salah satu stasiun televisi swasta terkenal di Indonesia. Dan, kata-kata Paris Jackson yang sudah saya dengar berkali-kali baik dari siaran langsung maupun dari internet, tetap saja mampu membuat saya terharu sampai menitikkan air mata saat tayangan ulang tersebut.
Akan tetapi, di balik semua itu, masih ada satu hal yang tetap mengganjal di hati. Pikiran saya kembali pada saat hampir dua puluh sembilan tahun yang lalu. Saat itu, kami semua dalam masa berkabung karena ayah baru saja meninggal secara mendadak. Ibu yang sangat sedih dan terpukul dengan kematian ayah memberikan nasihatnya yang sangat berharga, “Ketika seseorang sudah meninggal dunia, dia tidak akan pernah tahu lagi hal-hal baik atau pun kata-kata indah yang kita sampaikan untuknya. Jadi, saat seseorang masih hidup, perlakukanlah mereka dengan baik dan penuh kasih sayang. Sehingga, tidak akan ada penyesalan ketika mereka harus pergi meninggalkan dunia ini.”
Kata-kata ibu tersebut yang membuat saya terus melakukan self talk selama acara penghormatan untuk Michael berlangsung:
Apakah Michael pernah tahu kalau orang-orang akan sangat kehilangan dirinya ketika dia pergi untuk selamanya?
Kalau iya, mungkinkah dia akan kesepian menjelang akhir hidupnya?
Mengapa tidak ada seorang anggota keluarga atau sahabat yang berhasil membujuknya untuk menjauhi obat-obat narkotik penghilang rasa sakit yang telah dikonsumsinya selama bertahun-tahun?
Kalau Michael adalah seorang penghibur yang hebat dan jenius, mengapa tidak ada yang membuat acara persembahan untuk merayakan prestasinya di dunia musik saat sang ‘King of Pop’ tersebut masih hidup? Sehingga, Michael akan tahu betapa dunia begitu mencintainya dan menghargai musik serta lagunya?
Memang, sering kali kita baru tersadar ketika seseorang telah pergi dan tidak pernah akan kembali lagi. Kita akan terhenyak dan terus memikirkan hal-hal baik yang pernah dilakukan orang tersebut ketika masih hidup. Saya sendiri merasa sangat beruntung pernah memiliki seorang ibu yang bijaksana. Selama masih hidup, beliau telah mengajarkan banyak hal penting tentang kehidupan kepada kami, anak-anaknya. Sehingga, saya pun terinpirasi untuk dapat mengikuti jejak beliau menjadi ibu teladan bagi anak-anaknya ketika mereka dewasa kelak.
Hal terpenting yang harus diingat adalah bahwa kita hidup di dunia yang fana. Dengan kata lain, tidak ada yang abadi di dunia ini. Bisa jadi, hanya kenangan yang bisa kita bawa mati. Jadi, selagi kita masih hidup dan bernapas, berbuat baiklah terhadap orang-orang yang kita kasihi. Katakanlah kalau kita menghargai apa yang telah meraka lakukan untuk kita. Jangan pelit untuk memberikan pujian yang tulus dan lakukan hal-hal positif yang bisa membuat mereka merasa dirinya berarti. Sehingga, suatu saat ketika kita atau orang-orang yang kita kasihi pergi meninggalkan dunia ini, tidak akan ada lagi penyesalan yang tertinggal.[vt]
* Vina Tan lahir di Sibolga. Selain menjadi ibu rumah tangga, ia juga berprofesi sebagai konsultan dan pembicara. Vina dapat dihubungi di vina.coach[at]yahoo[dot]com.

July 22nd, 2009 at 10:07 pm
Vina, keep your good work. I love this
July 26th, 2009 at 2:30 pm
Sukses bu Vina !
bukunya sudah jadi ?
July 30th, 2009 at 4:29 pm
Hi Lin,
Thank you so much for your support!
July 30th, 2009 at 4:31 pm
Pak Bahari,
Bukunya masih dalam proses. Sepertnya dalam proses melulu, deh! Sabar ya, Pak!