Sebelum Perjalanan Berakhir

igOleh: Ingrid Gunawan*

Ke mana laki-laki tua itu, kok tidak kelihatan? Biasanya dia berdiri di ujung jalan itu, dekat lampu merah di pertigaan jalan yang saya lalui setiap pagi. Hati bertanya, namun mulut tidak berucap, saya memang tidak kenal dia, belum pernah bertegur sapa, hanya melihatnya setiap pagi berdiri di sana. Kalau dianggap orang kerja, dia termasuk pegawai yang rajin karena sudah berdiri di sana sebelum pukul 08.00 pagi. Hal ini dapat saya pastikan karena jam masuk kantor saya pukul 08.00 pagi dan saya lewat di sana pasti sebelum jam itu. Saya juga tidak tahu sampai jam berapa dia tetap berdiri di sana.

Sesungguhnya, hati ini senang kalau bisa membuat orang lain bergembira. Pernah sekali saya memberinya uang kertas paling kecil keluaran republik ini. Mukanya berseri-seri sambil mengucapkan terima kasih. Mengenang itu teringat juga saya akan teman seperjalanan yang setiap pagi duduk di sebelah saya. Saya selalu minta tolong dia yang memberikan uang ke laki-laki tua itu. Namun, semua itu hanya tinggal kenangan. Teman saya itu telah berjalan lebih dahulu dari saya. Misteri kehidupan….

Meskipun setiap pagi selama setahun ini teman ini hampir selalu bersama saya—karena tinggalnya di seberang rumahtetapi saya tidak pernah tahu deritanya. Saya memang tidak suka mengorek-ngorek kehidupan orang kalau orang itu sendiri tidak menceritakannya. Sehingga, ketidakyakinan yang saya rasakan ketika saya diberitahu dia telah pergi.

Hah, masa…?! Kenapa kapan?!Itulah pertanyaan yang saya lontarkan. Hati terasa nelongso…. Ada rasa kasihan dan tidak percaya. Sejak dia tidak ada, tidak ada teman seperjalanan dan saya tidak pernah lagi memberi laki-laki tua itu uang. Bukan disengaja, tetapi memang keadaan tidak memungkinkan saya berhenti di pertigaan itu. Lampu merahnya tidak berfungsi sehingga saya terus berjalan.

Perjalanan saya terus berlanjut melewati jalan-jalan yang sama. Selama itu dilakukan dengan hati ikhlas, tidak ada kebosanan dan kemalasan yang dirasakan. Karena, kita tahu arti dan tujuan yang akan kita capai, bukan? Apakah kita merasakan kerutinan sebagai sesuatu yang membosankan? Bukankah setiap orang pun melakukan yang sama, siklus kehidupan yang terus berputar? Mulai dari titik awal kembali ke titik akhir, dari tidak ada menjadi ada, kemudian tidak ada lagi.

Demikianlah, yang saya rasakan dan coba renungkan dalam kehidupan ini. Bertemu dengan orang-orang yang dikenal, bertemu dengan orang yang tidak dikenal, berpisah sebentar dan selama-lamanya. Sungguh menyedihkan ketika kita meributkan hal-hal yang kecil maupun yang besar. Karena, pada akhirnya semua itu tidak ada gunanya ketika kita harus kembali kepada Sang Khalik yang menciptakan semua ini tanpa dapat berbantah dan menolaknya.

Hari itu saya lihat lagi si laki-laki itu berdiri di sana. Dengan sabar dia menanti orang yang lewat dan tergerak oleh belas kasih untuk menolongnya, memberi sedikit berkat. Heran juga saya, di mana dia tinggal? Bagaimana dia bisa tiba di sana dan apakah ada sanak keluarganya? Matanya yang tidak melihat, tidak menyurutkan wajahnya untuk tersenyum ketika ada orang yang menyapanya. Sesungguhnya, Tuhan itu baik. Apakah orang kaya atau orang miskin, rasa senang adalah milik semua orang. Saya pikir saya akan menegurnya suatu hari nanti, entah kapan, tentunya sebelum perjalanan itu berakhir.[ig]

* Ingrid Gunawan adalah seorang executive secretary sebuah perusahaan swasta. Meminati bidang tulis-menulis, aktif dalam pelayanan sosial, dan ia dapat dihubungi melalui pos-el: ingridguna[at]yahoo[dot]com.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 0.0/10 (0 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +2 (from 2 votes)

Leave a Reply

Comment moderation is enabled. Your comment may take some time to appear.

Motivasi Dunia

Motivasi Dunia

Kolomnis

<
Edy Zaqeus Eni Kusuma Avanti Fontana Alexandra Dewi Miranda Suryadjaja Sofa Nurdiyanti
Anang Y.B. Hartati Nurwijaya Aleysius H. Gondosari Sulmin Gumiri Relon Star Sri Budiastuti
Agus Riyanto Iftida Yasar Fida Abbott Ery Prasetyawan Tanenji Ingrid Gunawan
Maria Saumi Ely Susanti Agung Praptapa Putu Adnyana Fita Irnani Nathalia Sunaidi
M Sebastian Wijaya Abdul Muid Badrun Kak Sugeng Akhmad Sirodz Lisa Nuryanti Abidin Noor
Wuryanano Petriza Giovanni Amelia Devina Tri Wahyuni Endang Setyati Vina Tan
Lianny Hendranata Emmy Angdyani Erawati E. Setyo Hartono Fatma Kartika Sari Supandi Radinal Mukhtar Harahap
Sawali Tuhusetya Gatut Heru Susanto Effendi Budi P. Fajar S. Pramono Ade Asep Syarifuddin Melly Kiong
Guntur Novizal Ida Rosdiana Natapermadi Risfan Munir Sri Julianti Sawiji Farelhana Dewi Rhainy
Deni Kurniawan As’ari Johanes Ariffin Wijaya Indari Mastuti Enggar Kusumaningsiwi Daniel Kurniawan Sayuri Yosiana
A.A. Kunto A. Lina Kartasasmita K. Hanna Fransisca Wahidunnaba Yusuf Tantowi Dwiatmo Kartiko
Meta Sekar Puji Astuti M. Adi Prasetyo Abd. Basid Lily Choo Rina Dewi Lina Berny Gomulya
Zee Cardin M. Iqbal Dawami Sidik Nugroho Emmy Liana Dewi Ridwan Sumantri Dwiyana Apriandini
Andrew Abdi Setiawan Gobind Vasdhev J. I. Michell Suharli Yusnita Rifai Gagan Gartika

Check Google Page Rank

Buku Baru

Obrolan yang Bikin Kamu kaya

Judul: Obrolan yang Bikin Kamu kaya
Oleh: Don Gabor
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama, 2009
ISBN: 978-979-22-5073-2
Tebal: xviii + 380 hal

Jangan hanya membangun jejaring luas-berjejaringlah dengan cerdas!
Obrolan yang Bikin Kamu Kaya menyajikan pendekatan baru revolusioner pada topik berjejaring yang tak lekang waktu. Penulis buku laris dan pelatih komunikasi Don Gabor memperkenalkan Anda pada empat gaya berjejaring—Kopetetif, Supel, [...]

Full Story | February 24th, 2010

Best Viewed With Mozilla FireFox