Sebelum Perjalanan Berakhir
Editor | Kolom Lepas | August 3rd, 2009
Oleh: Ingrid Gunawan*
Ke mana laki-laki tua itu, kok tidak kelihatan? Biasanya dia berdiri di ujung jalan itu, dekat lampu merah di pertigaan jalan yang saya lalui setiap pagi. Hati bertanya, namun mulut tidak berucap, saya memang tidak kenal dia, belum pernah bertegur sapa, hanya melihatnya setiap pagi berdiri di sana. Kalau dianggap orang kerja, dia termasuk pegawai yang rajin karena sudah berdiri di sana sebelum pukul 08.00 pagi. Hal ini dapat saya pastikan karena jam masuk kantor saya pukul 08.00 pagi dan saya lewat di sana pasti sebelum jam itu. Saya juga tidak tahu sampai jam berapa dia tetap berdiri di sana.
Sesungguhnya, hati ini senang kalau bisa membuat orang lain bergembira. Pernah sekali saya memberinya uang kertas paling kecil keluaran republik ini. Mukanya berseri-seri sambil mengucapkan terima kasih. Mengenang itu teringat juga saya akan teman seperjalanan yang setiap pagi duduk di sebelah saya. Saya selalu minta tolong dia yang memberikan uang ke laki-laki tua itu. Namun, semua itu hanya tinggal kenangan. Teman saya itu telah “berjalan lebih dahulu” dari saya. Misteri kehidupan….
Meskipun setiap pagi selama setahun ini teman ini hampir selalu bersama saya—karena tinggalnya di seberang rumah—tetapi saya tidak pernah tahu deritanya. Saya memang tidak suka mengorek-ngorek kehidupan orang kalau orang itu sendiri tidak menceritakannya. Sehingga, ketidakyakinan yang saya rasakan ketika saya diberitahu dia telah pergi.
“Hah, masa…?! Kenapa… kapan…?!” Itulah pertanyaan yang saya lontarkan. Hati terasa nelongso…. Ada rasa kasihan dan tidak percaya. Sejak dia tidak ada, tidak ada teman seperjalanan dan saya tidak pernah lagi memberi laki-laki tua itu uang. Bukan disengaja, tetapi memang keadaan tidak memungkinkan saya berhenti di pertigaan itu. Lampu merahnya tidak berfungsi sehingga saya terus berjalan.
Perjalanan saya terus berlanjut melewati jalan-jalan yang sama. Selama itu dilakukan dengan hati ikhlas, tidak ada kebosanan dan kemalasan yang dirasakan. Karena, kita tahu arti dan tujuan yang akan kita capai, bukan? Apakah kita merasakan kerutinan sebagai sesuatu yang membosankan? Bukankah setiap orang pun melakukan yang sama, siklus kehidupan yang terus berputar? Mulai dari titik awal kembali ke titik akhir, dari tidak ada menjadi ada, kemudian tidak ada lagi.
Demikianlah, yang saya rasakan dan coba renungkan dalam kehidupan ini. Bertemu dengan orang-orang yang dikenal, bertemu dengan orang yang tidak dikenal, berpisah sebentar dan selama-lamanya. Sungguh menyedihkan ketika kita meributkan hal-hal yang kecil maupun yang besar. Karena, pada akhirnya semua itu tidak ada gunanya ketika kita harus kembali kepada Sang Khalik yang menciptakan semua ini tanpa dapat berbantah dan menolaknya.
Hari itu saya lihat lagi si laki-laki itu berdiri di sana. Dengan sabar dia menanti orang yang lewat dan tergerak oleh belas kasih untuk menolongnya, memberi sedikit berkat. Heran juga saya, di mana dia tinggal? Bagaimana dia bisa tiba di sana dan apakah ada sanak keluarganya? Matanya yang tidak melihat, tidak menyurutkan wajahnya untuk tersenyum ketika ada orang yang menyapanya. Sesungguhnya, Tuhan itu baik. Apakah orang kaya atau orang miskin, rasa senang adalah milik semua orang. Saya pikir saya akan menegurnya suatu hari nanti, entah kapan, tentunya sebelum perjalanan itu berakhir.[ig]
* Ingrid Gunawan adalah seorang executive secretary sebuah perusahaan swasta. Meminati bidang tulis-menulis, aktif dalam pelayanan sosial, dan ia dapat dihubungi melalui pos-el: ingridguna[at]yahoo[dot]com.

Leave a Reply