Saya Sudah Siap Mati

sj11Oleh: Sri Julianti*

Kami mengenal Lius dan keluarganya kira-kira 18 tahun yang lalu. Lius didiagnosis menderita kanker paru-paru sejak setahun yang lalu setelah menderita batuk selama dua bulan. Saat kami berkunjung pertama kali setelah diberitahu istrinya tentang penyakitnya, Lius bilang, “Mana mungkin aku percaya aku kena kanker? Lha wong aku ini sehat-sehat saja. Bahkan, dua bulan sebelumnya dokter bilang cuman bronchitis, kok sekarang tiba-tiba jadi kanker?

”Sudah tanya second opinion?” tanya saya.

”Ya, saya rencana ke dokter lain. Mungkin diagnosisnya yang salah timpal Lius.

Lius sangat tegar menghadapi penyakitnya. Dia mencari semua informasi di internet tentang bagaimana mengatasi penyakitnya maupun hidup dengan penyakit kankernya. Mulai dengan jus sayuran organik setiap pagi hari, makan beras merah, tidak makan daging, olahraga teratur, tidak boleh stres, dll.

Suatu hari saya dan suami menerima kabar gembira dari Lius. “Kata dokter lain paru-paruku basah. Dokter memberikan obat-obat bronchitis, kata Lius.

Saya dan suami ikut gembira. Tetapi, saya mengingatkan suami saya, “Papaku dulu awalnya juga dapat keterangan begitu, tetapi akhirnya kanker juga!

Betul juga, selang beberapa minggu kemudian, kondisi Lius drop dan dia harus kembali ke dokter pertamanya. Akhirnya, dia menyerah untuk menjalani chemotherapy. Banyak teman dan sanak keluarganya yang bersimpati kepadanya dengan memberikan bantuan obat, pinjaman mobil, juga bantuan moril.  Tetapi di lain pihak ada juga yang mencari peluang. Banyak juga yang menawarkan pengobatan alternatif seperti TCM (Traditional Chinese Medicine) yang harganya selangit maupun food supplement.

Lha, sebetulnya aku sih lebih pasrah kepada obat dokter dan pola makan. Tetapi, orang-orang ini lho menawarkan obat yang selangit harganya dengan janji yang selangit pula. Kalau mereka jamin aku sembuh, aku sih pasti pakai. Tapi kalau tidak ada jaminan sembuh, buat apa? Mereka ini membuatku jadi bingung dan frustrasi. Aku ini kan sakit, kok mereka juga mencari peluang dari orang yang sudah menderita…?begitulah luapan perasaan Lius.

Itulah dunia….

Tidak hanya mencari informasi, Lius juga mengunjungi sesama penderita kanker dan berbicara dengan mereka. Ada yang berobat ke luar negeri dengan biaya yang tidak sedikityang tidak mungkin dilakukan Lius karena kondisi ekonominya. Awalnya Lius masih bisa menyetir mengantar anak dan istrinya ke mana-mana. Tetapi, pelan dan pasti dia mulai kehilangan tenaga dan menyerahkan kendali keluarga kepada istri dan anaknya.

Setiap menjalani chemoteraphy kondisinya pasti drop untuk beberapa hari. Dan pada saat mulai membaik, dia harus menjalani chemoteraphy lagi. Susahnya lagi, tidak ada hal yang pasti sampai kapan dia harus menjalani chemoteraphy ini. Setelah kira-kira 12 kali chemoteraphy, dia bertanya lagi ke dokter yang merawatnya. “Berapa kali lagi saya harus menjalani chemoteraphy ini, Dok?”

Dokternya menjawab, “Wah tidak tahu pasti Tergantung penyakitnya, bisa saja sampai puluhan kali lagi.

Saat itu juga Lius memutuskan berhenti menjalani chemoteraphy dan hanya minum obat batuk penahan sakit bila perlu dan food supplement. Lha, bagaimana toh, kalau aku di-chemoteraphy terus dan enggak tahu kapan selesainya , buat apa? Sudahlah sekarang aku pasrah, aku minum obat saja dan mengatur pola makanku. Aku ini tidak apa-apa mati…. Tetapi untuk menuju ke sana itu lho Aku juga kepikiran mereka ini lho….” kata Lius sedih sembari merujuk pada keluarganya.

Pernyataan “aku siap mati tetapi menuju ke sana itu lho seperti ini sering saya dengar dari para penderita kanker yang saya kunjungi.

Pagi hari ketika saya baru tiba di kantor kira-kira jam 08.30, ada SMS dari suami saya yang mem-forward SMS anaknya Lius yang memberitahukan ayahnya sudah meninggal jam 07.00 pagi. Saya langsung berdoa di dalam hati untuk arwah Lius dan juga keluarga yang ditinggalkan. Malam harinya kami berkunjung ke rumah duka yang ramai dikunjungi teman-teman dan sanak famili almarhum.

Maria istri almarhum kelihatan lebih tabah. Dia cerita, sebetulnya malam hari jam 20.00-an rekam jantungnya sudah datar. Lalu, dokter menyuntikkan obat dan rekam jantungnya positif lagi. “Dan, tadi pagi rekam jantungnya datar lagi. Akhirnya, dia berangkat dengan tenang kisah Maria. Lius sudah pergi dan meninggalkan kami teman-temannya maupun keluarganya pada usia 62 tahun dengan meninggalkan istri dan dua orang putri yang menjelang dewasa.

Pada hari ketiga jenasah almarhum diberangkatkan ke tempat kremasi. Pemberangkatan dimulai dengan doa dan dihadiri oleh teman-teman dan kerabatnya. Mobil jenasah sudah siap sejak pagi hari, dan seorang Romo sudah siap di sebelah peti jenasah untuk memimpin doa. Setelah doa selesai, anaknya yang sulung memegang foto almarhum dan siap mengantar jenazah ayahnya ke tempat peristirahatan terakhir. Selamat jalan Lius Anda telah menyelesaikan ziarah di dunia ini dengan sempurna. Saatnya Anda berkumpul kembali bersama Bapa.[sj]

* Sri Julianti adalah praktisi packaging yang sudah malang melintang di dunia packaging selama 25 tahun lebih. Saat ini, ia sedang menuliskan pengalamannya dalam sebuah buku tentang strategi dan seni kemasan. Ia dapat dihubungi melalui pos-el: julipackaging[at]yahoo[dot]com.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 3.5/10 (2 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: 0 (from 0 votes)

Leave a Reply

Comment moderation is enabled. Your comment may take some time to appear.

Motivasi Dunia

Motivasi Dunia

Kolomnis

<
Edy Zaqeus Eni Kusuma Avanti Fontana Alexandra Dewi Miranda Suryadjaja Sofa Nurdiyanti
Anang Y.B. Hartati Nurwijaya Aleysius H. Gondosari Sulmin Gumiri Relon Star Sri Budiastuti
Agus Riyanto Iftida Yasar Fida Abbott Ery Prasetyawan Tanenji Ingrid Gunawan
Maria Saumi Ely Susanti Agung Praptapa Putu Adnyana Fita Irnani Nathalia Sunaidi
M Sebastian Wijaya Abdul Muid Badrun Kak Sugeng Akhmad Sirodz Lisa Nuryanti Abidin Noor
Wuryanano Petriza Giovanni Amelia Devina Tri Wahyuni Endang Setyati Vina Tan
Lianny Hendranata Emmy Angdyani Erawati E. Setyo Hartono Fatma Kartika Sari Supandi Radinal Mukhtar Harahap
Sawali Tuhusetya Gatut Heru Susanto Effendi Budi P. Fajar S. Pramono Ade Asep Syarifuddin Melly Kiong
Guntur Novizal Ida Rosdiana Natapermadi Risfan Munir Sri Julianti Sawiji Farelhana Dewi Rhainy
Deni Kurniawan As’ari Johanes Ariffin Wijaya Indari Mastuti Enggar Kusumaningsiwi Daniel Kurniawan Sayuri Yosiana
A.A. Kunto A. Lina Kartasasmita K. Hanna Fransisca Wahidunnaba Yusuf Tantowi Dwiatmo Kartiko
Meta Sekar Puji Astuti M. Adi Prasetyo Abd. Basid Lily Choo Rina Dewi Lina Berny Gomulya
Zee Cardin M. Iqbal Dawami Sidik Nugroho Emmy Liana Dewi Ridwan Sumantri Dwiyana Apriandini
Andrew Abdi Setiawan Gobind Vasdhev J. I. Michell Suharli Yusnita Rifai Gagan Gartika

Check Google Page Rank

Buku Baru

Obrolan yang Bikin Kamu kaya

Judul: Obrolan yang Bikin Kamu kaya
Oleh: Don Gabor
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama, 2009
ISBN: 978-979-22-5073-2
Tebal: xviii + 380 hal

Jangan hanya membangun jejaring luas-berjejaringlah dengan cerdas!
Obrolan yang Bikin Kamu Kaya menyajikan pendekatan baru revolusioner pada topik berjejaring yang tak lekang waktu. Penulis buku laris dan pelatih komunikasi Don Gabor memperkenalkan Anda pada empat gaya berjejaring—Kopetetif, Supel, [...]

Full Story | February 24th, 2010

Best Viewed With Mozilla FireFox