Saya Bersyukur, Buku Saya Sudah Ketinggalan Zaman
Editor | Kolom Tetap | December 23rd, 2009
Oleh: Anang Y.B.*
Anda seorang penulis buku dan bermimpi buku Anda akan abadi alias menjadi produk yang ever green? Saya pun begitu. Kalau bisa, buku-buku saya abadi di hati pembaca, syukur-syukur abadi di rak toko buku alias tidak tertendang buku-buku baru yang terus menerobos tumpukan buku-buku lama. Abadi di hati pembaca artinya, setelah sekian bulan buku saya masuk pasar, masih saja ada yang menyampaikan komentar atau pujian kepada saya entah secara lisan maupun lewat surat elektronik.
Saya sadar, tidak semua buku yang pernah saya tulis bakal abadi. Sebut saja buku yang bertema bisnis internet. Saya yakin buku tersebut bakal sekadar seperti kembang api saja. Sesaat bersinar terang selepas itu padam karena trend tidak bisa kita ikat agar berhenti menurut ego kita. Buku bertema entrepreneur, mungkin bisa berumur agak lama sepanjang kita jeli untuk membuang dan menyisihkan pokok bahasan yang lekas usang. Saya masih ingat betul bagaimana editor saya “merayu” saya supaya mau membuang beberapa bagian dari naskah buku Kerja di Rumah Emang ‘Napa? agar tetap enak dibaca dalam waktu lama. Bagian yang diminta untuk dibuang adalah suatu kalimat yang kurang lebih berbunyi “… seperti yoyo mainannya Mbak Mega.” Ya, membicarakan Mbak Mega—eh, maksud saya yoyo—memang sudah tidak musim lagi.
Tapi… tahukah Anda, ternyata ada saatnya saya harus mensyukuri bahwa buku saya tidak perlu abadi. Saya lega saat sadar bahwa buku saya yang berisi kumpulan cerita inspiratif kini tidak relevan lagi. Biarlah untuk buku yang satu ini, saya ikhlas buku saya ketinggalan zaman!
Sore itu, saya bertemu dengan Pak Totok. Seperti biasa, dia masih setia dengan topi dan sepeda tuanya. “Mau ke mana Pak Totok? Cari nasi, ya?” tanya saya.
Pak Totok tersenyum lebar sambil menghentikan sepedanya. “Ya, biasalah,” jawab dia ramah.
Saya sengaja menggunakan kata ‘cari nasi’ dan bukannya ‘beli makan’ karena memang hanya nasilah yang bakal dia beli. Saya sudah hafal itu. Setiap menjelang magrib dia pasti membeli nasi untuk anjingnya, kecuali hari Kamis karena pada hari itu anjingnya berpuasa. Pak Totok sendiri jarang makan nasi. Paling banter seminggu tiga kali saja dia menikmati nasi. Bahkan mungkin kini dia semakin jarang makan nasi sejak dia diberhentikan dari pekerjaannya sebagai satpam oleh pengurus RT tanpa sebab. Bahkan, empat bulan gajinya yang hanya Rp. 300.00 per bulan pun dikemplang pengurus RT.
“Maaf ya, kemarin saya enggak bisa ikut sembahyangan,” tutur Pak Totok masih dengan senyumnya.
“Lho, Pak Totok malam Minggu kemarin juga nggak ikut sembahyangan masa advent, to?” tanya saya.
“Saya juga enggak datang kok Pak Totok. Anak saya si Fani dilantik jadi Putri Sangkristi, jadi saya harus datang mengantar sekaligus nonton dia dilantik,” papar saya.
Pak Totok mengucapkan ‘O’ panjang.
“Lha, Pak Totok emang kemarin ke mana? Kan biasanya rajin ikut sembahyangan?” tanya saya.
“Anu… anak saya nikah,” jawab Pak Totok singkat namun memancarkan suatu kebahagiaan yang sengaja tidak ingin dia perlihatkan.
Pak Totok punya anak? Hem…, soal ini tidak banyak yang tahu. Saya tahu pun belum lama tahu. Kalau tidak salah, Pak Totok punya dua atau tiga anak. Satu kerja di BCA, dan satu lagi di RS Elizabeth, Bekasi.
“Yang mana yang nikah, Pak? Yang kerja di BCA?”
“Iya… wah saya malu datang di acara nikahan,” jawab Pak Totok sambil tersipu.
“Lha, anak nikah kok malu?” tanya saya sambil ikutan nyengir.
“Lha, masak saya pakai disuapin segala. Padahal saya sudah ngumpet bahkan nggak niat mau datang. Eh... malah pakai dijemput segala…,” papar Pak Totok.
“Itu kan tandanya dia sayang saya Pak Totok,” lanjut saya.
Pak Totok memang misterius. Bukan cuma kemiskinannya yang tidak ketulungan, tinggal di gubuk yang lebih jelek dari pada kandang ayam, tidak pernah protes walau sejak sekian tahun lalu digaji hanya Rp 300.000 per bulan sebagai satpam. Uang itu kerap dia pakai untuk mengganti lampu jalan sepanjang empat gang yang sering mati dan warganya tidak pernah peduli untuk menggantinya. Sampai akhirnya pertengahan tahun ini dia diberhentikan dari profesinya sebagai satpam tanpa tahu sebab musababnya.
Anda yang sudah membaca buku Sandal Jepit Gereja khususnya cerita berjudul “Pondok Untuk Pak Totok” tentu sudah mafhum betapa akhirnya Pak Totok bersyukur karena kami—berbekal kekurangan yang kami miliki—berhasil melakukan bedah rumah dan bisa memberikan satu rumah sederhana untuk Pak Totok yang miskin, tua, tidak menikah, dan misterius ini.
Sekali waktu saya pernah memergoki Pak Totok dibonceng seorang cewek sepulang gereja. Pak Totok selingkuh? Tentu tidak, karena Pak Totok tidak menikah hingga usianya nyaris kepala tujuh (atau malah sudah kepala tujuh?). Belakangan saya baru tahu, cewek yang memberi tumpangan Pak Totok adalah salah satu dari beberapa anak angkat Pak Totok! Dua yang masih saya ingat tentang anak angkat Pak Totok adalah kesuksesan mereka kini, menjadi karyawan BCA dan karyawan RS. Elizabeth, Bekasi.
Dan hari Sabtu kemarin Pak Totok yang memiliki masa lalu misterius, yang sedemikian miskin namun penuh kepasrahan pada penyelenggaraan Allah, telah menyaksikan salah seorang anak angkatnya menikah. Pak Totok terlihat sangat bergairah menceritakan hal itu. “Yang datang di nikahan sampai lima perusahaan.” paparnya. Saya pun mengangguk-angguk ikut senang.
Saya biarkan Pak Totok melanjutkan kayuhan sepedanya karena azan magrib sudah berkumandang dan mungkin anjingnya sudah lapar menanti nasi yang harus dia beli setiap petang. Saya bersyukur mengenal dan semakin dekat dengan sosok tua itu. Yang rela menghabiskan uang recehnya untuk membeli nasi bagi anjingnya walau dia sendiri tak punya cukup sisa untuk membeli makan untuk dirinya sendiri. Yang menolak untuk tinggal bersama anak-anak angkatnya dan ikhlas mendiami rumah sederhana tanpa plesteran yang dua setengah tahun lalu kami buatkan.
Pak Totok bukan sekadar objek yang mengantar tulisan saya di http://bit.ly/4PVtHx memenangi kontes menulis online bertema “Why I’m So Special” dua tahun lalu yang digelar oleh Jennie S. Bev, Pak Totok adalah satu di antara sekian banyak tanda-tanda yang Dia hadirkan di depan mata saya untuk lebih arif, lebih peka, dan lebih panjang mengulurkan tangan bagi sesama.
Pertemuan sore itu dengan Pak Totok membuat saya mensyukuri bahwa buku saya Sandal Jepit Gereja telah ketinggalan zaman karena kisah hidup Pak Totok tidak lagi sebatas belasan paragraf yang saya rangkai dalam tulisan berjudul “Pondok Untuk Pak Totok”. Moga-moga, kalau bisa, 22 kisah lainnya, entah itu yang berjudul “Murtad”, “Anak di Luar Nikah”, Selingkuhlah Kau Kutunggu” maupun kisah lainnya, juga bakal ketinggalan zaman karena ada ending lanjutan hasil skenario sang Ilahi yang tidak pernah berhenti![ayb]
* Anang Y.B., dikenal sebagai penulis bergaya story telling. Menekuni hobi menulis sejak kecil dan saat ini mulai serius menjalani profesi sebagai penulis buku bertema entrepreneur dan rohani populer. Empat buku terakhir yang sudah dia hasilkan adalah Santo Arnoldus Janssen (OBOR, 2009), Sandal Jepit Gereja (OBOR, 2009), 88 Mesin Uang di Internet (BEST, 2009) dan Kerja di Rumah Emang ‘Napa? (GPU, 2009). Anang, Y.B. dapat dikontak lewat http://facebook.com/anangyb.

December 23rd, 2009 at 9:45 pm
Impressive, Mas Anang!!
Salam sukses!
December 24th, 2009 at 12:54 pm
enak banget dibaca. nyaman.
March 18th, 2010 at 9:08 am
Jika mas Anang berkenan, cerita tentang Pak Totok terus dilanjutkan, mas Anang…
Terima kasih…