Say No for “ASA”
Editor | Kolom Lepas | January 12th, 2010
Oleh: Muhammad Nur*
Salah satu jenis film yang saya sukai adalah film silat. Apalagi kalau bintangnya Jet Lee dan ceritanya klasik. Dalam cerita klasik, biasanya terkandung banyak nilai filosofi yang menggugah. Film Taichi Master misalnya, film ini membuat saya terkesan ketika Jet Lee (tokoh utama dalam film tersebut) digambarkan sedang mengalami depresi berat. Saudara seperguruannya yang menguasai ilmu silat sebanding dengannya telah menyalahgunakan kemampuan yang dimiliki untuk berbuat kejam kepada orang lain.
Kemudian dalam sebuah adegan digambarkan, ada serombongan orang yang sedang memikul kayu di punggungnya berjalan di pematang sawah. Tampak seorang berlari-lari menemui salah seorang pemikul kayu tersebut dan membawa kabar bahwa istrinya di rumah baru saja melahirkan.
Laki-laki yang mendengar kabar itu hanya tersenyum dan malah bingung apa yang harus diperbuatnya. Kemudian, salah seorang dari temannya berkata dengan mantap, “Mengapa termenung? Segera tanggalkan beban di punggungmu dan sambutlah hari baru!”
Serta-merta laki-laki itu melepaskan ikatan di punggungnya, meletakkan kayu yang ia pikul, dan segera bergegas pulang.
Sang Jagoan kita yang mendengar dialog tersebut tergugah, ia tersenyum. Ada perubahan dalam raut wajahnya. Dengan bibirnya ia bergumam mengulang kalimat yang baru saja didengarnya, “Mengapa termenung? Segera tanggalkan beban di punggungmu dan sambutlah hari baru!”
Lalu, ia pulang ke rumah, menuju kamar, dan memerhatikan sekelilingnya. Ia ingat sang guru dulu pernah membekalinya sebuah buku. Lalu, ia baca buku itu dan mulai mempraktikkan gerakan yang terdapat di dalam buku tersebut. Ia menemukan jurus baru yang lembut namun penuh kekuatan, jurus taichi.
Sesungguhnya apa yang membelengguh diri kita untuk mencapai kesuksesan? Mengapa seseorang sering menganggap kegagalan adalah akhir dari segalanya? Mungkin kita tidak memiliki cara atau paendekatan lain untuk menuntaskan apa yang tidak bisa kita kerjakan.
Kegagalan hanyalah peringatan bahwa kita harus mencoba menyelesaikan masalah dengan cara lain. Jalan menuju kesuksesan selalu dipenuhi dengan kegagalan. Orang yang sekses adalah mereka yang telah menghadapai begitu banyak kegagalan, tetapi berhasil menghadapinya.
Dalam buku yang pernah saja baca yang menjadi best-seller dunia itu, Dr. Aidh Al Qorni yang berjudul Laa Tahzan memberi pesan: “Sesungguhnya kesulitan yang kita alami akan memperkuat hati, menghapus dosa, mematahkan keangkuhan, dan menghancurkan kesombongan yang ada dalam diri. Kesulitan dapat menghapus kelalaian, menyalakan semangat untuk ingat kepada Tuhan mengundang rasa belas kasihan kepada orang lain, dan berakibat kita beroleh doa dari orang saleh.”
Saya sangat setuju dengan lirik yang dibawakan oleh D’Masiv (salah satu grup band papan atas) yang sering digaung-gaungkan sekarang ini, seperti liriknya yang mengatakan “Jangan menyerah, dan nikmatilah hidup ini, karena hidup adalah anugarah”. Kesulitan akan membuat yang bersangkutan tunduk pada kekuasaan Tuhan dan berserah diri kepada Tuhan Yang Maha Esa lagi Mahamengalahkan.
Kesulitan tak ubahnya seperti larangan yang baru datang dari peringatan dini untuk menghidupkan kesadaran ingatan.
Di balik kesulitan tersembunyi kelembutan yang sangat besar dari Allah. Pemaafan yang lebih besar terhadap dosa, dan ampunan yang lebih banyak daripada kesalahan yang telah dibuat.
Jangan bersedih, karena kesedihan dapat melemahkan diri kita untuk melakukan amal baik. Kesedihan membuat kita malas beribadah, mengendurkan semangat, serta dapat membuat frustrasi. Kesedihan membuat kita berburuk sangka serta terjerumus ke dalam sikap pesimistis.
Jangan bersedih, karena sesungguhnya kesedihan dan kegelisahan yang menyelimuti adalah biang penyakit kejiwaan, sumber penyakit syaraf, penyebab timbulnya cemas, was-was, dan keguncangan jiwa.
Tanamkan dalam diri kita bahwa kegagalan bukanlah akhir dari segalanya, melainkan sebuah pelajaran bahwa cara yang kita pakai itu tidak berhasil dan sekarang saatnya mencoba dengan cara lain. Karena, hakikat dari belajar adalah melakukan hal yang sama dengan cara yang berbeda. Kegagalan baru akan menjadi tragedi dalam hidup kita jika setelah gagal kita tidak berusaha lagi. Akan tetapi, itu tidak akan terjadi, jika kita berusaha keras untuk mendapatkan kesuksesan dan kita tahu bagaimana cara memaknai kegagalan.
Kita mungkin sering bertanya dalam diri masing-masing, tatkala pemberian yang kita panjatkan Allah dibalas dengan kebalikkannya. Kita memohon kekuatan, dan Allah akan memberi kita kesulitan-kesulitan sehingga membuat kita tegar. Kita memohon kebijaksanaan, Allah memberi kita berbagai persoalan hidup untuk diselesaikan agar kita bertambah bijaksana. Kita memohon kemakmuran, Allah memberi kita otak dan tenaga untuk dipergunakan sepenuhnya dalam mencapai kemakmuran. Kita memohon keteguhan hati, Allah memberi bencana dan bahaya untuk diatasi. Kita memohon cinta, Allah memberi kita orang-orang bermasalah untuk diselamatkan dan dicintai. Kita memohon kemurahan, kebaikan hati dan Allah memberi kita kesempatan-kesempatan yang silih berganti.
Begitulah Allah membimbing kita, nah selanjutnya tergantung bagaimana kita menyikapi cobaan tersebut. Apakah kita ingin hidup terus-terusan dalam keputusasaan atau sebaliknya, penuh dengan pandangan ke depan dengan melihat peluang yang masih disediakan sebanyak-banyaknya untuk dirinya. Wallah a’lam bishowab.[mn]
* Muhammad Nur adalah Alumnus Ponpes Ar-Raudhatul Hasanah, Medan, Sumatera Utara. Kini dalam masa pengabdian di Ma’had selaku guru bahasa Inggris dan staf pengasuhan santri. Gemar dalam kepenulisan, diskusi, maupun kegiatan ekstrakurikuler di ponpes, serta sedang mendalami dunia kepenulisan dan motivasi. Ia dapat di hubungi melalui pos-el: muhammad.nur609[at]yahoo[dot]co[dot]id atau muhammad.nur1809[at]hotmail[dot]com, atau HP: 081396856500.

Leave a Reply