Sang Inspirator: the Unsung Hero
Editor | Kolom Lepas | January 9th, 2009

Oleh: Miranda Suryadjaja*
Akhirnya, jadi juga posting pertama saya. Wah… seneng, deh. Gara-gara terlecut membaca buku Anda Luar Biasa!!! karangan Eni Kusuma, yang saya temui secara kebetulan lewat majalah Intisari, hadiah keberhasilan saya meraih predikat berbakat di sebuah workshop public speaking. Terus menyebar ke mana-mana, ke website Pembelajar.com, ke blog-nya EZ (ezonwriting.wordpress.com). Jadi, enggak menunda-nunda lagi, langsung deh bikin blog.
Kemarin, saya berkesempatan menonton recital piano, di rumah kawan saya yang juga pianist penghibur di dekade 70 hingga 90-an.
Awalnya, tiga minggu yang lalu ‘kebetulan’ saya terpikir untuk ke toko makanan kesukaan saya. Waktu itu, saya rada bingung, kok saya ‘dibawa’ ke sini? Wong lagi enggak kepingin mencari apa-apa juga, meskipun akhirnya beli permen, supaya tokonya dapat rezeki dari saya. Sempat terpikir, apa ya yang menanti saya di sini?
Waktu akan meninggalkan tempat tersebut, ‘kebetulan’ saya ketemu teman lama. Saat terlihat, dia akan masuk ke mobilnya. Cepat-cepat saya sapa, eh… saya malah dia undang ke acara di rumahnya dua minggu ke depan. “Nonton recital piano, oleh seorang pianist terkenal dari New York,” katanya.
Akhirnya kemarin, sebagai klimaks dari serangkaian ‘kebetulan’ tersebut, saya tiba di rumah teman saya itu. rumahnya di tengah kota Denpasar, agak nyempil. Dan, rumahnya sendiri—yang juga rumah produksi barang-barang kerajinan—penuh oleh barang yang agak bersesakan. Macam pabrik home industry, sehingga saya sempat ragu, recital piano oleh pianist kelas dunia di rumah ini? Terpikir lagi, kok saya bisa diundang ya? Padahal, kami enggak dekat-dekat banget temenan-nya. Apakah yang akan “dihadiahkan” oleh Alam Semesta pada saya?
Dengan sedikit nyasar sana-sini di rumah yang tidak beraturan itu, akhirnya tampak sebuah grand piano berdiri gagah di tengah koleksi perabot yang sedikit tua dan amburadul. Di ruangan makan terbuka yang nyambung dengan pekarangan dan ruang tamu, di mana sang grand piano berada, telah nampak beberapa orang tamu duduk dan makan sesukanya. Sebuah koleksi manusia yang tampaknya tidak datang hanya dari satu grup. Tidak ada yang memperkenalkan pianisnya pada saya. Dan, karena tidak ada yang bergaya pianis, saya pun tidak bisa mengira-ngira siapa orangnya.
Perut saya sudah lapar. Sementara makanan yang disajikan tampaknya lezat, meski ditaruh apa adanya tanpa pretensi. Ada sayur asam, ayam goreng, tahu telur kecap, nasi, ditaruh di baskom dan panci besar-besar, bak persiapan makan massal di pabrik. Ternyata, makanannya sangat enak. Air liur saya mulai teraktifkan hanya karena membayangkannya kembali. Teman lama saya ini, adalah si Om yang memang pintar masak rupanya.
Setelah tiba waktunya, acara dimulai. Sang pianis, Henoch Kristianto, diajak berdiri dan diperkenalkan oleh si Om. Sekilas, asal-usulnya dituturkan pada kami. Si om bercerita, saat mereka bertemu pertama kali—di mana Henoch kecil saat itu belum lagi berkenalan dengan piano—Henoch meminta izin untuk menyentuh dan bermain pianonya si Om. Begitu mendengar ‘permainan’ Henoch—yang bagi orang lain terdengar dan terlihat akan membuat hancur piano—si Om malah tersihir di tempat. Katanya, dia langsung menyatakan pada ibu Henoch agar jangan menyuruh anak ini sekolah yang konvensional. Melainkan, Henoch harus fokus di sekolah piano, karena bakat semacam itu hanya ada satu dalam sedikitnya sepuluh juta anak.
Selanjutnya, Henoch diajarkan bermain piano dengan benar. Dan rupanya, penglihatan mapun feeling si Om tidak keliru. Henoch tumbuh dan menunjukkan bakat, minat, serta kemauannya yang luar biasa. Setelah lulus SMU, Henoch diminta mengadakan recital piano bagi sejumlah teman dan pemerhati. Tujuannya untuk mengumpulkan dana, yang mana akan dipakai untuk melanjutkan pembelajaran pianonya di Amerika. Dana yang terkumpul dua belas juta, cukup untuk biaya pergi ke Amerika dan belajar selama tiga bulan di sana. Hanya itulah yang dapat diupayakan saat itu, karena orangtua Henoch juga bukan keluarga berkecukupan.
Pesan si Om, “Hanya itulah yang bisa diusahakan. Selebihnya, terserah pada Henoch. Kalau mampu bertahan, ya terus tinggal di sana. Kalau tidak, ya balik.”
Ternyata, Henoch mampu bertahan dengan cara kerja apa saja untuk menyambung hidup dan sekolahnya. Dan kemudian, lahirlah seorang pianist berkaliber internasional dengan setumpuk prestasi yang patut kita banggakan.
Wahai pembaca, Anda mungkin terinspirasi mendengar cerita tentang bagaimana Henoch mencapai sukses. Henoch memang benar-benar dahsyat. Permainan pianonya sangat bersih. Dan, kadang jari-jari tangannya bagaikan terbang, tidak terlihat di mana mulai dan berhenti, yang satu dari yang lainnya.
Selagi saya asyik terbawa oleh alunan piano gubahan Schubert dan lainnya, tiba-tiba timbul pikiran, bahwa inilah jawaban dari seri ‘kebetulan’ yang membawa saya ke tempat ini: Seseorang yang telah menginspirasi orang lain yang sangat inspirasional ini adalah orang yang tidak kalah ‘luar biasanya’.
Kisah hidup Henoch menginspirasi orang banyak. Namun, tidak banyak orang akan mengingat bahwa si Om lah yang ‘menemukan’ Henoch dan membakar semangatnya hingga berkobar terus. Si Om lah yang telah melihat di luar jangkauan kasat mata, seorang anak yang bagi orang lain tampak akan menghancurkan piano si Om dengan hentakan keras jari-jarinya. Si Om telah melihat bahwa ada yang luar biasa pada anak ini.
Di balik seorang yang sukses, yang kisahnya menjadi sumber inspirasi bagi orang banyak, yang menimbulkan decak kagum, dan mampu memperbaharui tekad dan semangat orang lain, biasanya ada orang yang telah memicu orang-orang yang inspirational ini.
Di balik Henoch ada Om Willy Ham. Di balik Barack Obama ada nenek dan ibunya. Di balik kesuksesan Eni Kusuma ada seorang Jenny S. Bev. Orang-orang di belakang layar ini, ada yang terkenal, ada pula yang tidak pernah terdengar namanya. Namun, mereka mempunyai beberapa kesamaan sifat atau kemampuan, yang dalam aplikasinya mampu melahirkan orang-orang yang luar biasa.
Benang merah yang menghubungkan mereka adalah mereka sama-sama mendengar, melihat, dan percaya bahwa seseorang akan bisa merealisasikan potensi tertingginya. Di kala ada kecaman, cemohan, dan krisis kepercayaan dari orang-orang di sekitar mereka—yang sering merupakan orang yang punya hubungan darah dengannya—seorang prodigy bersandar pada inspiratornya.
By the way, kata inspire berasal dari kata in dan spire, yang artinya menghirup. Jadi, tidak salah kalau dikatakan bahwa seorang yang bisa menjadi inspirator bagi orang lain adalah napas yang membuat seseorang tetap bisa ‘menghidupi’ impiannya, dan akhirnya meraih sukses.
Kepuasan bagi pemberi inspirasi adalah keberhasilan protege (orang yang didukung/di-support/dilindungi), atau mentee (orang yang dimentorinya). Pada umumnya, mereka berjiwa besar, dan tahu tatkala tugasnya telah selesai, dan tidak menuntut penghargaan. Mereka mendapatkan kepuasaan yang luar biasa dari memberdayakan orang lain, dan umumnya mempunyai passion for the possible.
Sebetulnya, kita pun bisa memberi inspirasi pada orang lain. Kita tidak perlu punya penglihatan atau pendengaran khusus. Dan, yang kita beri inspirasi pun tidak perlu seorang prodigy atau seorang yang luar biasa. Begitu banyak orang—yang karena sesuatu dan lain hal—tidak pernah mendapat dukungan, kesempatan, dan penghargaan atas bakat dan potensinya. Karena, memang orang di sekitarnya tidak melihat, tidak mau, atau memang sudah merasa tidak punya harapan untuk menjadi lebih dari apa dan siapa mereka.
Saya membayangkan, kalau kita bisa mengundang banyak orang yang termarjinalisasi, atau siapa pun yang ingin dilihat bakat dan potensinya. Lalu, mereka dibantu dengan koneksi entah ke sebuah institusi pendidikan, perusahaan, atau pencari bakat lainnya, sehingga bakat mereka bisa disalurkan dengan optimal.
Untuk mampu memahami bakat orang, kita hanya perlu benar-benar mendengar dan melihat dengan hati. Apakah itu suatu bentuk konsultasi karier dan bakat, atau sekadar penyuluhan. Yang penting menurut saya adalah jangkauannya. Banyak orang yang tidak mempunyai akses maupun pemikiran untuk mencari buku atau informasi semata-mata karena mereka tidak terkondisikan untuk hal itu.
Menurut saya, banyak orang kita yang sangat pandai, cerdas, dan mempunyai banyak bakat alam. Mungkin, kita pernah dengan sengaja diperbodoh oleh rezim-rezim tertentu pada suatu waktu. Sehingga, secara umum bangsa kita masih tetap tampak bodoh sampai sekarang. Tetapi, bukankah dengan leveraging power (tenaga pengungkit) bakat bakat dan kemampuan tertidur ini bisa dibangkitkan oleh orang yang sudah ‘bangun’ dan berhati nurani? Apa tidak mungkin bangsa kita dibangunkan dalam jumlah yang lebih banyak dan lebih cepat? Sehingga, bangsa ini mampu memerangi korupsi, membangun kesadaran, membangkitkan kecintaan pada negara kita—yang sebenarnya sangat kaya ini—serta menimbulkan kebanggaan bernegara dan berbangsa seperti harapan pendiri-pendiri negara kita?
Saya tergugah oleh jeritan Eni pada akhir kata bukunya, di mana dia sedih menghadapi kenyataan bahwa kondisi negara Indonesia yang kita cintai ini masih jauh dari makmur. Benar, jumlah yang sudah bangun masih sangat kecil dibanding yang belum bangun.
Tapi, saya yakin dengan bersatu kita bisa membangunkan orang dari tidur panjangnya. Sebarkan informasi dan kemungkinan seluas-luasnya, lewat semua media cetak, radio, dan televisi. Atau, melalui workshop maupun klinik-klinik pembangkitan potensi yang terjangkau. Kita buat kanvas pengenalan bakat, maksudnya supaya orangnya sendiri tahu bakat dan kemampuannya apa, dan terus mengarahkan mereka ke tempat tempat yang tepat, yakni supaya mereka mampu dan berarti.
Yang sekarang dilakukan oleh Eni Kusuma, Edy Zaqeus, dan teman-teman lewat Pembelajar.com sudah sangat bagus. Namu, perlu lebih disosialisasikan lagi agar mudah dicari dan ditemukan. Saya belum lama menemukan Eni serta situs Pembelajar.com. Padahal, saya tidak gaptek dan sehari-hari banyak berkutat di sekitar komputer, soal pengembangan diri pula. Namun, saya tidak pernah mendengar dan mengetahui sebelumnya. Walhasil, saya menyimpulkan bahwa situs-situs maupun upaya berkemanusiaan semacam ini masih kurang promosi.
Bersama ini pula, saya ingin membuka diskusi masalah ini. Saya di Bali, kebanyakan Anda di Jawa, mari kita saling hubungkan titik-titik dari jaringan ini. Enggak apa-apa jadi unsung heroes. Siapa tahu kita bisa bantu negara ini jadi lebih makmur dengan lebih cepat?[ms]
* Miranda Suryadjaja adalah seorang public speaker dan konsultan bisnis yang berdomisili di Bali. Selain itu, Miranda juga seorang life coach dan jewelry designer yang meminati bidang motivasi dan pemberdayaan perempuan. Peraih gelar MBA dari National University, San Diego, USA yang juga hobi menulis, membaca, mendesain, dan traveling ini telah dikarunia seorang putera. Miranda dapat dihubungi melalui email: sayamiranda[at]gmail.com atau HP: 081389432.

Leave a Reply