Samurai Sejati 9: Jangan Bangunkan Satpam!

rm1Oleh: Risfan Munir*

Tugas satpam ialah menjaga dan memberi rasa aman pada penghuni area yang dijaganya. Dia akan menahan atau mengusir pengganggu kenyamanan penghuni.

Ternyata di otak kita ada yang berfungsi “menjaga kenyamanan” diri kita, yaitu yang disebut amygdala. Sebagaimana satpam, tugasnya menangkal dan melumpuhkan ide, informasi yang potensial “mengancam kenyamanan” diri kita. Saat tiba-tiba kita dikejutkan oleh benda jatuh, ada kendaraan mau menabrak kita, atau ancaman lainnya, amygdala “memerintahkan” pikiran dan tubuh kita untuk bereaksi sangat cepat dan mengenyampingkan hal-hal lain, sebagai refleks mempertahankan diri. Cara kerjanya adalah “reaksi cepat”. Ini bagus tentu, tapi kelemahannya sering emosional, kurang berpikir panjang. Kelemahan ini yang sering merepotkan kita.

Rupanya amygdala ini juga “menjaga” diri kita dari ide “perubahan ” yang akan kita lakukan, yang potensial mengganggu zona kenyamanan (comfort zone) kita. Mengapa upaya peningkatan kualitas atau pengembangan diri seperti niat berolah raga, menurunkan berat badan, meskipun pikiran rasional kita menyatakan itu sangat penting, tetapi nyatanya kita sulit melakukannya. Itu antara lain karena amygdala menolak, karena dia spontan ingin “menyelamatkan” kita agar tetap  dalam kenyamanan.

Ide perubahan seperti mengurangi berat badan dengan olah raga dan diet. Ide berhenti merokok. Ide menulis artikel, apalagi menulis buku, semuanya mengganggu “kenyamanan” diri kita. Biasa pagi baca koran sambil minum kopi kok harus olah raga. Biasa makan jerongan yang lezat, kok harus diet. Biasa menikmati sedapnya menghisap rokok, kok harus distop. Biasa santai kok harus mengerahkan pikiran untuk menulis. Maka, amygdala bagaikan satpam, bereaksi cepat mempertahan diri kita agar tidak usah melaksanakannya, agar nyaman dan tenteram.

Oleh karena itu, jika rasio kita mengendaki kita berubah, atau melakukan sesuatu yang sangat bermanfaat bagi diri dan tujuan kita, maka lakukanlah itu “tanpa membangunkan amygdala“. Caranya ialah bergerak tanpa menimbulkan “suara, kegaduhan”, berjingkat, menyelinap bagaikan ninja, agar si satpam tak terbangun.

Lakukanlah perubahan mulai dengan langkah-langkah kecil sederhana, sehingga “radar amygdala” tidak mendeteksinya, sehingga tak ada penolakan. Inilah prinsip dari “kaizen” alias continuous process improvement, yaitu proses perbaikan berkelanjutan.

Saya sendiri sudah merasakan manfaatnya. Di rumah saya punya persoalan dengan tumpukan dokumen dan buku ada di mana-mana, di ruang kerja, di garasi, dan di gudang. Tumpukan kertas yang menurut saya “nanti ada manfaatnya.” Saking berantakannya sehingga untuk menyortir dan merapikannya, bayangan saya perlu waktu dan kerja ekstra. Jadi kalau diingatkan istri, saya selalu mengatakan,”Nanti kalau libur panjang.” Tapi bisa ditebak, kalau libur panjang, Lebaran dan Tahun Baru, pasti untuk santai atau bepergian. Jadilah tumpukan kertas itu makin menggunung.

Saya berpikirnya nanti saja sekalian kerja bakti besar-besaran. Dan, masalahnya ternyata bukan kerja fisiknya saja. Masalah membuang barang milik adalah masalah psikologis, “Sayang dibuang, siapa tahu proyek berikutnya perlu, atau ada kenangannya.” Sehingga, penolakan batin ini juga faktor besar. Walau tumpukan barang membuat rumah seperti gudang, dan omelan terus datang.

Akhirnya, saya pilih menerapkan prinsip “kaizen” ini. Pelan-pelan tumpukan demi tumpukan saya tangani. Walau kadang cuma “tega” membuang satu dua paper tak apa, kalau teganya memang baru segitu. Saya jaga agar tidak seperti “kerja bakti”, tapi kegiatan rutin seperti merapikan meja sebelum dan setelah bekerja. Ternyata, ini berjalan tanpa perlawanan berarti dari “satpam amygdala.” Setelah beberapa waktu, mulai tampak rak dan lemari jadi longgar. Ruang kerja jadi longgar, garasi dan gudang kelihatan dindingnya.

Bidang penerapan yang lain ialah olah raga. Bagi yang tidak hobi, anjuran pikiran untuk berolah raga itu selalu ada alasannya. Alasan paling klasik ialah tidak ada waktu. Apalagi bagi yang tinggal di wilayah Bodetabek, yang berangkat sebelum jam 6.00 pagi dan sampai di rumah paling cepat jam 18.00 malam. Tapi ternyata masih sempat nonton TV. Saran untuk gerak badan (tak usah disebut olah raga kalau ‘mengerikan’) di depan TV, mulai dari stretching, jalan di tempat, lari di tempat beberapa menit sambil tetap menikmati acara TV ternyata luamayan juga. Tanpa sadar sudah gerak badan 15 menit. Kalau ini bisa dikerjakan sungguh berbeda dibanding dengan beralasan tak oleh raga selama seminggu, sebulan, setahun sebelumnya. Seorang senior saya di kantor yang usianya di atas 60 tahun tapi masih menunjukkan kebugaran. Sungguh mengagumkan. Ketika ditanya apa olah raganya, ternyata jawabannya “lari-lari kecil di dalam rumah, atau di kamar hotel kalau sedang travelling.”

Saya sekarang sedang menerapkannya dalam meningkatkan volume minum air putih. Sekali lagi saya kapok gagah-gagahan, sehingga saya minum sedikit demi sedikit, tapi botol air mineral selalu ada di samping. Tanpa sadar 3-4 botol terminum juga tiap hari. Sekali lagi kuncinya adalah kaizen, perlahan agar “satpam amygdala” tidak sampai bangun, sehingga menciptakan alasan untuk menunda.

Kesimpulannya, “think big, start small, act now.” Biasanya kita gagah-gagahan pasang target besar, tapi selalu ada alasan, “Tunggu kalau ada waktu, ada uang, kalau yang lain juga siap.” Nyatanya, comfort zone kita juga terlalu nyaman untuk ditinggalkan.

“Change or die!” kata orang. Iyalah, tapi mulai pelan-pelan, jangan sampai satpam amygdala di otak kita bereaksi. Kata ludruk Suroboyoan,ojo nggugah asu turu,” jangan bangunkan anjing tidur. Kalau amygdala kita sadar, ada saja argumen yang dibisikkan ke pikiran untuk tetap nyaman, tunggu waktulah, uanglah, temanlah, nanti saja sekalian. Act now! Selamat mencoba.[rm]

* Risfan Munir adalah penulis buku Jurus Menang dalam Karier dan Hidup ala Samurai Sejati (Gramedia Pustaka Utama, 2009) dan Pengembangan Ekonomi Lokal Partisipatif (LGSP-USAID, 2004, 2008). Kolumnis tetap pada www.AndaLuarBiasa.com.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 9.5/10 (2 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: 0 (from 0 votes)

2 Responses to “Samurai Sejati 9: Jangan Bangunkan Satpam!”

  1. Gagan Gartika Says:

    Iya deh, besok saya mulai pelan-pelan berolahraga lagi. Takut keburu sakit berabe lagi. hehe…

    UN:F [1.6.9_936]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    UN:F [1.6.9_936]
    Rating: 0 (from 0 votes)
  2. Lex dePraxis Says:

    Hmmm, tulisan yang menarik. Terima kasih telah berbagi, karena jujur saja saya merasa jarang ada yang menuliskannya dalam perspektif seperti ini. Kesuksesan memang harus dimulai dari dalam, serta dilakukan dengan penuh komitmen.

    Saya pikir kita memang perlu saling mengingatkan satu sama lain tentang teori dan proses pengembangan diri. Dan sebagai referensi silang, Anda juga pasti bisa menemukan cerminan lainnya dalam tulisan saya yang berjudul Racun Pengembangan Diri. Sekedar untuk semakin menambah wawasan saja, semoga bisa membantu.

    Salam kenal, sobat, senang bertemu dengan sahabat baru yang juga memiliki semangat untuk menginspirasi orang lain.

    Lex dePraxis
    Unlocked!

    UN:F [1.6.9_936]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    UN:F [1.6.9_936]
    Rating: 0 (from 0 votes)

Leave a Reply

Comment moderation is enabled. Your comment may take some time to appear.

Motivasi Dunia

Motivasi Dunia

Kolomnis

<
Edy Zaqeus Eni Kusuma Avanti Fontana Alexandra Dewi Miranda Suryadjaja Sofa Nurdiyanti
Anang Y.B. Hartati Nurwijaya Aleysius H. Gondosari Sulmin Gumiri Relon Star Sri Budiastuti
Agus Riyanto Iftida Yasar Fida Abbott Ery Prasetyawan Tanenji Ingrid Gunawan
Maria Saumi Ely Susanti Agung Praptapa Putu Adnyana Fita Irnani Nathalia Sunaidi
M Sebastian Wijaya Abdul Muid Badrun Kak Sugeng Akhmad Sirodz Lisa Nuryanti Abidin Noor
Wuryanano Petriza Giovanni Amelia Devina Tri Wahyuni Endang Setyati Vina Tan
Lianny Hendranata Emmy Angdyani Erawati E. Setyo Hartono Fatma Kartika Sari Supandi Radinal Mukhtar Harahap
Sawali Tuhusetya Gatut Heru Susanto Effendi Budi P. Fajar S. Pramono Ade Asep Syarifuddin Melly Kiong
Guntur Novizal Ida Rosdiana Natapermadi Risfan Munir Sri Julianti Sawiji Farelhana Dewi Rhainy
Deni Kurniawan As’ari Johanes Ariffin Wijaya Indari Mastuti Enggar Kusumaningsiwi Daniel Kurniawan Sayuri Yosiana
A.A. Kunto A. Lina Kartasasmita K. Hanna Fransisca Wahidunnaba Yusuf Tantowi Dwiatmo Kartiko
Meta Sekar Puji Astuti M. Adi Prasetyo Abd. Basid Lily Choo Rina Dewi Lina Berny Gomulya
Zee Cardin M. Iqbal Dawami Sidik Nugroho Emmy Liana Dewi Ridwan Sumantri Dwiyana Apriandini
Andrew Abdi Setiawan Gobind Vasdhev J. I. Michell Suharli Yusnita Rifai Gagan Gartika

Check Google Page Rank

Buku Baru

Obrolan yang Bikin Kamu kaya

Judul: Obrolan yang Bikin Kamu kaya
Oleh: Don Gabor
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama, 2009
ISBN: 978-979-22-5073-2
Tebal: xviii + 380 hal

Jangan hanya membangun jejaring luas-berjejaringlah dengan cerdas!
Obrolan yang Bikin Kamu Kaya menyajikan pendekatan baru revolusioner pada topik berjejaring yang tak lekang waktu. Penulis buku laris dan pelatih komunikasi Don Gabor memperkenalkan Anda pada empat gaya berjejaring—Kopetetif, Supel, [...]

Full Story | February 24th, 2010

Best Viewed With Mozilla FireFox