Samurai Sejati 6: Meminjam Akal Teroris
Editor | Kolom Tetap | August 25th, 2009
Oleh: Risfan Munir*
Lagi-lagi aparat keamanan kecolongan dan bom meletus di dua hotel mewah yang pengamanannya super ketat, Ritz Carlton dan JW Marriott pada 17 Juli 2009 yang lalu. Modus operandinya menggunakan perangkat non-konvensional, yaitu komponen elektronik TV dan lemari es yang ada di kamar hotel tersebut. Pelakunya juga menyamar sebagai tukang bunga yang rutin datang sehingga pantas saja tak terdeteksi petugas.
Apa yang sesungguhnya terjadi sehingga aparat atau pasukan yang dilengkapi dengan peralatan super canggih sering tak mampu mencegah serangan yang non-konvensional? Salah satu hal yang bisa dipahami ialah faktor “ketidak-terdugaan” yang dilancarkan oleh teroris atau pelaku teknik gerilya umumnya.
Ini mengingatkan saya akan pesan samurai sejati Musashi, yang selalu menekankan “ketidak-terdugaan”. Musashi sering tidak membuka serangan dengan kuda-kuda, bahkan kadang hanya bersenjata batang “kayu bakar” yang dipungut di tempat pertarungan, sehingga lawannya bingung, menunggu (kuda-kuda, pedang). Di saat musuh bingung itulah serangan mematikan dilancarkan.
Kejadian “kecolongan” dari teroris atau gerilyawan ini tidak hanya terjadi di Indonesia, tetapi pada skala dunia juga seperti dulu di Vietnam, Afganistan, Somalia, dst. Mengapa “kecolongan” ini sampai terjadi pada pasukan yang terlatih baik? Salah satu jawabannya, pasukan modern dengan peralatan canggihnya terlalu berpikir konvensional dan terlalu mengandalkan (rely on) peralatan teknologinya.
Dalam knowledge management suatu knowledge (pengetahuan) dan skill (keterampilan) harus bisa menyatu (internalized) pada manusianya sebagai perilaku, kebiasaan, atau refleks. Sebetulnya, teknologi canggih bisa membantu banyak untuk operasi pasukan. Namun penyakitnya, kalau sudah menggunakan teknologi canggih, manusia manjadi nyaman, terlalu mengandalkannya, sehingga kemampuan individualnya menjadi tidak dipakai secara maksimal.
Kecenderungan tersebut tentu tidak terjadi dalam bidang pertahanan saja, tetapi juga pada kegiatan manusia lainnya. Misalnya, banyak nelayan yang tergantung pada perahu motor sehingga generasi berikutnya tak bisa memanfaatkan angin dengan manuver layar. Akibatnya, pada saat bahan bakar mahal dan langka, para nelayan sekarang tak bisa melaut. Padahal, kalau bisa memadukan layar dan mesin, mereka akan bisa menghemat bahan bakar minyak pada saat angin bagus.
Mungkin ada yang nonton film Black Hawk Down, batapa para prajurit marinir itu saat lepas dari perlengkapan tempur dan senjatanya tak merasa dirinya sebagai prajurit yang harus tetap waspada, malah bergaya turis. Kelengahan terjadi sehingga pada saat itulah dia ditangkap dan diseret lawan. Naluri dia sudah bukan naluri prajurit, tetapi operator peralatan tempur.
Kita umumnya sudah sulit berhitung tanpa kalkulator. Saat kita tergantung pada kalkulator, bukan cuma keterampilan berhitung yang hilang, tetapi naluri analisis kuantitatifnya juga melemah. Seperti halnya dokter yang mengandalkan alat USG untuk mendeteksi, nalurinya dalam mengantisipasi kejadian bisa ikut hilang.
Sewaktu kuliah dulu cucian saya serahkan ke tukang binatu (laundry) dekat kampus. Yang menarik, si tukang binatu yang tua itu tak pernah mencatat. Paling hanya mengonfirmasi, “Lima potong ya, Den; satu celana, dua kaos, dua baju.” Awalnya saya khawatir dengan risiko hilang karena tak tercatat, tetapi waktu mengambil tiga hari kemudian ternyata menakjubkan, Pak Tua itu hafal. Padahal, ada ratusan pakaian ditumpuk rapi di seluruh dinding, dia hafal punya siapa, berapa potong, dan apa saja. Kemampuan memori Pak Tua itu terasah terus sehingga dia bisa selalu mencatat dalam pikirannya dengan akurat. Tetapi, kemampuan individual ini—pada banyak orang—hilang karena ketergantungan pada catatan atau komputer.
Ungkapan “use it or loose it” berlaku di sini. Pergunakan atau kamu akan kehilangan. Ini berlaku untuk otot maupun akal kita. Kalau tangan tak pernah dipakai mengangkat beban, kalau kaki tak pernah digunakan untuk jalan jauh atau lari, lambat laun kemampuannya pun menurun. Begitu pula akal, kalau memori tak pernah dilatih, akan menurun pula daya ingat kita. Kalau ketajaman pikiran dalam matematika, aritmatika, menyusun strategi atau taktik, memecahkan masalah, mengembangkan visi tak dilatih secara teratur, maka daya pikir kita akan menurun atau malah merosot.
Pada saat ini, banyak ahli yang menyarankan agar kita menggunakan otak kiri dan kanan secara berimbang. Otak Kiri bekerja menggunakan rasio, logika, sistematis seperti matematika dan bahasa yang baku. Sedang Otak Kanan untuk fungsi yang menyangkut kreativitas, mencerna simbol, warna, dan rasa. Selama ini, pendidikan mengunggulkan penggunaan Otak Kiri secara dominan sehingga yang mendominasi adalah logika, pola pikir yang sistematis, terstruktur, dan sistematis. Padahal, kenyataan di masyarakat akhirnya menunjukkan bahwa mereka yang mampu menghimbau, mempersuasi, memasarkan, menarik perhatian, termasuk memimpin, dan mengubungkan berbagai aspek secara kreatif (Otak Kanan) justru menjadi orang-orang yang berhasil dalam pengertian lebih luas.
Sementara, mereka yang mengandalkan logika konsisten, matematis, terstruktur sistematis (Otak Kiri) kebanyakan “terjebak” pola pikirannya sendiri, dan akhirnya mereka hanya sukses kalau masuk sistem yang sudah teratur seperti perusahaan besar, swasta, ataupun BUMN, sebagai profesional atau manajer bidang tertentu saja. Padahal, pada masa sekarang ini perusahaan besar atau instansi pemerintah pun sewaktu-waktu bisa dilikuidasi alias dibubarkan karena perubahan kebutuhan dan keterbatasan anggaran.
Shoto (pedang pendek sebagai ringkasan):
Kembali kepada pesan Musashi, dan meminjam akal si teroris: Janganlah tergantung pada teknologi semata, tetapi kembangkan kemampuan sebagai manusia seutuhnya. Kedua, pakai pola pikir non-konvensional (Otak Kiri) dan konvensional (Otak Kanan) secara berganti-ganti dalam kegiatan apa pun agar “ketajaman logika maupun daya kreatif” kita terasah terus.
Beberapa kegiatan rutin harian yang dapat membantu meningkatkan dan memelihara kemampuan knowledge dan skill kita agar kian tajam dan kreatif, antara lain:
- Untuk melatih otot dan kemampuan fisik, daya tahan, saran klasik yang memang harus dilakukan ialah olah raga dengan teratur. Di samping itu, sewaktu bekerja usahakan sesering mungkin melakukan stretching; kalau banyak menggunakan komputer alihkan pandangan sesekali ke objek yang jauh;
- Daya ingat bisa dilatih antara lain dengan mengingat hal-hal yang menurut kita penting selama dua hari yang lalu, setiap malam menjelang tidur, baik itu menyangkut nama-nama, angka, kegiatan, dan lainnya;
- Daya kreatif bisa dilatih setiap jeda waktu dengan menggambar, menulis karangan, atau membuat coretan diagram mind-mapping untuk mengeluarkan dan memetakan ide-ide;
- Daya pikir rasional, sistematis bisa dilatih dengan melakukan analisis pemecahan masalah dan pengambilan keputusan (problem solving, decision making), sederhananya: (i) Pilih satu topik persoalan yang sedang mengganggu pikiran, tulis di atas kertas; (ii) Identifikasi sebab-sebabnya dengan menuliskan di bawah topik, tarik garis yang menghubungkan topik dan setiap sebab; (iii) Untuk setiap sebab identifikasi akar sebabnya, lalu hubungkan setiap akar-sebab dengan sebab di atasnya, sehigga akhirnya tergambar pohon masalah. Untuk mencari solusinya, buatlah diagram yang identik dengan pohon masalah itu, tetapi ubah isinya: Semua akar-sebab ganti dengan ‘tindakan’ dengan mengubah kata misalnya ‘kurang disiplin’ menjadi tindakan ‘melatih disiplin’ dan seterusnya hingga ‘topik persoalan’ diganti dengan ‘kondisi yang diinginkan’ (misalnya persoalan ‘Kemerosotan Prestasi’ diganti dengan ‘Masuk 5 Besar’). Maka, akan tergambar diagram pohon solusi lengkap dengan tindakan-tindakan yang harus diambil. Selanjutnya adalah menentukan prioritas tindakan berdasarkan tingkat pengaruh atas solusi besar dan sumber daya yang tersedia.
Semua latihan di atas, seperti halnya latihan yang dilakukan para samurai, sebaiknya diawali dengan proses “relaksasi”, antara lain dengan duduk tenang, menarik napas panjang tiga kali. Sambil berhitung mundur dari sepuluh hingga nol, lupakan/ikhlaskan sementara semua beban pikiran. Setelah itu lakukan salah satu latihan di atas.
Daftar latihan itu tentunya bisa dikembangkan sendiri pembaca pilihan dan caranya. Namun intinya, dengan melakukan latihan berbagai kemampuan dasar manusia secara rutin, diharapkan kemampuan tersebut akan berkembang terus dan terpelihara, sehingga kita selalu siap menghadapi tantangan yang tak terduga sekalipun.[rm]
* Risfan Munir adalah peminat spirit samurai untuk meningkatkan etos kerja. Ia bekerja sebagai seorang konsultan manajemen dan perencanaan. Alumnus Institut Teknologi Bandung ini sudah menulis tiga buku berjudul Pengembangan Ekonomi Lokal Partisipatif, Seri Manajemen: Skema Tindakan Peningkatan Pelayanan Publik, dan Aplikasi Pemberdayaan UMKM. Ia dapat dihubungi melalui blog http://ecoplano.blogspot.com dan pos-el: risfano[at]gmail[dot]com.

Leave a Reply