Samurai Sejati 4: Mata Elang dan Mata Cacing
Editor | Kolom Tetap | July 28th, 2009
Oleh: Risfan Munir*
“Dalam Jalan Pertempuran, konfrontasi antarpribadi dan konfrontasi yang melibatkan sepuluh ribu orang melawan sepuluh ribu orang lainnya adalah sama. Saat memperluas atau mempersempit pikiran, kamu harus memerhatikan hal ini dan mengamatinya dengan baik. Melihat hal besar adalah perkara mudah dan melihat hal kecil adalah perkara sulit, karena sekelompok besar orang sulit berubah dengan cepat, sedangkan satu orang hanya memiliki satu pikiran sehingga mudah berubah. Oleh karena itu, lebih sulit untuk memahami hal kecil.”
~ Musashi, The Book of Five Rings, h.42
Menurut Musashi, baik duel, pertempuran kecil, pertempuran besar, strateginya sama, hanya skalanya yang berbeda. Saat memimpin pasukan besar persoalannya hanyalah bagaimana membaginya dalam kelompok kecil dan memberi peran masing-masing dalam menyerang, lalu menyatukannya di saat yang tepat untuk mengepung lawan dari berbagai penjuru. “Membagi dan menyatukan” kepada satu tujuan.
Prinsip berpikir scaling yang “membagi dan menyatukan” ini diterapkan juga oleh Musashi dalam metode pengajaran samurainya. Musashi sering mengasosiasikan membangun keunggulan seni pedang dan membangun keunggulan tempur dengan kerja tukang (kayu) membangun rumah. Setelah blue-print sebagai sasaran dibuat, pekerjaan dibagi dalam unit-unit kecil. Tiap unit punya tugas yang jelas. Itulah yang dia maksud bahwa strategi duel, pertempuran kecil, atau pertempuran besar sesunguhnya sama. Bedanya hanya soal skala, mempertimbangkan span of control, mendelegasikan detailnya ke tiap ketua kelompok.
Bisakah Anda makan sepeda? Mana mungkin kita makan besi sebesar itu! Tetapi, itu akan mungkin kalau sepeda itu digerinda menjadi serbuk besi, dan tiap hari kita makan sedikit demi sedikit, dicampur makanan sehari-hari. Begitu pula pekerjaan besar, misalnya menulis buku. Jangankan menulis, untuk membaca saja, kalau melihat buku yang tebalnya 300 halaman lebih sebagian besar orang ngeri. Tetapi, menjadi ringan kalau langsung dimulai dari satu kalimat, alinea, halaman, sub-bab, bab, dan seterusnya. Kata pepatah, perjalanan seribu kilometer dimulai dari ayunan langkah pertama.
Ada kalanya, yang kita hadapi bukanlah pekerjaan (yang kita anggap) besar, tetapi “persoalan”-nya yang besar, kekalutan yang kompleks. Ini menyebabkan kita “lumpuh”, bingung, stres, ngeri, tak tahu harus berbuat apa. Mungkin, itu disebabkan kekhawatiran akan masa depan yang menghantui. Atau, karena penyesalan akan masa lalu yang mengejar kita. Untuk mengatasi ini cobalah untuk membatasi pikiran pada ”hidup hari ini saja”. Kemarin sudah lalu, besok belum tentu, jadi pikirkan saja hari ini. Setidaknya hari ini kita masih oke-oke saja.
Teknik berpikir untuk menerobos kekalutan di atas sebetulnya identik dengan teknik chunk-down dan chunk-up dalam NLP (Neuro Linguistic Program). Persoalan besar kalau dilihat dari ketinggian ”mata elang” (bird eye view), menjadi tampak kecil. Sebaliknya, masalah kecil kalau dilihat dari ”mata cacing” (warm eye view) menjadi kompleks.
Pikiran kita kalut, kadang karena kekuatiran yang berlebihan. Ini karena masalah tertentu (spesifik) kita generalisir secara berlebihan. Gagal sekali, kita generalisir menjadi kesimpulan “tidak bakat, sudah nasib”. Minum es sekali lalu pilek, kita anggap diri kita alergi. Suami atau anak pulang kemalaman sekali, kita sebut “sering atau selalu” telat pulang. Kadang kekuatiran membuat kita mencari-cari alasan yang menguatkan, sehingga gagal sekali, kita generalisasikan sebagai tak ada harapan. Padahal dalam pelajaran salesperson misalnya, kalau orang membeli kemungkinannya hanya 1:20, artinya datangilah 20 orang supaya dapat satu pembeli. Oleh karena itu, perlakukan persoalan yang spesifik itu sebagai hal spesifik, mungkin memang cuma terjadi sekali-sekali saja. Yang penting atasi, kalau itu kesalahan beri peringatan agar tidak terulang, atau mungkin karena ada alasan tertentu orang terpaksa melakukan kesalahan, terlambat, dst. Coba untuk dipahami.
Menangani persoalan secara detail mutlak diperlukan, tetapi memikirkan persoalan-persoalan detail, kecil, bisa membuat kita senewen, akhirnya justru kehilangan pokoknya. Seperti auditor yang terlampau risau dengan hilangnya karcis parkir, akhirnya justru tertipu oleh proyek rugi tetapi dokumennya lengkap. Untuk itu diperlukan latihan untuk menerapkan sudut pandang burung elang yang melihat persoalan dari ketinggian dan jarak jauh, sehingga tidak harus melibatkan emosi. Sebaliknya untuk siap menanganinya, diperlukan cara pandang yang memcah persoalan menjadi potongan kecil, detail, agar bisa ditangani satu demi satu, sedikit demi sedikit. Untuk kemudian dilihat lagi secara keseluruhan agar tidak berantakan. Proses berpikir ini bisa dilatih dengan memainkan penggunaan “mata elang” yang melihat persoalan secara global dari ketinggian dan “mata cacing” yang melihat pekerjaan secara detail, dan menggunakannya secara berganti-ganti.
Shoto:
Untuk menangani pekerjaan besar, pecah menjadi bagian-bagian, unit-unit lebih kecil, lalu kerjakan satu demi satu, dari waktu ke waktu. Kalau dalam tim, latih diri untuk membagi tugas, mendelegasikannya.
Sementara itu, untuk memecahkan persoalan, mainkan pikiran dengan melihatnya dengan ”mata elang” dari ketinggian dan jarak jauh, lalu turun ke bawah dan menggunakan ”mata cacing” untuk melihat detailnya. Selanjutnya perlahan balik lagi ke atas menggunakan ”mata elang” lagi, dan perlahan turun lagi dan menggunakan ”mata cacing”. Lakukan berulang kali, rasakan dampaknya.[rm]
* Risfan Munir adalah peminat spirit samurai untuk meningkatkan etos kerja. Ia bekerja sebagai seorang konsultan manajemen dan perencanaan. Alumnus Institut Teknologi Bandung ini sudah menulis tiga buku berjudul Pengembangan Ekonomi Lokal Partisipatif, Seri Manajemen: Skema Tindakan Peningkatan Pelayanan Publik, dan Aplikasi Pemberdayaan UMKM. Ia dapat dihubungi melalui blog http://ecoplano.blogspot.com dan pos-el: risfano[at]gmail[dot]com.
Catatan: Shoto adalah pedang pendek sebagai pasangan pedang panjang (daito) yang biasa dipakai para samurai. Di sini dimaksudkan sebagai Ringkasan.

Leave a Reply