Samurai Sejati 10: Persepsi Konflik Bank Century
Editor | Kolom Tetap | February 2nd, 2010
Oleh: Risfan Munir*
Bagaimanakah Anda melihat masalah Bank Century yang menjadi topik berita beberapa minggu ini? Sebagai persoalan politik, persoalan hukum perbankan, persoalan tata negara, persoalan pidana korupsi? Dalam kebijakannya apakah betul secara ekonomi masalah Bank Century itu berdampak “sistemik” atau tidak? Dari adegan yang disiarkan media, kepada siapa Anda bersimpati, sebal, bingung?
Sikap kita dalam hal ini sangat dipengaruhi oleh persepsi, baik persepsi kita sendiri maupun sudut pandang dari jurnalis yang meliputnya. Jika persepsi kita dari awal sudah mengarah ke masalah keberpihakan politik, maka informasi yang kita tangkap, logika, argumentasi yang kita susun mengarah ke aspek politik (dukung pihak A atau B). Lain lagi kalau kita melihatnya dari perspektif teknis perbankan dan aturan perbankan yang ada.
Samurai legendaris Musashi berkali-kali menunjukkan pentingnya ‘menata persepsi’ sebelum dan selama bertarung. Sering dia mengosongkan persepsi (anggapan, dugaan, sudut pandang) agar tidak terkecoh oleh penampilan lawan, tapi sebaliknya ‘tampil aneh’ untuk membingungkan, atau mengacaukan persepsi, musuh bebuyutan yang sudah pernah mengenal dirinya.
Edward de Bono (2009) mengutip hasil riset yang dilakukan Prof. David Perkins of Harvard University yang menunjukkan bahwa “90 persen kesalahan dalam berpikir adalah kesalahan persepsi” (Edward de Bono, 2009). Kebanyakan orang mengartikan berpikir sebagai penggunaan logika, menyusun argumen. Mereka menyusun rangkaian sebab-akibat dari persoalan untuk memecahkannya dengan memperbaiki penyebabnya. Umumnya orang lupa soal beda persepsi dibalik logika tersebut. Padahal, kesimpulan yang diambil seseorang sudah diarahkan oleh persepsinya.
Betapa sering orang, atau kita, salah mendefinisikan persoalan. Anak yang kalau belajar selalu mengeluh pusing dianggap kurang cerdas, padahal mungkin dia butuh kacamata minus. Orang lain yang tidak mau makan makanan yang kita hidangkan kita anggap sombong, padahal ternyata dia pantang makanan pedas.
Mengapa dua orang atau lebih, dengan ilmu yang sama bisa berdebat seru? Ini sering terjadi karena perbedaan persepsi, beda sudut pandang. Contoh sederhananya soal kemacetan lalu lintas, yang satu menganggap itu persoalan jumlah/panjang jalan yang tak bisa mengimbangi pertumbuhan jumlah kendaraan; yang lain menganggap pertumbuhan jumlah kendaraanlah yang jadi sebab sehingga perlu dikendalikan. Perbedaan sudut pandang yang paling umum adalah pandangan tentang gelas “1/2 isi atau 1/2 kosong.” Pandangan optimis melihat sebagai 1/2 isi, sementara yang pesimis melihatnya kebalikannya.
Hal penting yang layak diperhatikan, bahwa logika sulit mengubah emosi dan sudut pandang orang, namun mengubah persepsi bisa mengubah emosi. Mereka yang dari awal berpihak kepada Pansus DPR, atau sebaliknya berpihak kepada Pemerintah sulit diyakinkan dengan logika, argumen yang berbeda dengan anggapan awalnya itu. Kita dapat menyaksikan dari media betapa emosionalnya masing-masing pihak, dan saling menyatakan logika dan argumen yang diyakininya.
Masalahnya ialah bagaimana caranya mengubah persepsi kita atau orang lain itu? Dalam hal ini ada dua aspek yang disarankan (De Bono, 2009): pertama dari sisi perilaku, kedua menggunakan teknik tertentu.
Memainkan perilaku
Pertama, kreatif terhadap apa pun, tidak hanya berpikir untuk pemecahan masalah. Kita berpikir, mengamati, mencoba memahami sesuatu sebaiknya bukan cuma untuk “memecahkan persoalan”, tetapi juga untuk belajar, memperkaya ide untuk mengembangkan visi, tujuan dan rencana pengembangan yang lebih luas. Misalnya, lingkungan tempat tinggal kita kena banjir. Kalau kita hanya berpikir tentang mengatasi persoalan, maka jawabannya pada soal banjir setempat. Padahal kalau kita melihatnya lebih luas, jawabannya bisa mencari rumah alternative, ide-ide mencari uang untuk pindah, karena banjir di situ ternyata akan permanen.
Kita mengamati sesuatu, mencoba memahami, misalnya Kasus Bank Century di atas, bukan untuk jadi hakim atau kurban konflik yang membuat stress, tetapi juga untuk “melatih sikap dan kemampuan berpikir” menanggapi polemik dalam era tsunami informasi sekarang ini.
Untuk itu kita diharapkan punya sikap yang tidak terlalu cepat mengambil kesimpulan, apalagi menghakimi. Kosongkan dulu persepsi, pesan Musashi. Carilah penjelasan, informasi lebih banyak, yang mewakili beberapa sudut pandang. Mencoba memikirkan apa isu atau tujuan utamanya, dan apa saja faktor pendukung dan penyebabnya.
Di samping itu coba lihat pilihan-pilihan sebab, pilihan-pilihan penjelasan, dan pilihan-pilihan kesimpulan dan tindakan yang mungkin bisa diambil untuk menguatkan pemahaman, atau memecahkan persoalan, atau untuk pengenbangan (diri, organisasi, perusahaan) lebih lanjut.
Selanjutnya pikirkan pula konsekuensi-konsekuensi logis dari setiap kesimpulan yang kita ambil, tindakan-tindakan yang yang akan kita buat. Dan, coba kembangkan beberapa skenario pemikiran atas beberapa kesimpulan dan alternatif tindakan, dengan mengandaikan beberapa kemungkinan perubahan situasi lingkungan.
Menggunakan Teknik Ubah Persepsi
Pendekatan kedua dalam “memainkan persepsi” ialah dengan menerapkan teknik pengubah persepsi. Ada beberapa teknik yang bisa dicoba diterapkan dalam hal ini.
Teknik berpikir pertama ialah pahami atau gunakan cara berpikir orang lain, atau tiap pihak yang ada (berkonflik). Dalam buku saya Jurus Menang dalam Karier dan Hidup ala Samurai Sejati (Gramedia, 2009), teknik ini disebut “jadilah lawanmu”. Kalau kita akan memengaruhi persepsi lawan bicara atau audiens, cobalah fahami lebih dulu: dari sudut mana mereka memandang. Itu bisa dipengaruhi oleh tujuan, motif, yang latar belakang juga budaya mereka yang kondisi ekonomi, pendidikan, etnis, daerah dst.
Teknik pengubah persepsi kedua ialah dengan pengungkapan aspek positif, aspek negatif dan sisi menarik (PNM) dari tiap informasi, ide atau tantangan.
Jika sekelompok orang diminta menyampaikan pendapatnya, maka ada masing-masing kecenderungan mereka melihatnya dari satu sisi saja. Bisa positif, bisa negatif. Namun kalau diminta menyatakan sisi positif, lalu sisi negatif, maka mau tak mau kita atau audiens memikirkan kedua sisi. Lalu memikirkan sisi ketiganya, yaitu sisi menarik, atau manfaat. Sehingga, kita atau audiens akan memikirkan aspek yang lebih pribadi “apa manfaat bagiku”.
Dengan memahami hal tersebut, selanjutnya dapat dicari titik temu, misalnya persamaan persepsi menyangkut “tujuan bersama”, kepedulian pada “isu yang sama”, yang dapat diangkat sebagai tema kerja sama. Bagaimanakah pendekatan, metode, cara atau pilihan bahasa yang sesuai dengan latar budaya mereka.
Permainan role-play, yaitu memerankan diri sebagai pihak-pihak yang berkonflik akan banyak membantu dalam hal ini. Misalnya sengketa dalam pembangunan lingkungan kota, ada peran warga setempat, peran pengembang (developer), peran pemerintah daerah, dan lainnya. Memerankannya secara bergantian membuat kita atau audiens merasakan bagaimana dan apa motif masing-masing pihak. Sehingga, diperoleh pemahaman atau strategi yang lebih efektif untuk mencapai kesepakatan.
Dengan demikian, jika kita dihadapkan pada persoalan atau membanjirnya informasi misalnya Kasus Bank Century, sebaiknya kita amati dulu, mencoba memahami, mencoba berbagai sudut pandang, posisi para pihak, dan tidak terlalu cepat berpihak atau jadi hakim apalagi jadi kurban konflik yang membuat stress. Justru sesungguhnya kita bisa memanfaatkannya untuk “melatih sikap dan kemampuan berpikir” menanggapi polemik dalam era tsunami informasi sekarang ini.[rm]
* Risfan Munir, penulis buku ”Jurus Menang dalam Karier dan Hidup ala Samurai Sejati” (Gramedia, November 2009) dan kolumnis tetap pada AndaLuarBiasa.com, Samuraisejati.blogspot.com dan penulis lepas Pembelajar.com.

February 13th, 2010 at 12:28 pm
Sama seperti 2 orang buta yang disuruh memegang seekor Gajar dan mendefinisikannya.orang 1 yang memegang belalai akan mengartikan gajah itu seperti belalai. orang yang memegang gading akan mengartikan gajah itu seperti gading.
munculnya persepsi-persepsi dari gelapnya ketidaktahuan dapat merugikan diri sendiri jika persepsi tersebut bergerak liar tak terkondisikan dan berujung pada sifat fanatik yang ekstrim.