Saat Anda Tak Memiliki Waktu
Editor | Kolom Lepas | February 16th, 2010
Oleh: Fida Abbott*
Time is Money. Pernyataan ini sudah sangat umum kita dengar dan sudah tidak asing lagi bagi kita. Sebenarnya, apakah artinya? Menurut saya, pernyataan itu mengartikan bahwa waktu itu sangatlah berguna sehingga selayaknyalah kita bijaksana dalam memanfaatkannya.
Status sebagai seorang wanita yang telah berkeluarga dan telah memiliki putera-puteri, tentu sangat menguras tenaga dan pikiran, apalagi bila ada embel-embel berikutnya, yaitu bekerja di luar rumah ditambah melakukan beberapa aktivitas sukarelawan, plus kegiatan tulis-menulis. Ini belum seberapa bila dibandingkan ada anggota keluarga yang sakit. Siapakah yang paling repot? Tentu saja seorang ibu. Belum lagi setiap hari harus memikirkan kira-kira makanan apa yang akan disantap oleh keluarga, baik untuk sarapan pagi, makan siang dan makan malam, ditambah urusan sekolah yang paling tidak seorang ibu harus mempersiapkan keperluan sekolah atau membantu mengajar anak-anaknya.
Kondisi di atas adalah sebuah contoh yang saya alami sendiri. Dapatkah Anda membayangkan bagaimana sibuknya diri saya? Bahkan dalam kurun waktu sekitar delapan bulan saya dapat menyelesaikan penulisan sebuah novel pertama saya tanpa melalaikan semua tugas satu pun di atas. Tambahan aktivitas tersebut sangat menguras energi, pikiran, dan emosi. Apalagi saya menulisnya dalam bahasa kedua saya, yaitu bahasa Inggris. Seminggu setelah menyelesaikan total penulisan tersebut, saya tak menyentuh notebook yang biasa saya gunakan untuk menulis novel. Saat itu pun saya baru sadar betapa besarnya energi, pikiran, dan emosi yang terlibat selama kurun waktu penulisannya. Kalau saya katakan tak ada satu pun kagiatan lainnya yang terganggu, berarti ada satu hal lainnya yang harus saya korbankan. Apakah itu? Tak lain adalah waktu tidur saya yang berkurang.
Saya sadar apabila ingin mencapai sesuatu tujuan yang diinginkan akan ada sesuatu yang harus saya korbankan, yaitu mengurangi waktu tidur. Bila Anda memiliki waktu tidur antara 8-10 jam per hari, maka saya berkurang setengahnya. Meskipun begitu ada sesuatu kenikmatan dan kepuasan dalam hati yang tak dapat dibayar oleh apa pun setelah menyelesaikannya hingga tuntas, dan itu merupakan obat yang mujarab sepanjang masa.
Kalau Anda pernah mendengar seorang yang belum berkeluarga dan menyukai dunia tulis-menulis mengatakan tak ada waktu untuk menulis, maka saya katakan untuk perlu mengoreksi pernyataannya. Hasrat yang tinggi disertai tekat bulat akan mengalahkan segalanya, termasuk waktu itu sendiri.
Kalau seorang ibu rumah tangga dengan segudang kegiatannya, baik di dalam dan di luar rumah, aktivitas online-nya, sukarelwan maupun yang tidak, maka saya yakin Anda-anda yang masih single, belum berkeluarga akan lebih jauh dapat melakukan hal-hal yang lebih besar daripada itu. Bagaimana? Setujukah Anda dengan pernyataan saya tersebut?[fa]
* Fida Abbott adalah Arek Suroboyo yang lahir pada 11 Pebruari 1970 di Surabaya dan sekarang tinggal di Pennsylvania, Amerika Serikat. Ia mengenal dunia tulis menulis sejak usia 8 tahun hasil didikan langsung ayahndanya, Imam Sujono, dan melahirkan cerpen remaja pertamanya berjudul “Kidung Kasih untuk Lintang” pada usia 13 tahun. Menulis merupakan aktivitas lulusan Pertanian jurusan Agronomi dari UPN ‘Veteran’ Surabaya ini. Fida memiliki beberapa pengalaman kerja di bidang landscape, dari proyek kecil hingga besar, dari perumahan tunggal, real estate, hingga hotel, kondominium, apartemen berbintang lima di Surabaya. Ia pernah berkarier di AIG-Lippo, jadi guru les privat, dan kini tercatat sebagai WALMART Associate, menjadi Redaktur Pelaksana Harian Online KabarIndonesia (HOKI), www.kabarindonesia.com sekaligus Direktur Pelatihan Menulis Online HOKI (PMOH). Tulisan-tulisannya tersebar di beberapa media online, antara lain di KabarIndonesia, Helium, Cross-Written, The Daily Avocado, dan ketiga blog-nya di www.fidaabbott.com, www.buanainspiration.blogspot.com dan www.abbottsbooks.com. Fida adalah penulis buku What Prayers does Mommy Teach Me, Dancing in My World, dan buku seri Amerindo Kitchen. Buku seri pertama Amerindo Kitchen sudah terbit dengan judul Fabulous Leftover Turkey.
February 21st, 2010 at 10:27 pm
Wow…amazing! I must do like what you do. Sukses mba Fida.
February 28th, 2010 at 11:24 pm
Terima kasih Mas Supandi. Keep doing it and one day you will harvest it. And trust yourself!
Salam sukses ya dari PA