Home » Aditokoh » Rike Amru: Presenter Harus Selalu Fresh, Fisik Maupun Mental

Rike Amru: Presenter Harus Selalu Fresh, Fisik Maupun Mental

Rike Amru

Rike Amru

Mungkin Anda adalah sebagian dari pemirsa yang dalam satu dekade terakhir disuguhi penampilan para presenter atau penyiar berita yang cantik-cantik dan ganteng-ganteng. Dan, salah satu wajah cantik yang mungkin sering Anda saksikan di SCTV melalui program Liputan 6 dan Barometer tersebut adalah Rike Amru. Ya, perempuan kelahiran Banda Aceh pada 7 Juli 1973, ini tidak menampik sinyalemen persaingan yang sangat ketat di antara stasiun-stasiun televisi yang ada, khususnya dalam menampilkan para presenter yang rupawan.

Tak heran bila kini, pemirsa bisa melihat sejumlah presenter berita khususnya, yang sempat menjadi semacam ikon di suatu stasiun televisi dan juga berpenampilan menarik serta berwajah rupawan—tentu saja diikuti dengan kemampuan profesi yang sangat baik—seperti menjadi rebutan stasiun-stasiun televisi lain yang ingin menonjol dalam persaingan. Bagi Rike, hal seperti itu lumrah saja, sebab setiap presenter juga membutuhkan tantangan lebih. Yang penting, setiap presenter memiliki modal yang cukup untuk bersaing dan mendapatkan tantangan lebih tersebut.

Walau begitu, menurut Rike, modal penampilan saja sebenarnya tidak cukup memberikan bobot lebih kepada seorang presenter. Menurut jebolan Fakultas Ekonomi USU dan STIE Perbanas ini, kecantikan seorang presenter haruslah terpancar dari intelektualitas dan personality-nya. Nah, kombinasi intelektualitas dan kepribadian yang menawan itulah yang bisa menjadikan penampilan sang presenter memiliki roh, dan itu pula yang memikat maupun mengikta pemirsa. “Sebaliknya, jika betul-betul mengandalkan kecantikan fisik, saya kira penonton tidak bakal betah,” ujar Rike.

Sementara melihat sejumlah rekannya terjun ke dunia politik, Rike menyatakan bahwa hal itu juga wajar-wajar saja. Sebab, dunia jurnalistik memungkinkan seorang jurnalis bersentuhan dengan banyak persoalan riil masyarakat. Dan mungkin saja, itulah yang mengetuk mereka untuk kemudian terjun ke politik. Namun, Rike mengaku akan tetap fokus dan menekuni dunia jurnalisme televisinya. “Jurnalistik adalah end of mind saya,” jelasnya. Berikut petikan wawancara Edy Zaqeus dari AndaLuarBiasa.com dengan Rike Amru, perihal pernak-pernik jurnalistik televisi di Indonesia, yang dilakukan melalui komunikasi via Facebook dan pos-el:

Sekarang ini hampir semua stasiun televisi swasta berlomba-lomba untuk menghadirkan para penyiar berwajah cantik. Komentar Anda?

Wajar saja. Karena itu salah satu cara yang ditempuh oleh stasiun televisi untuk merebut dan mempertahankan atensi pemirsa.

Apakah ini berdampak baik atau buruk?

Berdampak baik, jika kecantikan si penyiar atau presenter itu juga berasal dari intelektualitas dan kepekaannya. Artinya, si presenter tidak sekadar memperlihatkan kecantikan fisik, tapi juga merepresentasikan personality-nya. Dengan begitu, citranya akan memberi roh ke layar stasiun televisinya. Dan, penonton juga merasa nyaman. Sebaliknya, jika betul-betul mengandalkan kecantikan fisik, saya kira penonton tidak bakal betah.

Perpindahan penyiar dari satu stasiun televisi ke stasiun lain juga sering terjadi. Padahal, mereka ini seringnya sudah menjadi semacam ikon bagi stasiun televisi lama. Pandangan Anda?

Banyak faktor yang menyebabkan penyiar pindah ke stasiun televisi lain. Salah satunya, kebutuhan akan tantangan baru. Saya pikir, soal tantangan ini, bisa menjadi lebih penting ketimbang ikon.

Rike Amru: Liputan kebun ganja di Aceh

Rike Amru: Liputan kebun ganja di Aceh

Sebenarnya, modal apa saja yang idealnya dimiliki oleh penyiar televisi?

Yang paling penting memiliki sensitivitas, kepekaan terhadap lingkungan sekitar, sesama, dan isu-isu di tengah masyarakat. Lalu intelektualitas, kemampuan berbahasa yang memadai, serta kepribadian yang luwes, dan low profile. Ini semua modal yang akan membuat seorang penyiar selalu menjadi bagian dalam kehidupan sehari-hari pemirsa televisi.

Di tengah persaingan penampilan para penyiar sekarang ini, menurut Anda, apa yang mesti menjadi tonjolan, hal khas, atau unggulan masing-masing?

Saya pikir…. setiap presenter berita memiliki kekhasan dan daya tarik yang spesifik. Tapi, apa pun kelebihannya, harus selalu bisa diintegrasikan pada prinsip-prinsip jurnalistik, yang direpresentasikan melalui penampilannya. Artinya, prinsip jurnalistik itu yang paling utama untuk ditonjolkan. Seperti, tidak menghakimi dan tidak beropini. Dengan begitu, saat tampil di layar televisi, presenter tidak boleh membawa diri sebagai “selebritis”.

Ada rumor bahwa sejumlah penyiar televisi memaksa diri untuk tetap hidup single untuk mempertahankan penggemarnya. Benarkah itu?

Sama sekali tidak benar! Banyak penyiar menjadi makin matang performanya setelah menikah. Dan, penggemarnya juga menjadi semakin setia.

Dalam masa pemilu seperti sekarang, apakah kalangan penyiar atau jurnalis televisi sering mendapatkan pesan-pesan sponsor, atau bahkan tekanan tertentu?

Secara langsung atau eksplisit sih tidak. Karena, bisa jadi lingkungan jurnalistik justru yang paling disegani. Dan, jangan sampai jadi blunder dan bumerang untuk mereka sendiri. Secara implisit, mungkin ada juga. Tapi, karena kami berpijak pada jurnalisme, kami menjadi tidak peka dan tidak peduli dengan hal-hal semacam itu.

Rike Amru: Presenter harus selalu tampil fresh

Rike Amru: Presenter harus selalu tampil fresh

Sejumlah penyiar, baik yang senior maupun yang masih muda, mulai merambah ke dunia politik. Pandangan Anda?

Saya rasa, pilihan dan keputusan terjun ke politik itu dilandasi oleh keterikatan dan rasa tanggung jawab rekan-rekan tersebut terhadap masyarakat. Selama menjadi jurnalis, mereka selalu bersentuhan dengan persoalan-persoalan masyarakat. Barangkali, ini menjadi langkah konkret mereka untuk bisa berperan lebih banyak. Boleh jadi, ini juga terkait kebutuhan akan tantangan baru tadi.

Dengan tingkat popularitas Anda sekarang ini, apa Anda juga tertarik untuk melebarkan sayap ke dunia politk nantinya?

Tidak…. Jurnalistik adalah end of mind saya.

Anda sering memandu program debat untuk isu-isu yang cukup panas. Pernah punya pengalaman tak terlupakan?

Salah satu pengalaman paling penting, bagi saya, adalah waktu memandu debat para jurnalis senior mengenai kebijakaan pemberitaan eksekusi Amrozi dkk.

Bagaimana cara Anda mengendalikan situasi debat yang memanas itu?

Menghadapi debat yang memanas, yang paling saya pikirkan adalah pemirsa. Informasi apa yang berhak diperoleh pemirsa? Hal ini menempatkan saya sebagai “filter” untuk tidak membiarkan suhu panas menjadi satu-satunya daya pikat program itu. Artinya, saya akan menginjak pedal rem, jika perdebatan keluar dari koridor dan tidak lagi proporsional. Tapi, saya juga memberikan ruang yang leluasa bagi masing-masing panelis, jika dalam debat banyak informasi penting yang bisa dipetik pemirsa.

Kesimpulan apa yang bisa Anda petik dari situasi-situasi debat dalam itu? Apakah masyarakat atau tokoh-tokoh kita siap dan bersedia menerima perbedaan pendapat?

Jujur saja, kadang kala ada tokoh yang tidak siap berdebat, sekaligus tidak siap menerima perbedaan. Kadang kala, ada panelis yang berpikiran sempit, yang memandang forum debat menyerupai arena gulat, dan maunya menang. Tapi, jika presenter yang memandunya melakukan tugasnya dengan baik, masyarakat tentu bisa menilai masing-masing tokoh secara fair.

Rike Amru: Bersama rekan-rekannya di SCTV

Rike Amru: Bersama rekan-rekannya di SCTV

Apa pengalaman paling berkesan yang pernah Anda alami selama tugas jurnalistik?

Hmm, banyak ya. Salah satu yang saya ingat, saat meliput ladang-ladang ganja di lereng pegunungan Leuser. Liputan itu untuk program investigasi Sigi-30 Menit. Anda bisa bayangkan… Saya hampir ‘pingsan’ saat mendaki dan menuruni pegunungan di hutan, untuk mencari ladang ganja bersama tim. Sama sekali tidak mudah bagi saya. Kami stay di sana hampir dua pekan.

Dalam setiap penugasan di lapangan, penampilan tetap menjadi perhatian utama penyiar. Bagaimana Anda menyiasati hal ini, semisal tetap menjaga penampilan selagi tugas di daerah yang sulilt seperti di Aceh…?

Menurut saya, yang paling penting adalah tampil sesuai dengan keadaan dan lingkungan saya berada. Di wilayah sulit, apalagi di daerah yang dilanda bencana, tentu malah tidak wajar kan jika tampil kenes? Tapi, saya selalu memberi “warning” pada diri sendiri, bahwa presenter harus selalu fresh. Fisik maupun mental. Ini penting, supaya selalu siap memberikan informasi yang komprehensif dan detail pada pemirsa. Cara menyiasatinya? Ya, sekurang-kurangnya cukup istirahat dan cukup tidur. Dan, harus bisa istirahat dan tidur di mana pun. Di tenda maupun di kandang….

Penyiar-penyiar baru yang lebih muda dan menarik nantinya pasti akan terus berdatangan. Bagaimana Anda menghadapi situasi semacam ini ke depannya?

Saya sama sekali tidak memandang rekan-rekan muda sebagai pesaing. Saya juga tidak ingin menempatkan diri saya sebagai senior, yang lebih tahu segala hal. Jadi, menghadapi mereka, saya justru mempersiapkan diri, bagaimana supaya saya bisa menjadi rekan kerja dan partner yang ideal. Yang bisa saling berbagi dan belajar satu sama lain.

Siapa penyiar televisi idola Anda?

Banyak. Semua punya spesifikasi dan keunikan masing-masing. Saya juga banyak belajar dari senior saya di Liputan6 SCTV, seperti Ira Koesno dan Rosianna Silalahi.

Rike Amru: Sebuah aksen

Rike Amru: Sebuah aksen

Selain sebagai penyiar, apa yang sehari-hari Anda lakukan, atau yang menyibukkan Anda?

Baca koran, nonton berita maupun program-program dokumenter. Dan, current affairs dari stasiun televisi nasional lain, sampai CNN. Lalu, baca buku dan diskusi dengan rekan-rekan jurnalis maupun dari lintas bidang.

Anda punya mimpi-mimpi ke depan di bidang kehidupan pribadi dan karier? Menuliskan pengalaman jurnalistik dalam sebuah buku, misalnya?

Dalam karier, semoga bisa menjadi wartawan televisi seperti Lara Logan atau Christianne Amanpour, meskipun masih sangat jauh. Menulis buku? Ya, will do.[ez]

Foto-foto: Dokumentasi Rike Amru, dan koleksi Gangsar AJ, Widhi Anthony, Kun GFX, dan Lee Kwangsung.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 3.5/10 (10 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +3 (from 5 votes)

5 Comments

  1. Arief says:

    “Tidak…. Jurnalistik adalah end of mind saya”
    pertahankan fikiran itu….keep spirit ‘ke…

    UN:F [1.6.9_936]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    UN:F [1.6.9_936]
    Rating: +2 (from 2 votes)
  2. ini dia idola saya, lagi nongkrong di andaluarbiasa.com ternyata…Rike Amru memang Super.

    UN:F [1.6.9_936]
    Rating: 5.0/5 (1 vote cast)
    UN:F [1.6.9_936]
    Rating: +1 (from 1 vote)
  3. Dyna - Numpang Tanya says:

    Selamat siang mb Rike, maaf mau numpang tanya karena saya kehabisan cara mencari kgiatan idola saya setelah hengkang dari SCTV.

    APA & DIMANA KEGIATAN BAYU SUTIYONO SEKARANG? Mohon info & blog yang bisa ditelusur.
    Terima kasih.

    UN:F [1.6.9_936]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    UN:F [1.6.9_936]
    Rating: 0 (from 0 votes)
  4. maria says:

    numpang nanya jg,,,
    mas bayu sutiyono skrg kbarnya gmn yaw?? q dah cri infonya dmn2 kugh gk da. pa skrg mas bayu dah gk blog baru lg yaw?!
    slam ke mas bayu mbk. soalnya q ngefaaaaannnzz bgt ma dia..^_^

    UN:F [1.6.9_936]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    UN:F [1.6.9_936]
    Rating: 0 (from 0 votes)
  5. augustine says:

    Keep up the good job.

    UN:F [1.6.9_936]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    UN:F [1.6.9_936]
    Rating: 0 (from 0 votes)

Post a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Comment moderation is enabled. Your comment may take some time to appear.

Komentar