Revolusi Metode Pembelajaran Bahasa Asing
Editor | Kolom Lepas | March 23rd, 2009
Oleh: Putu Adnyana*
Belajar bahasa sebenarnya tidak sulit, tetapi juga tidak semudah membalikkan telapak tangan. Yang penting adalah kemauan, ketekunan, dan praktik. Pakar pembelajaran bahasa, Douglas Brown, berpendapat tentang lima prinsip dalam belajar bahasa. Salah satunya, agar pencapaiannya maksimal, misalnya belajar bahasa Rusia, semestinya dilakukan di Rusia juga (di tempat bahasa ibu). Umumnya, proses belajar seperti itu akan membuat kita lebih cepat menguasai bahasa asing tersebut. Karena, setiap hari kita bisa menerapkan secara langsung bahasanya, mulai dari tempat tidur sampai kembali ke tempat tidur.
Mengapa bisa cepat? Karena, dengan cara seperti itu, bahasa Rusia sudah tidak terpisahkan dari kehidupan kita. Jika tidak demikian, kita harus menjadikannya sebagai bagian dari kehidupan kita dengan menerapkannya di mana saja, di setiap saat. Misalnya, dengan terlibat membaca, mendengar, menulis, dan berbicara dalam bahasa Rusia. Yang terpenting, kita harus secara konsisten mengondisikan waktu untuk membaca artikel dalam bahasa Rusia setiap hari,
Membiasakan telinga kita mendengarkan bahasa Rusia, baik melalui kaset berupa lagu, berita, pidato, presentasi, atau kaset pelajaran bahasa.
Berusahalah juga untuk mencoba menulis untaian kata-kata, seperti menulis memo, surat pendek, rencana ke depan, paragraf/komentar tentang beberapa hal, apalagi yang berhubungan dengan kepentingan guiding. Jadi, kelilingi hidup kita dengan bahasa Rusia, tentunya dengan topik-topik yang kita senangi.
Selanjutnya, libatkan diri Anda dengan total commitment secara fisik, yaitu dengan mencoba mendengar, membaca, menulis, melatih pengucapan, terus-menerus dan berulang-ulang. Tiga tahapan dalam belajar bahasa harus dikuasai,yaitu pengenalan, pemahaman, dan pengembangan.
Berdasarkan pengalaman saya melewati proses pembelajaran dan penguasaan beberapa bahasa asing, akhirnya saya menemukan cara belajar yang lebih efektif, yang saya namai dengan metode Interlanguage. Pendekatan ini sangat efektif untuk mendapatkan banyak perbendaharaan kata. Pada saat awal dua minggu saya menggunakan metode ini, saya temukan sampai 500 kata, yang saya tahu artinya tanpa melihat di kamus. Wow, dahsyat, bukan?
Metoda Interlaguange ini sangat efektif untuk merangsang dan memaksimalkan fungsi kerja otak dan daya ingat kita, yang mana menurut Dr. Goulman, kita baru memanfaatkannya sekitar 5,75 persen saja dari keseluruhan kekuatan kerja otak kita.
Banyak orang bertanya kepada saya, “Pak Putu, kalau harus memilih, mana yang lebih didahulukan, kosa kata/vocabulary atau tata bahasa/grammar? Saya tegaskan, bahwa terlebih dahulu Anda harus menguasai perbendaharaan kata, baru kemudian tata bahasanya. Analoginya, mengetahui tata bahasa tetapi minim kosa kata, Anda tak lebihnya bagai orang yang bisa melihat tetapi lumpuh. Sebaliknya, mempunyai kosa kata yang bagus tetapi minim pengetahuan tata bahasa, tak lebihnya adalah Anda itu orang yang bisa berjalan ke mana-mana tetapi buta.
Belajar bahasa juga tak lebih sulit dari belajar naik sepeda motor atau menyetir mobil. Kita tidak bisa mahir hanya dengan membaca buku manualnya, tetapi harus mencoba menggunakannya. Sangat wajar kita melakukan kesalahan. Yang terpenting adalah kita mengetahui kesalahan dan melakukan perbaikan pada kesempatan berikutnya. Biasanya, kita memang tidak gampang melupakan kritik/ralat yang dilakukan oleh orang lain terhadap kesalahan yang kita perbuat.
Ada banyak cara belajar, jadi ciptakanlah strategi belajar yang sesuai dengan kepribadian dan gaya belajar Anda masing-masing. Misalnya, ada yang lebih mudah belajar dengan menggunakan cue card, yaitu kartu kecil yang bertuliskan kata-kata yang ingin kita kuasai, disertai dengan contoh kalimat yang bisa menggunakan kata-kata tersebut. Kartu ini bisa dibawa kapan saja, di mana saja, misalnya pada saat Anda menunggu tamu di lobi, sedang menunggu taksi, menunggu hidangan makan siang, dll. Kita bisa mencoba dengan mengambil karu ini dan membacanya, serta melakukan improvisasi dengan kata-kata baru dalam struktur kalimat yang sama.
Ada pula yang lebih mudah belajar dengan berkomunikasi secara lisan dengan orang lain atau native speaker. Dari komunikasi ini, mereka bertanya, mendengar, memperbaiki ucapan, dan meningkatkan kosa kata.
Gaya belajar juga terbentuk berdasarkan kebiasaan kita sehari-hari. Ada beberapa macam pendekatan gaya belajar, seperti auditory learners merupakan cara mudah belajar dengan medengarkan. Cara ini bisa ditunjang dengan banyak mendengarkan lagu-lagu favorit, berita, pidato, menyimak lebih banyak percakapan dalam bahasa asing. Dengan unkapan dan ucapan yang digunakan, perhatikan konteks ataupun situasi di mana kata-kata tersebut digunakan. Lalu, lakukan hal ini berulang-ulang, maka kita akan bertemu dengan ungkapan serupa, yang dapat kita latih secara berkala sehingga kita lebih mahir mengucapkan dan menggunakannya.
Tipe visual learners adalah apabila Anda termasuk orang yang lebih mudah belajar melalui input visual, seperti gambar dan tulisan. Banyak cara bisa diterapkan menurut gaya belajar ini, misalnya mambaca artikel-artikel yang menarik dalam bahasa Asing, atau membaca tulisan-tulisan yang dianggap penting di koran, internet, atau majalah. Bisa juga menulis contoh surat, proposal, dan brosur. Untuk memahaminya, kita bisa menceritakannya kembali dengan kata-kata yang kita susun sendiri, baik dalam bentuk tulisan ataupun ucapan. Bisa juga kita menggambarkannya dalam bentuk visual flow chart, table, atau bentuk visual lainnya.
Tipe kinesthetic learners merupakan cara belajar yang lebih cocok dengan menggunakan gerak, misalnya dengan menulis (menggerakkan tangan untuk menulis ), atau mencoba memahami sebuah kata/ungkapan dengan membayangkan gerakan, yang biasa diasosiasikan dengan arti kata-kata tersebut. Biasanya, cara belajar seperti ini memerlukan alat bantu, seperti komputer atau alat peraga lainnya.
Kita bisa mencoba satu per satu metode tadi. Kenyataannya, setiap orang bisa memiliki lebih dari satu gaya belajar. Jika kita sudah mengenalnya, tinggal menerapkan sesuai dengan gaya belajar tersebut agar hasilnya bisa lebih efektif.
Pakar Smart English mengatakan, roh dalam belajar bahasa asing intinya ada tiga, yaitu praktik, praktik, dan praktik. Pakar bahasa yang pernah menekuni studi bahasa Indonesia di Universitas Gadjah Mada ini juga menekankan, bahwa tidak penting kepada siapa Anda mempelajarinya, tetapi yang penting adalah apa yang Anda lakukan setelah mempelajarinya.
Pendapat bahwa knowledge is a power tidak seutuhnya benar karena dia hanyalah sebuah alat/tool. Yang lebih benar adalah, knowledge is a potential power. Karena, pengetahuan yang Anda miliki akan berdaya guna apabila Anda selalu menggunakannya atau mempraktikkannya di setiap kesempatan. Di sana Anda akan mengalami sebuah proses pembelajaran, pergerakan, dan kemajuan.
Dan, knowledge tadi akan memberikan hasil apabila Anda menggunakannya bukan pada tempat yang memerlukan. “Tumbuh tanpa berbuah adalah dosa terbesar yang diperbuat oleh umat manusia,“ demikanlah petikan ayat dari sebuah Kitab Suci. Artinya, Tuhan telah memberikan kita potensi atau talenta. Tetapi, kita tidak akan pernah menyadarinya, tidak memanfaatkannya secara maksimal. Sebaliknya, kita malah menyia-nyiakan kemampuan dan kesempatan sebagai akibat dari kemalasan dan keragu-raguan kita. Selamat belajar untuk berbuah! Sukses untuk Anda![pa]
* Putu Adnyana, MBA adalah Direktur Russian Centre dan Trinita EDU (Education,Development and Foundation. Ia dapat dihubungi melalui websitenya www.balirussiancentre.com atau atau email: adptad[at]yahoo[dot]com.
March 26th, 2009 at 10:59 pm
Bagus mas Putu. Apapun metodanya, yang paling penting adalah menanamkan paham bahwa kita harus belajar sampai kapanpun.
October 21st, 2010 at 7:01 pm
makasih atas artikel ini….