Ranking atau Motivasi Belajar?
Editor | Kolom Lepas | August 18th, 2009
Oleh: Vina Tan*
“Good parents give their children Roots and Wings.”
~ Jonas Salk
Pukul 07.30 pagi tanggal 12 Agustus 2009, saya sungguh tidak menduga akan menerima telepon dari seorang tetangga lama. Beberapa tahun yang lalu, dia tinggal hanya beberapa langkah dari rumah sehingga hampir setiap hari kami bertemu dan saling menyapa. Lebih dari lima tahun yang lalu yaitu sejak keluarga kami pindah beberapa blok dari sana, kami jadi jarang bertemu. Bisa dibayangkan, betapa gembiranya hati ini saat tahu bahwa seorang teman lama ingin menanyakan suatu hal.
Dengan ramah dan sopan, dia bertanya apakah saya sedang sibuk atau tidak. Jika tidak apakah mau meluangkan waktu untuk dia. Tentu saja saya tidak mau membuat dia kecewa. Buku Dictionary of Common Errors karangan NB Turton dan JB Heaton yang sedang dalam genggaman langsung saya kesampingkan karena ingin memberikan perhatian yang penuh dan fokus.
Teman saya, anggap saja namanya Ani, adalah seorang ibu dari dua anak. Yang besar, laki-laki, duduk di kelas satu SMP. Sedangkan yang kecil, perempuan, duduk di kelas lima SD. Ani selalu ingin agar anak-anaknya menjadi juara kelas. Namun, selama ini mereka selalu mendapatkan ranking dua saja dan hanya pernah sekali meraih ranking satu. Menurut Ani, masalahnya ada pada guru yang selalu bersikap subjektif terhadap anaknya. Karena putranya baru masuk SMP tahun ajaran baru ini, maka target yang hendak dicapai adalah mendapatkan ranking satu agar bisa mendapatkan rasa hormat dan perhatian dari guru-guru di sekolah. Selama ini, anaknya hanya spesialis ranking dua saja sehingga guru-guru kurang menghargai.
Ani: “Saat Eric (putra saya: Vina) mulai duduk di kelas satu SMP, apakah pernah ikut les tambahan untuk pelajaran Matematika dan Fisika?”
Vina: “Bagi saya les pelajaran adalah pilihan terakhir kalau seorang anak benar-benar butuh bantuan dalam belajar. Yang selalu saya tanamkan kepada anak-anak adalah ‘kemampuan belajar sendiri’. Dan, ini adalah modal utama untuk mempelajari banyak hal dengan lebih cepat dan mudah tanpa harus selalu bergantung pada orang lain untuk mengajarkan. Di samping itu, tanpa guru les, mereka akan memiliki nilai tambah, misalnya, waktu luang dan waktu santai yang lebih banyak sehingga bisa dimanfaatkan untuk hal-hal yang positif, misalnya belajar musik, menggambar, les balet, dan sebagainya. Sesusah dan sebanyak apa pun bahan pelajaran, belajar haruslah tanpa paksaan dan dijalankan dengan disiplin. Menggali dan menanamkan motivasi belajar dalam diri anak adalah salah satu tugas terberat kita sebagai orang tua.”
Ani: “Tetapi Vina, kalau anak saya tidak ikut les tambahan sementara teman-temannya banyak yang ikut, tentu anak saya akan ketinggalan dan tidak bisa dapat ranking satu, dong? Di sekolah, anak-anak yang pintar juga banyak yang les.”
Vina: “Oke, sebenarnya apa sih tujuan belajar itu? Mendapatkan ranking atau terus menggali dan memuaskan rasa ingin tahu seorang anak? Apakah belajar itu sebuah proses jangka pendek atau proses yang berkesinambungan seumur hidup? Berikutnya, seandainya anak kamu mendapatkan ranking tiga, empat, lima, dan seterusnya, apa kalian akan siap mental untuk menghadapinya? Di samping itu, bagaimana sikap kamu jika seandainya pada suatu hari prestasi mereka di sekolah menurun atau tidak sebaik saat ini? Kamu siap?”
Hening di seberang sana. Ani terdiam dan mulai berpikir. Sepertinya, nuraninya mulai goyah.
Vina: “Ani, apakah ranking dua itu sebuah prestasi yang buruk? Dulu ketika Eric masih SD, dia tidak pernah masuk lima besar di kelas. Putri saya, Lisa sering membuat saya dipanggil wali kelas karena nilai ulangan hariannya banyak yang terbakar alias merah. Tetapi, di sinilah letak tantangannya. Saya selalu mencari akal dan menemukan cara untuk membuat mereka termotivasi agar mampu mencapai prestasi yang sesuai dengan kemampuan masing-masing. Hasilnya? Apa yang mereka capai sampai hari adalah melebihi harapan saya sebagai seorang ibu. Saya tidak suka yang muluk-muluk atau membebani anak dengan target yang tidak masuk akal. Mimpi boleh tinggi tetapi target tetap harus bertahap dan realistis. Mereka harus sadar bahwa belajar dan prestasi yang mereka capai adalah untuk mereka sendiri, bukan untuk menyenangkan atau membuat saya bangga. Berdasarkan pengalaman, seorang anak yang mampu belajar sendiri cenderung memiliki prestasi yang lebih baik di sekolah.”
Ani adalah seorang ibu yang cerdas dan cepat menangkap maksud dan penjelasan saya. Apalagi ketika saya berbicara mengenai fondasi yang harus dimiliki oleh seorang anak untuk menjadi seorang pembelajar sejati. Ani pun sadar bahwa seringkali kata-katanya hanya menjadi racun bagi anak-anaknya. Secara tidak langsung dia menuntut anaknya agar bisa selalu menjadi ranking satu di kelas. Tetapi kenyataannya, mereka hanya pernah satu kali saja mendapatkan ranking satu. Selebihnya selalu ranking dua sehingga Ani terlanjur mencap anak-anaknya sebagai ’spesialis’ ranking dua.
Akhirnya, Ani saya arahkan agar mau berpikir lebih jauh ke depan, bukan hanya untuk jangka pendek saja dan menjadi juara kelas bukanlah segala-galanya. Anak-anak harus dipuji atas prestasi yang telah dicapai selama ini karena ranking dua itu saja sebenarnya sudah termasuk luar biasa. Tidak semua anak mampu mencapainya. Berikan mereka dukungan yang positif dan tidak usah mengeluh jika tidak menjadi yang terbaik di kelas. Yang lebih penting untuk diperhatikan adalah selalu bersyukur atas apa yang telah Tuhan berikan kepada kita.
Pembicaraan kami berlangsung selama hampir satu jam. Ani mengerti bahwa tidak mudah untuk merubah paradigma yang telah tertanam selama ini. Tetapi dia bertekad ingin menjadi ibu yang lebih positif bagi anak-anaknya agar kelak mereka mempunyai harga diri dan kepercayaan diri yang tinggi. Artinya, prestasi yang dicapai anak-anaknya bukanlah demi kebanggaan dia sendiri tetapi demi masa depan anak-anak itu sendiri. Lebih penting membangun mental yang kuat dan gigih daripada hanya berfokus pada ranking satu saja.
Akhir kata, mana yang lebih penting: Mengejar ranking atau memupuk motivasi belajar? Seorang anak yang menjadi juara kelas tidak selalu berarti bahwa dia mempunyai motivasi belajar yang tinggi. Bisa saja anak terpaksa belajar demi mendapatkan pengakuan dari orang tuanya. Sebaliknya, seorang anak yang memiliki motivasi belajar yang tinggi, kemungkinan besar memiliki prestasi belajar yang memuaskan atau sangat memuaskan, bertahan lama dan konsisten.[vt]
* Vina Tan lahir di Sibolga. Selain menjadi ibu rumah tangga, ia juga berprofesi sebagai konsultan dan pembicara. Vina dapat dihubungi melalui pos-el: vina.coach[at]yahoo[dot]com. Hasil karya tulisannya terdapat di http://www.sangkudaapi.wordpress.com dan http://www.sangkudaapi.blogspot.com
August 18th, 2009 at 2:43 pm
Saya setuju sekali, lebih baik motivasi datang dari dalam diri si anak. Ini akan bertahan lama dan konsisten karena kemampuan yang dia miliki adalah kemampuan yang sebenarnya. Saya jadi ingat waktu SMA kelas 1 saya merasa minder dengan temen2 dari SMP Favorit karena mereka kok sepertinya serba tahu. Sementara saya dari SMP ndeso, boro-boro ikut les, makan di kos-kosan saja apa adanya. Tapi seiring dengan waktu mereka “berguguran dengan sendirinya” dan akhirnya ya kemampuan yang sebenarnya akan terlihat di semester 2. Makanya menurut saya ikut les atau tidak kan tergantung kebutuhan si anak dan kondisi orang tua. Jangan jadikan juara adalah bukan tujuan.
August 18th, 2009 at 3:50 pm
Komentar yang sangat bagus sekali Pak Sugeng. Saya setuju sekali dengan masukan dari Bapak.
Terima kasih, ya sudah membaca tulisan saya.
Salam,
Vina
August 21st, 2009 at 9:42 pm
memang benar Bu Vina, sayangnya saya baru menyadari hal itu sekarang (ga pernah les atw kursus, tapi bisa juga masuk FK hehe..) masalahnya, banyak orang di sekitar kita yang ga berpikir kayak Bu Vina, gimana tuh ‘memberitahu’ mereka sambil ga ngajarin mereka juga. aq kan ga sehebat Bu Vina ngomongnya…
August 24th, 2009 at 6:34 am
Anak-anak saya ada juga yang les, kalau yang besar memang saya minta dia untuk les. Nah ternyata kalau anaknya kurang mau, banyak bolosnya. Kalau anaku yang kecil, dia lebih punya pendirian, walaupun kadang membuat kami kesal. Dia enggak pernah mau belajar, ikut les baru kemaren ini kelas 3 SMP, itupun atas kemauan dia,karena dia sangat ingin masuk SMA6. Hasilnya yang besar dan yang kecil mampu masuk SMA impiannya.
Waktu anak-anak masih SD, anak yang besar masuk kelas unggulan. Ternyata membuat anak stress. Dari 2 kelas unggulan, pada semester pertama 50% angkanya lebih jelek dari kelas yagn normal, walaupun pada semester ke 2, kelas unggulan memang unggul. Saya jarang sekali meminta anak-anak untk masuk dalam 10 besar, tapi saya katakan bahwa angkanya harus 8 & 9. Ternyata itu terjadi angka 7 hanya 1 (kesenian) dan mereka tidak masuk 10 besar. Menurut saya rangking tidak terlalu penting tetapi angka (nilai) lebih penting. Sangat mungkin anak kita masuk didalam kelas yang memeang anaknya pinter pinter
August 24th, 2009 at 3:16 pm
Benar bu, memotivasi anak untuk belajar lebih mengena daripada mengejar anak untuk menjadi ranking 1. Saya sudah coba pada putri saya kelas 8.
Ketika SD, raportnya pasti juara 1, namun ketika masuk SMP (rintisan sekolah international), rangkingnya tidak beranjak dari 5. Namun toh nilainya termasuk tinggi. Ketika mendapati rankingnya tidak pernah menjadi nomor 1, ada gejala stress diwajahnya, karena target yg di set (oleh orang tuanya) tidak tercapai.
Untuk les-les tambahan, putri saya tidak pernah minta dan saya juga tidak pernah tawarkan mengingat jadwal kelas reguler tambahan sehari-hari sudah cukup padat. Les hanya untuk bahasa inggris dan gitar, sesuai pilihannya.
Jika motivasi belajar sudah tersimpan dalam dirinya, hasilnya bisa untuk jangka panjang.
August 25th, 2009 at 4:57 pm
Wah, komentar & sharing dari Ibu Rina dan Ibu Fita bagus sekali. Terima kasih banyak, ya!
Salam.