Puasa Verbal Negatif

ms1Oleh: Miranda Suryadjaja*

Akhir Januari, lalu saya berkesempatan untuk mendengarkan ceramah Tommy Siawira, seorang motivator ternama di negeri kita. Ada beberapa hal yang disampaikannya sangat memikat diri saya, tetapi secara khusus saya tergugah dan tertantang untuk melakukan sesuatu yang belum pernah saya lakukan sebelumnya, yaitu berpuasa dari: menyalahkan, mengeluh, membikin alasan, dan bergosip. Tommy mengatakan agar dilakukan selama 20 hari maka hidup kita akan sangat berubah.

Sekarang-sekarang ini, tidak terlalu banyak hal yang bisa mengusik ketenangan saya. Hal-hal yang dulu bisa bikin saya kecewa setengah mati dan bersedih berhari-hari, complain klien, dikritik atau disalahkan secara tidak fair (menurut saya), sekarang bisa saya lalui dengan lapang dada.

Namun suatu hari di awal Januari lalu, saya ditelepon oleh sepupu saya untuk memberitahukan jumlah sisa pembayaran yang masih tertunggak dalam proyek renovasi rumah saya. Ternyata, biaya proyek ini lebih dua kali lipat dari jumlah yang kami sepakati. Wah… saya sangat kesal dan kecewa, apalagi sedang tidak ada duit untuk hal tersebut sementara pekerjaan sudah rampung dan tidak ada yang bisa dibatalkan. Memang ini salahnya kalau terlalu menggampangkan urusan, kerja sama saudara, jumlah tidak terlalu besar, tidak ada hitam di atas putih.

Penyesalan di belakang tidak ada gunanya, tetapi tetap saja rasa kesal luar biasa tidak terhindarkan. Saya merasa terpojok, di fait accompli. Sepupu saya sih minta maaf tidak memberitahu terlebih dulu, alasannya dia juga sibuk dengan proyek-proyek lainnya. Saya mesti ngapain sekarang, karena tahu kalau saya menyalahkannya juga tidak ada gunanya, malah tambah bikin kesal diri dan bikin orang lain ikut tersiksa juga. Kalau dulu ya, saya akan omel-omeli dia, paling tidak supaya saya merasa telah bisa melampiaskan kekesalan saya pada seseorang, biar dia tahu rasa dan ikut merasakan penderitaan saya.

Tetapi sekarang saya tidak bisa lagi sekadar menyalahkan. Bagaimana kalau semua kejadian itu netral, dan saya tidak pernah tahu misteri di balik suatu kejadian, dan apa rencana Tuhan bagi saya lewat kejadian tersebut. Saya meyakini bahwa semua yang terjadi pada dan atas diri saya adalah rencana Tuhan karena Ia tahu apa yang perlu dikoreksi dalam diri kita agar saya bertumbuh. Dengan demikian, somehow yang terjadi ini pun bagian dari rencana Tuhan untuk saya karena ada pelajarannya buat saya.

Namun, tetap saja perasaan ‘nyesak’ berkecamuk dalam batin saya. Ego saya enggak terima, ngotot bahwa saya yang benar, sepupu saya yang salah. Ego selalu mau ada yang benar dan ada yang salah, karena dengan demikian dia exist. Jadi, ngotot bahwa ada yang harus disalahkan….. saya merasa sangat menderita ketika itu. Perang antara Ego dan Tuhan…. Aaaagh….. Mau dikemanakan perasaan merasa benar dan merasa harus menyalahkan, sesuatu atau seseorang deh… apa saya, apa sepupu, atau tukangnya, harga bahannya, pokoknya harus ada yang jadi kambing hitam. Sangat tidak nyaman…!

Batin saya paham bahwa tidak ada yang salah… semua innocent dan merupakan proses yang diberikan oleh Tuhan agar saya bertumbuh. Situasi, kejadian, manusia diorkestrasikan-Nya sedemikian rupa, sehingga timbul suatu reaksi dalam diri saya, yang tak lain merupakan indikasi bahwa ada suatu luka yang belum sembuh dalam batin saya. Entah sebuah persepsi atau keyakinan yang saya ciptakan ketika saya kecil, yang memengaruhi pikiran, perasaan, dan tindakan saya dalam menghadapi suatu situasi. Rupanya, ada sebuah persepsi yang masih sangat kuat melekat, seperti tar yang lengket di sepatu, seperti super glue, susah untuk dilepaskan.

Akhirnya, saya melatih pernapasan sembari berdoa agar pikiran saya jernih kembali dan agar saya bisa melepaskan diri dari kemelekatan terhadap kebenaran yang telah saya anut selama ini; yang menyatakan bahwa jika ada sesuatu yang terjadi tidak sesuai dengan yang saya rencanakan dan kehendaki, ada sesuatu atau seseorang di luar sana yang salah. Dan, kalau ada yang salah berarti ada yang benar. Konsep ini susah benar untuk dilepaskan.

Dan, ketika saya urut-urutkan dan ikuti perasaan saya sampai ke sumbernya, kekesalan saya tidak saja berdasarkan pada keyakinan bahwa saya benar, melainkan karena kejadian ini menimbulkan rasa takut bahwa saya akan kehilangan uang yang tidak saya anggarkan sebelumnya. Berarti, milik saya akan berkurang dan ini akan berefek pada kelangsungan hidup saya. Ketakutan bahwa saya tidak bisa survive. Inilah sumber kekesalan saya yang ingin saya lemparkan pada orang lain. Apabila ketakutan ini tidak ada, saya tidak akan bereaksi sedemikian rupa.

Setelah jelas terlihat urut-urutan peristiwanya, kemarahan saya pudar dan pelan-pelan damai kembali menyelimuti hati saya. Sepupu saya juga saya lepaskan dari kait saya, dia sama sekali tidak bersalah, hanya melakukan perannya saja dalam drama kehidupan yang memang dibuat untuk saya. Bahwa dia juga punya pelajaran dari peristiwa tersebut adalah urusannya dengan Tuhan, saya tidak mau mencampurinya.

Memang pikiran kita itu pintar sekali mengarang cerita dan mengasosiasikan suatu peristiwa dengan peristiwa di waktu lampau, dan mengaduk-aduk perasaan pula kalau kita tidak jeli mencermati cerita pikiran kita.

Dan, melepaskan diri dari kecanduan menjadi yang ‘benar’ termasuk hal yang paling susah untuk dilakukan. Nah, ketika saya mendengar ceramah Tommy Siawira soal bagaimana kita bisa menjauhkan diri dari energi negatif dengan cara TIDAK melakukan empat hal di atas: menyalahkan, mengeluh, membuat alasan, serta menggosip, saya pikir ini kesempatan bagus untuk melatih kebiasaan yang sangat bagus.

Dalam kenyataannya, kalau kita secara sadar berkomitmen untuk melakukannya, kita akan menyadari di mana kebiasaan tersebut telah mendarah daging dalam diri kita. Setelah disadari barulah kebiasaan ini bisa dilepaskan. Selama ini saya menganggap diri saya orang yang sangat optimis dan positif. Tetapi, setelah mulai ‘puasa’ ternyata sering kali impuls itu muncul, keempat-empatnya. Apalagi ngegosip, di sini gosip saya definisikan sebagai mendiskusikan tentang pihak ketiga yang tidak ikut hadir, dan yang didiskusikan adalah hal yang tidak positif mengenai orang tersebut.

Wah, ini susah, karena manusia punya kecenderungan untuk berempati dan berpihak pada seseorang. Ternyata setelah saya cermati, kecenderungan itu muncul karena kita ingin bonding atau dekat dengan seseorang. Karenanya, kalau ada yang lagi gosip tentang seseorang, kita senang sekali bergabung dan menambahkan bumbu kita ke dalam tungku gosip, sehingga tambah besar api gosipnya. Sementara pihak ketiga tidak tahu bahwa dia sedang dibicarakan dan tidak diberi kesempatan untuk membela diri. Apalagi kalau gosipnya sifatnya opinion forming, artinya menyebabkan orang lain jadi mempunyai opini tentang pihak ketiga berdasarkan informasi yang diberikan oleh seseorang, tanpa mengalaminya sendiri. Padahal, informasi itu belum tentu akurat, dan sering kali sifatnya sangat subjektif.

Tidak fair, kan? Bayangkan, orang yang tidak benar-benar kenal dengan kita atau tahu siapa kita tahu-tahu membuat kesimpulan atau penilaian tentang diri kita berdasarkan informasi orang lain, yang kadang juga tidak tahu siapa kita. Wah..wah…gawat…! Jarang kita sadar atau ingat betapa jahatnya gosip itu…

Setelah saya mulai bisa mengerem empat hal tersebut secara lisan, saya menyadari bahwa kadang empat hal tersebut masih melintas di pikiran saya meskipun tidak terucapkan. Wahai sahabat, pikiran tidak beda dengan ucapan, ada energinya, ada power-nya. Pikiran menghasilkan perasaan, dan perasaan menghasilkan tindakan… Jadi, belajarlah untuk mengontrol pikiran juga.

Apakah saya akan menjadi orang lebih baik dengan latihan ini? Anda mungkin tidak akan pernah tahu kalau Anda tidak kenal saya secara pribadi. Tetapi, saya merasa berkontribusi ke Alam dengan berkurangnya sampah negatif yang saya buang ke Alam. Saya bayangkan, kalau saja satu persen penduduk dunia mau melakukan hal itu, sekitar 60 juta orang, tingkat kejahatan akan turun drastis, pertengkaran rumah tangga berkurang, dan perang? Apalagi, kebanyakan perang terjadi karena ada yang merasa yakin bahwa pihaknya benar dan yang dijadikannya lawan adalah pihak yang salah. Bisa bayangkan dunia yang jauh lebih aman dan lebih damai dari dunia kita sekarang?[ms]

* Miranda Suryadjaja adalah seorang public speaker dan konsultan bisnis yang berdomisili di Bali. Selain itu, Miranda juga seorang life coach dan jewelry designer yang meminati bidang motivasi dan pemberdayaan perempuan. Peraih gelar MBA dari National University, San Diego, USA yang juga hobi menulis, membaca, mendesain, dan traveling ini telah dikarunia seorang putera. Saat ini, ia tengah menulis sebuah buku tentang pribadi Yesus dalam kacamata seorang penganut agama Hindu. Miranda dapat dihubungi melalui email: sayamiranda[at]gmail[dot]com atau HP: 0811389432.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 8.0/10 (1 vote cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: 0 (from 0 votes)

2 Responses to “Puasa Verbal Negatif”

  1. Toggog Says:

    Saya kira anda mulai mengerti ajaran apawasa atau menahan diri. Kemarahan dan ketidak-puasan memanglah indikator negatifitas ke-aku-an. Tahan saja dengan banyak mengingat hal-hal telah dianugrahkanNya. Bahkan hanya dengan menyadari sepenuhnya udara yang sangat dibutuhkan untuk bernafas ini adalah juga anugrahNya. Nanti anda akan rasakan ke-aku-an anda meluntur. Dan akan dibukakanNya jalan cahaya dari arah yang tidak diduga.

    Damai…Damai…Damai

    UN:F [1.6.9_936]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    UN:F [1.6.9_936]
    Rating: 0 (from 0 votes)
  2. Santoso Suhendro Says:

    Wah aku mau ikut coba resep, ibu Miranda S…..puasa 4 hal diatas, doakan berhasil ya ibu!! ” Banyak hal kita tahu kalau tidak baik….tapi sulit menjalankannya”

    UN:F [1.6.9_936]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    UN:F [1.6.9_936]
    Rating: 0 (from 0 votes)

Leave a Reply

Comment moderation is enabled. Your comment may take some time to appear.

Motivasi Dunia

Motivasi Dunia

Kolomnis

<
Edy Zaqeus Eni Kusuma Avanti Fontana Alexandra Dewi Miranda Suryadjaja Sofa Nurdiyanti
Anang Y.B. Hartati Nurwijaya Aleysius H. Gondosari Sulmin Gumiri Relon Star Sri Budiastuti
Agus Riyanto Iftida Yasar Fida Abbott Ery Prasetyawan Tanenji Ingrid Gunawan
Maria Saumi Ely Susanti Agung Praptapa Putu Adnyana Fita Irnani Nathalia Sunaidi
M Sebastian Wijaya Abdul Muid Badrun Kak Sugeng Akhmad Sirodz Lisa Nuryanti Abidin Noor
Wuryanano Petriza Giovanni Amelia Devina Tri Wahyuni Endang Setyati Vina Tan
Lianny Hendranata Emmy Angdyani Erawati E. Setyo Hartono Fatma Kartika Sari Supandi Radinal Mukhtar Harahap
Sawali Tuhusetya Gatut Heru Susanto Effendi Budi P. Fajar S. Pramono Ade Asep Syarifuddin Melly Kiong
Guntur Novizal Ida Rosdiana Natapermadi Risfan Munir Sri Julianti Sawiji Farelhana Dewi Rhainy
Deni Kurniawan As’ari Johanes Ariffin Wijaya Indari Mastuti Enggar Kusumaningsiwi Daniel Kurniawan Sayuri Yosiana
A.A. Kunto A. Lina Kartasasmita K. Hanna Fransisca Wahidunnaba Yusuf Tantowi Dwiatmo Kartiko
Meta Sekar Puji Astuti M. Adi Prasetyo Abd. Basid Lily Choo Rina Dewi Lina Berny Gomulya
Zee Cardin M. Iqbal Dawami Sidik Nugroho Emmy Liana Dewi Ridwan Sumantri Dwiyana Apriandini
Andrew Abdi Setiawan Gobind Vasdhev J. I. Michell Suharli Yusnita Rifai Gagan Gartika

Check Google Page Rank

Buku Baru

Obrolan yang Bikin Kamu kaya

Judul: Obrolan yang Bikin Kamu kaya
Oleh: Don Gabor
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama, 2009
ISBN: 978-979-22-5073-2
Tebal: xviii + 380 hal

Jangan hanya membangun jejaring luas-berjejaringlah dengan cerdas!
Obrolan yang Bikin Kamu Kaya menyajikan pendekatan baru revolusioner pada topik berjejaring yang tak lekang waktu. Penulis buku laris dan pelatih komunikasi Don Gabor memperkenalkan Anda pada empat gaya berjejaring—Kopetetif, Supel, [...]

Full Story | February 24th, 2010

Best Viewed With Mozilla FireFox