Psy War

eaeOleh: Emmy Angdyani Erawati*

Suatu ketika, di kelas anak-anak di komunitas kami diumumkan bahwa akan ada lomba menghafal ayat. Siapa yang berhasil menghafal ayat terbanyak, dia akan mendapat hadiah berupa parcel berisi coklat, soft drink, dan beberapa makanan ringan yang lain. Jumlah ayat yang disiapkan oleh guru kelas ada 43 ayat, mulai dari yang sangat singkat sampai yang terdiri dari beberapa puluh kata.

Semua murid kelas yang berjumlah sekitar 12 orang sangat antusias merespon. Murid-murid diberi waktu dua minggu untuk menghafal ayat-ayat yang disediakan oleh guru kelas. Sistem penilaian diumumkan, yaitu menggunakan sistem lelang. Siapa penawar tertinggi, maksudnya yang berani menghafal ayat terbanyak di depan kelas, dialah yang akan tampil sebagai pemenang.

Minggu berikutnya ketika berada di dalam kelas, si A yang memang di kelas cukup menonjol dengan pertanyaan-pertanyaan yang kritis, mempropagandakan—pada akhirnya lebih tepat disebut memprovokasi—teman-teman sekelas bahwa ia sudah menghafal 42 ayat.

“Waduh…,” kata si B sambil garuk-garuk kepala karena bingung menanggapi.

“ Ha?!” sahut yang lain, sambil bengong terkagum-kagum.

“Kalahlah aku!” timpal si C, sambil cengar-cengir.

Kurang lebih seperti itulah respon yang muncul. Intinya, semua down, hilang semangat, dan terheran-heran mendengar kehebatan si A. Semua bingung bagaimana cara si A bisa menghafal 42 dari 43 ayat yang ada di hampir 5 lembar kertas tersebut dengan tepat. Semua terbius dengan propaganda si A, karena performance-nya yang memang seperti seperti di atas rata-rata. Jadi, semua percaya!

Anak saya sendiri sudah menyiapkan diri dengan menghafal 12 ayat. Sempat ada rasa percaya diri bahwa dia akan mampu bersaing dalam “lelang menghafal ayat”. Itu saat dia belum mendengar propaganda si A. Namun begitu mendengar cerita si A, anak saya termasuk kelompok yang hampir menyerah sebelum “lelang”. Mana cukup dengan modal 12 ayat bisa bersaing dengan 42 ayat?

Anak saya berhitung, mana mungkin dia bisa menghafal 43 ayat atau minimal 42 ayat agar bisa bersaing dengan si A? Impposible! Apalagi peserta yang tampil di lelang harus tampil perfect. Jika tidak bisa menghafal sesuai dengan jumlah ayat yang disampaikan di depan peserta dan panitia lelang, kesempatan langsung pindah ke penawar lain di bawahnya. Menunggu “kegagalan” si A? Menunggu muntahan bola kekeliruan si A? Sepertinya terlalu sulit. Itu yang ada di pikiran hampir semua murid kelas.

Anak saya hampir memilih tidak ikut lelang minggu depan. “Percuma saja,” katanya.

Ketika tiba hari perlombaan, iseng-iseng saya dekati si A. Saya menanyakan bagaimana caranya bisa menghafal 42 ayat dengan luar biasa. Ia terkekeh-kekeh.

“Aku cuma hafal dua, kok….”

Lho…? Katanya sudah hafal 42 ayat?”

“Biar teman-teman keder saja. Empatnya ngglundhung, tinggal dua,” katanya sambil tertawa lagi.

Dan ternyata benar, pada hari “lelang” si A memang tidak ikut lelang sama sekali. Ia cuma menonton! Si A memang kalah di “lelang” tetapi sebenarnya ia menang di psy war. Semua temannya sudah loyo sebelum bertanding karena “melihat” kekuatan lawan. Hampir saja semua menaruh senjata melihat kehebatan lawan, yang notabene belum teruji benar kesaktiannya. Aura kepiawaiannya dalam berkomunikasi dan propaganda sangat berpengaruh.

Beberapa murid sudah ciut nyalinya. Ia sudah menang satu sesi di pertandingan awal: psy war. Dan, ini jadi bagian yang penting untuk menjatuhkan mental lawan untuk sesi-sesi berikutnya. Di sisi lain, pesaing-pesaingnya terlalu mudah dipengaruhi oleh propaganda si A. Pada kenyataannya, semua hanya pepesan kosong.

Tentu kita punya pengalaman serupa, dengan kondisi yang mungkin berbeda. Berapa di antara kita yang give up melihat propaganda dari pesaing-pesaing yang ada. Hanya karena demikian kuat aura past performance-nya? Atau, kelebihan pada satu bidang, tetapi belum tentu di bidang yang lain, dan itu sudah membuat kita mengeneralisasi bahwa ia pendekar untuk semua pertempuran.

Menurut saya, the real battle adalah pada sesi ini. Jika mental kita jatuh pada sesi psy war, habislah semangat tempur kita untuk “adu kesaktian” pada pertempuran selanjutnya. Pesaing kita akan mudah melenggang tanpa ada pertarungan yang seru.

Tentu, waspada dan paham peta kekuatan lawan menjadi senjata yang tidak bisa dihilangkan begitu saja. Bahkan, itu sangat penting untuk mengukur kekuatan lawan dan membuat strategi. Tetapi, menyerah dulu karena psy war lawan itulah yang harusnya dieliminasi.

Pertempuran yang saya maksud di sini bisa berarti pertandingan menjadi yang terbaik di ladang bekerja kita. Atau, bisa juga untuk wanita-wanita cantik dan pintar yang akan bertanding di festival miss-miss-an. Atau, untuk pria-pria kekar dalam pertandingan tinju merebut gelar WBA atau WBC misalnya. Atau mungkin hanya sekadar untuk memenangkan pertandingan panjat pinang saat perayaan Tujuh Belasan di kampung kita. Setuju?[eae]

* Emmy Angdyani Erawati adalah seorang Insinyur Teknik Kimia yang lahir di Surabaya, 2 Maret 1969. Emmy adalah ibu dari seorang anak berusia 10 tahun dan pernah berkarier di perbankan selama sepuluh tahun. Sekarang ia bekerja di sebuah perusahaan pelayaran nasional di Surabaya sekaligus menjalankan wirausaha persewaaan mobil. Ia dapat dihubungi di Pantai Mentari M-40, Surabaya, HP: 081.2358.7773 atau pos-el: angdyany[at]telkom[dot]net.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 8.8/10 (4 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +2 (from 2 votes)

Leave a Reply

Comment moderation is enabled. Your comment may take some time to appear.

Motivasi Dunia

Motivasi Dunia

Kolomnis

<
Edy Zaqeus Eni Kusuma Avanti Fontana Alexandra Dewi Miranda Suryadjaja Sofa Nurdiyanti
Anang Y.B. Hartati Nurwijaya Aleysius H. Gondosari Sulmin Gumiri Relon Star Sri Budiastuti
Agus Riyanto Iftida Yasar Fida Abbott Ery Prasetyawan Tanenji Ingrid Gunawan
Maria Saumi Ely Susanti Agung Praptapa Putu Adnyana Fita Irnani Nathalia Sunaidi
M Sebastian Wijaya Abdul Muid Badrun Kak Sugeng Akhmad Sirodz Lisa Nuryanti Abidin Noor
Wuryanano Petriza Giovanni Amelia Devina Tri Wahyuni Endang Setyati Vina Tan
Lianny Hendranata Emmy Angdyani Erawati E. Setyo Hartono Fatma Kartika Sari Supandi Radinal Mukhtar Harahap
Sawali Tuhusetya Gatut Heru Susanto Effendi Budi P. Fajar S. Pramono Ade Asep Syarifuddin Melly Kiong
Guntur Novizal Ida Rosdiana Natapermadi Risfan Munir Sri Julianti Sawiji Farelhana Dewi Rhainy
Deni Kurniawan As’ari Johanes Ariffin Wijaya Indari Mastuti Enggar Kusumaningsiwi Daniel Kurniawan Sayuri Yosiana
A.A. Kunto A. Lina Kartasasmita K. Hanna Fransisca Wahidunnaba Yusuf Tantowi Dwiatmo Kartiko
Meta Sekar Puji Astuti M. Adi Prasetyo Abd. Basid Lily Choo Rina Dewi Lina Berny Gomulya
Zee Cardin M. Iqbal Dawami Sidik Nugroho Emmy Liana Dewi Ridwan Sumantri Dwiyana Apriandini
Andrew Abdi Setiawan Gobind Vasdhev J. I. Michell Suharli Yusnita Rifai Gagan Gartika

Check Google Page Rank

Buku Baru

Obrolan yang Bikin Kamu kaya

Judul: Obrolan yang Bikin Kamu kaya Oleh: Don Gabor Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama, 2009 ISBN: 978-979-22-5073-2 Tebal: xviii + 380 hal Jangan hanya membangun jejaring luas-berjejaringlah dengan cerdas! Obrolan yang Bikin Kamu Kaya menyajikan pendekatan baru revolusioner pada topik berjejaring yang tak lekang waktu. Penulis buku laris dan pelatih komunikasi Don Gabor memperkenalkan Anda [...]

Full Story | February 24th, 2010

Best Viewed With Mozilla FireFox