Home » Kolom Lepas » Psikologi Nyontek

Psikologi Nyontek

tnOleh: Tanenji*

Ada sisi lain dalam dunia persekolahan di Indonesia, yakni dengan dikenalnya istilah nyontek (sontek, menyontek). Mungkin dan bisa jadi, istilah ini termasuk dalam kategori undercover. Nyontek sering kali dipahami dan merupakan sikap pecundang yang menginginkan hasil optimal tanpa harus bersusah payah. Biasanya, nyontek dilakukan oleh para siswa atau mahasiswa yang sedang mengerjakan soal ujian, dan yang bersangkutan tidak mempersiapkan penguasaan bahan/materi pelajaran yang memadai dengan berbagai alasan. Mereka menyontek pekerjaan temannya yang dianggap lebih pintar atau mengerjakan soal dengan jawaban yang dilihatnya dari catatan yang sudah dipersiapakan. Catatan ini bisa berupa apa saja, buku-buku, atau catatan kecil lainnya.

Anak sekolah/mahasiswa yang menyontek biasanya menempati posisi yang ‘aman’ dari pengawas ujian. Biasanya di barisan belakang, atau yang terhalang oleh pengawas. Makanya, ada juga istilah yang cukup beken ‘posisi menentukan prestasi’. Istilah ini jangan-jangan merupakan metafora yang diambil dari pola kekuasaan dan jabatan di negeri kita, yang mana posisi jabatan seseorang sangat berpengaruh dan menentukan terhadap kekayaan pejabat tertentu.

Tentang hal yang satu ini, pernah seseorang menanyakan kepada saya tentang alasan tidak membeli atau mempunyai mobil. Yang bersangkutan membandingkan beberapa tetangga dan koleganya yang sama-sama menjadi pegawai pemerintah yang sudah berganti-ganti mobil. Dengan bijak saya mengatakan bahwa sejarah kehidupan seseorang tidaklah sama. Bisa jadi mereka memang sudah mapan dan boleh disebut kaya sebelum menjadi pegawai pemerintah. Karena, secara wajar gaji yang dapat dibawa pulang seorang pegawai pemerintah tidaklah memungkinkan seseorang sampai kepada gaya hidup bermobil. Okelah dalam tulisan ini saya tidak akan fokus pada hal ini. Lagian, rezeki kan bukan hanya dari gaji semata? Tuhan Maha-Pemberi-Rezeki.

Penyebab Menyontek

Banyak hal yang menyebabkan seseorang menyontek. Ini di antaranya:

1. Ingin berhasil tanpa usaha yang melelahkan.

Seseorang harus memahami, bahkan harus hafal bahan-bahan pelajaran yang akan diujikan. Seorang pemalas biasanya ada saja alasan untuk tidak belajar atau membaca buku-buku yang dijadikan rujukan pembuatan soal ujian. Mestiya, berbekal kajian-kajian psikologi memungkinkan seseorang dapat memahami bahan ajar dengan mudah. Belajar yang menyenangkan mestinya juga memungkinkan siswa dapat belajar dengna enjoy juga semua informasi langsung melekat pada ingatannya (lihat bahasan tentang lupa dan ingatan).

2. Ingin membahagiakan pihak lain.

Katakanlah, siswa yang menginginkan pihak lain atau orang tuanya tersenyum bahagia melihat anaknya berprestasi dengan digambarkan pada perolehan angka-angka yang fantastis dalam nilai rapornya. Karena kurang persiapan, malas, atau alasan lainnya, ia memakai cara-cara yang bertentangan dengan mainstream yakni dengan menyontek. Ia tak memedulikan cara ini sesuai dengan norma-norma yang ada atau tidak ada. Baginya, yang terpenting adalah bisa menjawab soal-soal ujian dengan mudah karena melihat sontekan dan nilainya bagus. Titik. Padahal, kebahagian sejati para orang tua dapat dipastikan adalah perolehan nilai ujian anaknya tinggi, memuaskan, dan diraih dengan cara-cara elegan dan bermartabat.

3. Malu tidak disebut berprestasi.

Mengapa harus malu ketika tidak berprestasi? Jikalau memang belum bisa berprestasi sebaiknya mengakui saja kondisi ini. Tidak usah menggunakan segala cara yang tidak halalsampai-sampai harus menggunakan cara pecundang. Prestasi itu bukan sesuatu yang bisa didapat dalam sekejap melalui kata-kata magic bim sala bim, tetapi harus diperjuangkan melalui ketekunan. Tubagus Wahyudi, pakar hipnotis dan public speaking terkenal, pernah mengemukakan bahwa salah satu cara untuk menguasai sensorik power adalah dengan tetap melakukan ketekunan. Ketekunan dalam bidang ilmu, hobi, penelitian, dll akan membuat dan mengantarkan seseorang menjadi pakar pada bidang tertentu tersebut. Bahkan, hobi yang ditekuni dapat menjadi sumber penghasilan dan sandaran hidup.

Jadi, agar berprestasi ya janganlah menyontek. Tetapi, jalankanlah ketekunan dengan tetap membaca buku, baik sebelum maupun setelah bahan ajar itu dipresentasikan oleh guru atau dosen.

4. Bahan yang diujikan tidak menarik.

Mengapa tidak menarik? Kalau dibandingkan dengan pepatah tidak ada orang yang bodoh di dunia ini melainkan malas, maka sebenarnya tidak ada ujian yang tidak menarik. Yang ada adalah seseorang yang tidak bisa menyikapi sesuatu dengan pandangan yang berbeda dari biasanya.

5. Sistem pengawasan ujian yang longgar.

Pengawasan yang longgar dapat memunculkan ide bagi para pecundang untuk menyontek. Sedangkan pengawasan ujian yang ekstra ketat juga memungkinkan peserta menjadi lebih stres menghadapi soal-soal ujian.

Menyontek dan Kasus Ujian Nasioanl

Kalau diperhatikan sejak Ujian Nasional sebagai faktor penentu kelulusan seorang siswa dari sekolah yang ditetapkan oleh pemerintah, terjadi banyak kasus yang mana guru menjadi ‘tim sukses’. Mereka seabagai pengawas ujian, bukannya mengawasi jalannya ujian agar berjalan tertib dan aman, tetapi malahan memberikan jawaban kepada para peserta. Antarpengawas terjadi pemahaman TST (tahu sama tahu). Mengapa itu mereka lakukan? Banyak pihak beralasan; agar siswanya lulus ujian, karena kalau tidak dibantu akan banyak yang tidak lulus. Akibatnya, reputasi sekolahnya pun bisa hancur. Lebih-lebih sekolah swasta yang kualitasnya biasa saja (standar) yang mana mati hidupnya sangat bergantung pada penerimaan jumlah siswanya.

Dalam kasus ini sebenarnya seperti melihat lingkaran setan. Karena, banyak pihak menyatakan guru ditekan oleh kepala sekolah. Sedangkan kepala sekolah mengaku ditekan oleh ketua yayasan atau atasan langsungnya, seperti kepala dinas pendidikan atau kepala kantor cabang departemen yang ada di kabupaten yang menangani pendidikan. Dalam kasus ini, menyontek justru terjadi secara massif, dan bahkan ‘semi legal’, karena justru disponsori oleh para pengawas itu sendiri.

Ketika standar nilai yang ditetapkan pemerintah terlalu tinggi dijadikan sebagai alasan dan pembenaran memberikan sontekan—yang dalam pandangan saya standar tersebut masih terlalu rendah—maka mestinya standar itu ditetapkan lebih tinggi lagi. Katakanlah standar nilai dengan skala 0-10, maka yang lulus ujian adalah mereka yang mendapatkan nilai 75 persen atau 7,5. Seandainya mereka menganggap musthail, pertanyaan yang mestinya ditujukan pada pengelola sekolah adalah, “Selama ini mereka ngapain aja? Mengapa siswa belajar tiga tahun sampai tidak siap menghadapi soal ujian nasional? Yang salah siapa? Apa gurunya? Apa bahan ajarnya? Apa metodenya? Atau, sarananya?

Dan, janganlah menyalahkan siswa karena siswa datang ke sekolah adalah untuk belajar. Belajar yang menurut KKBI adalah proses perubahan tingkah laku, baik kognitif, afektif, maupun psikomotorik.

Dan, janganlah pula menyalahkan soalnya yang terlalu tinggi. Dalam sebuah kesempatan pejabat Pusat Kurikulum Departemen Pendidikan Nasional pernah menyakatan bahwa soal matematika SD kelas 6 di Indonesia adalah yang paling mudah se-ASEAN. Bagaimana jika dibandingkan dengan kawasan lain? Bagaimana bila dibandingkan seasia? Sedunia? Wajarlah demikian, sehingga sampai-sampai Human Development Index (HDI) Indonesia merupakan yang paling rendah. Bahkan, katanya berada pada titik nadir, yaitu lebih rendah daripada Vietnam, negara yang belum terlalu lama bangkit dari sisa-sisa reruntuhan perang bersenjata melawan hegemoni Amerika Serikat (AS).

Akibat Menyontek

Bagi yang menyontek ketahuan oleh pengawas dapat dipastikan bagaimana kisah selanjutnya. Bisa dikeluarkan dari ruang ujian dan menanggung malu, dan bahkan lebih fatal lagi adalah adalah didiskualifikasi dan dinyatakan tidak lulus ujian. Hal ini pernah terjadi pada siswa di sebuah SLTA favorit di Jakarta Timur. Ia adalah siswa yang pintar dan rajin. Ia dikeluarkan dari ruang ujian bahkan tidak diluluskan bukan karena ia menyontek. Tetapi, yang ia lakukan adalah memberi sontekan pada yang lainnya. Bahkan, mestinya guru sebagai pengawas yang memberikan sontekan pada siswanya mestinya jugadikeluarkan dari jabatan atau profesinya, karena ia kontraproduktif dengan usaha-usaha sebelumnya, yaitu menanamkan banyak nilai dan norma bahwa siswa harus memegang kejujuran sekalipun langit akan runtuh.

Akibat lebih jauh ketika seseorang sudah lulus dari lembaga pendidikan maka ia tidak bisa menghadapi persoalan kehidupannya. Mengapa banyak produk sekolah yang menganggur? Jangan-jangan, itu karena penamanan nilai di sekolah mengalami kegagalan.

Menyontek dan Kreativitas

Kalau Anda menginginkan keberhasilan, hal ini bisa dilakukan dengan cara menyontek secara all out. Apa saja dunia yang Anda geluti? Katakalah seorang petani, ia bisa melakukan hal yang sama dengan petani lainnya ketika hasil panennya meningkat. Seorang pemusik juga demikian adanya. Sering kali seseorang yang bergelut di bidang musik diklaim sebagai plagiat gara-gara nada ciptaannya mirip dengan karya pemusik lainnya, baik di dalam maupun luar negeri. Ada juga yang berkilah bahwa, “Ya, wajar saja wong nada itu cuma tujuh, dari do dampai si. Bagi seorang pengusaha juga bisa demikian. Bila ada bidang baru yang boleh dibilang sukses dan masih sepi pesaingnya, bisa disontek. Termasuk acara-acara televisi kita juga banyak yang menyontek acara serupa di belahan dunia lain.

Sedangkan bagi pelajar atau mahasiswa, menyonteklah secara kreatif. Artinya, jangan menyontek pada saat ujian berlangsung. Agar ujian dapat dijalankan dengan sukses, bacalah setiap bahan pelajaran atau buku yang dijadikan rujukan sebanyak tujuh kali. Karena, sebelum dibaca sebanyak tujuh kali, bahan rujukan masih berada di otak dan belum turun ke dada.

Hal ini sesuai dengan pepatah Arab yang menyatakan al ilmu fi al shudur la fi shutur, ilmu itu ada di dada bukan di lembar-lembar kertas. Artinya, mesti ada proses internalisasi dari apa-apa saja yang menjadi kajian seseorang agar tetap melekat pada ingatan berjangka lama (long term memory).

Andrias Harefa pernah menyatakan bahwa kunci seseorang agar kreatif adalah dengan 3 N: niteni, niroke, nambahi. Atau, dalam bahasa lain yakni mencirikan, menirukan, dan menambahkan. Banyak kasus belajar justru dipahami sebagai proses peniruan. Contoh, anak kecil belajar berjalan, belajar berbicara, atau belajar apa saja adalah menirukan gerakan orang dewasa di sekelilinginya, terutama orang tuanya.

Artinya, sebelum mempunyai ide, langkah pertama bisa menirukan apa saja yang ada di sekelilingi kita. Sebagaimana halnya belajar menjahit baju. Pola dasar baju di mana saja dan kapan saja kan sama? Ada lengan, ada kerah, ada kancing, ada saku. Selebihnya adalah penambahan-penambahan di sana-sini akibat yang ditimbulkan dari proses kreativitas.

Jadi, menyontek di ruang ujian adalah tindakan yang tidak bijak, konyol, sembrono, serta tidak menghargai karunia Allah. Tuhan adalah Sang Maha-Pemberi akal pikiran yang luar biasa kepada setiap manusia. Menyontek sebagai bahan permulaan kreativitas dimungkinkan, karena bagaimanapun tidak ada yang original di dunia ini. Yang terjadi adalah proses kreatif yang terus-menerus untuk menciptakan produk, baik barang atau jasa, maupun produk kreatif lainnya.[tan]

* Tanenji lahir dan dibesarkan di Brebes, Jawa-Tengah, pada 12 Juli 1972. Ia menyelesaikan pendidikan S-1 dan S-2 di UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta, dan kini menjadi dosen tetap pada Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Syarif Hidayatullah serta dosen tidak tetap pada tiga perguruan tinggi swasta di Jakarta-Timur, Depok, dan Bogor. Sewaktu kuliah, ia pernah bekerja di sebuah perusahaan ekspedisi. Tanenji juga aktif menjadi peneliti dan trainer pada Center for Teaching and Learning Development (CTLD), sebuah lembaga semi otonom di UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta, yang mengkhususkan pada pengembangan pembelajaran baik pada sekolah dasar dan menengah, serta perguruan tinggi. Ia mengaku terinspirasi pada Andrias Harefa, dan bercita-cita menjadi WTS (Writer, Trainer, and Speaker) yang sukses, andal, dan terkenal. Semboyannya,Tidak ada yang tidak mungkin bagi mereka yang berani mencobanya’. Tanenji dapat dihubungi melalui e-mail: tanenji[at]yahoo[dot]com.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 7.1/10 (42 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +20 (from 36 votes)

166 Comments

  1. Salam says:

    banyak hal yang harus di khawatirkan berkenaan dengan menyontek,dalam hal ini menyontek yang tidak sesuai dengan keadaannya, yakni sebagai siswa atau mahasiswa, hingga dijadikan sebuah kebiasaan yang buruk.Ada beberapa faktor penyebab siswa melakukan hal demikian, diantaranya ialah kembali kepada siswa itu sendiri, bagai mana ia harus berusaha untuk melawan rasa malas dalam hal belajar, hingga adanya persiapan.Pengawasan yang kurang dari guru pembimbing, seandainya seorang guru tegas dalam hal mengawas anak didiknya, saya yakin budaya mencontek ini tidak ada.

    UN:F [1.6.9_936]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    UN:F [1.6.9_936]
    Rating: -1 (from 1 vote)
  2. Muhammad Ilham Amri says:

    Budaya mnyontek sungguh amat sgt mrugikan, bgmna tdak? Org yg gemar mnyontek pstilah brpikir bhwa ujian itu hnyalah sbg sbuah “formalitas” saja,, aah ujian mah gmpang deeh asal bsa pintar-pintar aj nyimpen contekan, itu lah kata2 yg sring d lontarkan oleh siswa maupun mahasiswa jika d tnya oleh temannya apakah dia sudah mprsiapkan diri dlm mnghdapi ujian yg akan d langsungkan hri itu.
    Sungguh amat sangat ironi memang, jika saja murid-murid di sekolah tau bahwa Bapak atau Ibu Guru mereka ketika dalam perkuliahan, khususnya pada saat menghadapi UTS atau UAS mereka semua mencontek massal, terlebih lagi jika yang mengawas ujian tersebut di anggap sebagai “malaikat” yang baik hati yang bisa mempersilahkan mencontek .. uuh tentunya acara contek mencontek makin ramai. :D ini khususnya saya alami sendiri dimana saya kuliah di jurusan tarbiyah.!
    Dalam memecahkan masalah ini harus melibatkan berbagai macam aspek, selain dari Guru dan murid tentunya. Dari segi lingkungan belajar dimana sang anak itu tumbuh,bisa mempengaruhi mental si anak tersebut,yang saya banyak saya temukan adalah si anak yang gemar mencontek ini,biasanya dituntut agar bisa memberikan nilai yang memuaskan, anak-anak seperti ini amat sangat tidak menghargai berproses dalam hal meraih prestasi, walhasil mereka pun ramai-ramai melakukan kegiatan contek mencontek berjamaah. Selain lingkungan belajar, ada juga dari segi teman sepermainan, anak-anak yang tidak mencontek patilah akan dianggap “cupu, muna, sok pinter, dsb” oleh anak-anak yang sering mencontek, akibatnya apa? Akibatnya adalah hasil kerja keras yang sudah dilakukan oleh anak yang betul-betul belajar akan kalah bersaing dengan anak-anak yang mencontek. Dari segi alat komunikasi untuk saat ini, apalagi jaman sekarang sudah teramat canggih untuk mengumpulkan atau mencari informasi, apalagi jika didukung oleh alat komunikasi yang dimiliki saat ini sudah bisa mengakses internet, maka ujian di depan mata pun dibawa santai,dan mereka pasti akan berucap “kan ada mbah google? Tinggal searching saja sebentar,bereees” jadi dari segi-segi itulah mencontek bisa diminimalisir

    UN:F [1.6.9_936]
    Rating: 2.5/5 (2 votes cast)
    UN:F [1.6.9_936]
    Rating: +1 (from 1 vote)
  3. terjadi “percontekan” ialah kesalahan dari 2 belah pihak yaitu guru dan murid, dan sistem pendidikan yang selama ini ada.

    membuat ujian menjadi terkesan kejam dan menyeramkan yang berdampak kecemasan pada anak didik,

    kecemasan membentuk emosi tersendiri bagi siswa-siswa salah satunya ialah dengan cara instan seperti mencontek

    UN:F [1.6.9_936]
    Rating: 5.0/5 (1 vote cast)
    UN:F [1.6.9_936]
    Rating: +1 (from 1 vote)
  4. Heri Prasetyo says:

    Menyontek memang sudah menjadi budaya yang tidak bisa dipisahkan dari dunia pendidikan bangsa kita ini. Seolah -olah ujian itu tidak lengkap kalau belum ada yang namanya contek menyontek. Saya sendiri pernah menyontek,menyonteki juga pernah. Akan tetapi banyak akibatburuk yang saya dapatkan di banding manfaatnya.Saya rasa menyontek itu hanya disebabkan oleh ketidak siapan dan ketidak percayaan diri kita dalam menghadapi ujian.Kalau kita sudah benar-benar mempersiapkan ujian dengan baik tidak akan ada kamus yang namanya nyontek. Untuk itu mari dengan serentak kta katakan “TIDAK” pada nyontek.OKKKKKKKKK!!!!!!!!!!

    UN:F [1.6.9_936]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    UN:F [1.6.9_936]
    Rating: 0 (from 0 votes)
  5. hamid Qadarullah says:

    salam, mengomentari psykolog menyontek yang di tulis oleh pak tanenji sangat menarik sekali,karena kebiasaan menyontek di negeri kita ini sudah menjadi budaya dan sulit di hilangkan kebiasaan hal yang burk itu, karena menyontek menrut siswa atau mahasiswa adalah fasilitas yang memudahkan mereka untuk menjwab soal2 dan mendaptkan nilai yang bgus dlm ujian. dengan menyontek siswa atau mahasiswa mengharapkan orang tua bangga anaknya dapat nilai tinggi dll.

    UN:F [1.6.9_936]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    UN:F [1.6.9_936]
    Rating: 0 (from 0 votes)
  6. Arif Hidayat says:

    menurut saya menyontek adalah memang sudah fitrah manusia, dalam arti umum.
    menyontek adalah kebiasaan manusia yang tak akan pernah di hilangkan, contohnya, dalam pembuatan jam manusia hanya meniru bumi yang mengitari matahari. jadi hal ini memang harus diwajarkan, karena manusia hanya bisa menemukan, bukan menciptakan. yang menciptakan hanyalah tuhan. jadi, kalau guu ingin merubah sepertinya sangatlah sulit, biarlah mereka menyontek,menyontek yang baik. dalam arti maknanya saja yang dicontek. seorang gurupun pada umunmya ketika memberikan soal itu dengan cara menyontek, bukan hasil pemikiran mereka benar-benar.
    intinya, jangan pernah menyalahkan siswa, salahkanlah dirikita masing-masing, dan perbaiki diri kita.

    UN:F [1.6.9_936]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    UN:F [1.6.9_936]
    Rating: 0 (from 0 votes)
  7. ROIS DANUARTA says:

    nama: rois sungada
    STAIMI

    salam……
    mencontek, adalah hal yang sangat tidak asing di telinga kita.Perbuatan yang sering di lakukan oleh siswa/mahasiswa, lantas apakah semua kesalahan ini mutlak di lakukan oleh peserta didik..??
    tidak, ada beberapa faktor yang menyebabkan siswa menyontek
    1. karena penyampaian guru yang tidak menarik
    2. guru2 sering menggunakan bahasa2 yang rumit
    3.suasana kelas yang tidak asik (memebosankan)

    dari faktor inilah penyebab dari siswa jadi malas untuk membuka, bahkan untuk membaca buku apalagi untuk memahami materi pelajaran.
    Disinilah peran guru sangat di butuhkan, guru bukan hanya menyampaikan materi, tetapi guru juga harus merakyat dan bertanggung jawab dengan murid, menyampaikan materi sesuai dengan kadar kemampuana murid/siswa, kebanyakan guru2 menyampaikan materi dengan bahasa-bahasanya sendiri, mereka tidak mau tahu apakah murid/siswanya paham apa yang disampaiakan atau tidak,,, terimakasih
    WASALAM..

    UN:F [1.6.9_936]
    Rating: 1.0/5 (1 vote cast)
    UN:F [1.6.9_936]
    Rating: +1 (from 1 vote)
  8. maman sudirman says:

    menurut saya: menyontek daLam dunia pendidkan bkan hanya di indonesian saja, melainkan di negara-negara lain juga sama mempunyai kebiasaan budaya menyontek spt di negara cina, malaysia dll. menyontek rasanya sulit banget di muslanhkan dalam dunia pep
    didikan. terkecuali dalam dunia pendidkan internasoinal. kemungkinan besar bisa dimusnahkan budaya contek menyontek.
    di dunia pendidikan banyak faktor yang menjadikan siswa atau mahasiswa melakukan kgiatan contek menyontek, antara lain karena faktor pengawas, sekolah, dan selidaritas teman.
    terimakasih…..
    untuk lebih jelasnya kita diskusi di kelas saja……..

    UN:F [1.6.9_936]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    UN:F [1.6.9_936]
    Rating: 0 (from 0 votes)
  9. syamsul arifin says:

    menurut saya contek-menyontek itu bagus

    UN:F [1.6.9_936]
    Rating: 5.0/5 (1 vote cast)
    UN:F [1.6.9_936]
    Rating: 0 (from 0 votes)
  10. Ahmad Nurul Huda says:

    Contek menyontek memang masalah yang sangat menarik untuk dibahas.
    mengenai hal ini, kita tidak bisa hanya menyudutkan seorang siswa saja untuk dipastikan bahwa siswalah yang sangat gemar untuk melakukannya.
    seperti yang sudah-sudah, kejadian menyontek terjadi karena hanya hobi siswa semata, melainkan adanya kesempatan dan juga menjadi jalan alternatif untuk cepat diselesaikannya tugas dari guru atau bahkan menempuh posisi unggul dalam prestasi.
    sering dijumpai seorang guru memberi peringatan atau bahkan menegur siswa yang ketahuan menyontek saat menghadapi ujian. menurut saya pribadi, cara ini tidak akan memberikan dampak yang positif seperti yang diinginkan semua kalangan, akan tetapi cara yang harus diperhatikan adalah memulai dari diri sendiri baik dari kalangan guru ataupun siswa. dengan cara fokus dengan posisi masing-masing. yang siswa konsentrasi dengan profesinya dari sejak mencicipi materi yang diberikan kepadanya, adapun seorang guru ya harus benar-benar fokus dalam upaya mendidik dan mengajar siswa-siswa yang berhasil tanpa harus menggunakan jalan alternatif dengan cara contek menyontek.

    UN:F [1.6.9_936]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    UN:F [1.6.9_936]
    Rating: +1 (from 1 vote)
  11. syamsul arifin says:

    salam bpk, gmn cara yang terbaik untuk menghilangkan kebiasaan yg sudah terlanjur dan merata ini, dalam hal contek menyontek?

    UN:F [1.6.9_936]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    UN:F [1.6.9_936]
    Rating: 0 (from 0 votes)
  12. Heri Prasetyo says:

    emmm mungkin benar apa yag dikatakan heri, tapi tidak slamanya harus menjadi budaya.
    kita harus bongkar kebiasaan lama.

    Alasan bagi yang pecontek telah jelas, namun ada beberapa alasan mengapa orang mau memberi contekan(walaupun berat hati)
    1. Dikatain pelit sama temen
    2. Merasa tidak enak
    3. Kasian ama teman setia kawan
    4. Jwban nya pas pasan sehingga, ia mau berbagi kesialan dengan teman lain supaya ada yang senasib dengannya.

    Menyontek hanya menguntungkan bagi pencontek bahkan pecontek bisa mendapatkan nilai tertinggi karena ia bertanya kepada teman-teman yang T-O-P, sehingga jwabannya akurat,

    Apabila teman yang dirasa T-O-P tidak beisa memeberi jawaban, karena teman tidak bsia menjwab pertanyaan yg ditnyakn, ia bertanya kepada teman T-O-P yang lain, jadi banyak dan hampir semua yang dikumpulkan jawabannya Shahih. Sehingga tidak jarang ketika pengumuman nilai ada hal yang menakjubkan, yaitu orang yang biasa-biasa saja ada peringkat atas namun orang yang T-O-P ada dibawahnya bhkan tidak masuk dalam peringkat,

    UN:F [1.6.9_936]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    UN:F [1.6.9_936]
    Rating: 0 (from 0 votes)
  13. alii Imron says:

    emmm mungkin benar apa yag dikatakan heri, tapi tidak slamanya harus menjadi budaya.
    kita harus bongkar kebiasaan lama.

    Alasan bagi yang pecontek telah jelas, namun ada beberapa alasan mengapa orang mau memberi contekan(walaupun berat hati)
    1. Dikatain pelit sama temen
    2. Merasa tidak enak
    3. Kasian ama teman setia kawan
    4. Jwban nya pas pasan sehingga, ia mau berbagi kesialan dengan teman lain supaya ada yang senasib dengannya.

    Menyontek hanya menguntungkan bagi pencontek bahkan pecontek bisa mendapatkan nilai tertinggi karena ia bertanya kepada teman-teman yang T-O-P, sehingga jwabannya akurat,

    Apabila teman yang dirasa T-O-P tidak beisa memeberi jawaban, karena teman tidak bsia menjwab pertanyaan yg ditnyakn, ia bertanya kepada teman T-O-P yang lain, jadi banyak dan hampir semua yang dikumpulkan jawabannya Shahih. Sehingga tidak jarang ketika pengumuman nilai ada hal yang menakjubkan, yaitu orang yang biasa-biasa saja ada peringkat atas namun orang yang T-O-P ada dibawahnya bhkan tidak masuk dalam peringkat,
    t
    dan timbul “Orang pintar kalah sama Orang beruntung”

    UN:F [1.6.9_936]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    UN:F [1.6.9_936]
    Rating: +1 (from 1 vote)
  14. menurut saya, perilaku mencontek adalah penyimpangan karakter yg muncul dr pribadi yg notabenenya sedang bermasalah secara psikologis, sesuai dengan kodratnya bahwa manusia dalam skala penciptaan dia adalah makhluk yg berakal dalam artian ia mampu menyesaikan problem sesuai dengan akalx, mencontek adalah prilaku buruk yg menyimpang yg terjadi disaat ujian dikarenakan minimnya rasa percaya diri dan confidence dngan kemampuannya dan bersumber dari rasa malas yg hanya instant mengandalkan kemampuan selainnya, baik itu kpd teman, atau benda2 lain yg bisa membantunya ex buku, komputer, kertas contekan dll. dan perilaku ini pada awalnya adalah perilaku yg tabu karena terjadi masa tenggang yg panjang sehingga merebak dan membudaya, dan ini sangat berdampak berat bukan hanya pada siswa melainkan juga pada bangsa ini.

    UN:F [1.6.9_936]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    UN:F [1.6.9_936]
    Rating: 0 (from 0 votes)
  15. Muh. Alhasny says:

    Salam Ustadz !

    bagaimanapun ana tidak setuju terhadap apa itu yang namanya nyontek. karena, itu adalah perbuatan yang negativ. memang banyak faktor mengapa seseorang melakukan nyontek, tapi itu adalah problem yang harus kita hadapi dengan berusaha sekuat kemampuan yang kita miliki. dan mencontek adalah bukan jalan yang mesti ditempuh dalam menyelesaikan masalah. agar kita menjadi manusia yang baik, maka kita harus menjauhi sifat memncontek, maka dengan itu kita akan menjadi manusia yang baik terlebih dahulu sebelum kita memperbaiki orang lain dalam kehidupan kita.

    syukron !!
    Wasalam.

    UN:F [1.6.9_936]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    UN:F [1.6.9_936]
    Rating: 0 (from 0 votes)
  16. Kebiasaan buruk menyontek sudah biasa dilakukan mahasiswa-mahasiswi Binus setiap kali ujian. Seolah otak mereka sudah tidak sanggup berpikir kalau tidak melihat contekan pada saat ujian…

    UN:F [1.6.9_936]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    UN:F [1.6.9_936]
    Rating: 0 (from 0 votes)

Post a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Comment moderation is enabled. Your comment may take some time to appear.

Komentar