Problematika Menikah
Editor | Kolom Lepas | July 21st, 2009
Oleh: Ingrid Gunawan*
Sampai sebegini tua saya belum menikah. Kata orang saya tidak jelek. Jadi, bukan persoalan fisik yang menyebabkan saya belum menikah. Tetapi, yang pasti adalah belum ada pria yang melamar saya. Itulah persoalannya.
Berbicara mengenai menikah, sepertinya semua orang dewasa normal pasti ingin menikah tapi apakah semua orang dewasa mengerti mengapa mereka harus menikah? Secara statistik pasti yang rumah tangganya langgeng sampai tua alias tidak bercerai lebih banyak dari pada yang bercerai, tetapi itu bukan jaminan rumah tangga mereka harmonis.
Sekarang bukan zamannya lagi menikah demi melangsungkan keturunan. Manusia sudah terlalu banyak menempati bumi ini. Lalu, apakah memang karena sudah kodratnya semua orang dewasa harus menikah?
Janganlah menikah karena memang sudah seharusnya menikah! Pikirkanlah baik-baik mengapa kita harus menikah. Tidak ada seorang pun yang mau menikah lalu hidup dengan pertengkaran dan bercerai ataupun terjadi kekerasan dalam rumah tangganya seperti yang sedang marak sekarang ini melanda para selebriti. Hal itu terjadi bukan hanya pada selebriti cuma karena mereka orang terkenal, sehingga beritanya dipublikasikan. Tidak tertutup kemungkinan kejadian tersebut lebih banyak yang tidak tersiar karena terjadi pada orang-orang biasa.
Banyak hal yang bisa menyebabkan pernikahan tidak harmonis, terutama ketika dua orang yang sepakat menikah tidak tahu apa tujuan mereka menikah. Ketika mereka berpacaran mereka berpikir, ”Ah, senangnya mempunyai pasangan yang saling mencintai… will be happily ever after….” Naif sekali pikiran seperti itu. Kenyataan tidak seindah khayalan. Begitu banyak persoalan akan datang menyerbu ketika memasuki mahligai rumah tangga. Tidak perlu dipaparkan persoalan yang dihadapi, mulai dari latar belakang berbeda, keluarga berbeda, anak-anak yang dilahirkan, persoalan keuangan, dan segudang masalah lainnya.
Ketika sudah hidup dalam satu rumah, kalau masing-masing pihak masih tetap ingin membawa cara hidupnya sendiri-sendiri tanpa kesediaan menyesuaikan dengan pasangannya, maka rusaklah rumah tangga itu. Kedua belah pihak harus sama sepakat mengarahkan kapal itu menuju tujuan yang sama. Memang pepatah mengatakan banyak jalan menuju Roma. Jalannya memang banyak tetapi tujuannya cuma satu yaitu Roma.
Demikianlah pasangan itu harus mencari cara yang sama agar tujuan mereka tercapai. Sungguh tidak enak ketika kita hidup dalam satu rumah tetapi di dalamnya hawa neraka yang ada. Bukankah dambaan semua orang mempunyai keluarga yang harmonis. Oleh karena itu, menikah harus dipikirkan secara dewasa, bukan membabi buta tanpa persiapan mental yang matang.
Saya sedih sekali ketika mendengar seorang teman mengatakan dia sudah putus asa dengan kehidupan rumah tangganya, yang setiap hari cekcok dari hal-hal kecil apalagi yang besar. Ah, malang sekali kehidupannya, apa arti keluarga? Bukankah keluarga tempat kita saling menolong, mendukung, dan berbagi? Bagaimana dapat menolong kalau setiap hari ribut, yang ada cuma kekesalan dan kekecewaan? Itu namanya menciptakan neraka di dalam rumah. Jadi, neraka sudah ada di dunia ini sebelum orang itu mati.
Kita sering mendengar orang berkata “hidup ini cuma sebentar, waktu demikian cepat berlalu”; namun kalau setiap hari cekcok, saya rasa waktu demikian panjang serasa tanpa akhir. Apakah kita akan merasa lega ketika salah seorang dari pasangan pergi untuk selamanya? Jangan biarkan orang yang kita pilih pada awalnya, akhirnya menjadi orang yang paling ingin kita jauhi secepatnya. Menyedihkan dan capai sekali.
Sungguh alangkah indahnya dan nikmatnya hidup ini kalau kita hidup rukun bersama orang-orang tercinta.[ig]
* Ingrid Gunawan adalah seorang executive secretary sebuah perusahaan swasta. Meminati bidang tulis-menulis, aktif dalam pelayanan sosial, dan ia dapat dihubungi melalui pos-el: ingridguna[at]yahoo[dot]com.
July 24th, 2009 at 12:58 am
Menikah berarti timbul “masalah baru” dan setelah menikah masalah dihadapi secara bersama dg pasangan. Akan celaka memang kalo pasangan kita tdk bertanggung jawab, tdk mau ikut membantu mengatasi masalah yg timbul setelah pernikahan bahkan masalah sebelum pernikahan sekalipun krn setelah ” Bersatu ” tentunya masalah baik yg masa lalu, sekarang maupun yg akan datang adalah milik bersama. Semoga Ingrid segera ada pria yg melamar & mau bersama-sama mengatasi masalah krn Hidup adalah masalah & kebahagiaan diperoleh bila Kita dapat mengatasi masalah dgn baik. Salam
July 28th, 2009 at 11:41 am
Dear Inggrid,
menikah adalah menyatukan 2 orang berbeda; yaitu 2 ideologi berbeda, 2 sifat berbeda, 2 hati berbeda, dlsb…., dalam masa pernikahan itu, pasti ada waktu adaptasi, waktu dimana kita coba menerima kekurangan2 pasangan kita yang belum pernah kita ketahui, dan tentu menerima kelebihan2nya juga. kita tidak akan pernah tahu apakah pasangan yang kita pilih sebagai teman hidup itu adalah soul-mate kita atau bukan, itu bisa terbukti dari berjalannya kebersamaan. tidak usah takut untuk menikah, karena tidak semua pernikahan adalah ‘neraka dalam rumah’ bagaimana jika ternyata setelah menikah semua persoalan hidup lebih ringan? bukankah segala masalah lebih baik dipecahkan dengan 2 kepala daripada 1 kepala?
Menikah dengan landasan cinta, itu penting.. karena cinta bisa meluluhkan kekeras kepalaan kita, ego kita, dan cinta selalu bisa memafkan…. tapi harus saling cinta, bukan salah satu saja atau hanya tinggal satu cinta….
terima kasih telah berbagi.
salam.
March 17th, 2011 at 7:10 am
sy punya problem rumah tangga, sy bingung harus mengadu kemana, krn slama 4 tahun sy membina rumah tangga sakit hati saya, perlakuan suami seolah-olah dia lah yang berhak atas rumah tangga dan atas hidup saya,memaki,menyumpahin,mengertak,menyalahkan,mengikuti semua peraturannya100%.padahal sy sdh mencoba mengikuti tapi ada lagi masalah lain,jikalau terkadng sy ingin curhat minta solusi suami emosi mengatakan sy tdk ska pd keluarganya suami rela cekcok demi mepeprthnkn reputasi keluarga,ad tdk yg bs bant sy?
December 4th, 2011 at 11:14 pm
Dear Mbak Mira,
Sorry saya baru baca comment Mbak. Mbak jangan mengandalkan manusia u/ membantu masalah kita, bersandarlah pada Tuhan Yesus yang sanggup menolong kita. Kl. saya hanya tahu teory, sedangkan Mbak yg mempraktekkannya. Cerita2 yang saya tuliskan adalah perasaan, pengalaman pribadi jadi real; mungkin Mbak bisa baca tulisan saya “Cinta adalah Anugrah”. Kita tidak bisa merubah seseorang, hanya Tuhan yang sanggup oleh karena itu doakan suami Mbak agar Tuhan yang merubah hatinya. Jangan mengadukan masalah kel. kpd orang yg tdk tepat, nanti malah runyam. Saya doakan Mbak Mira bisa kuat dan tetap mencintai suami. Salam, Ingrid