Personal Leadership, Nasib, dan Kenyamanan Hidup
Editor | Kolom Tetap | April 6th, 2009
Oleh: Eni Kusuma*
Ada sebagian orang yang karena terlalu malas, cepat menyerahkan urusannya kepada nasib atau kepada Tuhan. Mereka tinggal memohon saja tanpa usaha apa pun dari pihak mereka. Seakan nasib sudah tertulis dalam buku sejarah mereka, tanpa campur tangan karakter, sikap, dan tindakan-tindakan sendiri.
Sebagian lagi percaya bahwa nasib ada di tangan mereka sendiri. Nasib mereka ada di bawah kendali mereka. Mereka menciptakan nasib yang mereka kehendaki berdasarkan atas pilihan-pilihan sikap dan tindakan-tindakannya. Seakan-akan itu dilakukannya tanpa campur tangan Allah. Karena itu, mereka hanya mengambil ayat-ayat yang pro terhadap usaha manusia, dan meremehkan atau membiarkan ayat-ayat yang dianggap fatalis untuk orang-orang yang mau memeluknya.
Golongan yang pertama adalah orang-orang yang malas dan mau enaknya sendiri. Jika nasib mereka jelek, mereka serta merta menganggap kehendak Allah “semena-mena” terhadap mereka. Sehingga, mereka mudah menyalahkan dan berburuk sangka kepada Allah.
Golongan kedua adalah orang-orang yang terlalu membanggakan diri. Menganggap nasib mereka yang baik, adalah mutlak karena usahanya, yaitu karena karakter, sikap, dan tindakan-tindakannya, yang mereka sebut dengan personal leadership. Jadi, tidak ada campur tangan Tuhan di sini.
Jika golongan pertama dan kedua dipertemukan, tentu kita tahu bahwa debat di antara mereka tidak pernah bisa didamaikan. Yang satu memeluk takdir, dan yang satunya lagi memeluk kebebasan kehendak. Benarkah dalam filsafat ketuhanan, tak ada penjelasan yang cukup memuaskan untuk memahami dilema antara Kemahatahuan dan Kemahaadilan Tuhan? Kebebasan manusia dan Kemahakuasaan Tuhan? Kemahacintaan Tuhan dan misteri penderitaan…. dan masih banyak lagi?
Orang Jawa bilang, kodrat itu biso diwirodat, yang artinya, kodrat itu bisa diubah, direkayasa, dan disiasati. Dan, Allah berfirman, “Tidak berubah nasib suatu kaum kecuali mereka sendiri yang mengubahnya.” Jika demikian, bukankah nasib ada di tangan manusia? Benar, tetapi mutlak tidak ada campur tangan Tuhan dalam hal ini adalah suatu ketidakpantasan, atau bahasa kejamnya adalah kesombongan.
Kita tentu pernah mendengar nasihat bijak yang membuat hidup kita tenteram dan nyaman, “ Kita berusaha, namun Tuhan jualah yang menentukan.” Bukankah ini berarti ada campur tangan Tuhan? Dan, memang demikian adanya karena Kemahatahuan, Kemahaadilan, Kemahacintaan Tuhan sekaligus kebebasan manusia dalam berkehendak. Tentang misteri penderitaan? Bagi saya, itu tidak ada, karena Allah Mahabaik yang hanya memiliki sifat-sifat baik. Itu yang diajarkan Tuhan kepada kita.
Menderita hanyalah prasangka, persepsi, atau perasaan manusia saja. Karena, sesuatu yang dirasakan “baik” tidak selalu merupakan kebaikan bagi kita. Sebaliknya, pada saat kita terlihat menderita, kita tidak dapat menganggap pengalaman itu sebagai hal yang “buruk”. Allah berfirman, “Ada hal-hal yang diberikan untukmu tetapi kamu tidak menyukainya walaupun itu baik bagimu, dan ada hal-hal yang kamu menyukainya tetapi itu tidak baik bagimu.”
Jadi, kita tidak perlu menganggap penderitaan dan rasa sakit sebagai musuh kita. Namun, lebih baik kita menganggapnya sebagai suatu kejadian atau pengalaman yang akan membantu kita menyeimbangkan aspek fisik, emosi, mental, dan spiritual. Sehingga, kita bisa merasa nyaman menjalaninya.
Kembali lagi kepada usaha manusia dan campur tangan Tuhan. Jika dalam usaha mewujudkan apa yang kita inginkan, kemudian kita bertemu dengan kejadian-kejadian atau bertemu dengan orang-orang yang mendukung langkah-langkah kita, apakah itu merupakan suatu kebetulan belaka? Bagi saya, itu adalah takdir, yaitu campur tangan Tuhan untuk menolong kita.
Contoh kecil saja yang terjadi pada saya. Saya terinspirasi menulis dari iklan workshop kepenulisan yang diadakan di Hong Kong, waktu itu saya masih menjadi PRT di sana. Saya pun memiliki keinginan menjadi seorang penulis. Apakah secara kebetulan saya kemudian bertemu dengan orang-orang yang mendukung keinginan saya tersebut?
Saya rasa tidak. Allah yang mengirim orang-orang untuk membantu saya melalui mekanisme universal yang telah diciptakan-Nya. Allah yang menciptakan alam semesta beserta isinya, lengkap dengan program-program yang ada di dalamnya, bagaikan sebuah komputer raksasa paling canggih. Begitu saya merasa yakin dan mampu dengan keinginan saya tersebut, dan kemudian mewujudkannya melalui usaha-usaha (sehingga alam bawah sadar pun meresponnya), maka sinyal-sinyal ini pun akan terhubung dengan orang lain. Bahkan, melibatkan berbagai mekanisme alamiah di sekitarnya secara otomatis. Inilah yang disebut mestakung = semesta mendukung, yang dipopulerkan pertama kali oleh Profesor Yohanes Surya.
Kepercayaan dan keyakinan diri yang positif, sikap, dan tindakan-tindakan kita yang positif inilah yang disebut personal leadership, yang menjadi dasar terjadinya nasib melalui Kemahakuasaan Tuhan, pemegang otoritas tertinggi kehidupan.
Dalam konteks berdoa kepada Tuhan, maka personal leadership berpadu dengan prasangka positif kepada Tuhan, akan berproses mengikuti mekanisme keberhasilan tersebut. Itulah sebabnya mengapa doa kita terkabul. Apakah kita masih kurang nyaman dalam menjalani hidup dengan segala fasilitas yang diberikan Tuhan kepada kita tersebut?
Bagaimana menurut Anda?[ek]
* Eni Kusuma adalah nama pena Eni Kusumawati yang lahir di Banyuwangi pada 27 Agustus, 31 tahun yang lalu. Ia berangkat dari menulis puisi dan fiksi. Puisinya dibukukan bersama seratus penyair Indonesia “Yogya, 5,9 skala richter”, sementara cerita fiksinya bertebaran di berbagai media dan juga dibukukan. Ia bercita-cita mendirikan sekolah gratisdan rumah baca di daerahnya di Banyuwangi. Pendidikan formal terakhir di SMUN 1, Banyuwangi, lulus tahun 1995. Sementara, pendidikan nonformalnya, S-1 di Pembelajar.Com (2006 sampai sekarang), dan S-2 di Andaluarbiasa.Com (15 Januari 2009 sampai sekarang). Eni menjadi pembantu rumah tangga di Hong Kong tahun 2001-2007. Eni, yang ketika kecil menderita gagap bicara ini, kini menjadi seorang motivator dan telah memberikan seminarnya di berbagai perusahaan, lembaga sosial, birokrasi pemerintahan, serta berbagai kampus di seluruh Indonesia. Eni adalah penulis buku laris Anda Luar Biasa!!! (Fivestar, 2007). Silahkan hubungi Eni di ek_virgeus@yahoo.co.id atau enikusuma@ymail.com , HP 081 389 641 733. Website: Pembelajar.Ccm dan Andaluarbiasa.com.
Leave a Reply