Pendidikan Anak: Lebih Cepat Lebih Baik?
Editor | Kolom Lepas | July 21st, 2009
Oleh: Lina Kartasasmita*
“Essentialists hope that when students leave school, they will possess not only basic skills
and an extensive body of knowledge, but also disciplined, practical minds,
capable of applying schoolhouse lessons in the real world.”
~ William C. Bagley
Motto “Lebih cepat lebih baik” terdengar di mana-mana beberapa waktu lalu karena adanya kampanye pemilihan presiden. Sebagai orang tua saya sempat tergelitik dengan motto ini. Beberapa tahun lalu, dan bahkan sampai sekarang ini, ada penawaran jalur pendidikan yang lebih singkat melalui program akselerasi atau program foundation dari college.
Sebagai orang tua dari dua orang anak saya sempat tergoda untuk memasukkan anak saya ke program sekolah akselerasi. Perhitungan bahwa anak-anak akan lebih cepat meraih gelarnya, menyelesaikan sekolah di usia muda, dan perhitungan biaya pendidikan yang dapat dihemat. Saya sempat membicarakan hal ini dengan keluarga dan berdiskusi dengan anak-anak saya. Sepertinya, lebih cepat lebih baik itu menjadi prioritas pertimbangan kami.
Perjalanan hidup ini memang aneh, campur tangan Tuhan tidak dapat dielakkan dalam kehidupan. Saat saya siap untuk memasukkan anak-anak ke program akselerasi, suami saya mendapat tugas ke luar negeri sehingga anak-anak harus mengikuti kepindahan tersebut. Sesampai di negara tujuan, saya tidak melihat adanya program akselerasi di negara tersebut. Tetapi, saya terus mencari tahu mengenai program lebih cepat lebih baik.
Dalam pencarian saya, saya bergabung dengan sekelompok ibu-ibu rumah tangga yang menyelenggarakan parenting class. Kegiatan itu merupakan kegiatan diskusi antar-orang tua mengenai apa yang kita bisa dilakukan sebagai orang tua dalam mempersiapkan anak-anak remaja menghadapi dunia yang lebih luas. Di suatu diskusi saya sempat melontarkan keinginan saya agar anak saya dapat mengambil program sekolah yang lebih cepat. Diskusi itu menjadi topik menarik dan saya mendapat masukan berharga dari teman-teman saya. Tidak diragukan bahwa sebagian besar anak yang pandai pasti mampu belajar lebih cepat dan menyelesaikan pendidikan akademiknya lebih cepat.
Di balik semua itu sebenarnya kita mendorong anak secepat mungkin mengambil tanggungjawab yang lebih besar dalam hidupnya. Secara akademik mereka mampu menjalaninya. Pertanyaan terbesarnya, bagaimana dengan perkembangan mental dan kepribadian anak tersebut? Yang harus kita persiapkan adalah seorang anak yang mampu mengambil “keputusan yang lebih benar dan lebih baik dalam kehidupannya”.
Hidup seorang anak itu tidak hanya harus mempergunakan ilmu pengetahuannya tetapi mereka dituntut mampu menggambil keputusan yang bijaksana dalam hidupnya. Oleh karena itu, parenting class membahas bagaimana mempersiapkan anak dalam pergaulan sehari-hari, menghadapi godaan seksual, mengatasi masalah-masalah emosional dan motivasi. Saya belajar banyak dari diskusi-diskusi dengan teman-teman saya dan saya juga melakukan riset mengenai perkembangan usia anak dengan rentang tanggung jawab yang mampu mereka hadapi. Akhirnya, saya memutuskan tidak memilih jalur “lebih cepat lebih baik” untuk anak saya.
Tiga tahun saya mengikuti kelas diskusi parenting tersebut, sampai akhirnya saya kembali ke Tanah Air. Tahun 2008 saya mendapat kesempatan menjadi dosen paruh waktu di sebuah institusi pendidikan. Saya harus menghadapi anak didik dengan usia muda tetapi mengambil program persiapan masuk universitas. Program ini seperti motto lebih cepat lebih baik, dan di sisi lain saya juga mengajar anak didik yang telah menyelesaikan pendidikan formalnya melalui jalur normal.
Kenyatannya saya mengalami banyak persoalan dengan anak-anak yang lebih muda karena mereka tidak siap untuk mengambil keputusan yang tepat dalam hidupnya. Saya menghadapi lebih banyak kendala dari program lebih cepat lebih baik, karena faktor kematangan pola berpikir anak-anak tersebut. Ternyata, banyak kebenaran terungkap dari hasil riset saya. Dalam mendidik anak faktor waktu sangat menentukan kedewasaaan anak. Pembentukan kepribadian anak tidak dapat dipercepat waktunya. Seorang anak membutuhkan waktu supaya mampu menyerap nilai-nilai moral dan kebenaran dalam hidup.
Sebagai orang tua kita sering terpedaya dengan tawaran-tawaran menarik dan memiliki nilai ekonomis. Kita jadi lupa bahwa nilai kehidupan itu bukan sesuatu yang instan untuk dicerna. Dibutuhkan waktu, pengalaman pribadi, dan pengembangan diri untuk mencapai suatu pemahaman yang benar.
Mendidik anak-anak kita bukan untuk menjadikan mereka lebih cepat lebih baik, tetapi mendidik mereka untuk mengambil “keputusan yang lebih benar dan lebih baik”.
Tugas kita sebagai orang tua membentuk anak-anak kita menjadi manusia yang seutuhnya, seimbang perkembangan kepribadian dan kepandaian akademisnya.[lkk]
* Lina Kartasasmita lahir di Jakarta 13 Maret 1966. Suka menulis sejak kecil dan mencintai dunia pendidikan. Hasil karya tulisan terdapat di www.wisdom-to-share.blogspot.com atau www.wisdom-to-share.blog.friendster.com. Pos-el: Lkartasasmita[at]hotmail[dot]com.
July 22nd, 2009 at 10:29 pm
good program. I think it will work perfercly.
July 23rd, 2009 at 10:31 am
good bu artikelnya, cuma musti 2 or 3 x baca br nyampe deh,he..he… maklum tapi suer good kok !
July 23rd, 2009 at 11:38 pm
I really like it..
July 24th, 2009 at 1:04 pm
Anak2 harus dibiarkan menikmati masa mudanya, supaya bisa bertahan menghadapi masa depan mereka.
July 25th, 2009 at 11:28 am
Apakah kurikulum pendidikan sekarang perlu dikoreksi?? Mengingat banyak sekali mata pelajaran tetek bengek, ga seperti dulu.
July 25th, 2009 at 10:40 pm
@ CY Terima kasih, memang perlu disadari bahwa
definisi kurikulum
Adalah pelajaran dan pengalaman yang dibutuhkan untuk seorang anak menjadi orang dewasa yang seharusnya di masyarakat
Pelajaran yang mencangkup kebutuhan formal dan pengalaman yang terjadi di dalam dan di luar sekolah. Pengalaman yang tidak terencana dan tidak langsung bertujuan membentuk seorang dewasa di masyarakat
****
Seringkali kita lupa bahwa pendidikan itu dari rumah dan dari sekolah, jadi kita sebagai orangtua juga harus bijak memilih mana yang perlu atau tidak perlu ditambahkan kepada anak-anak kita. Ya… ada baiknya segala sesuatu dievaluasi termasuk kurikulum pendidikan kita.
November 13th, 2009 at 11:46 pm
betul bu, kadang, saya sbg orangtua, hanya memikirkan diri sendiri, lupa bahwa anak akan menjadi dewasa, tapi tanpa pendidikan yg tepat, mereka tdk akan menjadi manusia yg bijaksana dan bertanggung jawab untuk dirinya dan orang lain. luar biasa, 2 jempol untuk tulisan ibu, membuat saya sadar mungkin selama ini saya juga mengambil keputusan yg salah, tapi, akan saya perbaiki bu. tidak ada kata terlambat.