Pendidikan Anak: Lebih Cepat Lebih Baik?

lkk1Oleh: Lina Kartasasmita*

“Essentialists hope that when students leave school, they will possess not only basic skills

and an extensive body of knowledge, but also disciplined, practical minds,

capable of applying schoolhouse lessons in the real world.”

~ William C. Bagley

Motto “Lebih cepat lebih baik” terdengar di mana-mana beberapa waktu lalu karena adanya kampanye pemilihan presiden. Sebagai orang tua saya sempat tergelitik dengan motto ini. Beberapa tahun lalu, dan bahkan sampai sekarang ini, ada penawaran jalur pendidikan yang lebih singkat melalui program akselerasi atau program foundation dari college.

Sebagai orang tua dari dua orang anak saya sempat tergoda untuk memasukkan anak saya ke program sekolah akselerasi. Perhitungan bahwa anak-anak akan lebih cepat meraih gelarnya, menyelesaikan sekolah di usia muda, dan perhitungan biaya pendidikan yang dapat dihemat. Saya sempat membicarakan hal ini dengan keluarga dan berdiskusi dengan anak-anak saya. Sepertinya, lebih cepat lebih baik itu menjadi prioritas pertimbangan kami.

Perjalanan hidup ini memang aneh, campur tangan Tuhan tidak dapat dielakkan dalam kehidupan. Saat saya siap untuk memasukkan anak-anak ke program akselerasi, suami saya mendapat tugas ke luar negeri sehingga anak-anak harus mengikuti kepindahan tersebut. Sesampai di negara tujuan, saya tidak melihat adanya program akselerasi di negara tersebut. Tetapi, saya terus mencari tahu mengenai program lebih cepat lebih baik.

Dalam pencarian saya, saya bergabung dengan sekelompok ibu-ibu rumah tangga yang menyelenggarakan parenting class. Kegiatan itu merupakan kegiatan diskusi antar-orang tua mengenai apa yang kita bisa dilakukan sebagai orang tua dalam mempersiapkan anak-anak remaja menghadapi dunia yang lebih luas. Di suatu diskusi saya sempat melontarkan keinginan saya agar anak saya dapat mengambil program sekolah yang lebih cepat. Diskusi itu menjadi topik menarik dan saya mendapat masukan berharga dari teman-teman saya. Tidak diragukan bahwa sebagian besar anak yang pandai pasti mampu belajar lebih cepat dan menyelesaikan pendidikan akademiknya lebih cepat.

Di balik semua itu sebenarnya kita mendorong anak secepat mungkin mengambil tanggungjawab yang lebih besar dalam hidupnya. Secara akademik mereka mampu menjalaninya. Pertanyaan terbesarnya, bagaimana dengan perkembangan mental dan kepribadian anak tersebut? Yang harus kita persiapkan adalah seorang anak yang mampu mengambil “keputusan yang lebih benar dan lebih baik dalam kehidupannya”.

Hidup seorang anak itu tidak hanya harus mempergunakan ilmu pengetahuannya tetapi mereka dituntut mampu menggambil keputusan yang bijaksana dalam hidupnya. Oleh karena itu, parenting class membahas bagaimana mempersiapkan anak dalam pergaulan sehari-hari, menghadapi godaan seksual, mengatasi masalah-masalah emosional dan motivasi. Saya belajar banyak dari diskusi-diskusi dengan teman-teman saya dan saya juga melakukan riset mengenai perkembangan usia anak dengan rentang tanggung jawab yang mampu mereka hadapi. Akhirnya, saya memutuskan tidak memilih jalur “lebih cepat lebih baik” untuk anak saya.

Tiga tahun saya mengikuti kelas diskusi parenting tersebut, sampai akhirnya saya kembali ke Tanah Air. Tahun 2008 saya mendapat kesempatan menjadi dosen paruh waktu di sebuah institusi pendidikan. Saya harus menghadapi anak didik dengan usia muda tetapi mengambil program persiapan masuk universitas. Program ini seperti motto lebih cepat lebih baik, dan di sisi lain saya juga mengajar anak didik yang telah menyelesaikan pendidikan formalnya melalui jalur normal.

Kenyatannya saya mengalami banyak persoalan dengan anak-anak yang lebih muda karena mereka tidak siap untuk mengambil keputusan yang tepat dalam hidupnya. Saya menghadapi lebih banyak kendala dari program lebih cepat lebih baik, karena faktor kematangan pola berpikir anak-anak tersebut. Ternyata, banyak kebenaran terungkap dari hasil riset saya. Dalam mendidik anak faktor waktu sangat menentukan kedewasaaan anak. Pembentukan kepribadian anak tidak dapat dipercepat waktunya. Seorang anak membutuhkan waktu supaya mampu menyerap nilai-nilai moral dan kebenaran dalam hidup.

Sebagai orang tua kita sering terpedaya dengan tawaran-tawaran menarik dan memiliki nilai ekonomis. Kita jadi lupa bahwa nilai kehidupan itu bukan sesuatu yang instan untuk dicerna. Dibutuhkan waktu, pengalaman pribadi, dan pengembangan diri untuk mencapai suatu pemahaman yang benar.

Mendidik anak-anak kita bukan untuk menjadikan mereka lebih cepat lebih baik, tetapi mendidik mereka untuk mengambil “keputusan yang lebih benar dan lebih baik”.

Tugas kita sebagai orang tua membentuk anak-anak kita menjadi manusia yang seutuhnya, seimbang perkembangan kepribadian dan kepandaian akademisnya.[lkk]

* Lina Kartasasmita lahir di Jakarta 13 Maret 1966. Suka menulis sejak kecil dan mencintai dunia pendidikan. Hasil karya tulisan terdapat di www.wisdom-to-share.blogspot.com atau www.wisdom-to-share.blog.friendster.com. Pos-el: Lkartasasmita[at]hotmail[dot]com.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 9.8/10 (21 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +8 (from 8 votes)

7 Responses to “Pendidikan Anak: Lebih Cepat Lebih Baik?”

  1. Puja Kartawijaya Says:

    good program. I think it will work perfercly.

    UN:F [1.6.9_936]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    UN:F [1.6.9_936]
    Rating: 0 (from 0 votes)
  2. Yudi Hariyanto Says:

    good bu artikelnya, cuma musti 2 or 3 x baca br nyampe deh,he..he… maklum tapi suer good kok !

    UN:F [1.6.9_936]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    UN:F [1.6.9_936]
    Rating: 0 (from 0 votes)
  3. Hanny Wong Says:

    I really like it..

    UN:F [1.6.9_936]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    UN:F [1.6.9_936]
    Rating: 0 (from 0 votes)
  4. christine Says:

    Anak2 harus dibiarkan menikmati masa mudanya, supaya bisa bertahan menghadapi masa depan mereka.

    UN:F [1.6.9_936]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    UN:F [1.6.9_936]
    Rating: 0 (from 0 votes)
  5. CY Says:

    Apakah kurikulum pendidikan sekarang perlu dikoreksi?? Mengingat banyak sekali mata pelajaran tetek bengek, ga seperti dulu. :)

    UN:F [1.6.9_936]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    UN:F [1.6.9_936]
    Rating: 0 (from 0 votes)
  6. Lina Kartasasmita Says:

    @ CY Terima kasih, memang perlu disadari bahwa
    definisi kurikulum
    Adalah pelajaran dan pengalaman yang dibutuhkan untuk seorang anak menjadi orang dewasa yang seharusnya di masyarakat
    Pelajaran yang mencangkup kebutuhan formal dan pengalaman yang terjadi di dalam dan di luar sekolah. Pengalaman yang tidak terencana dan tidak langsung bertujuan membentuk seorang dewasa di masyarakat
    ****
    Seringkali kita lupa bahwa pendidikan itu dari rumah dan dari sekolah, jadi kita sebagai orangtua juga harus bijak memilih mana yang perlu atau tidak perlu ditambahkan kepada anak-anak kita. Ya… ada baiknya segala sesuatu dievaluasi termasuk kurikulum pendidikan kita.

    UN:F [1.6.9_936]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    UN:F [1.6.9_936]
    Rating: 0 (from 0 votes)
  7. florence Says:

    betul bu, kadang, saya sbg orangtua, hanya memikirkan diri sendiri, lupa bahwa anak akan menjadi dewasa, tapi tanpa pendidikan yg tepat, mereka tdk akan menjadi manusia yg bijaksana dan bertanggung jawab untuk dirinya dan orang lain. luar biasa, 2 jempol untuk tulisan ibu, membuat saya sadar mungkin selama ini saya juga mengambil keputusan yg salah, tapi, akan saya perbaiki bu. tidak ada kata terlambat.

    UN:F [1.6.9_936]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    UN:F [1.6.9_936]
    Rating: +1 (from 1 vote)

Leave a Reply

Comment moderation is enabled. Your comment may take some time to appear.

Motivasi Dunia

Motivasi Dunia

Kolomnis

<
Edy Zaqeus Eni Kusuma Avanti Fontana Alexandra Dewi Miranda Suryadjaja Sofa Nurdiyanti
Anang Y.B. Hartati Nurwijaya Aleysius H. Gondosari Sulmin Gumiri Relon Star Sri Budiastuti
Agus Riyanto Iftida Yasar Fida Abbott Ery Prasetyawan Tanenji Ingrid Gunawan
Maria Saumi Ely Susanti Agung Praptapa Putu Adnyana Fita Irnani Nathalia Sunaidi
M Sebastian Wijaya Abdul Muid Badrun Kak Sugeng Akhmad Sirodz Lisa Nuryanti Abidin Noor
Wuryanano Petriza Giovanni Amelia Devina Tri Wahyuni Endang Setyati Vina Tan
Lianny Hendranata Emmy Angdyani Erawati E. Setyo Hartono Fatma Kartika Sari Supandi Radinal Mukhtar Harahap
Sawali Tuhusetya Gatut Heru Susanto Effendi Budi P. Fajar S. Pramono Ade Asep Syarifuddin Melly Kiong
Guntur Novizal Ida Rosdiana Natapermadi Risfan Munir Sri Julianti Sawiji Farelhana Dewi Rhainy
Deni Kurniawan As’ari Johanes Ariffin Wijaya Indari Mastuti Enggar Kusumaningsiwi Daniel Kurniawan Sayuri Yosiana
A.A. Kunto A. Lina Kartasasmita K. Hanna Fransisca Wahidunnaba Yusuf Tantowi Dwiatmo Kartiko
Meta Sekar Puji Astuti M. Adi Prasetyo Abd. Basid Lily Choo Rina Dewi Lina Berny Gomulya
Zee Cardin M. Iqbal Dawami Sidik Nugroho Emmy Liana Dewi Ridwan Sumantri Dwiyana Apriandini
Andrew Abdi Setiawan Gobind Vasdhev J. I. Michell Suharli Yusnita Rifai Gagan Gartika

Check Google Page Rank

Buku Baru

Obrolan yang Bikin Kamu kaya

Judul: Obrolan yang Bikin Kamu kaya
Oleh: Don Gabor
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama, 2009
ISBN: 978-979-22-5073-2
Tebal: xviii + 380 hal

Jangan hanya membangun jejaring luas-berjejaringlah dengan cerdas!
Obrolan yang Bikin Kamu Kaya menyajikan pendekatan baru revolusioner pada topik berjejaring yang tak lekang waktu. Penulis buku laris dan pelatih komunikasi Don Gabor memperkenalkan Anda pada empat gaya berjejaring—Kopetetif, Supel, [...]

Full Story | February 24th, 2010

Best Viewed With Mozilla FireFox