Pelajaran Berharga dari Seorang Ayah
Editor | Kolom Lepas | August 18th, 2009
Oleh: Lina Kartasasmita*
“In this life we cannot do great things. We can only do small things with great love.”
~ Mother Teresa
Tanggal 15 September 1995, ketika saya terkejut mendengar berita bahwa ayah saya meninggal dunia di Innsbruck, Austria. Itu adalah perjalanan terakhir ayah saya. Dia sebenarnya mempunyai banyak rencana untuk berpergian dengan saya. Saya bertanya kepada Tuhan, “Kenapa Tuhan? Saya masih membutuhkan ayah saya, saya masih ingin mendengar ceritanya, dan saya masih membutuhkan cintakasihnya….”
Saya berupaya memahami itu adalah kehendak Tuhan. Dan, saya berusaha menerima bahwa ada rencana Tuhan yang indah di balik kepahitan itu. Tetapi, hati saya terus menyangkal bahwa ayah saya sudah pergi. Ketika saya meratapi kepergian ayah saya, sebenarnya saya mendapatkan pelajaran yang bijak dari ayah saya.
Ketika orang-orang mendatangi rumah duka, saya mendengar orang-orang membicarakan ayah saya. Suatu cerita sederhana yang tidak akan saya lupakan. Saya melihat ada banyak kue di saat acara pemakaman. Padahal, saya tidak memesan kue-kue tersebut dan kala saya bertanya kepada sanak keluarga, tidak seorang pun mereka yang memesan kue-kue tadi. Saya berpikir ada kesalahan dan ingin mengembalikan kue-kue itu.
Namun, seorang wanita tua sederhana menghampiri saya. Dengan mata berkaca-kaca, dia berkata, “Itu kue-kue dari saya. Beberapa tahun lalu saya datang kepada Bapak untuk meminjam uang. Bapak memberikan uang dan dia berkata saya bisa mempergunakan uang itu untuk anak-anak saya. Dan, Bapak tidak pernah meminta kapan uang itu dikembalikan. Bapak bahkan tidak bertanya di mana saya tinggal dan bapak tidak kenal saya dengan baik. Dengan uang itu saya membuat kue dan berjualan kue, sampai saya bisa menyekolahkan anak-anak saya hingga sekarang. Saya mendengar Bapak meninggal dunia. Saya tidak pernah punya kesempatan mengucapkan terima kasih kepada Bapak. Saya hanya bisa membawakan kue-kue ini. Tolong diterima.”
Saat itu, saya tidak sanggup berkata sepatah kata pun. Saya tidak mengenal dia dan tidak seorang pun dari keluarga saya mengenal dia. Ceritanya begitu menyentuh hati saya. Ayah saya telah melakukan kebaikan tanpa seorang pun tahu.
Terlintas dalam pikiran saya, nasihat sederhana dari ayah saya, “Saya ingin kamu memiliki segala sesuatu yang berharga di mana tidak seorang pun bisa mencurinya dari kamu. Saya ingin kamu menyimpan kenangan dalam pikiran kamu, dan saya mau kamu mengisi pikiran kamu dengan ilmu pengetahuan dan kebijakan. Hidup yang sederhana, tetapi kaya dalam pikiranmu. Buat hidupmu punya arti, temukan kecantikan di dalam dirimu, dan bersinarlah di antara orang-orang. Bilamana tidak satu pun yang dapat kamu berikan, berikan senyum, berikan semangat, dan kekuatan kamu.”
Saya menyadari nasihat itu mempunyai arti yang dalam. Saya belajar bahwa tidak satu pun yang dapat saya bawa di hari pemakaman saya. Orang tidak akan menghitung berapa banyak uang yang saya miliki dan berapa banyak mobil yang saya punya, atau berapa banyak koleksi barang berharga saya. Orang hanya akan mengingat kebaikan yang pernah saya lakukan untuk mereka. Saya tidak perlu menjadi kaya untuk menolong orang. Saya bisa memberikan mereka kasih sayang, semangat, atau hanya sebuah senyuman. Itu akan menjadi hadiah yang berharga bagi yang membutuhkan.
Ayah saya tidak lagi bersama saya, tetapi nasihat dan kebijakannya tetap tinggal dalam pikiran saya. Saya bisa mengerti Kebenaran nasihatnya dari setiap peristiwa sederhana dalam hidup ini.
Hidup ini singkat, apa yang bisa kita bawa dari dunia ini hanya kenangan dan apa yang bisa kita tinggalkan juga hanya KEBAIKAN bagi orang-orang di sekitar kita.[lkk]
* Lina Kartasasmita lahir di Jakarta 13 Maret 1966. Suka menulis sejak kecil dan mencintai dunia pendidikan. Hasil karya tulisan terdapat di www.wisdom-to-share.blogspot.com atau www.wisdom-to-share.blog.friendster.com. Pos-el: Lkartasasmita[at]hotmail[dot]com.
August 18th, 2009 at 1:41 pm
Ayah memang, patut kita banggakan…
August 18th, 2009 at 6:03 pm
Lina,
Good writing. Sometimes we just do not realize how much we can learn from our parents.
Sometimes we think we are better than them because we are better educated, etc., but actually many valuable things we can learn from our parents.
good writing.
Cheers,
PJ
August 18th, 2009 at 6:58 pm
Dear Mommy,
that way I can easy mark because I know the writer well…
Tres bien, good mother
:)
I wonder if I can actually take this one to my Bahasa teacher and maybe get her to use this as my next assignment—
Anyway… I don’t remember ever hearing any story about the cakes~ I only remember seeing grandpa lying in his coffin, and unfortunately, that’s about it.
You know I don’t have good Bahasa, Mom,, but I know that this is a beautiful piece of writing
Sincerely yours,
[V]
August 18th, 2009 at 8:56 pm
I have read =) I have understood your points,,, Well, I also agree that what we can leave behind is not materiallistic but conceptual. I guess, that is because we are not born, dressed in nice attire or having many things that often indicate “success” but with blessing from God and love from parents. Hope this writing gives light to many tante. =)
August 18th, 2009 at 9:16 pm
Gw suka dgn tulisan elo yg ini bu…. semoga kita2 semua bisa juga jadi seorang ayah dan atau ibu yg dapat mewariskan nilai2 kehidupan bagi anak2 kita semua…. walau kita juga tahu bahwa anak2 kita adalah milik jamannya sendiri…seperti ujaran seorang bijak.
August 19th, 2009 at 7:52 am
Terharu saya membacanya dan saya setuju sekali bahwa kasih sayang dan cinta terhadap sesama akan mengalahkan segalanya……..
August 19th, 2009 at 10:02 am
Setelah baca, langsung merinding, terharu, and suddenly i was thinking that… if everyone can be like what your father did, tanpa ada pikir perbedaan. Keep writing Ms ^__^
August 19th, 2009 at 10:43 am
Hai Mbak Lina,
Tulisan Anda begitu inspiratif…
Saya bersyukur menemukan tulisan Anda.
Salam kenal dan GBU!
August 19th, 2009 at 12:25 pm
hick…….. jadi ingat alm ayahku juga… thanks for your sharing
August 19th, 2009 at 4:26 pm
Dear all readers, Thank you for your support. I really appreciate
**lina**
August 19th, 2009 at 6:18 pm
wow.. tante.. ini okeh banget.. baru aja baca nih hehe.. ada 2 point yang paling kena di aku sih..
“Bilamana tidak satu pun yang dapat kamu berikan, berikan senyum, berikan semangat, dan kekuatan kamu.”
“Hidup ini singkat, apa yang bisa kita bawa dari dunia ini hanya kenangan dan apa yang bisa kita tinggalkan juga hanya KEBAIKAN bagi orang-orang di sekitar kita”
kdang suka mikirin juga materi itu segalanya dalam hdup.. hehe.. tapi pas baca tulisan ini lagi” di ingetin kalo berbuat baik itu adalah tujuan hdup yg musti di lakuin..
bguz bngt nih tante..
thx banget nih pencerahan dr tante..
smoga jd pencerahan juga buat orang lain…
=)
August 19th, 2009 at 6:26 pm
Ms Linaaa,
My lovely teacher…
I have just finish reading your writing…
WOW!
Your writing was really touching in such a way that I learned somehing new…
I learned that sometimes in life we are to ‘obsessed’ in always receiving and asking for more and eventually we started to forget to give in return to people around us that need our help…
It was a very inspiring piece of yours…
I’m waiting for ur next writing…
August 19th, 2009 at 9:44 pm
meamng betul betul ,ada kalanya orang tua memberi contoh dengan kata-kata, ada juga dengan tindakan. yang penting kita harus berbanga dengan orang tua kita apa adanya
August 20th, 2009 at 1:55 am
Dear Sister Lina,
Luarbiasa!
Inspirative…Excellent!
I’m waiting for your other inspirations.
Kohen
August 20th, 2009 at 12:39 pm
tulisan itu mengingatkan pengalaman saya dengan alm ayah saya juga. Seorang ayah memang luar biasa dan menjadi lebih luar biasa melalui tulisan Lina
August 26th, 2009 at 5:38 am
Good writing, very inspiring!
Now I undestand where you get your kindness and good heart from.
Let us pass that legacy to our children so the gift will go on