Para Pejuang Kehidupan

irn1Oleh: Ida Rosdiana Natapermadi*

Sore itu, ketika saya dari kantor hendak menuju ke Plaza Senayan, Jakarta, saya harus melalui Jalan Raya Lapangan Sepak Bola, Kebon Jeruk. Hampir semua orang yang rutin melewati jalan itu tahu bahwa jalan yang menuju ke arah Jalan Panjang Kelapa Dua itu sangat padat. Dan, antrian mobil di lampu lalu lintas di sana sangat lama, terutama pada jam-jam kerja.

Ketika saya sedang mengantri di lampu lalu lintas itu, pandangan saya tertuju kepada seorang ibu penjual koran yang berada di ujung jalan dekat tiang lampu lalu lintas. Saya sering melihatnya di sana menawar-nawarkan korannya ke mobil yang antri. Perhatian saya tertarik kepadanya karena si ibu penjual koran itu selalu menggendong anak di punggungnya.

Menurut perkiraan saya usia ibu itu sekitar tiga puluh tahunan. Dan, ketika ia sampai ke mobil saya yang mengantri, seperti biasa dia tersenyum seraya menunjuk koran-koran bawaannya, mengisyaratkan kalau-kalau saya mau membeli. Sebenarnya, saya tidak membutuhkan korannya. Tetapi, karena kasihan saya membuka jendela dan membeli korannya.

Umur berapa anaknya, Bu?” saya bertanya sambil menyerahkan uang lima puluh ribuan.

Mungkin hampir dua tahun, Non,” jawab si ibu penjual koran itu.

Kenapa tidak ditinggal saja di rumah, kan polusi knalpot beracun, Bu? Berbahaya untuk kesehatan anak ibu,” saya menasihati.

Di rumah enggak ada yang jaga, Non. Bapaknya kerja jadi kuli bangunan, sedangkan kedua kakaknya sekolah dan terus jualan koran juga seperti saya,jawabnya lagi sambil terus tersenyum.

Manis juga senyum ibu penjual koran ini, kata saya dalam hati. Lalu, saya bertanya lagi, “Memangnya ini anak keberapa, Bu?“

Si ibu penjual koran menjawab, “Ini anak ketiga, Non....”

Saya kaget juga, si ibu itu sudah punya anak tiga. “Waduh, banyak juga anaknya ya, Bu!

Si ibu penjual koran itu menjawab perlahan, “Sebenarnya anak kandung saya cuma satu orang Non. Sudah kelas 2 SMP, perempuan. Sedangkan yang dua lainnya adalah anak angkat, salah satunya ya ini.” Si ibu menolehkan kepalanya ke belakang sesaat, dan sambil tersenyum ia menyerahkan uang kembalian koran kepada saya.

“Kenapa ibu mengangkat anak? tanya saya lagi. Mobil maju perlahan saat lampu lalu lintas hijau, dan kemudian berhenti lagi saat lampu lalu lintas merah kembali. Si ibu penjual koran kembali mendekati mobil saya.

“Saya kasihan Non sama anak-anak terlantar ini. sambil wajahnya menengok anak yang berada di gendongannya. Sementara, anak usia dua tahunan yang digendongnya itu, hanya kelihatan kepalanya saja yang menyembul keluar dari kain panjang yang menggendongnya.

Di mana Ibu bertemu anak-anak angkat Ibu? saya sungguh ingin tahu.

“Kakaknya saya temukan ketika sedang mengais-ngais sampah di dekat rumah petakan saya. Setelah saya kasih makan, saya suruh mandi, eeh anak itu malah gak mau pergi, Non… Ya, sudah. Sampai sekarang di rumah saya dan sudah sekolah kelas 5 SD, Non…”

Si ibu terdiam sejenak. Terlihat wajahnya berseri-seri saat menceritakan tentang anak-anaknya. Lalu, ia melanjutkan, “Si kecil ini saya temukan ketika saya dan suami kembali pulang dari kampung, di gerbong kereta api yang sudah kosong. Saat itu sudah tengah malam, tiba-tiba saya dan suami mendengar suara anak kecil menangis….“ Ibu itu terdiam sejenak, lalu melanjutkan, “Ya, anak ini yang sedang duduk sendirian sambil menangis.

Duuh,” seru saya dalam hati saya. “Terus, Bu…?“ tanya saya penasaran.

“Terus saya gendong dan saya bawa ke masinis di lokomotif. Saya bilang ada yang meninggalkan anak di kereta, tetapi Pak Masinis gak peduli, malah menyuruh saya membawanya pulang,” kata ibu itu.

“Orang tuanya gak nyariin, Bu? saya tambah ingin tahu.

Si ibu menghela napas sejenak, lalu melanjutkan, “Saya dan suami nunggu sampai sore di stasiun. Tetapi, gak ada orang yang cari anaknya, Non. Akhirnya, terpaksa saya bawa pulang deh, daripada diambil orang lain dan dijadikan pengemis!” demikian ibu penjual koran itu menceritakan kisah pertemuan dengan anak-anak angkatnya.

Tanpa terasa mobil saya sudah melaju meninggalkan lampu lalu lintas, dan meninggalkan si ibu penjual koran di belakang. Namun, kisah ksatria si ibu penjual koran terus terbawa dalam pikiran saya.

Ada ibu penjual koran. Sebelumnya, ada Ibu Santi yang bekerja di rumah saya sebagai pembantu rumah tangga. Ibu Santi adalah pembantu rumah tangga pulang hari, pagi sekali Ibu Santi datang ke rumah dan setelah pekerjaan rumah selesai dia pulang. Di rumah petakannya, dia dan suaminya yang bekerja sebagai tukang bakso keliling mengurus anak yang mereka angkat sedari bayi. Anak angkatnya dipanggil si Ade, sekarang sudah kelas 3 SMP. Si Ade diangkat anak oleh Ibu Santi dari seorang ibu hamil yang sama-sama mengontrak rumah petakan di perkampungan Bintaro. Waktu melahirkan si Ade, ibu kandungnya meninggal dunia. Sedangkan ayah si Ade tidak pernah diketahui keberadaannya sejak si Ade dalam kandungan.

Karena rasa kasihan dan iba pada si bayi, Ibu Santi meminta izin suaminya dan izin dari Pak RT untuk mengurus si bayi. Akhirnya, keluarga itu dengan ikhlas membesarkan si bayi piatu dari penghasilan mereka yang sangat pas-pasan.

Saya menghela napas panjang, dalam perjalanan menuju ke Plaza Senayan malam itu. Saya mendapat satu kesadaran baru, bahwa berbagi dengan sesama tidak harus dalam kelebihan. Ternyata, nun jauh di sana di rumah-rumah petakan kecil, banyak terdapat pejuang-pejuang Kehidupan. Saya bertanya kepada diri sendiri, “Harta yang sekarang aku kumpulkan, aku hitung-hitung, aku simpan, akhirnya akan aku bawa ke mana nanti?Semoga kisah kedua ibu pejuang kehidupan itu bisa menjadi renungan kita bersama.[irn]

* Ida Rosdiana Natapermadi, lahir di Bandung pada tanggal 24 April 1960. Ibu yang senang membaca puisi dan menonton pertunjukan teater ini adalah seorang karyawati di salah satu perusahaan televisi swasta di Jakarta. Ibu dari satu orang anak ini tidak pernah mengira dirinya bisa menulis. Setelah disemangati oleh teman-teman penulisnya, ia kini mulai menulis. Ida dapat dihubungi di pos-el: aten_kck18[at]yahoo[dot]com.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 8.2/10 (5 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +3 (from 3 votes)

10 Responses to “Para Pejuang Kehidupan”

  1. fatma kartika sari Says:

    Pemberian yang berarti bukan hanya uang dan materi, tetapi yang terpenting cinta kasih yang tulus..semoga kita yang merasa lebih dari kedua ibu tadi juga akan lebih banyak lagi dalam berbagi..amin

    UN:F [1.6.9_936]
    Rating: 1.0/5 (2 votes cast)
    UN:F [1.6.9_936]
    Rating: 0 (from 0 votes)
  2. Ida Rosdiana Natapermadi Says:

    dear Fatma,
    seharusnya memang demikian, semoga kita bisa juga memberi materi dan kasih sayang kepada mereka yang membutuhkan. amin.

    salam sukses.

    UN:F [1.6.9_936]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    UN:F [1.6.9_936]
    Rating: 0 (from 0 votes)
  3. roy irawan Says:

    Dalam hidup ada tanggung jawab dan pertanggung jawaban, kadang mereka ( ibu penjual koran dan ibu santi ) yang demikian kehidupannya, lebih mengerti akan makna hidup dan kehidupan yang sesungguhnya.

    UN:F [1.6.9_936]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    UN:F [1.6.9_936]
    Rating: 0 (from 0 votes)
  4. Doharman Sitopu Says:

    Kepedulian ibu sangat saya apresiasi,demikian juga tulisan yang mengalir sangat saya nikmati.Semoga kita dimampukan untuk “berbuat” untuk sesama.Salam Kaizen

    UN:F [1.6.9_936]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    UN:F [1.6.9_936]
    Rating: 0 (from 0 votes)
  5. Ida Is Says:

    Yang terlihat di sekeliling saya juga begitu, justru yang lebih berani mengulurkan tangan adalah orang-orang yang disebut kumpulan orang “kecil”. Agak miris nih melihatnya, belum apa-apa orang kaya sudah melirik dengan mata curiga. Coba bayangkan jika setiap orang berpenghasilan di atas 5 juta diwajibkan mengangkat 1 orang anak dan menyekolahkannya minimal sampai SMA, bukan tidak mungkin bangsa ini jadi bangsa yang maju.

    UN:F [1.6.9_936]
    Rating: 1.0/5 (1 vote cast)
    UN:F [1.6.9_936]
    Rating: 0 (from 0 votes)
  6. Ida Rosdiana Natapermadi Says:

    Pak Roy, Pak Sitepu, Ibu Ida Is yang saya hormati…..

    Bagaimana kita memaknai hidup ini, maka akan tercermin dari bagaimana kita berbuat, dan tulisan saya merupakan ‘peringatan’ untuk diri saya sendiri, ada istilah yang mengatakan “jika kita menasihati seseorang harus dengan suara yang kencang, agar suara kita sampai ke kuping kita sendiri” -salam-

    UN:F [1.6.9_936]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    UN:F [1.6.9_936]
    Rating: 0 (from 0 votes)
  7. effendi bp Says:

    Hakekat cinta kasih ternyata tidak hanya tumbuh di zona kenyamanan saja, yang biasanya hanya nyaring bunyinya.

    UN:F [1.6.9_936]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    UN:F [1.6.9_936]
    Rating: 0 (from 0 votes)
  8. Susan Says:

    Jeng Ida,
    Tulisannya sangat menginspirasi daku untuk terus berjuang untuk orang2 kecil, tetapi caraku berbeda yakni dengan membuat lapangan kerja buat mereka.

    UN:F [1.6.9_936]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    UN:F [1.6.9_936]
    Rating: 0 (from 0 votes)
  9. Sofa Nurdiyanti Says:

    makasih bu, buat artikelnya..

    sungguh menarik dan menggugah nurani

    UN:F [1.6.9_936]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    UN:F [1.6.9_936]
    Rating: 0 (from 0 votes)
  10. Wahyu Says:

    Luar Biasa,trmksh Ibu Ida atas artikel yg mampu membukakan mata hati dan menyadarkan jiwa yg keras.Memang kadang2 manusia sring salah menilai seseorang,kadang kt mengira org trsbt bkn org baik tp ternyata justru sebaliknya.Sering kali org2 spt Ibu penjual koran dan ibu Sinta lbh peka dan lebih mengerti ttg solidaritas dan kepedulian krn beliau lbh nyata dlm merasakan kerasnya dan susahnya menjalani kehidupan,jd kl kt tdk sling peduli dan saling membantu mk akan spt apa kehidupan didunia ini.Smg kt bs mjd skrub2 kecil yg mengokohkan bangsa ini dg memiliki sifat peduli dan membantu org lain mskpn dg sesuatu yg sederhana.Amin

    UN:F [1.6.9_936]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    UN:F [1.6.9_936]
    Rating: 0 (from 0 votes)

Leave a Reply

Comment moderation is enabled. Your comment may take some time to appear.

Motivasi Dunia

Motivasi Dunia

Kolomnis

<
Edy Zaqeus Eni Kusuma Avanti Fontana Alexandra Dewi Miranda Suryadjaja Sofa Nurdiyanti
Anang Y.B. Hartati Nurwijaya Aleysius H. Gondosari Sulmin Gumiri Relon Star Sri Budiastuti
Agus Riyanto Iftida Yasar Fida Abbott Ery Prasetyawan Tanenji Ingrid Gunawan
Maria Saumi Ely Susanti Agung Praptapa Putu Adnyana Fita Irnani Nathalia Sunaidi
M Sebastian Wijaya Abdul Muid Badrun Kak Sugeng Akhmad Sirodz Lisa Nuryanti Abidin Noor
Wuryanano Petriza Giovanni Amelia Devina Tri Wahyuni Endang Setyati Vina Tan
Lianny Hendranata Emmy Angdyani Erawati E. Setyo Hartono Fatma Kartika Sari Supandi Radinal Mukhtar Harahap
Sawali Tuhusetya Gatut Heru Susanto Effendi Budi P. Fajar S. Pramono Ade Asep Syarifuddin Melly Kiong
Guntur Novizal Ida Rosdiana Natapermadi Risfan Munir Sri Julianti Sawiji Farelhana Dewi Rhainy
Deni Kurniawan As’ari Johanes Ariffin Wijaya Indari Mastuti Enggar Kusumaningsiwi Daniel Kurniawan Sayuri Yosiana
A.A. Kunto A. Lina Kartasasmita K. Hanna Fransisca Wahidunnaba Yusuf Tantowi Dwiatmo Kartiko
Meta Sekar Puji Astuti M. Adi Prasetyo Abd. Basid Lily Choo Rina Dewi Lina Berny Gomulya
Zee Cardin M. Iqbal Dawami Sidik Nugroho Emmy Liana Dewi Ridwan Sumantri Dwiyana Apriandini
Andrew Abdi Setiawan Gobind Vasdhev J. I. Michell Suharli Yusnita Rifai Gagan Gartika

Check Google Page Rank

Buku Baru

Obrolan yang Bikin Kamu kaya

Judul: Obrolan yang Bikin Kamu kaya
Oleh: Don Gabor
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama, 2009
ISBN: 978-979-22-5073-2
Tebal: xviii + 380 hal

Jangan hanya membangun jejaring luas-berjejaringlah dengan cerdas!
Obrolan yang Bikin Kamu Kaya menyajikan pendekatan baru revolusioner pada topik berjejaring yang tak lekang waktu. Penulis buku laris dan pelatih komunikasi Don Gabor memperkenalkan Anda pada empat gaya berjejaring—Kopetetif, Supel, [...]

Full Story | February 24th, 2010

Best Viewed With Mozilla FireFox