Papa “Menganggur” dan Mama Bekerja, Emang ‘Napa?
Editor | Kolom Tetap | April 20th, 2009
Oleh: Anang, Y.B.
Anak saya pernah tidak mendapat nilai seratus saat ulangan karena tersandung satu pertanyaan normatif. Jujur saja, pertanyaan di ulangan tersebut sangat simpel: Apa bedanya tugas seorang ayah dan seorang ibu? Tentu saja dengan polosnya anak saya menuliskan apa yang selama ini dia saksikan. Mama bekerja mencari nafkah sedangkan papa mengasuh anak di rumah. Hahaha….
Tentu saja, bu guru tidak bisa disalahkan saat membubuhkan coretan garis panjang pada jawaban anak saya tersebut. Itu hak dia. Emang siapa yang bikin soal? Ya, begitulah norma normal yang masih dipegang teguh oleh sebagian besar masyarakat kita. Yang namanya suami, ya mestinya cari nafkah (dengan kerja kantoran), sedangkan istri cukuplah di rumah menjalankan tugas mulia, mengasuh anak sambil beres-beres rumah.
Oh ya, ada satu kejadian yang membuat istri saya tertawa terpingkal-pingkal saat saya tunjukkan satu rekaman video yang dibuat anak saya dengan menggunakan ponsel miliknya. Rekaman itu dibuat di suatu siang sepulang anak saya dari sekolah. Dengan isengnya, kamera ponsel diarahkan ke diri saya yang sedang ongkang-ongkang kaki menikmati pisang ambon. Layaknya seorang reporter, anak saya terus merekam adegan saya memakan pisang sambil berkomentar nakal, “Inilah wajah orang yang ngakunya sukses padahal pengangguran…!”
Hahaha.... Sejuta topan badai! Walau muka saya merah padam, tetapi tawa saya betul-betul tak terbendung. Sungguh, komentar yang menyentak dan jauh dari dugaan saya. Jadi, seperti itukah persepsi anak saya terhadap jati diri ayah kandungnya? Grrh! Awas kau!
Anak saya memang lumayan menggemari tulisan-tulisan saya. Wajarlah bila dia tahu kalau saya sering kali mengaku-ngaku sebagai orang sukses lewat tulisan di beberapa blog yang saya miliki. Orang lain bisa saja “terkecoh” dengan cerita-cerita sukses yang saya tebar, tetapi kepolosan dan keluguan anak saya, ditambah indoktrinasi dari para guru di sekolah, nyatanya tak mampu menciptakan pencitraan yang klop tentang sosok orang sukses. Sukses kok lebih banyak di rumah, pakai celana pendek, saban hari main komputer, dan tiap siang kerjaannya mbolak-mbalik jemuran biar kering. Bukan seperti itu ciri orang sukses. Itu penganggur namanya!
Terimalah nasib bila saat ini banyak di antara tetangga kita mencap orang rumahan sebagai penganggur. Sama anehnya dengan orang-orang dan lembaga yang masih juga menganut patokan bahwa semua pekerja yang bekerja kurang dari 35 jam seminggu sepantasnya diberi sebutan penganggur terselubung. Alamak! Jadi, kalau kita kerja lima hari dalam seminggu, maka bekerja 7 jam setiap hari masih dianggap pekerja pas-pasan, ya?
Duh, teganya! Jangan-jangan ukuran bekerja minimal 35 minggu dibuat berdasarkan standar pada zaman industri di abad pertengahan. Duh, zaman sudah berubah. Kini, seseorang dapat dengan mudah memperoleh duit Rp 15 juta hanya dengan bekerja seminggu dengan membuat sebuah program aplikasi komputer sederhana. Tegakah Anda mencap pekerja lepas seperti itu sebagai penganggur?
***
Tak peduli dengan bakal datangnya cap sebagai penganggur terselubung, kini banyak pasangan suami istri tergiur untuk bekerja di rumah, setidaknya saya salah satu di antaranya. Ada seribu satu alasan mengapa bekerja di rumah lebih didamba daripada kerja rutin di kantor. Tak hanya itu, saat ini juga makin banyak jenis pekerjaan yang bisa dikerjakan dari dalam rumah dengan penghasilan yang mampu membuat senyum mengembang lebar. Sayangnya, persoalan sering muncul saat kita dihadapkan pada pilihan sulit: Siapa yang mesti kerja di rumah dengan risiko dicap “penganggur”? Suamikah? Atau, istri saja?
Saya punya beberapa tip yang semoga saja dapat menjadi panduan bagi Anda, pasangan suami-istri yang ingin meninggalkan kerja kantoran:
a. Tanyalah, siapa yang lebih siap?
Jika Anda dan pasangan Anda sudah bertahun-tahun terbiasa dengan lingkungan kerja di kantor, lantas mendadak menjadi orang yang “saban hari di rumah”, bersiaplah untuk mengalami “gegar budaya”. Jenuh, uring-uringan, bosan bahkan frustrasi siap menunggu Anda di setiap sudut rumah. Secara mental, siapa di antara Anda dan pasangan Anda yang lebih siap menghadapinya?
b. Tanyalah, gaji siapa yang saat ini mampu mencukupi kebutuhan rumah tangga?
Saat salah satu dari Anda keluar dari status karyawan kantor, maka otomatis satu keran nafkah menjadi mampet. Pertimbangkan kondisi terburuk di mana bisa jadi usaha yang bakal Anda tekuni di rumah tidak segera menghasilkan uang. Dalam kondisi demikian, cukupkah penghasilan dari satu orang menopang kebutuhan sehari-hari? Jadi, gaji bulanan siapa yang cukup untuk hidup (ngirit) bersama seluruh anggota keluarga? Cukup untuk membayar kredit rumah, uang sekolah, uang transport, membayar gaji pembantu, dan mungkin mengisi stok rokok di kantong suami. Gaji Andakah, atau gaji pasangan Anda?
c. Tanyalah, tempat kerja siapa yang di masa depan lebih langgeng?
Jika Anda dan pasangan Anda saat ini masih berstatus karyawan, pandai-pandailah mengambil keputusan. Telitilah, dalam situasi dunia yang tidak menentu ini, tempat kerja siapa yang bakal lebih langgeng dan memberikan jaminan hidup yang lebih cerah? Anda boleh saja mempertimbangkan posisi jabatan yang saat ini sedang Anda dan pasangan Anda pegang. Tetapi hati-hati, hitunglah dengan cermat. Dulu saat saya memutuskan kerja freelance, posisi saya yang tertulis di kartu nama adalah manajer pemasaran, sedangkan istri saya masih capeg (calon pegawai). Untunglah, keputusan yang kami ambil tidak salah. Setahun setelah saya keluar kantor, perusahaan tempat saya bekerja ditutup karena tak ada order sama sekali.
d. Tanyalah, siapa yang lebih memiliki skill untuk bekerja secara mandiri?
Seseorang yang bekerja di rumah, selain dituntut memiliki jaringan pertemanan yang luas, juga mutlak untuk punya kemampuan bekerja secara mandiri. Tidak mengandalkan tuntunan atasan karena kita adalah bawahan sekaligus pimpinan. Tidak mengandalkan kenaikan gaji, karena tebal-tipisnya dompet kita tergantung dari kemampuan kita mengatur ritme pekerjaan. Karena tak peduli apakah Anda berprofesi sebagai seorang programmer, pelatih tari, agen pulsa, penjual anturium, ataukah penulis siluman (ghost writer), kemampuan mengurusi urusan pekerjaan dari alfa sampai omega yang seabreg mesti dimiliki. Siapa yang sudah terbiasa dengan keadaan semacam ini? Andakah? Atau pasangan Anda?
Keempat tip di atas tidak saya urutkan menggunakan angka karena setiap orang boleh sesukanya menempatkan salah satu di antaranya sebagai pertimbangan paling utama. Diskusikan dengan pasangan Anda agar keputusan yang dihasilkan benar-benar membuat Anda dan pasangan Anda merasa nyaman dan ridho.
Bagaimana kalau ujung-ujungnya adalah sang suami yang pantasnya tinggal di rumah merajut impian bekerja di rumah? Yah, syukurilah itu. Tak usah risih andai buah hati Anda suatu ketika mengerutkan kening melihat papa dan mamanya memainkan peran yang berbeda dengan kebanyakan tetangga. Goda saja dia dengan bisikan di telinganya, sambil mengerlingkan mata nakal Anda, “… kalau papa menganggur dan mama bekerja, emang napa?”[ayb]
*Anang Y.B. dikenal sebagai penulis bergaya story telling. Pria ini menyebut dirinya sebagai blogger yang geografer. Menjadi geografer memungkinkan dia untuk berkeliling Indonesia dan memperoleh banyak inspirasi menulis dari catatan perjalanannya. Seluruh kisah unik dan opininya dia tuangkan dalam blog beralamat di www.jejakgeografer.com, yang kini telah memiliki lebih dari 500 cerita. Anang dapat dihubungi melalui pos-el: anangyb[at]gmail[dot]com.

April 20th, 2009 at 6:35 pm
Pak Anang, terima kasih tip nya. Anak Bapak kristis sekali ya hehehe.
April 20th, 2009 at 10:08 pm
Memang zaman telah berubah, hampir sama kejadiannya sama saya, Saya bukan penganggur tapi bekerja dari rumah, hampir setiap waktu berada di rumah kalau tidak bertemu dengan new customer…..Anak semata wayang kami Nabiila, selalu bilang begini, Ayah kalau kelak aku sudah besar aku boleh nggak maen ke kantor ayah, alamak garuk-garuk kepalalah aku jadinya…..dia memang masih kecil, usianya saja baru mau menginjak 6 tahun….aku dan istriku selalu tertawa terpingkal-pingkal bila ingat apa yang selalu ditanyakan olehnya…….kantor ayahmu hanya berjarak 2 meter dari tempatmu bermain…….
April 21st, 2009 at 7:00 am
@Fita Irnani:
Terima kasih juga krn sudah berkenan membaca tulisan saya. Salam
April 21st, 2009 at 7:04 am
@revi:
Rev, Sekali waktu anakku aku ajak mampir ke Manggala Wanabhakti utk ketemu klien.
Sejak itu, tiap lewat Manggala anakku selalu teriak: itu kantor papa…..!
April 21st, 2009 at 1:40 pm
membaca tulisan anda membuat saya tersenyum-senyum sendiri.
soalnya saya dan suami termasuk salah sekian pasangan yang memang sedang merancang agar tidak perlu bekerja diluar rumah setiap saat, sehingga cukup waktu untuk keluarga tapi pemasukan jalan terus hehehe…, walaupun terkadang anak kami suka protes melihat saya dan suami terkadang santai tidak seperti orang kantoran lainnya…
April 21st, 2009 at 5:59 pm
@Tri W: Kapan nih (salah satu) mau nekat kerja dari rumah..? Bagi-bagi cerita ya Bu kalau udah jadi kenyataan…
Tetap semangat!
April 21st, 2009 at 7:32 pm
Bekerja di rumah di USA adlh sudah biasa dan sdh byk yg sukses. Indonesia lambat laun akan menuju ke sana meskipun membutuhkan waktu yg mungkin cukup lama. Inti utama adalah budaya yg masih kuat mengakar, sdgkan di USA setiap orang tidak memperdulikan apa dan siapa orang tersebut. Lain halnya di Indonesia. Setiap statement yg sudah berlaku di masyarakat umum apabila berputar arah tampaknya akan dicap menyalahi kodrat atau aturan.
Salam sukses,
Fida
April 24th, 2009 at 1:15 pm
makasih ya pak, sudah memberi satu pelajaran lagi untuk saya di hari ini, sukses tidak harus dengan kerja kantoran…salam buat anak bapak..he he..
September 30th, 2009 at 9:24 pm
ceritanya bagus