Home » Kolom Tetap » Panti Jompo dan Cinta yang Terlewatkan

Panti Jompo dan Cinta yang Terlewatkan

snOleh: Sofa Nurdiyanti*

“Caramu dan cara mereka yang sayang kepadamu dalam menjalani hidup menentukan reputasimu; caramu dan cara mereka yang sayang kepadamu dalam menghadapi kematian mengungkapkan karaktermu.”

~ John William Russel III

Cinta merupakan salah satu topik yang tiada henti dikupas oleh manusia. Begitu banyak kisah mengenai cinta yang unik namun bersifat universal. Beragam wajah cinta yang menemani kehidupan manusia di bumi. Namun, terkadang ada cinta yang terlewatkan oleh kita semua. Cinta yang secara sengaja atau tidak mungkin kita lewatkan setelah kita mengenal cinta yang lain. Cinta itu adalah cinta kita kepada orang tua.

Sepintas, judul artikel di atas terlihat mirip dengan salah satu judul lagu milik salah satu band terkenal mengenai patah hati. Namun, di sini saya tidak hendak menulis kisah tentang patah hati. Judul tersebut ditulis berdasarkan pengalaman saya ketika mengerjakan salah satu tugas psikogerontologi di semester 6. Psikogerontologi merupakan mata kuliah pilihan yang mempelajari perkembangan lansia.

Salah satu tugas akhir dari matakuliah psikogerontologi adalah melakukan perbandingan perkembangan lansia yang tinggal di rumah dengan lansia yang tinggal di panti jompo. Kami diberi tugas mewawancarai empat lansia yang berbeda secara individu. Namun, kami boleh mewawancarai lansia yang sama asalkan membahas secara mandiri. Akhirnya, saya dan ketiga teman memutuskan bersama-sama pergi ke salah satu panti jompo di daerah Pakem, Yogyakarta. Setelah mengurus perizinan, akhirnya kami bisa melakukan observasi dan wawancara.

Sebelumnya, kami merasa canggung dan ragu ketika hendak melakukan wawancara. Namun, sambutan dari mbah-mbah yang tinggal di panti jompo sungguh luar biasa. Mereka menyambut kami dengan ramah ketika pertama kali bertemu. Rasa canggung dan malu yang sebelumnya ada seketika lenyap. Yang ada justru rasa nyaman dan senang karena kehadiran kami diterima dengan tulus. Mereka menganggap kami seperti cucu mereka sendiri.

Proses wawancara dan observasi pun berjalan dengan lancar. Dari hasil wawancara dengan para mbah mengenai kisah hidup mereka sampai akhirnya tinggal di panti jompo sungguh membuat saya terharu. Salah satu mbah yang saya wawancarai, sebut saja Mbah T. Mbah T, berada di panti jompo sejak dua tahun yang lalu. Kisah hidup beliau sungguh sangat mengharukan. Beliau dipenjara pada masa G30S/PKI karena difitnah oleh seorang polisi. Akibatnya, beliau dipenjara hampir 30 tahun. Setelah keluar dari penjara, beliau sempat bekerja di beberapa tempat. Namun, karena faktor usia yang sudah lanjut, maka beliau berhenti bekerja dan kembali ke tempat keponakannya (beliau tidak menikah akibat dipenjara). Namun, tidak lama berselang beliau dimasukkan ke panti jompo. Tampaknya, kehadiran beliau kurang diharapkan di rumah keponakannya.

Meski merasa kecewa terhadap sikap keluarganya, namun beliau tidak menaruh dendam terhadap keluarganya. Beliau tetap menerima dan mengikhlaskan semuanya. Beliau berusaha menyesuaikan diri dengan kehidupan di panti jompo. Banyaknya teman senasib yang tinggal di panti jompo membuat beliau tidak lagi merasa kesepian. Beliau masih mau bersosialisasi dengan lansia lainnya, pergi ke gereja, dan menjalani aktivitas yang ada di panti jompo.

Lansia lainnya sebut saja Mbah G, merupakan salah satu lansia yang bersemangat dalam menjalani kehidupannya di panti jompo. Meski sudah berumur 80 tahun, beliau masih mampu menjalani aktivitas sehari-hari tanpa bantuan orang lain. Bahkan, beliau menjadi salah satu wakil dari wisma tempat beliau tinggal. Beliau masih sanggup mengambilkan jatah makanan untuk lansia yang berada di wisma tempat beliau tinggal. Di panti jompo tersebut, masing-masing lansia berada dalam satu wisma tertentu. Sebuah wisma biasanya di isi oleh delapan sampai sepuluh orang. Ada lansia yang tinggal dengan gratis, ada pula lansia yang membayar biaya hidup di panti. Biasanya lansia yang membayar merupakan lansia yang berada di panti karena keinginan keluarganya.

Mbah G berada di panti karena terkena razia oleh polisi karena tersesat sewaktu hendak ke Jakarta. Beliau sebelumnya bekerja sebagai pembantu rumah tangga di Jakarta. Setelah terkena stroke, beliau pulang ke Yogyakarta. Setelah sembuh, beliau berniat kembali ke Jakarta karena rindu dengan anak majikannya yang telah dianggap seperti anaknya sendiri. Ketika hendak ke Jakarta, beliau lupa sehingga terlantar di jalan selama beberapa hari. Kemudian beliau dibawa ke dinas sosial. Walaupun masih memiliki saudara di Yogyakarta, namun beliau lebih memilih tinggal di panti jompo. Hal ini disebabkan kehadiran beliau di rumah saudaranya kurang diharapkan. Di panti jompo, kehadirannya lebih bisa diterima. Beliau merasa nyaman dan kerasan, walaupun terkadang merasa rindu untuk berkumpul bersama dengan keluarganya.

Selain kedua cerita di atas, masih banyak lagi cerita yang menyedihkan tentang lansia di panti jompo. Yang menjadi pertanyaan saya adalah, mengapa harus ada panti jompo di Indonesia? Bukankah kultur Indonesia sangat menghargai relasi kekeluargaan? Patriarki, bilateral, matrilineal, semuanya merupakan sistem kekeluargaan yang mengatur pola kekeluargaan di Indonesia. Meski berbeda, tapi semuanya menghargai kekerabatan. Adanya marga untuk beberapa suku juga merupakan salah satu tanda, kuatnya relasi kekeluargaan di Indonesia. Marga sebagai salah satu penanda adanya ikatan satu darah. Mereka yang mempunyai marga yang sama akan merasa senang ketika bertemu di lain tempat. Rasa persaudaraan yang kuat membuat mereka saling membantu jika ada kesulitan.

Entah karena ikatan kekeluargaan yang mulai luntur ataukah karena proses akulturasi budaya di Indonesia yang ikut mempengaruhi berkurangnya kasih sayang antara keluarga? Yang pasti panti jompo bukanlah tempat yang layak untuk setiap orang tua menghabiskan sisa hidupnya. Di manakah cinta? Adakah anak yang melewatkan cinta untuk orang tuanya?

Cinta ibu sepanjang masa, cinta anak sepanjang galah. Peribahasa ini dimengerti setiap orang. Apakah panti jompo merupakan salah satu bukti pembenaran bahasa tersebut? Selain peribahasa tersebut, banyak kita temui peribahasa lainnya mengenai begitu berharganya orang tua. Surga di bawah telapak kaki ibu. Durhakalah kita jika menyakiti hatinya. Apa yang mampu mengeraskan hati seorang anak hingga mampu mengusir pergi orang tuanya? Orang tua yang telah membesarkan kita dengan limpahan kasih sayang tanpa lelah.

Berdasarkan hasil wawancara yang saya peroleh, lansia yang tinggal di rumah lebih bahagia dibandingkan dengan lansia yang tinggal di panti jompo. Memang, ini bukanlah kesimpulan yang didapat melalui penelitian resmi. Namun, setidaknya inilah yang dapat saya laporkan dalam tugas akhir psikogerontologi.

Lansia yang tinggal di rumah lebih bahagia karena merasa masih dibutuhkan dan disayangi oleh anggota keluarganya. Masa pensiun mereka isi dengan melakukan kegiatan yang belum sempat mereka kerjakan sewaktu muda. Misalnya dengan berkebun, melakukan aktivitas sosial, berolahraga secara rutin, menjaga cucu, dsb. Semua kegiatan tersebut menjadikan mereka lebih bahagia. Mereka dapat memanfaatkan waktu secara optimal.

Hal ini dapat dielaskan dengan teori aktivitas yang dikemukakan oleh George Maddox (1964). The Activity Theory (Teori Aktivitas), menyatakan kebahagiaan dan kepuasan timbul dari adanya keterlibatan dan penyesuaian diri dalam menghadapi tantangan hidup. Semakin orang-orang dewasa lanjut (lansia) aktif dan terlibat, semakin kecil kemungkinan mereka menjadi renta dan semakin besar kemungkinan mereka merasa puas dengan kehidupannya. Teori aktivitas ini menyatakan bahwa individu-individu seharusnya melanjutkan peran-peran masa dewasa tengahnya di sepanjang masa akhir.

Setiap orang tentunya ingin hidup bersama dengan orang yang dikasihi hingga akhir hayatnya. Ini merupakan sebuah keinginan sederhana yang terkadang sulit direalisasikan. Apalagi bagi mereka yang kurang diterima oleh anggota keluarganya. Banyak alasan yang dikemukakan bagi mereka yang dengan sengaja menaruh orang tua di panti jompo. Entah karena merasa sibuk, tidak cukup waktu untuk mengurus orangtua, adanya ketidaksepahaman antara orang tua dan anak, ketidakcocokan antara menantu dengan mertua sehingga membuat sang menantu menolak kehadiran orang tua pasangannya dalam kehidupan rumah tangga, dll. Tentu saja alasan tersebut logis bagi mereka, tapi bagi saya alasan mereka tidak disertai dengan nurani.

Jika setiap orang mau menengok kembali ke belakang, saat di mana orangtua membesarkan mereka dengan limpahan kasih sayang. Apakah masih ada rasa tega untuk menitipkan orang tua dipanti jompo? Katakanlah orang tua mempunyai kesalahan, tidak membesarkan dan memberikan kasih sayang sesuai dengan harapan kita. Berkonflik dengan pasangan hidup kita, atau kita tidak mempunyai waktu cukup untuk merawat orang tua, apakah semua itu bisa dijadikan pembenaran atas tindakan menitipkan orang tua dipanti jompo?

Saya kira setiap orang tentunya pernah berbuat salah. Tapi tindakan menitipkan orang tua ke panti jompo atau menyerahkan perawatannya kepada orang lain bukanlah ide bagus. Seperti halnya semua orang berhak sukses, tentu semua orang juga berhak bahagia! Bahagia karena keberadaannya menjadi bagian dari sebuah keluarga yang saling menyayangi, bahagia karena bisa berkumpul dengan orang-orang yang dicintai dan bahagia karena mereka diberi kesempatan untuk menyanyangi keluarga yang dikasihinya. Seharusnya tidak ada beban dalam mencintai. Orang tua kita yang seharusnya melewatkan sisa hidupnya dengan bahagia, berkumpul bersama dengan orang-orang yang disayangi. Bukannya terasing di tempat lain, dan melewatkan cintanya yang seharusnya masih bisa kita terima.

Mungkin ada beberapa di antara kita yang berpikiran dengan memberikan materi cukup, maka kebutuhan akan kasih sayang bisa diganti. Ini sungguh merupakan dua hal yang berbeda. Materi memang penting, tapi tidak bisa mengganti kebutuhan akan kasih sayang. Ada cerita dari adik saya yang juga kebetulan kuliah di jurusan psikologi dan juga mengunjungi panti jompo. Ada seorang lansia yang merupakan ibu dari seorang bupati dari Jawa Tengah yang tinggal di panti jompo. Sebelumnya, ibu tersebut dibujuk akan di ajak jalan-jalan ke daerah Yogyakarta, tapi ternyata beliau dititipkan di panti jompo hingga sekarang. Setiap bulan hanya satu pegawai bupati itu yang menengok keadaannya. Bupati dan keluarganya tak pernah sekalipun mengunjunginya.

Sungguh ironis sekali. Ternyata pendidikan dan jabatan yang bagus tidak menjamin adanya perubahan cara pandang seseorang. Ia tetap saja menitipkan orang tuanya di panti jompo. Apa pun alasannya saya kira, itu merupakan hal yang sulit diterima oleh akal sehat. Tentu saja ia mempunyai materi yang cukup untuk merawat orang tuanya, lalu apa persoalan yang membelitnya hingga bertindak sedemikian rupa?

Saya pun teringat tentang sebuah keluarga di desa tempat saya tinggal. Ada sepasang lansia yang hidup rukun bersama dengan keluarganya. Meskipun mereka tidak mempunyai materi yang cukup, hidup dalam kesederhanaan yang bahkan bisa dikatakan kekurangan, namun mereka tidak pernah terlihat mengeluh. Mereka cukup senang dengan kehidupannya, apa pun yang mereka dapatkan di hari itu selalu disisihkan untuk membelikan jajanan bagi cucu mereka.

Walau sudah lanjut usia mereka masih sanggup bekerja, entah mencari kayu, bekerja di sawah, membuat tempe, dll. Fisik mereka masih bagus, tapi yang paling penting mereka bahagia karena bisa berkumpul dengan anak dan cucu mereka. Yah, walaupun terkadang ada konflik antara mereka dan anak tapi tak terbersit sekalipun niat untuk meninggalkan orang tua.

Seperti pepatah jawa,”Mikul dhuwur, mendhem jero” yang artinya kalau orang lain mempunyai kebaikan, kita banggakan atau dijunjung tinggi sebaliknya jika mempunyai keburukan kita tutupi keburukannya atau pendam sedalam mungkin. Begitu juga halnya sikap kita kepada orang tua, berbakti baik semasa hidup maupun ketika orang tua kita sudah meninggal. Mengangkat tinggi derajat orang tua semasa hidup dan ketika sudah meninggal pun harus tetap menghormatinya.

Saya tidak tahu mengenai persoalan yang dihadapi oleh mereka yang sudah berkeluarga. Namun, saya menjadi terpikirkan oleh satu hal. Ketika saya menikah nanti, pasangan saya harus bisa menerima saya dan keluarga saya seutuhnya. Saya tidak ingin meninggalkan ibu saya. Satu-satunya orang tua yang masih bersama saya. Saya hanya ingin berbakti kepada orang tua meskipun dengan hal yang sederhana, merawatnya, dan tidak ingin beliau merasakan kesendirian di akhir hidupnya karena masih ada keluarga yang menyayanginya. Boleh saja hidup kita kekurangan secara materi, namun jangan sampai kekurangan kasih sayang dalam hidup. Bagaimana dengan Anda? Hamasah!!![sn]

* Sofa Nurdiyanti adalah mahasiswa Psikologi Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta. Suka baca buku cerita, nonton kartun Detective Conan, Bintang, dan tertarik dengan bidang sejarah, arkeologi, bahasa, budaya, dan politik. Tetapi, sekarang ia lagi “nyasar” ke bidang psikologi. Nur aktif menulis di sejumlah website kepenulisan seperti AndaLuarBiasa.com, Pembelajar.com, dan AndrieWongso.com. Saat ini ia tengah semangat berlatih untuk menjadi penulis dan trainer. Nur dapat dihubungi melalui pos-el: nurrohmah_06[at]yahoo[dot]com.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 9.0/10 (4 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +3 (from 3 votes)

7 Comments

  1. Noviansyar Norman opi says:

    Assalamualaikum. menarik sekali membaca tulisan Nur, paragaraf demi paragraf menceritakan kondisi kekinian tentang hidup berkeluarga. mungkin untuk studi kasus tentang orang tua yang dimasukan ke panti jompo oleh keluarganya sendiri.
    Saya pernah dengar jargon, :Mangan ora’ mangan sing penting ngumpul”. orang tua yang semakin menua biasanya semakin sensitif terhadap perubahan, dulu mereka gagah perkasa sekarang rapuh renta, dulu cantik belia sekarang sudah berkerut rupa. Mereka yang dulunya disegani, dihargai oleh putra-putri, sekarang ditinggalkan di panti. ironis. saya ingin mencoba memposisikan diri sebagai orang2 tua tsb, disisi lain saya mencoba menjadi anak-anak mereka. ketika saya menjadi orang tua saya ingin sekali dimasa tua berkumpul bersama anak2 saya,bermain bersama cucu2 saya,berkebun, memelihara unggas di halaman belakang. Saya tidak ingin dengan ketuaan saya, saya menjadi pribadi tanpa guna. Akhirnya, komunikasi orang tua dengan anak di masa2 awal keluarga itu tumbuh menjadi sesuatu yang penting, agar anak bisa lebih memahami dan menghargai bapak dan ibu mereka dan sebaliknya. Baik dalam kondisi berada atau tiada, suatu entity yang bernama keluarga itu agar tetap eksis, kokoh dan tetap bersama jiwa dan raga semua anggotanya. wallahua’lam.

    UN:F [1.6.9_936]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    UN:F [1.6.9_936]
    Rating: 0 (from 0 votes)
  2. Erhan PenjagaHati says:

    tulisane uakehhh eram…LANJUTKAN!!!

    UN:F [1.6.9_936]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    UN:F [1.6.9_936]
    Rating: 0 (from 0 votes)
  3. fetty says:

    sofa, kamu sekarang memang luar biasa

    UN:F [1.6.9_936]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    UN:F [1.6.9_936]
    Rating: 0 (from 0 votes)
  4. @ Mas Opi: Maturnuwun nggih, komentarnya banyak banget,hehe.. hamasah

    @ Erhan: Kamu baca ga erhan? hehe.. makasih ya

    @ Fetty : Makasih fettt, tetep semangat yak:p

    UN:F [1.6.9_936]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    UN:F [1.6.9_936]
    Rating: 0 (from 0 votes)
  5. Logan Friske says:

    Rochel Aleman

    UN:F [1.6.9_936]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    UN:F [1.6.9_936]
    Rating: 0 (from 0 votes)
  6. Ghulam says:

    Mba sofa, aku pengen tanya sesuatu terkait tulisan di atas, uda kukirim ke email. tolong di cek ya mba. status dibutuhkan banget hehe

    UN:F [1.6.9_936]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    UN:F [1.6.9_936]
    Rating: 0 (from 0 votes)
  7. fuji says:

    mba bisa nany lebh jelas engga ttng kegiatan yg dilakukan dpanti jompo saya pngen tau perbedaan panti jompo di indonesia sama panti jompo yang ada dijepang…

    UN:F [1.6.9_936]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    UN:F [1.6.9_936]
    Rating: 0 (from 0 votes)

Post a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Comment moderation is enabled. Your comment may take some time to appear.

Komentar