Optimisme adalah Separuh Kesembuhan
Editor | Kolom Tetap | May 18th, 2009
Oleh: Sribudi Astuti*
Ketika membuat tulisan ini, saya baru saja membuka arsip yang ada di hard disk lama saya. Saya menemukan file dalam format notepad yang bersisi copy percakapan saya dengan seorang gadis lewat Yahoo Messenger beberapa tahun lalu. Gadis tersebut terpaut umur hampir enam tahun dengan saya dan baru setahun lulus SMU, putri seorang pengusaha, pandai memainkan alat musik, ceria, dan meskipun kami saling mengenal hanya lewat chatroom hubungan kami sangat dekat dari waktu ke waktu.
Satu hal yang tidak masuk logika saya tentang kehidupan gadis itu adalah pilihannya untuk tidak melanjutkan kuliah dan memilih bekerja di sebuah perusahaan, dan tinggal jauh dari orang tuannya serta meninggalkan kemudahan yang diberikan orang tuanya.
….
Toeti_yk: “Gak pengen kuliah kamu, Dhek?”
Gadis_Manis: “Pengen sich, tetapi tak sanggup..”
Toeti_yk: “Apanya???”
Gadis_Manis: “Teteh… sebenarnya ada yang aku sembunyikan, aku menderita leukemia, aku berusaha hidup normal seperti kebanyakan orang dengan bekerja”
Toeti_yk: “Trus?”
Gadis_manis: “Kalau saja aku sehat aku akan kuliah dan memupuk bakat musikku, Teh…”
….
Seiring berjalannya waktu, dan semakin terkuak sisi kehidupan gadis tersebut, saya baru mengetahui bahwa kalau sekadar untuk mempunyai uang saku berlebih, gadis tersebut tak perlu bekerja keras dari jam 8 pagi hingga jam 5 sore. Gaji yang dia dapatkan dari bekerja jauh lebih kecil, akan tetapi berulang kali gadis tersebut mengatakan, itulah cara dia supaya tidak dianggap orang sakit. Bagi dia, anggapan orang bahwa dirinya orang sakit yang harus ditolong justru menjadi bumerang yang menggerogoti semangatnya untuk sembuh.
Menjalani kehidupan layaknya orang normal dengan segala suka dan dukanya, tanpa pandangan hasihan akan dirinya, yang bahkan umurnya pun sudah diramalkan tak akan panjang oleh dokter, ternyata justru membawa keajaiban demi keajaiban pada diri gadis tersebut. Gadis itu masih tetap bertahan melewati waktu yang diperkirakan dokter. Ia masih tetap bekerja meskipun beberapa hari dalam sebulan harus bersembunyi dari teman-temannya karena kondisi tubuhnya tidak stabil.
Kedua keajaiban itu ternyata semakin memupuk keyakinannya bahwa dirinya mampu melewati masa-masa sulit. Emosi yang tetap terjaga tanpa ternoda rasa kasihan dari orang lain dan sikap memelas untuk mendapatkan sikap orang lain menjadi bagian terpenting jalannya menuju kesembuhan. Optimisme yang selalu dijaga dan diimbangi kepasrahannya kepada Tuhan membuatnya bersedia menjalani kemoterapi hingga beberapa bulan berikutnya. Hingga suatu ketika, gadis tersebut mengirimkan pesan singkatnya di Yahoo Messenger untuk berpamitan karena akan melanjutkan pendidikannya di Australia.
Sampai hari ini, gadis tersebut masih tetap sehat, ceria, menekuni apa yang menjadi minatnya, dan tetap memainkan musik yang menjadi hobinya. Sebentuk kekaguman pada gadis tersebut terpatri dalam hati dan ingatan saya, benar-benar keajaiban Tuhan yang ditunjukkan pada saya lewat gadis tersebut.
Kita sering kali mendapati orang, yang begitu mendapat vonis penyakit dari dokter, kemudian menjelma menjadi manusia yang cengeng, manja, dan rapuh. Ketakutan oleh bayang-bayang kematian dan membiarkan ketakutan tersebut menggerogoti semangat dan keyakinan, hingga tak sejalan dengan orang-orang sehat yang memedulikannya dan mengusahakan kesembuhannya.
Hanya orang-orang yang mempunyai optimisme yang mampu mengangkat dirinya menuju sesuatu yang hebat. Begitulah kira-kira ungkapan yang pas untuk menggambarkan kebangkitan orang-orang yang ketika didera penyakit yang mematikan, tetapi tidak lantas menjadi manusia yang rapuh.
Banyak ahli kesehatan mendapati bahwa pasien-pasien dengan sikap mental optimis mempunyai peluang lebih besar dan waktu yang diperlukan untuk menjalani perawatan lebih singkat. Sikap mental yang meyakini bahwa segala sesuatu di dunia ini serba mungkin selama dibarengi dengan keyakinan dan upaya kearah tujuan tersebut merupakan separuh dari pengobatan yang seharusnya dijalani.
Gadis yang saya ceritakan di muka rasanya cukup untuk dijadikan sebagai cerminan. Cara berpikir bahwa dirinya mampu hidup normal, telah membuat dirinya hidup dalam kehidupan normal seperti yang ia bayangkan. Meskipun, ada penggalan kehidupannya yang pernah diwarnai oleh hadirnya penyakit yang masih dianggap menakutkan dan sulit disembuhkan.
Rasanya tak ada alasan untuk menyerah pada rasa sakit, yang memang diciptakan Tuhan sebagai penebus dosa bagi yang mengalaminya. Sikap optimis dibarengi usaha untuk sembuh menjadikan penebus dosa itu benar adanya dan semoga semakin mendekatkan seseorang pada penciptanya.[sb]
* Sribudi Astuti lahir di Sleman, Yogyakarta, pada 29 Agustus 1979. Pendidikan S-1 diraihnya di Fakultas Teknik Pertanian, UGM, Yogyakarta. Saat ini ia menjadi widyaiswara/trainer di Balai Besar Pelatihan Pertanian Batangkaluku, UPT Badan Pengembangan SDM Pertanian, Departemen Pertanian, Gowa, Sulawesi Selatan. Sribudi dapat dihubungi melalui HP:085656450918.

May 24th, 2009 at 9:02 am
saya terkesan dengan tulisan mbak tentang gadis tersebut. rasa optimis dan percaya diri adalah modal utama kita untuk menghadapi semua arang merintang di kehidupan ini.
sampaikan salam saya buat gadis tersebut ya, mbak. salut buat perjuangan dan optimisnya.
May 24th, 2009 at 4:00 pm
[...] Optimisme Separuh dari Mesembuhan Posted on May 24, 2009 by toeti http://www.andaluarbiasa.com/optimisme-adalah-separuh-kesembuhan [...]