Only the Right People Can Ride on the Bus
Editor | Kolom Lepas | November 18th, 2009
Oleh: Sri Julianti*
Kata-kata di atas sering didengungkan di manajemen meeting untuk mengomunikasikan terjadinya restrukturisasi di perusahaan. Meskipun semua orang tahu hal ini bakal terjadi, suka atau tidak suka. Inilah realitas dan dampak dari kemajuan teknologi dan arus globalisasi. Seperti yang dikatakan oleh Heraclitus, seorang pakar perubahan, “There is nothing permanent except change.“ Demikian juga restrukturisasi dalam suatu perusahaan. Tanpa adanya restrukturisasi, perusahaan tidak akan survive.
Coba kita tinjau kembali sekitar medio tahun 80-an. Bila mau kirim surat, ada sektretaris yang membuat draf, kita cek, dan sekretaris itu lagi yang mengetiknya, baru surat dikirimkan via pos dan akan sampai di tempat tujuan 2-3 hari. Sekarang, pekerjaan ini dilakukan dengan e-mail dan setiap orang secara individu harus mengerjakan segera. Bahkan, orang lain mengharapkan respon kita secara instan, detik itu juga.
Seperti dikatakan oleh Thomas Friedman dalam bukunya The World is Flat, efisiensi kerja sekarang sudah naik puluhan kali lipat dibandingkan tahun 80-an. Orang dapat saling berkomunikasi dalam 24 jam. Dan, yang lebih runyam lagi, banyak perusahaan memberikan fasilitas BlackBerry agar manajer yang bersangkutan dapat di hubungi setiap saat tanpa ada kecuali. Ditambah lagi dengan arus globalisasi, perbedaan waktu antarnegara sudah bukan halangan. Video atau teleconference dapat dimulai kapan saja.
Banyak teman mengeluh tentang beban pekerjaan yang semakin banyak, kompleksitas yang semakin tinggi, dan tanggung jawab yang semakin besar. Tetapi, pertanyaannya adalah “How far can you go? It’s our choice!” Memang mudah dikatakan, tapi tidak mudah dilaksanakan, seperti teman saya ini.
“Bu, ada waktu...? Mau ketemu, mau curhat sih sambil tukar pikiran, bisa?” demikian seorang teman menelepon saya. Selanjutnya dapat ditebak apa yang di bicarakan. Pada umumnya mulai dari kegelisahan akan masa depan, jenjang karier yang tidak jelas, pekerjaan yang makin lama makin bertumpuk, sampai pada akhirnya kegelisahan akan kehilangan pekerjaan, dan mulai merencanakan meninggalkan pekerjaan yang ada.
Memang setiap perusahaan harus selalu bekerja lebih efektif setiap saat. Apalagi dengan adanya krisis finansial secara global, banyak perusahaan yang menggunakan kesempatan ini untuk merampingkan organisasi yang sudah “gemuk”. Tidak peduli apakah memang betul-betul kena dampak krisis atau hanya ingin merampingkan organisasi yang gemuk. Yang jelas krisis ini dengungnya menggema di mana-mana. Mulai dari pengeluaran dikurangi, investasi ditunda, jabatan dirangkap, atau jabatan diturunkan, tunjangan diturunkan, pokoknya pengeluaran harus ditekan sedemikian rupa, termasuk indirect cost.
Sudah bukan rahasia lagi, begitu reorganisasi mulai tampak, kegelisahan pun merebak di seantero perusahaan. Bahkan hampir pasti ada 1 x farewell e-mail dalam dua minggu. Kegelisahan ini menyebabkan orang tidak berpikir secara positif.
Banyak desas-desus, si A pergi dan mendapatkan dua kali remuneration package di perusahaan lain, atau si B pergi dan mulai usaha sendiri. Pokoknya kegelisahan ini merambah di segala lini, mulai yang paling bawah sampai para senior.
Seorang teman bertanya, “Bu, apakah saya sebaiknya cari kerjaan lagi mulai sekarang, ya?”
“Lho, problemmu apa?” tanya saya.
“Tidak ada masalah…,” jawab teman saya sambil senyum-senyum.
“Lha, semua orang pada keluar, apakah saya bisa tinggal?”
Saya katakan padanya, “Setiap orang punya tujuan dan pilihan masing-masing. Yang keluar maupun yang masih tinggal tidak ada yang salah. Kalau kamu mau ikutan keluar, pertimbangkan masak-masak, dan putuskan pilihanmu. Jangan ikut-ikutan yang lainnya. Dalam setiap perubahan, ada orang yang diuntungkan ada pula yang dirugikan. Think postive, stay positive, the choice is yours. Lagi pula, yang penting kamu harus juga bertanya kepada diri sendiri, sre you riding on the right bus? Kalau jawabannya sudah jelas, mau tetap tinggal atau pergi dari perusahaan, itu adalah sebuah pilihan.”
Kami akhiri diskusi empat mata ini, dan mata teman kami berbinar dengan pandangan yang lain. Entah apa yang ada di benaknya.[sj]
* Sri Julianti adalah konsultan packaging yang sudah malang-melintang di dunia packaging selama 25 tahun lebih. Saat ini ia sedang menuliskan pengalamannya dalam sebuah buku tentang strategi dan seni kemasan. Ia dapat dihubungi melalui website: www.srijulianti.com atau pos-el: julipackaging[at]yahoo[dot]com.

Leave a Reply