Nyaman dengan Rasa Syukur
Editor | Kolom Tetap | October 6th, 2009

Oleh: Eni Kusuma*
“Berhasil, gagal, apa bedanya? Gagal bisa lebih berhasil daripada berhasil itu sendiri. Sempurna, cacat, apa bedanya? Cacat bisa lebih sempurna daripada sempurna itu sendiri.”
~ Eni Kusuma
Pernahkah Anda merasa usaha yang Anda lakukan sia-sia? Saya pernah. Ini terjadi karena saya terlalu terburu-buru menyimpulkan proses yang saya jalani adalah kesia-siaan dengan melihat hasil yang jauh dari harapan saya.
Kita cepat mempersepsi kegagalan sebagai garis finish yang sudah selesai. Padahal, berusaha adalah lebih baik daripada malas, meski hasilnya sama-sama gagal. Karena, tidak ada usaha yang sia-sia, yang ada hanyalah kita sendiri yang sulit menangkap apa makna dari sebuah proses. Dan, belajar tidak melulu di bangku sekolah dengan mendapat tuntunan istimewa, yang terlihat begitu sempurna. Tetapi, belajar juga bisa didapat dari hal-hal yang sepele dan tidak penting seperti mencincang sayur dan membuang sampah.
Saya akan mengajak Anda melihat jauh ke belakang sebagai cermin perenungan. Ketika masa sekolah, dengan sangat bersemangat saya belajar, membaca, serta mengerjakan tugas. Tetapi, saya merasa itu sia-sia ketika saya melihat hasil akhir setiap semester tidak seperti yang saya harapkan. Setiap saya berusaha keras memperbaiki nilai, saya semakin kecewa. Karena, akhirnya toh saya gagal juga melanjutkan sekolah yang lebih tinggi karena soal prestasi. Untuk apa capai-capai berusaha keras, toh hasilnya gagal juga, sama dengan yang malas.
Merasa hidup sia-sia, akhirnya saya terdampar di Hong Kong sebagai pembantu rumah tangga. Hari-hari berlalu dengan menyapu, mengepel, mengganti popok, mencuci, memasak, dan membersihkan WC. Bulan berganti bulan, tahun berganti tahun. Saya pun merasa hidup tak bermakna. Saya merasa apa yang saya lakukan ini adalah kesia-siaan. Ada kerinduan akan sebuah cita-cita yang sempurna, seperti orang-orang kebanyakan.
Ada sebersit keraguan, mampukah saya dengan keinginan saya itu? Tetapi, siapa sih saya? Bukankah yang lebih pantas dengan cita-cita seperti itu adalah mereka yang berkutat dengan buku-buku, bergelar, sukses, atau bergulat dengan pendidikan? Sedangkan saya bergulat dengan sapu, pisau dapur dan popok bau?
Hati saya panas. Saya marah dengan keadaan saya, mengeluh dan protes pada Tuhan secara rutin. Dalam kemarahan saya justru melakukan pekerjaan dengan lebih baik dan lebih cepat. Waktu berlalu. Si kecil, momongan saya di Hong Kong pun telah bersekolah TK. Tiba-tiba saya memiliki banyak waktu untuk merenungi hubungan antara mencuci piring, memotong sayur, menyapu, mengepel dengan pengembangan diri seseorang.
Semula saya mengira menyapu dan mengepel lantai bertujuan membersihkan lantai rumah. Kemudian saya merasa itu sebagai bentuk ketekunan dan kedisiplinan. Semula saya mengira mengganti popok dan membersihkan WC, ya untuk menyelesaikan tugas. Tetapi kemudian, saya merasa itu sebagai bentuk keikhlasan dan kerendahan hati. Semula saya mengira omelan dan cacian majikan sebagai penghinaan sehingga timbul rasa tak berharganya akan diri sendiri. Tetapi kemudian, saya merasa itu adalah untuk melatih kesabaran. Dengan bekal itu saya pun menulis dengan bimbingan guru saya, dan lahirlah buku Anda Luar Biasa!!! (Fivestar, 2007).
Kini, pelajaran yang saya petik dari perenungan ini adalah: Berhasil, gagal, apa bedanya? Gagal bisa lebih berhasil daripada berhasil itu sendiri. Sempurna, cacat, apa bedanya? Cacat bisa lebih sempurna daripada sempurna itu sendiri. Bekerja kasar, bekerja halus, apa bedanya? Bekerja kasar bisa lebih halus daripada bekerja halus itu sendiri. Kaya, miskin, apa bedanya? Miskin bisa lebih kaya daripada kaya itu sendiri. Kiai, bukan kiai, apa bedanya? Bukan kiai bisa lebih kiai daripada kiai itu sendiri.
Dengan pemikiran seperti ini, kita akan bersyukur bahkan melebihi rasa syukur yang biasa kita rasakan. Tidak mengeluh dan tidak protes lagi. Karena siang dan malam tidak ada bedanya. Siang bisa kita buat malam, dan malam bisa kita buat siang. Demikian juga dengan penderitaan dan kebahagiaan, juga tidak ada bedanya. Penderitaan justru lebih mendekatkan diri kita kepada Tuhan yang akan membuat kita berbahagia, bahkan lebih berbahagia daripada kebahagiaan itu sendiri. Dengan rasa syukur, tidak ada alasan untuk tidak percaya diri dan tidak ada alasan untuk tidak merasa nyaman dalam menapaki hidup ini.
Demikiankah?[ek]
* Eni Kusuma adalah nama pena Eni Kusumawati, perempuan kelahiran Banyuwangi, 27 Agustus, 31 tahun yang lalu. Ia berangkat dari menulis puisi dan fiksi. Puisinya dibukukan bersama seratus penyair Indonesia dengan judul Yogya, 5,9 Skala Richter, sementara cerita fiksinya bertebaran di berbagai media dan juga dibukukan. Ia bercita-cita mendirikan sekolah gratis dan rumah baca di Banyuwangi. Pendidikan formal terakhir di SMUN 1, Banyuwangi (1995). Sementara, pendidikan nonformalnya, S-1 di Pembelajar.Com (2006 sampai sekarang), dan S-2 di Andaluarbiasa.Com (15 Januari 2009 sampai sekarang). Eni menjadi pembantu rumah tangga di Hong Kong tahun 2001-2007. Eni, yang ketika kecil menderita gagap bicara ini, kini menjadi seorang motivator dan telah memberikan seminarnya di berbagai perusahaan, lembaga sosial, birokrasi pemerintahan, serta berbagai kampus di seluruh Indonesia. Eni adalah penulis buku laris Anda Luar Biasa!!! (Fivestar, 2007). Saat ini ia tengah menyelesaikan buku motivasi kedua dan ketiganya. Silahkan hubungi Eni di ek_virgeus[at]yahoo[dot]co[dot]id atau enikusuma[at]ymail[dot]com , HP: 081 389 641 733.
January 9th, 2010 at 5:08 pm
Bagus bgt motivasinya mba, Thx. Saya sekarang sedang mengalami apa yang pernah mba rasakan dulu, pesimis dan merasa hidup sia - sia dan ga ada artinya…..