Nyaman dengan Memahami Rasa Marah
Editor | Kolom Tetap | July 28th, 2009
Oleh: Eni Kusuma*
“Berbicaralah kita ketika sedang marah,
maka kita akan melakukan percakapan terbaik yang akan selalu kita sesali.”
~ anonim
Satu dari banyak hal yang membuat seseorang merasa tidak nyaman dalam menjalani hidup adalah rasa marah. Rasa marah mungkin mendapat tempat istimewa daripada rasa takut dan rasa bersalah. Ini dapat dilihat dari dampak yang akan timbul jika seseorang bereaksi atas ketiga rasa tersebut. Reaksi dari rasa takut dan rasa bersalah mungkin tidak sedahsyat rasa marah jika dalam keadaan wajar. Reaksi dari rasa marah bukan saja berdampak pada diri seseorang saja melainkan juga akan melukai orang-orang di sekitarnya. Apalagi orang-orang yang sebenarnya kita cintai. Sedangkan reaksi dari rasa takut dan rasa bersalah dalam ambang kewajaran, mungkin hanya akan dirasakan oleh diri si perasa saja. Ini berbeda dengan reaksi dari ketiga rasa tersebut jika sudah akut. Reaksi dari ketiga rasa tersebut tidak saja melukai tetapi bisa membunuh, baik itu rasa marah, rasa takut maupun rasa bersalah.
Sebenarnya, tidak ada emosi negatif karena yang ada adalah emosi yang memengaruhi secara negatif. Mungkin, ini yang kerap kali sering kita sebut emosi negatif. Emosi ini bisa kita manfaatkan secara positif jika kita memahaminya. Hanya memahaminya karena memiliki, bukan dimiliki oleh mereka. Baik itu rasa marah, rasa takut, maupun rasa bersalah.
Rasa marah tidak boleh ditunjukkan karena akibat dari itu akan berdampak sangat merugikan. Bukan hanya melukai orang-orang sekitar, tetapi integritas kita dipertaruhkan dan kenyamanan hidup jauh dari kenyataan. Tetapi, jika itu sudah terjadi karena kekhilafan, tidak ada kata terlambat untuk berubah. Minimal belajar untuk berubah. Dan, biarlah waktu yang bicara.
Jika tidak boleh kita tunjukkan, apakah harus kita tekan dan sembunyikan? Menekan dan menyembunyikan rasa marah sama tidak nyamannya dengan menunjukkannya. Karena, ibarat bom waktu, dapat meledak suatu saat nanti, cepat atau lambat. Bagaimanakah sebaiknya? Seperti uraian saya di atas, rasa marah harus bisa dikenali, diamati, diperhatikan, dipahami, dan dimengerti.
Bagaimanakah melakukannya? Jika sedang marah, katakanlah: “Saya melihat sejumlah rasa marah dalam diri saya!” Atau, “Saya memiliki rasa marah pada diri saya!” Coba bandingkan dengan pernyataan kedua: “Saya marah!!!” lengkap dengan atribut yang menyertainya, yaitu nada tinggi, mata membelalak, napas naik turun dengan cepat. Mungkin akan sangat berbeda dirasakan ketika kita berbicara kalimat yang pertama tadi pada diri. Pada kalimat pertama, kita memiliki emosi tetapi emosi tidak memiliki kita. Sedangkan pada kalimat kedua, “Saya marah” berarti kita adalah emosi itu, dan emosi itu adalah kita, dan berarti pula kita dimiliki oleh emosi itu. Sehingga, secara alamiah kita terdorong untuk bereaksi menunjukkannya. Ini yang sangat merugikan.
Adanya emosi pada diri kita disebabkan oleh kebutuhan kita akan suatu hal belum terpenuhi. Ini berarti emosi merupakan tanda, sebagai indikasi, atau sebagai penunjuk kebutuhan utama kita. Untuk itu, menjadikannya sahabat adalah sangat bijak. Karena memperlakukan emosi sebagai musuh bisa sangat merugikan. Jika kita memahami perasaan ini, bukan bereaksi, kita dapat sangat beruntung. Bayangkanlah sesuatu yang menguatkan seperti kita membayangkan suatu hubungan yang damai dan harmonis, penuh cinta dan perasaan sayang. Dan, ini tidak bisa kita gadaikan dengan sejumlah uang. Semakin kita membayangkan hal ini, semakin kuat pula kita mengatakan “tidak perlu marah” kepada diri sendiri meskipun kita sadar memiliki perasaan itu.
Emosi-emosi yang merupakan tanda bahwa kebutuhan kita belum terpenuhi adalah seperti berikut:
Kemarahan, memberi tahu ada sesuatu yang keliru dan mungkin perlu diperbaiki.
Ketakutan, memperingatkan kita akan adanya ancaman.
Rasa bersalah, memperingatkan kita untuk bersikap sensitif terhadap hubungan yang penting.
Seperti nasihat bijak yang berkata: “Rasa marah dapat membutakan, rasa takut dapat melumpuhkan dan rasa bersalah dapat melemahkan.”
Demikiankah?[ek]
* Eni Kusuma adalah nama pena Eni Kusumawati, perempuan kelahiran Banyuwangi, 27 Agustus, 31 tahun yang lalu. Ia berangkat dari menulis puisi dan fiksi. Puisinya dibukukan bersama seratus penyair Indonesia dengan judul Yogya, 5,9 Skala Richter, sementara cerita fiksinya bertebaran di berbagai media dan juga dibukukan. Ia bercita-cita mendirikan sekolah gratis dan rumah baca di Banyuwangi. Pendidikan formal terakhir di SMUN 1, Banyuwangi (1995). Sementara, pendidikan nonformalnya, S-1 di Pembelajar.Com (2006 sampai sekarang), dan S-2 di Andaluarbiasa.Com (15 Januari 2009 sampai sekarang). Eni menjadi pembantu rumah tangga di Hong Kong tahun 2001-2007. Eni, yang ketika kecil menderita gagap bicara ini, kini menjadi seorang motivator dan telah memberikan seminarnya di berbagai perusahaan, lembaga sosial, birokrasi pemerintahan, serta berbagai kampus di seluruh Indonesia. Eni adalah penulis buku laris Anda Luar Biasa!!! (Fivestar, 2007). Saat ini ia tengah menyelesaikan buku motivasi kedua dan ketiganya. Silahkan hubungi Eni di ek_virgeus[at]yahoo[dot]co[dot]id atau enikusuma[at]ymail[dot]com , HP: 081 389 641 733.

Leave a Reply