Numpang Adem
Editor | Kolom Lepas | January 12th, 2010
Oleh: Hanna Fransisca*
Suara langkah kaki itu sudah akrab di telinga saya. Langkah terseret dengan tekanan telapak yang berat menapak. Perempuan itu muncul di ruang kerja. Rambut pendek dengan ujung menguning pecah-pecah, selalu itu ciri pertama yang paling diingat. Seperti dugaan semula, dan tentu saja dari kebiasaan yang selalu diucapkan, dia akan menyapa saya dengan kalimat yang sama.
“Numpang adem ya, Non.”
Kalimat itu lebih menyerupai mantra bagi saya. Setelah itu dia akan menawarkan dagangannya. Bihun goreng, bakmi goreng, nasi uduk, permen kecil, beberapa macam penganan, dan air mineral. Sudah lama dia tak peduli huruf-huruf kapital berwarna merah yang terpampang besar di pintu masuk: YANG TIDAK BERKEPENTINGAN DILARANG MASUK. Barangkali perempuan itu pura-pura bodoh, atau dia memang buta huruf. Saya hanya mampu menerka-nerka. Mantra numpang adem itu selalu saja berhasil menjadi sihir, membuat hati kami yang berada di ruang kerja itu tunduk dan menaruh empati pada perempuan itu. Maka, kami selalu membiarkannya duduk sebebas-bebasnya. Menikmati sejuknya udara AC. Bahkan, kami membeli dagangannya. Benar-benar ia menikmati numpang adem, alias numpang udara dingin, sekaligus numpang rezeki.
Belakangan perempuan itu tidak hanya numpang adem untuk tubuhnya yang berkeringat. Dia juga numpang adem di tenggorokan. Di meja kerja kami memang selalu tersedia air mineral dalam kemasan gelas untuk para tamu. Beberapa toples permen kecil juga ikut menghias di sana. Perempuan itu awalnya meminta dengan wajah memelas.
“Haus. Di luar panas. Saya minta satu ya aquanya,” dia kerap menyebut air mineral itu aqua, meski mereknya bukan Aqua. Tanpa menunggu jawaban dia mengambil sedotan. Lantas menancapkan sedotan itu ke gelas plastik dan menyedotnya sampai dia merasa lega. Kebiasaan dia yang lain (yang kemudian juga bertambah), yakni sebelum pamit dia akan membuka toples dan mengambil segenggam permen. Setelah itu ia berlalu.
Tingkah perempuan itu, dengan kebiasaannya yang semakin bertambah, tentu saja tidak berarti membuat kami tenang-tenang saja. Dari mulai numpang adem, kemudian numpang haus, dan terakhir numpang permen, membuat beberapa di antara kami mulai serius memerhatikannya. Bahkan, ada yang mulai gerah dan mengatakan, “Siapa sih sebetulnya dia?”
Pada mulanya, seperti telah diceritakan di awal, kami semua memang menaruh simpati dan empati. Setiap gajian atau di saat kami memiliki rezeki lebih, tak jarang di samping membeli (bahkan memborong) jajanan kecil pada perempuan itu, kami kadang kala juga memberi harga lebih padanya. Sekadar tip untuk tempat kami bersyukur. Tapi akhir-akhir ini, beberapa di antara teman saya, ada yang mulai acuh setiap perempuan itu masuk ruangan. Ada yang mulai berkata sedikit keras, menyuruh kami untuk bertindak.
“Besok jangan kasih dia masuk. Orang ini mulai tidak tahu diri. Jangan diberi hati!”
“Iya. Setuju. Kita boleh saja kasihan sama dia. Tapi tak berarti dia boleh seenaknya. Bayangkan, setiap hari dia mengambil segelas minuman. Kemudian permen-permen. Sebulan jika dijumlah, jadi berapa? Dia sendiri menjual minuman. Kenapa harus mengambil di meja kita?”
Begitulah teman-teman saya mulai ribut dan gerah.
***
Esok harinya saya dengar lagi suara langkah kaki yang sama. Suara sandal jepit diseret dengan langkah kecil yang berat. Kali ini diiringi suara batuk. Seperti biasa, dia memulai lagi kalimat yang sama.
“Numpang adem ya, Non?”
Aneh. Tak seorang pun bergerak untuk mengusirnya. Mantra “numpang adem” itu memang hebat, pikir saya. Kami hanya saling memandang dan diam. Lalu, kami sama-sama menatap wajah kusut pucat yang tidak seperti sebelumnya. Dia mulai mengambil minuman. Kali ini tanpa permisi. Barangkali dia sudah merasa menjadi bagian dari kami, sehingga dia merasa punya hak untuk mengambil tanpa permisi. Lagi-lagi kami hanya diam dan saling memandang.
Dia tidak duduk lebih lama seperti hari-hari lalu. Lima menit kemudian, setelah segelas air usai dia teguk, dia mengambil beberapa gelas lain dan menaroh dalam boks asongannya. Dia mengambil juga segenggam permen, dan menaroh di tepi boks asongannya itu. Tangan kanannya kembali ingin menjamah toples, tapi sebuah bentakan keras (yang tentu saja suara bentakan itu juga mengagetkan kami semua), menghentikan tangannya tepat di bibir toples.
“Hei!! Kau pikir kami ini nenekmu yang harus mengasihanimu setiap hari! Sudah bagus kau kami biarkan masuk dan minum seenaknya. Sekarang kau malah menginjak kepala kami. Kau pikir kami yang ada di sini siapa, ha!? Jadi kau mau jual air mineral dan permen-permen yang kau ambil itu!? Enak sekali…,” suara salah seorang teman saya itu melengking seperti halilintar.
Saya lihat wajah perempuan itu pucat. Tapi sebentar kemudian ia dengan cepat bisa menguasai keadaan, dan berkata pelan, “Heran. Orang-orang berkecukupan macam kalian kok bisa sepelit ini.”
Akibat dari jawaban ini tentulah bukan perkara mudah. Teman saya serentak bangkit dari tempat duduknya, dan mencengkram tangan perempuan itu. Ia ingin menyeretnya ke luar. Melihat hal itu, entah kenapa hati saya mendadak tidak tega.
“Sudahlah,” saya coba menenangkan teman saya. Di luar dugaan, saya justru yang kena imbasnya.
“Kau juga punya andil besar dalam hal ini. Membiarkan dia begitu saja. Kita boleh mengasihani orang lain, tapi harus dengan cara yang mendidik. Bukan memanjakan atau malah menjerumuskan!”
Kali ini saya yang tersuruk. Dalam hati membenarkan perkataan teman saya itu.
“Asal tahu ya, Bu. Kita boleh miskin. Boleh susah. Tapi tak berarti harus melalukan tindakan tidak terpuji seperti yang Ibu lakukan. Ibu pikir sendiri sekarang, siapa yang rugi? Besok-besok kami semua tidak akan lagi sudi belanja sama Ibu. Ibu juga tak boleh lagi numpang adem di sini. Kalau Ibu tetap nekat saya akan telepon polisi dengan alasan Ibu menganggu ketertiban dan keamanan di sini,” bentak teman saya seolah belum puas juga. Saya lihat perempuan itu tertunduk dan menangis.
Berhari-hari, berminggu-minggu, dan berbulan kemudian ia memang tak pernah lagi datang ke kantor kami. Tapi entah kenapa, bayangan tubuhnya yang ringkih, suara langkahnya yang berat seperti diseret, aroma keringat, serta sapaan “numpang adem” yang bagaikan sihir di telinga kami itu, selalu saja seperti beban yang tak pernah hilang dari ingatan. Diam-diam saya masih merindukan wajah itu muncul tiba-tiba di depan pintu. Karena bagaimanapun, ia telah memberi pelajaran paling berharga dalam hidup. Minimal menjadi cermin bagi saya untuk lebih berhati-hati dalam mengambil keputusan yang menyangkut masa depan.[hf]
* Hanna Fransisca adalah ibu dari empat anak yang sehari-hari bekerja di Singkawang Motor, Jl. Sultan Agung Km 27, Pondok Ungu, Bekasi Barat dan Bintang Perkasa Jaya Motor Jl. Mauk/Mohammad Toha No 1, Bugel, Tangerang. Ia gemar membaca, menulis puisi, cerpen, dan esai kehidupan. Hanna dapat dihubungi di pos-el: h4n4_1979[at]yahoo[dot]com.
January 13th, 2010 at 7:49 pm
Nur juga merasa adem setiap kali membaca tulisan mba hanna,hehe..
Bagus banget..
January 15th, 2010 at 2:30 pm
Terkadang kita dihadapkan pada dua persoalan yang serba sulit.Di satu sisi menyantuni orang miskin dianjurkan,di satu sisi kadang sikap kita malah memanjakannya.Yang penting jangan lupa untuk berbagi kepada orang lain,sisihkan dari harta kita.Seandainya menolak,tolaklah dengan cara yang baik.Berbagi ternyata perlu dan sampai menghardik
January 17th, 2010 at 9:49 pm
Membaca alur cerita karya Mbak Fransisca, saya jadi teringat sebuah peribahasa, “sudah diberi hati-malah minta jantung”, diberi satu minta seratus. Ternyata benar ya..guru terbaik adalah berupa pengamalan, pengalaman pribadi mau pun orang lain, pada intinya, bagaimana agar hal tersebut tidak terjadi pada kita, yaitu terjebak pada perilaku yang “rendah”, walau pun dengan dalih kemiskinan. Yuk kita introspeksi diri kita..makasih ya mbak fransisca
January 19th, 2010 at 12:55 pm
fenomena biasa yang menjadi luar biasa ketika masuk dalam sudut pandang bu hannah. memberilah dengan santun dan menolaklah dengan santun,mungkin itu akan lebih baik.
January 28th, 2010 at 6:19 pm
Mantra Numpang Adem membuatku betul-betul adem disini hehehehe…sip sista.. much or little just give with Ur love,keep going i like it sista…
January 28th, 2010 at 6:47 pm
kisah yang menggelitik
January 28th, 2010 at 8:28 pm
Aku sebenernya terharu banget membaca tulisan ini, namun teman mbak memang benar. Memanjakan itu sama saja kita membuatnya menjadi manja dan tidak mau berusaha….
sungguh pencerahan sekali tulisan ini
January 29th, 2010 at 6:11 am
fotonya imut imut. he..he..he…….kayak masih abg !
kalo orang jawa menyebut perempuan numpang adem dengan pepatah, diwehi ati ngrogoh rempelo. dikasih hati minta ampela.
kadang kemiskinan menjadi senjata utk berharap kasihan. kenapa tak membuat kemiskinan utk menjaga harga diri dgn bersikap tak murahan. sudah miskin, tak tau sopan santun, seenaknya. perasaan apa yg bisa diberikan utk ‘oknum’ spt itu.
uufgh………ampuuun orang miskin…ampuuun…