Networking, Buat Apa?

Alexandra DewiOleh: Alexandra Dewi*

Saya baru saja menggunakan jasa Google untuk mencari definisi dari istilah networking. Dua dari definisi yang saya dapat adalah:

The developing of contacts or exchanging of information with others in an informal network, as to further a career.”

“The interconnection, as over communication lines, of computer system.”

Untuk yang pertama, kira-kira saja artinya adalah mengembangkan banyak kontak atau bertukar informasi dengan orang lain secara informal, seperti untuk mengembangkan karier. Dan, arti yang nomor dua kira-kira adalah pertukaran hubungan, misalnya garis komunikasi dari sistem komputer.

Well, kalau digabungkan definisi pertama dan kedua, zaman sekarang ini networking sangat mendapat banyak bantuan dari teknologi. Chatting lewat internet, baik Yahoo Messanger, MSN, Google Chat, wah banyak, deh! Belum lagi Facebook.

Tetapi, belum lama ini saya jadi berpikir soal networking lewat komputer ini. Karena, waktu saya jalan-jalan ke luar negeri, ada teman saya yang menitip postcard. Saya sampai lupa kalau di zaman serba email, chatting, iPhone, dan BlackBerry, di mana gambar bisa dikirim instan, kok masih ada orang yang menggunakan postcard. Begitu juga kartu ucapan ulang tahun, sekarang bisa dikirim lewat e-card atau lewat Facebook Greeting Card. Saya sendiri tidak ingat kapan terakhir menulis postcard, dan mengirimkannya lewat pos dengan menggunakan perangko. Padahal, dulu kalau ada yang kirim postcard ke saya dari luar negeri, saya senang sekali. It is so personal.

Lalu, soal social networking, di dunia nyata, tanpa komputer. Saya melihat wajah dan menempelkan nama kepada pemilik wajah tersebut, dan kemudian harus mengingatnya saja sudah berkali-kali gagal. Jadi, bagi para netwokers sejati, saya benar-benar kagum akan social skills mereka. Orang yang punya networking yang bagus tentunya akan banyak manfaat untuk karier mereka. Namun, jujur saya rasa hal ini seperti talenta, siapa yang bisa dia bisa, siapa yang tidak bisa ya tidak bisa. Dan, ada juga yang bisa tetapi tidak mau, mungkin seperti saya ini salah satunya.

Dari lingkaran teman dan kenalan yang saya tahu, mungkin saya salah bergaul atau memang semua seperti ini; semakin banyak orang tahu Anda, semakin sering berita yang muncul soal Anda. Bisa mulai dari kesan pertama. Misalnya, “Wah, si Anu orangnya kayaknya sok atau pilih-pilih teman!” Atau begini, “Ah, kalau si Anu memang pandai menjilat atasan, makanya gajinya naik terus!” And so on, and so on, sampai ke hal-hal yang di luar urusan karier. Misalnya, urusan rumah tangga atau pribadi akan menjadi ‘berita hangat jika social network Anda semakin luas. Itu sudah satu paket, kalau mau terkenal ya harus mau diomongin orang. Saya saja yang tidak terkenal kadang-kadang kena sambit gosip, apalagi mereka mereka yang terkenal.

Ada kenalan saya yang cukup terkenal dan network-nya pun luas. Suatu kali kami makan siang bersama, tahu-tahu ada seorang wanita yang menghampiri dan mengaku sudah berteman di Facebook dan ingin foto bersama. Lalu, teman saya ini tentu dengan ramahnya bergabung di meja si wanita tadi dan berfoto bersama. Setelah selesai, acara selebritas-selebritisannya dia berkata, “Makanya, Wi, loe jangan aja mau jadi terkenal!”

Saya jadi berpikir, kalau saya terkenal seperti Angelina Jolie atau Brad Pitt enggak apa, deh! Pertama, sekali main film saja honornya konon bisa 20 juta dollar AS, dan tentu digosipkan secara internasional di majalah majalah gosip dunia. Tetapi, yang membaca kan kita tidak kenal. Yang saya tidak berminat adalah kalau terkenal di Indonesia ini. Bukan kenapa, sudah honornya tentu enggak ada apa-apanya dibandingkan dengan Angelina Jolie atau Brad Pitt, tetapi astaga ribetnya dan gosipnya, saya enggak tahu, apakah worth it atau tidak. Apalagi yang menggosipkan adalah kenalan-kenalan sendiri.

Selain itu, kalau Angelina Jolie atau Brad Pitt yang menggunakan keterkenalannya untuk, misalnya, membuat yayasan (charity) tentu dampaknya akan lebih terlihat daripada orang terkenal di Indonesiayang setulus-tulusnya susah payah membuat suatu yayasan—tetapi tidak ada dukungan. Mengapa? Karena, pertama, sudah ada pikiran negative jangan-jangan uangnya mau dipakai sendiri alias dikorupsi. Kedua, memang tidak ada yang peduli. Dan ketiga, tidak ada yang nge-fans dengan yayasannya atau dengan orangnya. Padahal sama-sama terkenal, sama-sama hidupnya dipakai untuk infotainment.

Tetapi, tetap saja banyak orang ingin terkenal. Saya sebagai penulis misalnya, bagaimana mungkin saya tidak ingin tulisan atau buku saya diterima baik oleh masyarakat and soujung-ujungnya akan terkenal sebagai penulis. Tetapi, embel-embelnya kalau beneran suatu ketika saya terkenalsaya yakin anjuran teman saya tadi, “Makanya, Wi, loe jangan aja mau jadi terkenal!” akan saya tambahkan dengan dua kata lagi, yaitu ‘di Indonesia’.

Jadi terkenal di Indonesia ini, kalau saya pikir-pikir lagi, akan lebih banyak tidak enaknya dibanding enaknya. Kalau boleh, saya mau punya uang sebanyak Bill Gates (namanya saja manusia– jadi maruk) tetapi saya tidak mau dikenal orang. Karena, kalau saya seterkenal Bill Gates, saya lupa kasih tip saja misalnya, bisa jadi berita dunia. Kalau uang saya sebanyak Bill Gates, tetapi tidak ada yang kenal saya, saya bisa lenggang kangkung ke mana pun saya pergi, dan tidak ada yang menggosipkan saya. Wah, alangkah enaknya. Kalau saya ada kesempatan bertanya kepada Bill Gates, mungkin enggak ya, dia setuju dengan sayabahwa keterkenalan itu bisa jadi anugerah, bisa juga jadi beban. Yang pasti, di negara kita ini, saya pribadi masih melihatnya sebagai beban daripada anugerah.

Kembali ke soal networking initentu networking adalah hal yang positifnamanya kita makhluk sosial, alangkah baiknya kalau kita bisa saling kenal dan saling berbagi informasi. Tetapi, di Indonesia ini, karena kesenjangan sosial sangat senjang, netwokers harus membuat network dengan golongannya sendiri. Sebaiknya jangan berharap dengan networking ke ‘atas’ akan ada manfaatnya dalam karier kita. Apalagi kalau itulah senjata utama Anda satu satunya. Tidak ada orang di dunia ini yang—baik kaya maupun miskin—mau istilahnya “dimanfaatkan. Tetapi, karena sad but true, yang tidak terkenal dan miskin memang tidak banyak yang bisa “dimanfaatkan dari mereka, yang ada adalah orang pada berlomba-lomba mendekati mereka yang bisa “dimanfaatkan.

Networking idealnya berkembang secara alami dan tidak serba instan. Seperti postcard itu menurut saya sederhana dan ada personal touch. Kalau lewat Facebook saja dan tidak pernah ketemu langsung serta berkawan di dunia nyata, saya rasa sejauh ini tidak begitu efektif. The trust factor its not there, kalau hanya lewat dunia maya. Wong yang kenal di dunia nyata saja, walau sudah ketemu person to person, kadang tetap enggak nyambung, lha tidak ada chemistry, atau enggak tahu kenapa, istilahnya enggak klik saja satu sama lainnya.

So, intinya saya melihat sebagian orang kerja keras melakukan networking ini (futher up) alias ke atas, tetapi kalau judulnya sedang susah, yang menolong ya kalau enggak keluarga sendiri, ya justru teman-temannya yang tidak terkenal. Jadi, saya tanya lagi, seberapa bergunanya keterkenalan dan networking di Indonesia ini bila pada dasarnya: pertama, kita sendiri tidak punya modal? Kedua, kita tidak ada bakat atau skill yang menunjang?[ad]

* Alexandra Dewi adalah seorang eksekutif sebuah perusahaan, penulis buku The Heart Inside the Heart, Queen of Heart, dan co-writer buku I Beg Your Prada. Saat ini sedang menantikan penerbitan bukunya yang keempat tentang fashion.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 8.5/10 (2 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: 0 (from 0 votes)

3 Responses to “Networking, Buat Apa?”

  1. maria saumi Says:

    wah kok sama ya dengan saya..saya pengen kaya tapi tidak mau terkenal…kaya tapi berbagi dan tidak terkenal…hahaha bisa ngk sih?

    UN:F [1.6.9_936]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    UN:F [1.6.9_936]
    Rating: 0 (from 0 votes)
  2. Sugeng Widodo Says:

    Tulisan Mbak Alexandra enak dibaca, mengalir, dan yang pasti bikin saya pingin kasih komentar. Bener juga ya, untuk apa networking kalau kita sendiri tak punya modal atau skill? Saya pikir, justru dengan jaringan itu bagaimana bisa dapat modal atau skill, mbak. Lagi, pula saya yakin, setiap orang sebenarnya sudah punya modal (ingat modal tak selalu uang) dan skill, tinggal mengasah dan menggunakannya.

    UN:F [1.6.9_936]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    UN:F [1.6.9_936]
    Rating: 0 (from 0 votes)
  3. mery Says:

    Aku juga mau kaya raya, tapi gak terkenal. Kalo aku nyumbang kepanti asuhan, gak perlu diliput wartawan. Dan aku mau jalan kemanapun bebas, juga gak mau digosipin.

    UN:F [1.6.9_936]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    UN:F [1.6.9_936]
    Rating: 0 (from 0 votes)

Leave a Reply

Comment moderation is enabled. Your comment may take some time to appear.

Motivasi Dunia

Motivasi Dunia

Kolomnis

<
Edy Zaqeus Eni Kusuma Avanti Fontana Alexandra Dewi Miranda Suryadjaja Sofa Nurdiyanti
Anang Y.B. Hartati Nurwijaya Aleysius H. Gondosari Sulmin Gumiri Relon Star Sri Budiastuti
Agus Riyanto Iftida Yasar Fida Abbott Ery Prasetyawan Tanenji Ingrid Gunawan
Maria Saumi Ely Susanti Agung Praptapa Putu Adnyana Fita Irnani Nathalia Sunaidi
M Sebastian Wijaya Abdul Muid Badrun Kak Sugeng Akhmad Sirodz Lisa Nuryanti Abidin Noor
Wuryanano Petriza Giovanni Amelia Devina Tri Wahyuni Endang Setyati Vina Tan
Lianny Hendranata Emmy Angdyani Erawati E. Setyo Hartono Fatma Kartika Sari Supandi Radinal Mukhtar Harahap
Sawali Tuhusetya Gatut Heru Susanto Effendi Budi P. Fajar S. Pramono Ade Asep Syarifuddin Melly Kiong
Guntur Novizal Ida Rosdiana Natapermadi Risfan Munir Sri Julianti Sawiji Farelhana Dewi Rhainy
Deni Kurniawan As’ari Johanes Ariffin Wijaya Indari Mastuti Enggar Kusumaningsiwi Daniel Kurniawan Sayuri Yosiana
A.A. Kunto A. Lina Kartasasmita K. Hanna Fransisca Wahidunnaba Yusuf Tantowi Dwiatmo Kartiko
Meta Sekar Puji Astuti M. Adi Prasetyo Abd. Basid Lily Choo Rina Dewi Lina Berny Gomulya
Zee Cardin M. Iqbal Dawami Sidik Nugroho Emmy Liana Dewi Ridwan Sumantri Dwiyana Apriandini
Andrew Abdi Setiawan Gobind Vasdhev J. I. Michell Suharli Yusnita Rifai Gagan Gartika

Check Google Page Rank

Buku Baru

Obrolan yang Bikin Kamu kaya

Judul: Obrolan yang Bikin Kamu kaya
Oleh: Don Gabor
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama, 2009
ISBN: 978-979-22-5073-2
Tebal: xviii + 380 hal

Jangan hanya membangun jejaring luas-berjejaringlah dengan cerdas!
Obrolan yang Bikin Kamu Kaya menyajikan pendekatan baru revolusioner pada topik berjejaring yang tak lekang waktu. Penulis buku laris dan pelatih komunikasi Don Gabor memperkenalkan Anda pada empat gaya berjejaring—Kopetetif, Supel, [...]

Full Story | February 24th, 2010

Best Viewed With Mozilla FireFox