Nasihat dari Mesin Waktu

alexandra dewiOleh: Alexandra Dewi*

Belum lama berselang saya bepergian ke New York dan menyempatkan diri pergi ke toko buku. Dari sekian banyak buku yang saya temui, ada salah satu di antaranya yang isinya mengenai surat yang ditulis oleh wanita-wanita hebat di usia 50 tahun ke atas kepada dirinya sendiri, yang mereka harap bisa dibaca ketika mereka di usia 20 atau 30 tahunan.

Artinya, sejalannya umur kita, tentu kita semua mempunyai pengalaman dan hikmah dari pengalaman kita tersebut. Seandainya hikmah itu sudah kita kuasai dan pahami ketika kita di usia yang jauh lebih muda, kemungkinan besar kita bisa membuat keputusan-keputusan yang lebih bijaksana. Tidak heran orang berkata, “Orang tua pasti lebih bijaksana.” Tentu, saya harus tambahkan di sini, asal orang tersebut mau membuka pikiran dan hati, bahwa perjalanan hidup ada suka dan duka, dan dari situlah kematangan maupun kedewasaan kita terbentuk.

Saya jadi berpikir, apabila saya tahu apa yang saya tahu sekarang di usia pertengahan 30-an, dan seandainya saya ada kesempatan masuk ke dalam mesin waktu, adakah hal-hal yang saya ingin ubah? Setelah saya pikir-pikir lagi, ternyata selain saya hanya akan menggunakan mesin waktu itu untuk tahu saham mana yang harus saya beli (sehingga sudah pasti untung), atau kalau saya ke kasino nomor apa yang saya harus letakkan (sehingga saya pasti menang), atau mungkin cara berbusana saya dan cara tata rambut saya yang zaman jebot (sehingga bikin saya jadi super culun itu) akan saya perbaiki. Lain dari itu, saya tidak banyak ingin mengubah diri saya yang dulu.

Setiap dekade, misalnya usia remaja, saya tentu membuat banyak kesalahan, baik besar maupun kecil. Saya kena peer presure atau tekanan sosial sehingga saya memilih ikut teman-teman ke Dufan daripada ikut les piano. Sekarang, ya saya menyesal jadi tidak bisa main piano. Tetapi, dari situ saya jadi punya memori mengenai bagaimana rasanya punya tekanan sosial, dan bagaimana menghadapinya di usia saya yang sekarang. Bahwa, saya lebih baik memikirkan apa pendapat saya tentang diri saya sendiri daripada pendapat orang lain. Dan, berdamai dengan diri sendiri jauh lebih berharga daripada pengakuan dari orang lain. Karena, kalau hanya itu tok yang saya kejar, maka hidup saya akan jadi sangat njelimet, dan mungkin saya akan stres berat karena we can not please everyone.

Namun, karena saya tidak memahami hal ini ketika saya remaja, tentu saja saat itu saya cukup stres mengenai bagaimana membuat semua orang tidak membenci saya. Padahal sekarang, saya tahu bahwa asal kita berbuat baik dan kalau kita tidak bisa atau belum bisa berbuat baik, minimal kita tidak membuat orang lain susah. Atau lebih parah lagi, jangan sengaja mempersulit orang, maka kita seharusnya sudah merasa damai dengan keadaan kita.

Jadi akhirnya, pengalaman setelah kita dewasa sebenarnya bukan soal keputusan apa yang telah kita ambil itu yang salah. Tetapi, itu soal bagaimana kita menyikapi keputusan yang kita ambil. Saya boleh memilih selesai kuliah di usia 22 tahun, lalu bekerja sementara teman-teman saya masih istilahnya berleha-leha sekolah sampai ada yang di usia 28-29 tahun. Tetapi, attitude yang saya ambil untuk keputusan saya itu tidak saya jalani dengan menggerutu. Bahwa misalnya,Kok, anak orang lain enak bisa sekolah sepuasnya?”, melainkan melihat sisi positifnya, bahwa saya mulai berkarier di usia yang lebih muda dibanding teman-teman saya pada umumnya. Dan, dari sana saya mendapat banyak pengalaman autodidak yang tidak diajarkan di buku atau di sekolah.

Saya boleh menikah di usia 24 tahun dan punya anak di usia 26 tahun, yang mana teman-teman saya pada usia itu umumnya mereka kalau tidak masih sekolah ya masih pacaran. Sementara, saya sudah ribet dan bingung soal bagaimana caranya memimpin perusahaan dan punya anak bayi pada saat yang sama. Saya tidak bisa curhat dengan teman-teman seangkatan saya karena mereka belum mengerti soal bagaimana sih rasanya menikah dan bekerja. Apalagi menikah, bekerja sambil mengasuh bayi. Dan, saya bisa pilih sikap mengasihani diri saya sendiri atau saya pilih enjoy dengan semua kesempatan yang Tuhan berikan kepada saya, yang mana semua ada di depan mata saya.

Saya bisa belajar menjadi dewasa dan saya bisa hargai kesempatan untuk punya pengetahuan yang luas dari dunia bekerja. Dan, saya bisa mendapat serta memberi kasih sayang kepada keluarga baru saya, daripada saya sirik habis dengan teman-teman single saya, yang cerita dengan hebohnya soal bagaimana serunya mereka pergi ke klub atau pergi main ski di Amerika.

So, semua yang terjadi di kehidupan kita, semua adalah pilihan. Pilihan soal bagaimana kita mau menyikapi, pilihan dari sudut pandang mana kita mau melihatnya, dan dari sana kita bisa membentuk suatu kedamaian dari dalam diri kita sendiri. Apakah kita menjalani kehidupan ini dengan penuh semangat positif, atau dihabiskan dengan membanding-bandingkan diri kita dengan orang lain, yang mana selama kita belum menjadi orang itu, kita tidak tahu bagaimana sebenarnya apa yang mereka rasakan.

Ternyata teman-teman saya, walaupun diberi banyak waktu untuk sekolah, mau tidak mau dan suka tidak suka, suatu hari tetap saja harus bekerja dan mengalami segala jenis culture shock. Mereka juga harus belajar menyesuaikan diri dan benar-benar merasakan bagaimana susahnya mencari uang. Lalu, mau menikah di usia 30-an pun tetap melewati segala jenis masalah yang dialami setiap pasangan yang menikah. Lagi-lagi, tinggal bagaimana mereka menyikapinya, apakah mau menyesal karena terlalu lama di sekolahan, atau bersyukur bahwa mereka punya kenangan masa muda yang dijalani sepuas puasnya?

Bagaimana dengan Anda? Seandainya saja sekarang Anda sudah tahu lebih baik tentang banyak hal, dan ada sebuah mesin waktu yang bisa membawa Anda balik ke masa yang Anda inginkan, apakah ada hal-hal yang ingin Anda ubah atau diulang kembali, dengan keputusan-keputusan yang lebih baik?[ad]

* Alexandra Dewi adalah seorang eksekutif sebuah perusahaan, penulis buku Queen of Heart dan co-writer buku I Beg Your Prada. Saat ini sedang menantikan penerbitan bukunya yang ketiga tentang fashion, dan yang keempat tentang kehidupan rumah tangga.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 9.0/10 (2 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +1 (from 1 vote)

2 Responses to “Nasihat dari Mesin Waktu”

  1. mery Says:

    Bener dan bagus yg cici alexandra tulis ini:) mesin waktu pinjam sama doraemon aja+_+ aku ingin begini aku ingin begitu*_* u are the best(”,)

    UN:F [1.6.9_936]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    UN:F [1.6.9_936]
    Rating: 0 (from 0 votes)
  2. Toggog Says:

    Anda benar dengan sikap untuk mengambil segala yang sudah terjadi sebagai suatu anugrahNya.

    Bila ada masa lalu yang anda sesali, maka ide untuk mengubahnya dengan mesin waktu itu akan menegasikan sikap anda tadi.

    Bila anda dapat melihat kesalahan anda, bukankah itu juga anugrah?

    Anda benar bahwa yang paling penting adalah berbuat baik kepada sesama. Tapi tentu kebaikan menurut standar Tuhan bukan. Maka anda akan berbuat bersamaNya. Dan hasilnya pun ditanganNya.

    UN:F [1.6.9_936]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    UN:F [1.6.9_936]
    Rating: 0 (from 0 votes)

Leave a Reply

Comment moderation is enabled. Your comment may take some time to appear.

Motivasi Dunia

Motivasi Dunia

Kolomnis

<
Edy Zaqeus Eni Kusuma Avanti Fontana Alexandra Dewi Miranda Suryadjaja Sofa Nurdiyanti
Anang Y.B. Hartati Nurwijaya Aleysius H. Gondosari Sulmin Gumiri Relon Star Sri Budiastuti
Agus Riyanto Iftida Yasar Fida Abbott Ery Prasetyawan Tanenji Ingrid Gunawan
Maria Saumi Ely Susanti Agung Praptapa Putu Adnyana Fita Irnani Nathalia Sunaidi
M Sebastian Wijaya Abdul Muid Badrun Kak Sugeng Akhmad Sirodz Lisa Nuryanti Abidin Noor
Wuryanano Petriza Giovanni Amelia Devina Tri Wahyuni Endang Setyati Vina Tan
Lianny Hendranata Emmy Angdyani Erawati E. Setyo Hartono Fatma Kartika Sari Supandi Radinal Mukhtar Harahap
Sawali Tuhusetya Gatut Heru Susanto Effendi Budi P. Fajar S. Pramono Ade Asep Syarifuddin Melly Kiong
Guntur Novizal Ida Rosdiana Natapermadi Risfan Munir Sri Julianti Sawiji Farelhana Dewi Rhainy
Deni Kurniawan As’ari Johanes Ariffin Wijaya Indari Mastuti Enggar Kusumaningsiwi Daniel Kurniawan Sayuri Yosiana
A.A. Kunto A. Lina Kartasasmita K. Hanna Fransisca Wahidunnaba Yusuf Tantowi Dwiatmo Kartiko
Meta Sekar Puji Astuti M. Adi Prasetyo Abd. Basid Lily Choo Rina Dewi Lina Berny Gomulya
Zee Cardin M. Iqbal Dawami Sidik Nugroho Emmy Liana Dewi Ridwan Sumantri Dwiyana Apriandini
Andrew Abdi Setiawan Gobind Vasdhev J. I. Michell Suharli Yusnita Rifai Gagan Gartika

Check Google Page Rank

Buku Baru

Obrolan yang Bikin Kamu kaya

Judul: Obrolan yang Bikin Kamu kaya
Oleh: Don Gabor
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama, 2009
ISBN: 978-979-22-5073-2
Tebal: xviii + 380 hal

Jangan hanya membangun jejaring luas-berjejaringlah dengan cerdas!
Obrolan yang Bikin Kamu Kaya menyajikan pendekatan baru revolusioner pada topik berjejaring yang tak lekang waktu. Penulis buku laris dan pelatih komunikasi Don Gabor memperkenalkan Anda pada empat gaya berjejaring—Kopetetif, Supel, [...]

Full Story | February 24th, 2010

Best Viewed With Mozilla FireFox