Move Forward or Keep Quiet
Editor | Kolom Tetap | May 4th, 2009
Oleh: Fita Irnani*
Anda tentu pernah mendengar atau justru pernah mengalami sendiri, proses pergantian pemimpin dalam suatu organisasi. Berita mutakhir saat ini adalah proses pergantian pemimpin di negara kita, namun saya tidak akan berbicara mengenai pergantian pemimpin dalam konteks kenegaraan. Bahasan saya kali ini lebih berfokus pada pergantian pemimpin dalam suatu lembaga atau organisasi perusahaan karena kebetulan, saya berkesempatan menyaksikan terjadinya perubahan pemimpin berikut perilaku orang-orang dalam organisasi tersebut.
Suatu ketika, manajemen perusahaan tempat saya bekerja memutuskan melakukan perubahan pimpinan pada salah satu divisi di perusahaan. Alasan utamanya adalah di samping karena pejabat lama memilih hengkang untuk berbisnis sendiri, juga karena manajemen berupaya untuk melakukan perbaikan performance divisi tersebut.
Tentu saja dengan masuknya pemimpin baru, memunculkan reaksi beragam dari sejumlah karyawan. Hal yang tidak aneh, karena datangnya pemimpin baru akan dilekati dengan sistem kerja dan gaya memimpin yang juga baru. Bagi sebagian karyawan kondisi ini akan menjadi ajang pembuktian prestasi dan kesempatan untuk meningkatkan nilai diri. Namun, bagi sebagian yang lain, hal ini berarti ancaman terhadap ‘kenyamanan’ yang tengah mereka nikmati.
Setelah satu-dua bulan melakukan observasi kinerja dan sistem kerja warisan lama, si pimpinan mulai melakukan pengenalan sistem dan gaya kerja yang baru. Perbaikan target kerja yang dituangkan dalam KPI (Key Performance Indicator) pun dilakoni, tidak lagi pencapaian target yang sekadar meet tetapi juga digenjot menuju exceed performance.
Kedisiplinan menjadi nomor satu. Pukul 08.30 pagi, tidak lagi menjadi jam ‘masuk kerja’, namun menjadi jam ‘siap kerja’, membiasakan regular meeting dengan titik berat pertemuan semua bagian, ‘duduk sama-sama’ membeberkan permasalahan sekaligus memamerkan ‘kesuksesan’ tiap bagian, serta perumusan the best solution untuk permasalahan yang dihadapi. Tentu saja, pendekatan pribadi terhadap karyawan juga menjadi prioritasnya. Memperlakukan bawahan layaknya teman, membiarkan karyawan melemparkan opini, membuka tangan lebar-lebar untuk semua ketidaktahuan, dan bijak memberikan revisi.
Pada dasarnya semua karyawan berkeinginan untuk maju, atau berubah ke arah yang lebih baik. Tidak ada orang yang ingin hidupnya mundur, semuanya ingin sukses, semuanya ingin exceed. Namun, di sinilah duduk permasalahannya. Untuk mencapai kesuksesan tentunya akan banyak menemui hambatan. Mana ada kesuksesan semudah membalikkan telapak tangan.
Menyikapi hal ini, ternyata ada kelompok yang berani menghadapi hambatan-hambatan tersebut, namun ada juga kelompok yang justru dibayangi oleh ‘rasa takut’, misalnya:
- Takut mengambil risiko
- Takut menerima tanggung jawab yang lebih besar
- Takut bergesekan dengan bagian lain
- Takut load kerjanya bertambah banyak
- Takut gagal
- Takut disalahkan, dan sebagainya.
Namun di sisi lain, dalam diri dua kelompok tersebut sebenarnya juga memiliki motivasi berupa ‘rasa ingin’, misalnya:
- Ingin naik gaji
- Ingin mendapat promosi ke jenjang yang lebih tinggi
- Ingin mendapat bonus lebih besar
- Ingin menyelesaikan pekerjaan dengan baik
- Ingin berprestasi
- Ingin bekerja sesuai deadline, dan sebagainya.
Namun pada kenyataannya, orang sering kali gagal memperoleh “keinginannya” karena terbelenggu oleh “rasa takutnya”. Sebagai contoh: Pimpinan memberikan tugas untuk menyelesaikan suatu project pada Anda, dan harus selesai dalam waktu satu minggu. Dalam realisasinya Anda menemukan banyak kendala sehingga “rasa takut” mulai muncul. Dalam kondisi seperti ini, apa yang akan Anda lakukan?
Kelompok I: Keep Quiet (rasa takut > rasa ingin)
Kelompok ini akan cenderung menarik diri ke wilayah yang aman, berusaha menghindar dari konflik, menghindar untuk mengambil keputusan, dan menjadikan faktor external sebagai alasan atas kegagalannya. Rasa takut untuk keluar dari zona nyamannya lebih besar dibandingkan keinginan menyambut perubahan. Beberapa pernyataan di bawah ini akan terdengar familiar dilontarkan oleh kelompok ini:
“Maaf Pak, bagian lain kurang support.”
“Maaf Pak, saya tidak tahu batas otoritas saya.”
“Maaf Pak, bukan dalam kapasitas saya untuk menyelesaikan masalah tersebut.”
“Maaf Pak, waktunya tidak cukup.”
“Maaf Pak, sudah saya sampaikan melalui e-mail tetapi belum ada tanggapan dari Bapak.”
“Maaf Pak, takut Bapak marah jadi saya putuskan menunggu.”
Kelompok II: Move Forward (rasa ingin > rasa takut)
“Rasa ingin”-nya yang tinggi akan menarik kelompok ini keluar dari wilayah amannya. Tekadnya kuat untuk memberikan yang terbaik, selalu berinisiatif, dan tidak gentar mencoba. Orang-orang dalam kelompok ini selalu mencari jalan keluar pada saat menemukan masalah dan tidak berhenti di satu titik. Sakit, capai, kerja lembur, ditegur, dimarahi, atau bahkan dipecat adalah risiko yang siap ditanggung oleh mereka.
Contoh statement dari kelompok ini adalah:
“Maaf Pak, untuk project yang Bapak berikan telah saya selesaikan tepat waktu, namun konsepnya agak berubah. Saya sudah berusaha menghubungi Bapak melalui e-mail, juga berusaha menghubungi melalui SMS dan telepon, namun tidak pernah berhasil. Kemudian saya ambil inisiatif berkonsultasi ke bagian terkait, meminta saran ke pihak internal, dan akhirnya saya memutuskan option yang terbaik. Bila saya dianggap salah, saya bersedia menerima risikonya.”
Orang-orang yang berada dalam kelompok ini memiliki perilaku kesuksesan yang lebih unggul dibanding kelompok pertama. Hebatnya lagi, beberapa orang dalam kelompok ini, yang semula adalah orang biasa-biasa, ternyata berhasil menunjukkan prestasi kerja yang signifikan.
Jika saat ini Anda seorang karyawan, di kelompok manakah Anda? Atau, mana yang akan Anda pilih? Move Forward or Keep Quiet?[fi]
* Fita Irnani lahir di kota Semarang, 13 Juni 1975. Sulung dari tiga bersaudara ini menghabiskan masa kecil hingga SMA di kota kelahirannya. Alumnus workshop Proaktif “Cara Cerdas Menulis Buku Bestseller” Batch VIII, Februari 2009 ini menetap di kota Bogor, dan saat ini bekerja sebagai HR Executive pada sebuah perusahaan multinasional yang berkantor di kawasan Sudirman. Fita dapat dihubungi melalui pos-el: acho_fit[at]yahoo[dot]co[dot]id.
May 7th, 2009 at 5:40 pm
Setuju sekali. Menarik dan bisa membangkitkan motivasi kerja. Hal yang terkadang saya lakukan dan tercatat sebagai kesalahan saya. Kita harus bisa melawan ini untuk meraih kesuksesan, memang susah terkadang untuk dilaksanakan. Tapi tidak ada kata tidak untuk mendapatkan sesuatu apabila dilandasi keinginan untuk orang lain(keluarga dll). Dengan sukses kita pasti akan bisa membantu lebih banyak orang(tidak hanya keluarga).
May 9th, 2009 at 11:27 pm
Formulasi yang cerdas. Sederhana tapi komprehensif. Move forward!