Momentum Sukses
Editor | Kolom Tetap | August 25th, 2009
Oleh: Sulmin Gumiri*
“Karena momentum mengandung dimensi massa dan kecepatan,
maka prestasi besar hanya akan bisa kita capai apabila kita bisa
mempertahankan kedua dimensi tersebut.”
~ Sulmin Gumiri
Kata momentum sering sekali kita dengar dalam percakapan sehari-hari. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia ada dua pengertian momentum. Dalam bahasa umum momentum diartikan sebagai saat yang tepat (untuk melakukan sesuatu), sedangkan dalam Ilmu Fisika kata ini juga digunakan sebagai sebuah besaran yang merupakan hasil kali dari massa dan kecepatan gerakan sebuah benda. Dari kedua pengertian tersebut, momentum memiliki tiga dimensi yaitu waktu, bobot, dan kecepatan. Ketiga dimensi tersebut sangat lekat dengan rahasia kesuksesan seseorang.
Dalam menjalani kehidupan ini ada kalanya kita memiliki semangat yang luar biasa untuk melakukan suatu pekerjaan. Semangat ini biasanya timbul setelah kita termotivasi karena melihat prospek hasil dari pekerjaan yang ingin kita lakukan tersebut. Pemahaman kita tentang prospek yang menjanjikan itu biasanya kita dapatkan melalui proses perenungan sendiri atau juga dari hasil interaksi kita dengan orang lain. Saya sendiri pernah merasakan semangat yang luar biasa untuk segera memulai menulis setelah mengikuti Proaktif Training: Cara Mudah Menulis Buku Bestseller bulan Desember tahun 2008 yang lalu. Saking termotivasinya saya waktu itu, saya benar-benar tidak percaya ketika saya mampu menulis artikel sepanjang 50 halaman hanya dalam waktu tiga hari saja, sejak hari pertama pelatihan tersebut. Pencapaian luar biasa yang saya hasilkan waktu itu hanya dimungkinkan karena saya memiliki momentum.
Dari contoh kasus di atas, kita dapat menarik pelajaran bahwa pencapaian-pencapaian luar biasa dalam hidup ini hanya dapat kita raih kalau kita memiliki momentum. Sayangnya, momentum tersebut jarang datang sendiri kepada kita. Ia harus dicari atau diciptakan. Dan setelah kita mendapatkannya, yang tidak kalah pentingnya adalah tetap mempertahankan momentum tersebut untuk mencapai target yang telah kita tetapkan.
Bahan mentah pertama untuk menciptakan momentum adalah keinginan untuk selalu tumbuh dan berkembang. Keinginan untuk selalu berubah ke arah yang lebih baik ini akan menjadikan kita sebagai pribadi yang selalu haus untuk belajar. Dengan perasaan yang senantiasa haus belajar berarti kita telah menciptakan ladang yang subur di dalam diri kita sebagai tempat bertumbuhnya segala macam benih ide-ide kreatif yang ingin kita lakukan untuk memperbaiki kualitas diri kita. Dengan melimpahnya beraneka ragam benih ide kreatif tersebut maka yang kita perlukan berikutnya adalah ramuan kedua yang berupa faktor eksternal yang akan mentriger ide-ide tersebut supaya benar-benar tumbuh menjadi sebuah kenyataan.
Pergolakan pemikiran untuk segera mewujudkan ide kreatif menjadi tindakan nyata akan membawa kita kepada suatu petualangan untuk mencari sesuatu di luar sana, yang bisa memicu kita untuk segera mewujudkan keinginan kita tersebut. Dalam kondisi ini, pertanyaan yang selalu berkecamuk dalam pikiran kita adalah, “Bagaimana cara memulainya?” Pengalaman saya, ketika tiba pada kondisi ini, mulailah saya menjadi penguping pembicaraan orang lain dengan harapan, siapa tahu dari apa yang mereka bicarakan itu saya bisa mendapatkan jawaban atas pertanyaan di atas.
Atau, saya akan segera teringat kepada deretan buku-buku di lemari dan membolak-balik kalau-kalau ada tulisan yang membahas tentang apa yang saya pikirkan. Yang lain, saya segera menghidupkan komputer dan mencari informasi tentang jawaban pertanyaan tersebut di dunia maya melalui jaringan internet. Cara terakhir inilah yang menyebabkan saya mengetahui bahwa ada cara untuk bisa menjadi penulis, yaitu dengan mengikuti pelatihan menulis buku bestseller yang diselenggarakan oleh para penulis berpengalaman di negeri ini.
Setelah kita mendapatkan jawaban bagaimana cara memulainya, maka tindakan selanjutnya yang harus kita lakukan adalah “bersegera” untuk mewujudkannya. Anda bisa bayangkan, betapa besarnya energi yang akan tercipta dalam diri kita jika terjadi kombinasi antara keinginan yang sangat besar untuk mewujudkan ide kreatif yang akan meningkatkan kualitas diri, dengan tersedianya kesempatan untuk mewujudkannya. Karena kita sudah menemukan kondisi “inilah saat yang tepat untuk mengerjakannya”, artinya kita sudah menciptakan momentum.
Begitu mendapat momentum, saya yakin tidak ada satu hal atau satu orang pun yang bisa menghalangi kita untuk segera bertindak. Keyakinan diri bahwa “sekaranglah saatnya” akan membuat kita memiliki semangat yang membara, tidak ubahnya seperti murid-murid perguruan shaolin yang siap melakukan apa saja yang diajarkan gurunya demi tercapainya cita-cita untuk menjadi seorang kungfu master.
Meskipun momentum dapat diciptakan, sayangnya ia juga bisa menghilang dalam diri kita. Sebagian dari kita mungkin mengalami masa di mana kita sangat menggebu-nggebu pada saat awal melakukan suatu pekerjaan, tetapi kemudian menjadi loyo dan tidak bersemangat untuk menyelesaikan pekerjaan tersebut dengan tuntas. Akhirnya, kita kecewa karena tidak mendapatkan hasilnya. Di dunia pendidikan, banyak mahasiswa yang mengalami persoalan kehilangan momentum ini. Saat lulus SMA mereka begitu bersemangat melanjutkan kuliah ke perguruan tinggi. Tetapi, setelah kuliah dijalani beberapa tahun, tiba-tiba semangat mereka menjadi kendor dan akhirnya mereka memutuskan untuk tidak menyelesaikan kuliahnya.
Kalangan penulis pun tidak luput dari ancaman kehilangan momentum. Pada awalnya, mereka mungkin begitu termotivasi dan berkomitmen untuk menulis buku. Tetapi, seiring dengan makin bertambahnya naskah yang telah ditulis, ada-ada saja yang mengalihkan perhatian mereka sehingga mereka terjebak untuk menunda-nunda atau bahkan akhirnya memutuskan untuk tidak melanjutkan penulisan naskah tersebut hingga selesai menjadi sebuah buku.
Jika momentum sangat penting untuk menghasilkan prestasi luar biasa, maka yang harus kita pelajari adalah keterampilan menciptakan momentum, dan kemudian mempertahankannya hingga menghasilkan sebuah prestasi besar yang kita cita-citakan. Untuk menciptakan momentum kita harus membuka diri selebar-lebarnya sebagai tempat berkembangnya benih-benih ide kreatif untuk mengembangkan kualitas diri kita. Setelah itu, cari orang lain atau mentor yang bisa membantu kita untuk segera memulai mewujudkan ide-ide besar tersebut. Begitu kita mulai bersemangat melakukaannya, maka yang harus kita lakukan selanjutnya adalah senantiasa menjaga momentum tersebut agar kita bisa menyelesaikan pekerjaan tersebut sampai tuntas.
Karena momentum mengandung dimensi massa dan kecepatan, maka prestasi besar hanya akan bisa kita capai apabila kita bisa mempertahankan kedua dimensi tersebut. Kegagalan sering terjadi hanya karena kita kehilangan bobot motivasi atau karena adanya godaan yang membuat kita berhenti di tengah jalan. Karena itu, pertahankan momentum dengan selalu memotivasi diri dan menjaga konsistensi untuk terus maju menuju kepada penyelesaian dari apa yang sudah kita mulai. Motivasi bisa selalu diperbaharui dengan mendekatkan diri kepada sang mentor. Menjaga hubungan dengan mentor ini bisa kita lakukan baik dengan melakukan komunikasi langsung dengan mereka, atau melalui karya-karya mereka, baik melalui tulisan maupun lisan. Membiasakan diri untuk selalu membaca buku dan mendengar kaset motivasi merupakan cara tidak langsung kita untuk selalu menjaga hubungan dengan mentor.
Sama seperti motivasi, kecepatan juga bisa naik turun. Karena itu, untuk dapat mempertahankan momentum maka kita harus menghitung hasil kali dari keduanya. Pada saat kecepatan berkurang, pertahankan momentum dengan memperbesar motivasi. Sebaliknya, pada saat motivasi menurun kita harus terus berusaha untuk selalu bergerak maju. Yang tidak boleh sama sekali adalah berhenti total. Jika berhenti total berarti kecepatan kita bernilai nol, dan sebesar apa pun motivasi kita tetap saja momentum tidak akan bisa dipertahankan karena apa saja yang dikalikan dengan nol hasilnya tetap akan nol.
Ibarat mendorong truk, sekali kita berhenti, maka sangat berat untuk membuatnya berjalan kembali. Jadi untuk sukses, yang kita perlukan adalah stick always to your mentor and never give up. Teruslah bergerak maju dan selesaikan setiap pekerjaan yang telah kita mulai. Salam sukses![sg]
* Sulmin Gumiri adalah seorang pendidik, peneliti, dan profesor di Universitas Palangka Raya. Peraih predikat dosen terbaik di kampusnya tahun 2006 ini memperoleh gelar MSc. dari Nottingham University, Inggris, dan gelar Ph.D. dari Hokkaido University, Jepang. Pria disiplin dan pekerja keras ini memiliki hobi membaca buku, gardening, dan bermain tenis. Baru-baru ini ia mulai menapaki hobi barunya sebagai penulis buku-buku populer. Sulmin dapat dihubungi melalui pos-el: sulmin[at]upr[dot]ac[dot]id atau sulmingumiri[at]yahoo[dot]com.
August 27th, 2009 at 8:50 pm
Halo pak Sulmin,
Formula yg hebat. Banyak faktor diperlukan untuk menjaga ‘kesegaran’ momentum. Setuju dengan Bapak bahwa godaan kerap muncul dan menghentikan kita ditengah, karena setiap harinya kita akan selalu bertemu dengan banyak pilihan.
Pilihan yang paling mudah, cepat dan nikmat yang ’sesaat’ adalah godaan terbesar yang biasanya menjadi pilihan kita. Tanpa disadari pada saat inilah kita mulai jauh dari momentum.
September 3rd, 2009 at 11:53 am
betul pak …. saya setuju 100%. saya memang hanya ingin menulis tetapi lupa memanfaatkan momentum untuk mulai merealisasikan mimpi indah tersebut. terima kasih atas ide briliannya!
October 6th, 2011 at 6:15 am
ayo ciptakan momentum
dan jangan sia-siakan momentumyang telah tercipta
segera tindak lanjuti, sebelum momentumitu hilang
lebih cepat lebih baik