Mitos-mitos Hidup Lajang
Editor | Kolom Lepas | September 1st, 2009
Oleh: Andrew Abdi Setiawan*
Apakah hidup lajang itu mengerikan sehingga patut dihindari semua orang? Saya kira, bagi kebanyakan orang, hidup lajang memang hal yang mengerikan. Mengapa demikian? Salah satunya karena mereka termakan oleh beberapa mitos yang sudah berurat berakar dalam budaya kita. Meskipun mitos diartikan sebagai sebuah kepercayaan yang tidak benar, namun toh masyarakat tetap menerimanya.
Beberapa mitos tentang hidup lajang, antara lain: Pertama, melajang artinya tidak sempurna. Masyarakat cenderung memercayai bahwa orang yang menikah adalah orang yang mencapai kesempurnaan. Bagi mereka, adalah lebih baik menikah ketimbang tidak menikah. Apalagi dalam dunia kekristenan, kita sering mendengar ayat terkenal yang mengatakan, “Tidak baik kalau manusia itu seorang diri saja.” Dan entah mengapa, ayat ini sering dikhotbahkan dalam konteks kebaktian pernikahan. Akhirnya, ayat tadi dimengerti sebagai perintah Allah agar semua orang menikah. Itulah sebabnya, bukan hanya masyarakat di luar gereja, tetapi warga gereja pun juga percaya bahwa hidup melajang akan membuat pribadi seseorang tidak sempurna.
Kedua, orang lajang adalah orang yang aneh atau bermasalah. Tidak jarang orang berpikir bahwa orang lajang adalah orang yang tidak lolos seleksi. Maksudnya, orang lajang mungkin sudah beberapa kali menjalin relasi namun toh tidak bisa melanjutkan ke jenjang pernikahan. Dari sini orang-orang berpikir mengapa ia tidak kunjung menikah setelah beberapa kali pacaran; lalu orang-orang mulai mengaitkan dengan kepribadiannya. Mereka menduga-duga bahwa orang lajang adalah orang yang memiliki kepribadian bermasalah sehingga tidak ada orang yang mau menikahinya. Ia adalah orang aneh di dunia ini.
Ketiga, orang lajang adalah orang yang tidak kompeten. Sebagian orang menganggap bahwa pernikahan itu seperti sebuah permainan yang membutuhkan keahlian. Mereka yang menikah dianggap berhasil menunjukkan keahlian dalam memilih dan mengikat pasangannya. Biasanya, anggapan ini lebih ditujukan kepada kaum Adam. Dalam permainan pernikahan, pria berperan sebagai pemburunya, sedangkan wanita adalah target yang diburu. Bila pria tidak menikah sampai masa tuanya, maka ia dianggap tidak kompeten untuk memburu wanita. Dengan kata lain, ia tidak kompeten dalam menjalin relasi dengan wanita.
Keempat, orang lajang adalah orang yang sulit untuk membina keintiman. Oleh karena pernikahan dipercaya sebagai hasil perjumpaan dua insan yang memiliki kedekatan emosi, maka tidak jarang orang lajang dianggap sebagai pribadi yang sulit untuk membina keintiman. Masyarakat berpikir bahwa orang lajang adalah individu yang takut menjalin kedekatan emosi, khususnya dengan teman-teman lawan jenis.
Kelima, orang lajang adalah orang yang egois. Cukup banyak orang di sekitar kita berpikir bahwa orang lajang adalah orang yang tidak mau berbagi hidup dengan orang lain. Orang seperti ini terlalu berfokus pada dirinya sampai-sampai ia tidak ingin berbagi kasih dengan orang lain, termasuk teman-teman lawan jenisnya. Misalnya, ada orang yang tidak mau menikah demi meneruskan karier atau ambisi pribadinya. Kepada orang inilah, label egois diberikan. Biasanya, mitos ini sering ditujukan kepada kaum Hawa.
Keenam, orang lajang adalah orang yang kesepian. Tidak jarang orang berpikir bahwa orang yang melajang adalah orang yang paling kesepian di dunia ini. Seolah-olah ia tidak memiliki siapa-siapa untuk berbagi cerita atau untuk menolong dirinya bila ia dalam kesusahan. Atau, siapakah yang menemani sisa hidup di masa tuanya? Rasanya, orang seperti ini hidup dalam keadaan yang mengenaskan. Itulah sebabnya, waktu saya menikah ada sebuah lagu yang pernah dinyanyikan oleh seorang penyanyi cilik. Cuplikan lagunya demikian: “Takkan mungkin kita bertahan, hidup dalam kesendirian.”
Setidaknya keenam mitos di atas sudah cukup membuat nada miring terhadap orang-orang lajang. Rasanya betapa mengerikan dan memalukan hidup lajang itu. Tidak heran bila semua mitos tadi memberikan dampak negatif pada beberapa pihak. Pihak orang tua, misalnya, akan merasa khawatir bila anaknya (terlebih khusus wanita) tidak kunjung menikah. Sampai-sampai orang tua turut sibuk mencarikan jodoh buat anaknya. Seakan-akan mereka tidak rela meninggalkan dunia ini sebelum melihat semua anaknya menikah. Sedangkan, pihak pria atau wanita lajang sendiri juga menerima dampak negatif. Tidak jarang mereka akhirnya merasa minder dengan dirinya. Mereka merasa ada sesuatu yang salah dengan kepribadiannya. Akibatnya, ada sebagian orang lajang yang merasa tertekan/stres dengan status lajangnya.
Padahal, ingat ini hanyalah MITOS! Sebuah kepercayaan yang tidak sepenuhnya benar. Waspadalah… waspadalah, kawanku![aas]
* Andrew Abdi Setiawan, seorang rohaniwan di kota Surakarta. Ia sedang menggeluti pelayanannya sebagai seorang WTC—writer, trainer/teacher, counselor. Tulisan “Mitos-mitos Hidup Lajang” tadi merupakan salah satu cuplikan dari sebuah buku saku yang segera diterbitkan oleh Penerbit Kanisius dalam waktu dekat. Selain itu, lewat Penerbit Kanisius, ia sudah menerbitkan buku tentang spiritualitas Kristen dalam Lebat tetapi Tak Berbuah. Untuk berhubungan lebih lanjut, silakan kirim pos-el ke: becomingwtc[at]gmail[dot]com

Leave a Reply