Minta Amnesia
Editor | Kolom Tetap | July 28th, 2009
Oleh: Alexandra Dewi*
Mulai dari buku saya yang kedua Queen of Heart: Kartu Andalan untuk Memenangkan Hati Pria Idaman, hingga buku lanjutannya Heart inside the Heart: Apa yang Perlu Diketahui Wanita sebelum Menikah, Selingkuh atau Bercerai, pertanyaan yang paling banyak saya dapat dari pembaca adalah: “Bagaimana caranya saya melupakan orang ini?”
Kasus soal cinta yang tidak kesampaian dan kandas atau soal hubungan yang tidak bisa dilanjutkan ini ternyata membuat orang menjadi kecewa, trauma, sakit hati, dan lain sebagainya. Orang sering meremehkan masalah perasaan, cinta, dan hati. Padahal saya yakin, kalau orang patah hati, hanya the brave, the strong willed, dan orang yang minta kekuatan iman dari Tuhan saja yang bisa survived.
Baru-baru ini negara kita kena bom. Saya yakin kalau tukang bomnya sedang patah hati atau sedang jatuh cinta, bomnya tidak jadi karena yang tukang bom kalau sedang jatuh cinta tidak bakalan mau repot-repot membuat bom. Sebab, dia bakalan sibuk pacaran, sedangkan kalau si tukang bom sedang patah hati, dia akan terlalu lemas dan tidak ada semangat bikin bom. Tetapi, kalau si tukang bom sungguh-sungguh patah hati dan patah semangat, saya enggak heran jika dia mau bawa bom dan bunuh diri, karena judulnya “udah ogah hidup”.
Saya sungguh tidak becanda dalam hal satu ini. Patah hati saja sudah lemas, tetapi itu masih OK kalau tidak dibarengi dengan patah semangat. SEMANGAT. Suatu kata yang Papa saya bilang, “Dewi, kamu boleh kehilangan segalanya asal kamu tidak hilang semangat!” Sehingga, yang namanya semangat saya enggak mau tahu bagaimana caranya, saya pelihara itu seperti saya memelihara kulit saya atau memelihara kesehatan saya. Pokoknya biar bagaimanapun, saya berdoa “Tuhan, apa gunanya kalau aku hilang semangat dan mati suri, bagaimana aku bisa menjadi alat-Mu?”
Bohong kalau saya bilang tidak ada “one of those days“ yang rasanya saya malas, lemas, tidak ada semangat untuk ngapa-ngapain. Bohong kalau saya tidak kena penyakit malas. We all just human and its OK to have one of those days. Tetapi, setelah saya menggeret pantat saya ke kamar mandi sambil mengimani bahwa kalau Tuhan masih kasih saya suruh bangun hari ini, berarti Dia belum selesai dengan saya. Tentu ditambah dengan memasang lagu Kek Apa Kek, dan yang paling menolong buat saya adalah teman-teman baik saya. Mereka tahu apa yang saya rasakan karena saya ceritakan apa adanya, dan akhirnya saya menertawakan segala kelemahan, kelemasan, dan apa pun ciri khas manusia yang hidupnya penuh dinamika.
Saya tidak bisa membayangkan orang yang tidak punya sahabat sejati itu akan seperti apa rasanya. Kenalan saya, kalau ketemu saya enggak tahu basa-basi atau apa, suka memuji bahwa saya awet muda. Dan, resep orang dulu bilang bahwa tertawa bikin awet muda itu mungkin ada benarnya juga (di samping saya spend a fortune on my skin), dan kebetulan saya usaha di bidang makanan kesehatan. Tetapi, saya punya habit menertawakan masalah dan diri saya sendiri (Dan, kadang tentu menertawakan orang lain).
Menangis juga sangat diperbolehkan. Kalau kita kehilangan orang yang kita cintai, sayangi, baik karena yang bersangkutan dipanggil Tuhan atau meninggalkan kita, monggo, Anda disilakan menangis. Sangat diizinkan untuk berkabung! Wong di perusahaan dan peraturan tenaga kerja saja ada izin cuti tiga hari tanpa potongan uang hadir jika ada keluarga yang meninggal. Hm… mungkin kelak ada cuti patah hati juga tiga hari, kali ya? Anyway, apa pun emosinya, mau menangis silakan, mau menertawakan God’s sense of humor juga boleh. Asal: SEMANGAT tetap ada. Lose your heart to love, keep your SEMANGAT to you!
Kembali ke pertanyaan klasik: “Mbak Alexa, bantu saya Mbak. Bagaimana caranya supaya saya normal kembali dan bisa melupakan…?” Yang dimaksud pembaca di sini kadang soal melupakan orang yang menyakiti mereka atau melupakan soal kejadian pacar, suami, atau istri yang ketahuan selingkuh.
Karena saya sendiri pernah sakit hati, dan saya pernah patah hati, saya tidak akan mengeluarkan jawaban-jawaban mengesalkan dan membosankan seperti; “Time heals” atau “Aduh, cowok berengsek begitu saja dipikirin“ atau “Hey, move on!”. Karena, saya yakin pembaca sudah tahu soal itu dan mereka hanya bertanya soal “ How?” atau bagaimana?
Akhirnya, saya menulis soal ini dengan suatu jawaban yang menurut saya layak dicoba: Jangan dilupakan. Biarkan saja. Let it be.
Kenapa malah jangan dilupakan? Karena, Tuhan sudah memberi kita otak, memberi memory atau daya ingat. Ya, mau lupa? Kena amnesia dulu baru bisa lupa. Hal hal ini tidak bisa dilupakan. Sampai mati juga enggak bakalan lupa, teman-temanku….
Justru semakin dipaksa apa yang lumrah, sudah dasar dan intinya diberikan Tuhan, secara tidak langsung kita menentang kehendak Tuhan. Atau, setidaknya menentang pemberian-Nya. Jangan dilupakan, apalagi dipaksakan untuk dilupakan. Apa yang perlu dicoba dilakukan dan masih bisa besar harapan untuk terjadi adalah: Memaafkan dan berdamai dengan keadaan yang terjadi.
Terima saja bahwa kita mencintai orang itu dan orang itu bukan jodoh kita. Terima saja bahwa misalnya kita mencintai orang yang salah. Terima saja bahwa kita dikhianati oleh orang yang kita cintai dan coba pertama; menerima, kedua; memaafkan. Menerima semua akan membuat kita tenang karena kita tidak berontak akan keadaan yang sedang menghampiri kita, let it be. Sedangkan OMG…. Memaafkan itu enak sekali! Kalau kita benci sama orang, saya umpamakan adalah kita menjadi seperti seorang budak. Budak dari sifat tidak bisa memaafkan itu sendiri, atau bahkan budak dari orang yang kita benci.
Ketika kita sedang benci (tes ini sudah saya lihat di berbagai jenis kasus dan orang yang berbeda-beda); mereka mengutuk, memaki, bahkan ada yang mendoakan orang yang mereka benci supaya kena karma! Lha, kena kecelakaan, kena ini dan itu (yang jelek-jelek tentunya), dan tidak jarang yang bela-belain mau ke dukun kalau bisa diguna-gunain atau diapain deh untuk melampiaskan dan menghakimi orang yang menyakiti mereka.
Lalu, saya bertanya kembali: “Lho, katanya CINTA kepada orang itu… kalau cinta beneran, doain dong yang baik-baik, bukan malah dikutuki? Hah! Kadang kata CINTA itu dipakai sembarangan juga. Kalau orang yang katanya kita CINTAI menyakiti kita, bisakah kita memaafkan dia, dan bahkan mendoakan serta mengaharapkan hal baik buat dia, walau apa pun rencana hidupnya tidak melibatkan kita?
SEMANGAT – kalau itu kita masih punya, kenapa takut dia bahagia? Kita pun masih bisa bahagia, mulai dari diri kita sendiri: Maafkan! Jangan remehkan ilmu menerima dan memaafkan. Itu obat yang jauh lebih manjur daripada memaksa otak kita untuk melupakannya.
CINTA—buka definisi dan kamusnya serta artinya, dari berbagai ahli agama saya rasa enggak ada yang mengajarkan bahwa cinta itu artinya membenci. Malah, bukankah diajarkan rasa amarah itu harus pupus sebelum matahari terbenam? Jangan pas matahari terbit lagi, ya marah lagi, malahan dua kali lipat dari hari sebelumnya. Ya, itu dia namanya juga manusia.
Kalau teringat dia terus ya biarkan saja. Yang penting sudah salam damai di dalam hati dan hei, kata orang dulu, kalau jodoh tidak ke mana. Sementara belum jodoh, mendingan hidup damai dan terima saja orang atau kejadian pahit itu apabila masih ada di memori kita. Entar sudah tua, sudah jompo pasti juga lupa sendiri hahaha….[ad]
* Alexandra Dewi adalah seorang eksekutif sebuah perusahaan, penulis buku The Heart Inside the Heart, Queen of Heart, dan co-writer buku I Beg Your Prada. Saat ini sedang menantikan penerbitan bukunya yang keempat tentang fashion. Dewi dapat dihubungi melalui pos-el: inthelalaland[at]yahoo[dot]com.

July 29th, 2009 at 12:37 pm
makasih mbak alexa…
bagus banget artikelnya..
yak saya setuju, boleh patah hati asal tidak kehilangan semangat hidup….
ada kata2 bagus dari seorang teman yang saya sukai,”.. relakan orang yang kausayangi itu pergi. Karena mungkin, ia akan cemerlang dalam ketiadaannya(kahlil gibran)
SEMANGAT!!
July 30th, 2009 at 1:00 am
Benar banget apa yang dibilang cici alexandra, mungkin cici alexandra berjiwa besar dan bisa menerima juga memaafkan. Kalo gitu aku belajar cara cici alexandra aja deh, agar bisa menerima kalo putus ama cowo, kalo gak temenan lagi ama cewe. Gugur 1 tumbuh 1000 hahaha, yesterday its history. Today its a gift, tomorrow its mystery.
July 31st, 2009 at 10:47 am
artikel ini sangat mendidik, setelah saya baca…artikel ini membahasakan kepada saya bahwa saya tidak memiliki hak mutlak atas diri saya, demikian halnya ketika saya akan menjalin suatu hubungan dengan seseorang maka sebelumnya saya harus menyadari bahwa seseorang itu bukanlah hak mutlak milik saya selamanya, bahwa ADA yang mempertemukannya dengan saya untuk mengenal diri saya sendiri melalui pasangan saya. lebih luas lagi…artikel ini memberikan pengertian kepada saya bahwa ketika saya mencubit tubuh saya maka akan terasa sakitnya…rasa sakit itu menyadarkan saya untuk tidak mencubit tubuh diluar tubuh saya. kalaupun saya terlanjur dicubit…maka secepatnya saya akan baca artikel ini sebelum efek cubitan itu menggerogoti fikiran saya. sukses selalu mbak Alexandra…GBU
August 30th, 2009 at 9:48 pm
artikel ini sungguh sngt menggugah hati saya.saya jd teringat akan hidup saya yg jg sperti itu…makasih bnyk ya ci alexandra..GBU