Merawat Inner Motivation
Editor | Kolom Tetap | March 1st, 2009
Oleh: Hartati Nurwijaya*
Ketika saya masih duduk di bangku SD, saya sering mendengar lelucon yang diucapkan oleh beberapa orang asal Sumatra Utara (Sumut). Konon, kebiasaan penduduk di wilayah Labuhan Batu, Sumut, jika ditanya hendak pergi ke mana, maka mereka yang punya gigi emas akan menjawab, “Batang Kuis!” Sedangkan, orang yang bergigi ompong akan menjawab, “Lubuk Pakam.”
Batang Kuis dan Lubuk Pakam adalah nama kota di wilayah Sumut. Maka, lelucon ini selalu populer di wilayah tersebut. Yang punya gigi palsu pamer giginya terbuat dari emas yang tentu saja harganya mahal.
Berkaitan dengan gigi palsu, kedua orang tua saya sudah lama memakai gigi palsu. Sering Ibu saya menggunakan gigi palsunya untuk bercanda denga cucu-cucunya. Tak jarang ditanggalkannya gigi palsu dan terdengar jeritan cucunya, “Hiii… gigi nenek copot!”
Jika saya boleh berpendapat, motivasi seseorang tidak ada bedanya dengan gigi. Motivasi individu perlu digosok, dipamerkan, dan dirawat. Jika Anda tidak peduli, maka motivasi Anda bisa ompong seperti gigi.
Manusia dapat merawat inner motivasinya dengan baik. Pertama, dengan cara menggosoknya dengan ilmu pengetahuan melalui banyak membaca, mengamati, dan menelaah sesuatu tanpa suatu penilaian (no value judgement). Banyak konflik yang terjadi akibat seseorang secara cepat memberi penilaian terhadap suatu masalah.
Contoh mudahnya: jika anak Anda menangis dan mengadu dicubit oleh anak tetangga. Biasanya, Anda akan mudah marah, dan tidak jarang mendatangi tetangga hingga muncul konflik. Jika Anda terbiasa menelaah masalah melalui looking behind the façade, otomatis Anda akan menjadi bijak. Lihat suatu masalah yang timbul melalui latar belakang dan dukungan data yang valid.
Kedua, memamerkan motivasi. Aah, ada-ada saja! Bukankah pamer berarti sombong? Memamerkan motivasi tidak sama artinya seperti orang Sumut yang pamer gigi palsunya yang terbuat dari emas. Anda perlu memamerkan motivasi melalui berbagai produksi. Anda harus berproduksi agar bisa mendapat hasil, pujian, dan kepuasan.
Anda bisa menjadi penulis, konsultan, chef, atlet ataupun menjadi orang tua yang bisa dibanggakan oleh anak-anak Anda. Jika Anda telah menjadi penulis, tanamkan motivasi agar menjadi penulis buku yang laris. Agar menjadi penulis yang dicintai pembaca dan dinanti penerbit untuk menulis buku lainnya.
Ketiga, motivasi harus dirawat. Motivasi layaknya bayi, perlu dirawat dan dijaga. Jika tidak, dia akan mudah terserang penyakit. Motivasi Anda perlu diberi gizi yang baik, diberi vaksin agar kebal penyakit. Biasanya, ancaman danmusuh utama motivasi adalah diri Anda sendiri. Ada saja alasan diri Anda untuk masa bodoh dengan situasi dan kondisi saat ini. Cepat merasa puas, sudah merasa cukup, malas, dan merasa tidak berdaya.
Jaga motivasi agar tidak terserang penyakit dengan melihat cara orang sukses meraih cita-citanya. Baca artikel, buku tokoh, atau biografi orang yang Anda kagumi. Menurut Denis Waitley, dengan membaca biografi tokoh yang sukses, Anda dapat belajar bagaimana mereka bertahan dan mengatasi rintangan hidup.
Jika Anda bukan pemimpin, tidak berarti Anda tidak perlu membaca buku motivasi Tamara Lowe. Jika Anda bukan jutawan, bukan berarti Anda tidak perlu baca buku Donald Trump. Mulai langkah awal Anda menjaga motivasi melalui membaca. Tidak perlu modal banyak untuk membaca. Bacalah![hn]
* Hartati Nurwijaya (41), adalah seorang pemerhati masalah sosial kemasyarakatan dan politik. Ia telah menerbitkan buku Perkawinan Antarbangsa Love and Shock dan Hidangan Favorit Ala Mediterania (Resep Sehat dan Awet Muda). Sejak 2003, alumnus Jurusan Sosiologi, Fisipol, UGM, Yogyakarta ini menetap di Yunani. Ia dapat dihubungi melalui email: tatia41[at]gmail[dot]com.
Leave a Reply