Meraup Kekayaan Lahir dan Batin

ebpOleh: X.L. Effendi B.P.*

Semalam saya kedatangan tamu sebuah keluarga yang belum genap sebulan lalu masih menjadi tetangga saya. Perjumpaan semalam merupakan pertemuan kerinduan. Sebab, saya pribadi merasakan getaran kerinduan yang tak terucap oleh keluarga ini terhadap kami sekeluarga.

Pak Liang alias Koh Sablon–begitu julukannyaadalah teman baru saya ketika itu. Ketika pertama kali bertemu saya, wajahnya tampak kuyu—tidak punya semangat. Betapa tidak, saat itu ia tidak mempunyai pekerjaan. Hidupnya pun sangat bergantung pada istrinya yang membuat kue basah untuk menopang hidup keluarga.

Dalam beberapa kali pertemuan dengannya, saya berkesimpulan bahwa Pak Liang bukanlah tipe orang yang malas. Ia pernah kaya namun jatuh karena salah dalam menjalani gaya hidup. Ketika berjaya, ia berfoya-foya, bahkan nyaris meninggalkan keluarganya demi memuaskan kesenangan pribadinya.

Setelah mendengar dan mencermati perjalanan hidupnya serta menangkap bentuk pertobatannya, saya mencoba membantunya untuk bangkit kembali dengan membangun dasar-dasar kepercayaan dirinya, bahwa ia “BISA!”. Nyaris tanpa kesulitan sedikit pun ketika saya mencoba membantunya bangkit kembali dari keterpurukannya. Karena, ia sangat mendengarkan.

Setelah keyakinan dan semangatnya tumbuh, ia mulai membangun kembali bisnis sablonnya—usaha yang dulu dimilikinya—dengan modal seadanya. Semua pekerjaan ia lakukan sendiri siang dan malam, dari mencari order sampai memproduksinya. Ia gunakan berbagai cara untuk membangun kejayaannya kembali. Perlahan tetapi pasti, ketekunan dan kerja kerasnya memperoleh simpati dari para koleganya sehingga usahanya pun tumbuh dengan baik.

Seiring perbaikan taraf kehidupan duniawinya, hidup spiritualitasnya pun tumbuh subur. Selain menjadi sangat rajin berkomunikasi dengan Tuhannya, ia pun rajin hadir dalam komunitas spiritualitasnya. Ia percaya bahwa Tuhan telah menunjukkan kembali jalannya yang pernah hilang.

Dalam satu kisah, ia pernah mendapatkan order yang sangat besar yang ia tidak pernah duga. Namun, kabar buruknya ia tidak mempunyai modal untuk mengerjakannya. Pak Liang menceritakan perihal order itu kepada pemilik toko kain yang selama ini menjadi tempatnya mendapatkan bahan baku membuat kaos. Ia tidak bermaksud mendapatkan pinjaman dari pemilik toko kain karena disadarinya modal yang dibutuhkan untuk menerima order tersebut sangat besar. Apalagi Pak Liang juga baru kenal si pemilik toko. Bak disambar geledek Pak Liang mendengar pernyataan pemilik toko kain itu, bahwa dia bersedia membiayai proyek tersebut dengan menanggung seluruh modalnya, dengan catatan seluruh bahan baku diambil dari tokonya.

Setelah diyakinkan oleh pemilik toko, Pak Liang langsung menghubungi pemberi order untuk menindaklanjutinya dengan kontrak perjanjian kerja. Rencana kerjanya hanya ada di otaknya. Ia tidak pernah mendapat pelajaran tentang business plan untuk mengoordinasikan setiap detail bagian pekerjaan. Maklum, ia sekolah hanya sampai kelas 5 SD. Di sini pengalamannya sangat berperan untuk menangani proyek tersebut. Dan hebatnya, ia mampu menyelesaikannya jauh lebih cepat dari target yang ditetapkan dalam perjanjian. Itulah yang membuat pemberi order sangat puas dan yang di kemudian hari selalu memakai jasanya—tanpa pernah menawar harganya lagi.

Kepuasan tersebut juga dialami oleh pemilik modal yang membiayai proyek tersebut. Karena, selama mengerjakan pekerjaan tersebut Pak Liang tidak pernah mengambil sepeser pun uang pembayaran progres pekerjaannya. Seluruh pembayaran ia serahkan kepada si pemilik modal. Setelah semuanya selesai, baru Pak Liang menghitung hasil pekerjaan tersebut bersama-sama dengan si pemilik modal. Pemilik modal hanya mengambil pembayaran bahan baku yang telah dipakainya. Selebihnya, yang berupa keuntungan proyek tersebut, diserahkan kepada Pak Liang seluruhnya. Pak Liang sulit percaya dengan berkat yang telah ia terima melalui kebaikan sang pemilik toko.

Sekarang, Pak Liang mengalami pertumbuhan ekonomi yang signifikan. Tidak sedikit orang yang mulanya memandang sebelah mata, sekarang berusaha mendekatinya. Kini, sebuah mobil Kijang Krista sudah ia miliki dan sebuah rumah seharga Rp 400 juta sudah terbeli, lengkap dengan perabotan yang lebih dari memadai. Tingkat kesejahteraannya sudah mapan dan semakin terarah dalam membangun kehidupan rumah tangganya. Saya melihat dia sungguh-sungguh sedang mengalami buah-buah pertobatannya.

Kisah Koh Sablon di atas, bila dikerucutkan sebagai formula suksesnya, menurut saya ada dua hal yang menjadi kuncinya, yakni:

I. Soft Skills:

1. Adaptasi - Kemampuan menghadapi lingkungan; caranya berkomunikasi, dan caranya membangun komunitas dalam berelasi dengan kolega dan partner bisnisnya.

2. Kejujuran - Modal utama untuk membangun kepercayaan. Sebab, dalam dunia bisnis faktor ini sangat penting.

3. Bertanggungjawab – Kesanggupan menerima (konsekuensi)

II. Hard Skills:

1. Kerja Keras – Daya juang melampaui usaha orang rata-rata.

Kemiskinan atau ketidakberdayaan menjadikan seseorang harus bekerja lebih keras. Kerja keras belumlah cukup, masih dibutuhkan ketekunan agar tidak mudah putus asa.

2. Ketekunan – Tidak mudah putus asa.

Ingat! Tidak semua hal yang kita hadapi akan berjalan mulus. Suatu saat jalan yang kita hadapi bisa membuat kita menyerah di tengah perjalanan. Di sinilah ketekunan sangat diperlukan untuk selalu bisa memompakan semangat baru.

Sifat-sifat tersebut sangat lekat pada para pebisnis sukses atau orang-orang yang sangat berhasil dalam mencapai cita-cita hidupnya. Tidak banyak orang yang mampu meraup kekayaan lahir dan batin secara bersamaan. Tetapi, bukanlah berarti tidak bisa, bukan?[ebp]

* X.L. Effendi Budi P. adalah seorang public speaker dan penulis buku Branding You with Your Smile dan Rahasia Sukses Membangun dan Mengelola Bengkel/Toko Spare Parts Motor. Pendiri GroEdu yang bergerak di bidang konsultansi bisnis dan pelatihan.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 4.0/10 (2 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +1 (from 1 vote)

5 Responses to “Meraup Kekayaan Lahir dan Batin”

  1. Tresno Budiyanto Says:

    kisah perjalanan hidup yang luar biasa dan menantang, meyakinkan org sbg pemilik modal untuk percaya dan mau ikut sdh sbg point tersendiri.

    UN:F [1.6.9_936]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    UN:F [1.6.9_936]
    Rating: 0 (from 0 votes)
  2. Daance Wetik Says:

    Sangat inspiratif n perlu dicontoh. Bravo !!!

    UN:F [1.6.9_936]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    UN:F [1.6.9_936]
    Rating: 0 (from 0 votes)
  3. R. Lilik Siswanto Says:

    Membaca kisah yang mengharukan sekaligus menakjubkan ini, mengingatkan dan meneguhkan saya pada satu pesan istimewa dari Yesus. Pesan istimewa bagi murid-murid-Nya bagaimana rahasia mendapatkan materi. “Carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semua itu (materi) akan ditembahkan kepadamu.” Pak Liang telah membuktikan kebenaran Sabda Yesus tersebut. Siapa selanjutnya yang mau membuktikan?

    UN:F [1.6.9_936]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    UN:F [1.6.9_936]
    Rating: +1 (from 1 vote)
  4. siswoto Says:

    Dalam situasi normal, bekerja dengan baik sudah cukup. Tetapi dalam situasi berat, bekerja sebatas baik menjadi belum cukup, harus benar-benar bergumul untuk meraih performance yang superior: better quality - cheaper price - dan faster response time. Dengan mulai berhasilnya kembali Pak Liang, mudah-mudahan tidak kembali melunturkan spiritualitas beliau karena spiritualitas merupakan tiang-peneguh, cahaya-penuntun, dan sais-kendali diri ketika menghadapi beban ataupun cobaan. Kisah yang bagus dan amat manusiawi, salut untuk Penulisnya.

    UN:F [1.6.9_936]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    UN:F [1.6.9_936]
    Rating: 0 (from 0 votes)
  5. siswoto Says:

    Dalam situasi normal, bekerja dengan baik itu sudah cukup. Tetapi dalam situasi berat, bekerja sebatas baik, menjadi belum cukup. Harus superior yaitu menyuguhkan: better quality - cheaper price - dan faster response time. Itulah mungkin yang ada di benak dan langkah dari Pak Liang. Selamat atas kebangkitan kembali dari Pak Liang [jangan luntur lagi spiritualitasnya, ya Pak], dan salut untuk Penulis kisah ini.

    UN:F [1.6.9_936]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    UN:F [1.6.9_936]
    Rating: +2 (from 2 votes)

Leave a Reply

Comment moderation is enabled. Your comment may take some time to appear.

Motivasi Dunia

Motivasi Dunia

Kolomnis

<
Edy Zaqeus Eni Kusuma Avanti Fontana Alexandra Dewi Miranda Suryadjaja Sofa Nurdiyanti
Anang Y.B. Hartati Nurwijaya Aleysius H. Gondosari Sulmin Gumiri Relon Star Sri Budiastuti
Agus Riyanto Iftida Yasar Fida Abbott Ery Prasetyawan Tanenji Ingrid Gunawan
Maria Saumi Ely Susanti Agung Praptapa Putu Adnyana Fita Irnani Nathalia Sunaidi
M Sebastian Wijaya Abdul Muid Badrun Kak Sugeng Akhmad Sirodz Lisa Nuryanti Abidin Noor
Wuryanano Petriza Giovanni Amelia Devina Tri Wahyuni Endang Setyati Vina Tan
Lianny Hendranata Emmy Angdyani Erawati E. Setyo Hartono Fatma Kartika Sari Supandi Radinal Mukhtar Harahap
Sawali Tuhusetya Gatut Heru Susanto Effendi Budi P. Fajar S. Pramono Ade Asep Syarifuddin Melly Kiong
Guntur Novizal Ida Rosdiana Natapermadi Risfan Munir Sri Julianti Sawiji Farelhana Dewi Rhainy
Deni Kurniawan As’ari Johanes Ariffin Wijaya Indari Mastuti Enggar Kusumaningsiwi Daniel Kurniawan Sayuri Yosiana
A.A. Kunto A. Lina Kartasasmita K. Hanna Fransisca Wahidunnaba Yusuf Tantowi Dwiatmo Kartiko
Meta Sekar Puji Astuti M. Adi Prasetyo Abd. Basid Lily Choo Rina Dewi Lina Berny Gomulya
Zee Cardin M. Iqbal Dawami Sidik Nugroho Emmy Liana Dewi Ridwan Sumantri Dwiyana Apriandini
Andrew Abdi Setiawan Gobind Vasdhev J. I. Michell Suharli Yusnita Rifai Gagan Gartika

Check Google Page Rank

Buku Baru

Obrolan yang Bikin Kamu kaya

Judul: Obrolan yang Bikin Kamu kaya
Oleh: Don Gabor
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama, 2009
ISBN: 978-979-22-5073-2
Tebal: xviii + 380 hal

Jangan hanya membangun jejaring luas-berjejaringlah dengan cerdas!
Obrolan yang Bikin Kamu Kaya menyajikan pendekatan baru revolusioner pada topik berjejaring yang tak lekang waktu. Penulis buku laris dan pelatih komunikasi Don Gabor memperkenalkan Anda pada empat gaya berjejaring—Kopetetif, Supel, [...]

Full Story | February 24th, 2010

Best Viewed With Mozilla FireFox