Menyeruput Kopi Dapat Uang Rp 1 Miliar
Editor | Kolom Lepas | August 18th, 2009
Oleh: Rina Dewi Lina*
Ada beberapa hal yang tidak bisa saya hindari sehingga saya harus sering pergi ke kafe. Pekerjaan saya yang membuat harus bertemu klien atau teman di kafe saat pulang dari kantor. Paling kesal kalau terburu-buru sehingga jalannya juga terburu-buru. Begitu sampai kafe, napas sudah ngos-ngosan, terasa haus jadinya. Begitu duduk langsung pelayannya menyodorkan menu. Karena haus, jadilah pesan air mineral dan kopi. Karena terasa lapar, akhirnya pesan makanan juga.
Setelah selesai, duh… nyesek benar lihat air mineral harganya di atas Rp 15.000, kopi yang harganya Rp 25.000, plus makanan yang saya pesan—walau enggak kenyang dan rasanya juga tidak terlalu enak—Rp 40.000. Ditotal plus PPN yang harus dibayar jadilah Rp 88.000. Wuih… hampir Rp 100.000! Ini harus disiasati sebab mampir di kafe untuk urusan bisnis. Tetapi, bagaimana caranya?
Indi, anak saya yang kecil sekarang ini kelas IX. Jatah uang tambahan malam minggunya hanya sebulan dua kali, itu pun hanya Rp 50.000. Sedangkan tempat dia bermain dengan temannya adalah di Citos (Cilandak Town Square). Yang membuat saya heran, dia masih bisa pergi nonton dan makan dengan uang sebesar itu.
Suatu hari, saya mengobrol dengan Indi. Sering Indi cerita ditraktir temannya sehingga dia bisa nonton bioskop sampai dua kali. Saya tanya, “Ke mana saja kalau pergi malam minggu? Kok uangnya bisa cukup? Kan enggak mungkin kalau ditraktir terus-terusan.”
Jawabannya bikin saya ketawa dan membuat saya sadar dan berpikir keras. Tetapi, ini dialog saya dengan Indi.
“De, kok bisa cukup uang yang dikasih Mama, kan kalau makan sama minum di Citos mahal?! (Indi makannya banyak, bisa nambah tiga kali karena dalam masa pertumbuhan)”
“Ya, Mama… uang yang dikasih Mama kan sedikit. Jadi Ade (nama panggilan akrab di rumah) kalau makan, ya di depan Citos…!”
Saya bingung, “Di depan Citos mana?”
“Di depannya… ke sebelah samping sedikit… di pinggir jalan.”
Hahaha…. Saya tertawa mendengarnya. Ternyata anak saya pandai mengatur uang sakunya. Jadi, kalau dia pergi makannya tidak di restoran tetapi “di luar restoran”. Lalu, kalau harus beli air mineral ya dia beli ke supermarket.
Tanpa sengaja ilmu itu saya dapatkan dari anak saya sendiri. Sekarang, kalau saya harus pergi bertemu klien atau teman di kafe, kalau lapar saya makan dulu untuk mengganjal perut dengan membeli makanan di supermarket atau tempat makan lainnya. Saya juga selalu membawa minum air putih di dalam tas. Kalau tidak terpaksa saya tidak pesan makanan dari kafe. Selain harganya mahal, rasanya pun kurang enak. Makanya, kalau ke kafe saya hanya pesan kopi atau minuman satu jenis saja. Lumayan, ternyata bisa menghemat Rp 50.000 setiap bertemu klien atau sedang melobi.
Nah, kalau seminggu saja saya bisa berhemat Rp 100.000, berarti sebulan bisa hemat Rp 400.000. Apabila setiap bulan saya investasikan di reksadana dengan hasil investasi 30 persen selama 10 tahun, dan 5 tahun kemudian hasil investasinya menjadi Rp 1,1 miliar. Wah, sekarang saja saya enggak punya uang sebanyak itu.
Ternyata, bila kita bisa berhemat tanpa menurunkan gaya hidup dan dapat menempatkan pada instrumen investasi yang tepat, secara tidak sengaja kita sudah merencakan kaya dimasa tua.[rdl]
* Rina Dewi Lina M.M., C.F.P., adalah seorang trainer, konsultan, dan perencana keuangan. Sarjana Fisip Universitas Jayabaya dan peraih gelar Magister Manajemen Marketing dari PPM Institute of Management, Jakarta ini juga menekuni profesi sebagai agen sebuah perusahaan asuransi. Rina tinggal di Tangerang dan dapat dihubungi melalui telepon: 021-93667942, 0812-909-1432.

August 18th, 2009 at 2:51 pm
Resep yang simpel dan mudah diterapkan yaa….
August 20th, 2009 at 10:19 am
He he, ada pepatah yang sering saya dengar, “lihatlah apa yang diucapkan, jangan melihat siapa yang mengucapkan.”
Puteri Bu Rina hebat…
August 20th, 2009 at 1:50 pm
Very simple recipe.Sejujurnya resep sederhana ini sdh lama saya lakukan juga.Tp mengingat profesi mbak sbg konsultan dan perencana keuangan, rasanya harus tau dr dulu..hehe…Boleh ya dikritisi!Thankiu
^_^
August 20th, 2009 at 9:26 pm
Profesi sebagai perencana keuangan baru saja tahun ini, tulisannya dibuat 1 tahun lalu, anak saya sekarang kelas X.
August 23rd, 2009 at 2:00 pm
ha..ha..ha.. bagus dan lucu mbak, simple dan mengena sekali…. si Indi calon enterpreneur kayaknya…..
August 24th, 2009 at 6:25 am
Hai Mba Miranda, iya mudah2an Indi jadi enterpreneur, jadi pegawai buat belajar aja.
August 24th, 2009 at 2:39 pm
Salam kenal mbak Rina.
Anak-anak emang cerdik kalau hafal medan tempurnya, hehehe. Tapi, bagi beberapa kalangan yang memang lingkup pekerjaannya dipaksa untuk meng’entertaint’ client, tentunya ada budget tersendiri yang dianggarkan oleh perusahaan.
Sayangnya jika biaya entertaint harus ditanggung oleh pribadi masing-masing, masih mungkinkah jika si client kita pesankan kopi sementara kita sendiri cukup minum bekal air putih ? karena dalam me-loby, tdk mungkin kita hanya pinjam tempat duduk tanpa pesan apa-apa kan yah ?
August 27th, 2009 at 3:10 pm
Salam kenal juga, seperti yang saya tuliskan diatas, saya tetap pesan kopi, tanya hanya 1 cangkir. Ketika saya datang ketempat dan merasa haus, saya membeli dulu minuman aqua untuk menghilangkan haus di pasar swalayan, atau apapun. Sehingga ketika di kafe, betul2 saya hanya menggunakan fasilitas kafe untuk berbisnis.