Menyembuhkan Indonesia
Editor | Kolom Lepas | June 22nd, 2009
Oleh: Nathalia Sunaidi*
Hari ini saya bersama para graduates pelatihan Becoming Hypnotherpist Batch 2 mendatangi Panti Asuhan Chandranaya di Bogor. Saya mendampingi para graduates untuk melakukan praktik hypnotherapy langsung kepada anak-anak di panti. Begitu kami datang, puluhan anak panti yang berusia antara tujuh sampai belasan tahun sudah berkumpul.
Saya membuka sesi praktik ini dengan membawakan pre-talk tentang alam bawah sadar. Tentang bagaimana alam bawah sadar berisi memori-memori, pengalaman hidup, mulai dari janin sampai sekarang. Di dalamnya juga tersimpan berbagai emosi yang ter-attach di setiap pengalaman tersebut; luka batin, kesedihan, kekecewaan, ketakutan, dendam, kemarahan, dll. Emosi-emosi negatif tersebut menjadi penghambat keberhasilan dan penyebab rasa tidak bahagia dalam hidup.
Setelah pre-talk, saya bertanya, “Siapa sekarang yang mau diterapi untuk melepaskan emosi negatif?” Luar biasa, semua anak mengangkat tangan. Sampai-sampai anak-anak yang masih SD juga angkat tangan.
Saya berikan briefing singkat kepada para graduates yang akan praktik, jika kasus ringan pakai saja Hypno-NLP yang saya ajarkan. Tetapi kalau berat pakai Wisdom Therapy–sebuah set hypnotherapy sistematis yang saya ciptakan. Pada momen itu kami mengira bahwa kami akan mendapatkan kasus-kasus phobia ringan atau meningkatkan kualitas belajar. Namun, setiap sesi terapi adalah kejutan yang tidak pernah terduga. Ternyata, di hari itu para graduates mendapatkan kasus-kasus yang berat dan mengharukan. Hampir semua hypnotherapist (para graduates) juga ikut meneteskan air mata saat menerapi anak-anak panti tersebut. Dan luar biasa, para graduates menanganinya dengan tuntas dan excellent!
Kami tidak mengira betapa pilunya penderitaan para anak panti tersebut. Mereka ternyata kebanyakan korban kerusuhan Timor-Timur, di mana mereka melihat langsung pembunuhan keluarga mereka. Juga sebagian di antaranya adalah anak-anak korban gempa Nias, dan banyak anak yang menderita luka batin karena merasa dibuang oleh orang tua mereka.
Cool, pikir saya di dalam hati ketika saya mengetahui kisah para anak panti tersebut dari pengasuhnya. “Ini akan menjadi sesi praktik yang seru dan pengalaman pembelajaran yang berharga untuk para graduates.”
Para graduates langsung memasuki ruangan-ruangan yang telah disediakan dan siap menangani klien muda mereka. Ternyata benar, mereka mendapatkan klien-klien dengan abreaction (pelepasan emosi) yang dahsyat. Para klien (anak-anak panti) menangis dan berteriak dengan pilu sampai memukul-mukul bantal untuk melepaskan perasaan sedih yang mendalam. Sampai-sampai saya dan para graduates ikutan menangis saat melakukan terapi tersebut. Tidak tahan, tangisan pilu mereka sungguh-sungguh menyayat hati.
Yang lebih menyentuh hati lagi, para anak panti tersebut mengantri menunggu giliran terapi. Begitu yang satunya selesai, dengan cepat mereka langsung memasuki ruangan kamar terapi dan berdiri dengan manis menunggu diterapi. Pada momen itu saya sangat terharu. Mereka tentunya telah lama menanti momen ini untuk melepaskan kesedihan mereka.
Saya bertanya kepada anak-anak panti yang sedang menenunggu giliran terapi, “Kamu kalau ada masalah cerita sama siapa?”
“Tidak cerita ke siapa-siapa. Masalah apa pun disimpan di sini (sambil mereka menunjuk hati mereka),” jawab mereka.
“Kasihan sekali,” pikir saya dalam hati.
Hari telah sore, jadi kami harus mengakhiri sesi terapi. Masih banyak anak panti yang belum kedapatan giliran terapi. Mereka bertanya kepada saya dan para graduates, “Kalian besok datang lagi, kan?” Kami terharu sekali. Memang besok akan dilanjutkan oleh group graduates lainnya untuk menyelesaikan deretan klien muda kami.
Beberapa orang bertanya kepada saya, “Nath, apa yang membuat kamu rutin mengadakan training Becoming Hypnotherapist 100 Jam?”
Saya selalu menjawab, “Saya mau menciptakan banyak hypnotherapist yang melakukan terapi. Indonesia sangat membutuhkan banyak hypnotherapist yang bisa melepaskan luka batin dan permasalahan hidup mereka!”
Sedikit sekali lulusan hypnotherapy yang ada mau atau bisa melakukan terapi. Lebih banyak dari mereka, begitu selesai training hypnosis, langsung terjun membuat training hypnosis atau hypnotherapy lagi. Mereka mengajarkan orang-orang menjadi hypnotherapist dalam training dua atau tiga hari. Tetapi, jarang yang benar-benar “jadi” hypnotherapist yang menangani langsung kasus klien.
Hal itu membuat saya bertanya-tanya–jika mereka tidak membuka terapi yang menangani antrian klien–bagaimana mereka bisa mengajarkan pengalaman-pengalaman hypnotherapy kepada para muridnya? Jadinya hanya seperti teori yang diteruskan dari mulut ke mulut tanpa adanya pengalaman keberhasilan pribadi. Karena itu, saya membuat training Becoming Hypnotherapist 100 Jam di mana saya sharing-kan semua pengalaman hypnotherapy saya selama bertahun-tahun dengan ribuan klien.
Para graduates Becoming Hypnotherapist saya persiapkan sungguh-sungguh untuk bisa langsung terjun terapi, bahkan di hari kelulusan mereka. Karena di training Becoming Hypnotherapist isinya adalah 80 persen praktik langsung dan 20 persen teori. Saya ajarkan mereka Wisdom Therapy yang saya buat berdasarkan pengalaman terapi ribuan klien. Tujuannya supaya mereka bisa dengan mudahnya langsung terjun untuk terapi menggunakan prosedur yang sudah tersistemasi. Dan, para graduates dari batch 1 dan 2 bisa melakukan sesi hypnotherapy untuk menolong klien melepaskan problem mereka dengan mudah, seolah sudah sangat alami melampaui imajinasi saya. Excellent!
Hypnotherapy adalah salah satu alat dari berbagai alat yang bisa kita gunakan untuk menolong orang lain. Dalam sebuah sesi menemukan misi hidup dengan peserta training, seorang peserta mengatakan misi hidupnya kali ini adalah untuk menolong banyak orang. Dan, hypnotherapy adalah alat untuk melakukan misi tersebut.
Hypnotherapist adalah salah satu profesi yang bisa menolong orang lain. Sebagian murid saya menjadi hypnotherapist sebagai back-up profesi andaikan suatu hari mereka harus keluar dari perusahaannya. Sebagian untuk bisa menolong orang-orang tercinta mereka–istri/suami, anak-anak, keluarga, dan sahabat. Ada yang anggota LSM dan organisasi sosial yang menggunakan hypnotherapy untuk menangani para korban kekerasan atau pelecehan. Atau, para ibu dan ayah yang mau membesarkan anak-anaknya dengan hypnosis, memasukkan program-program keberhasilan dan melepaskan blok-blok mental para anaknya sedini mungkin (saya sebut mereka “Mom/Dad the Hypnotherapist”). Kebanyakan, mereka ingin menggunakan hypnoterapy sebagai sarana untuk menolong sesama, seperti yang kami lakukan di Panti Asuhan Chandranaya.
Jika ada lagi yang bertanya kepada saya, “Mengapa kamu terus mendidik orang-orang menjadi hypnotherapist?” Saya akan jawab, “Karena ada banyak anak dan orang yang menunggu untuk diterapi demi melepaskan luka batin dalam hidup mereka.” Seperti anak-anak panti yang hari itu kami terapi.
Murid saya, yang menjadi koordinator praktik sesi hypnotherapy di Panti Asuhan Chandranaya , mengatakan banyak antrian panti asuhan yang mengundang kami untuk melakukan terapi pelepasan luka batin anak-anak yatim piatu. Indonesia membutuhkan banyak hypnotherapist!
Dalam obrolan saya dengan Ayah Edy, dia menceritakan bagaimana dia membuat “Strong from Home”. Ayah Edy mengatakan kepada pemilik radio Smart FM, “Apakah Anda tahu bagaimana membangun Indonesia? Saya tahu! Mulailah dari rumah.” Itulah alasan dibuat programnya di Smart FM. Maka, saya pun menanyakan kepada Anda, “Apakah Anda tahu bagaimana menyembuhkan Indonesia? Saya tahu! Mulailah dari alam bawah sadar. Lepaskan emosi-emosi negatif; berbagai lukan batin, kepiluan, kebencian, dendam, amarah, sakit hati. Maka, Anda telah menyembuhkan sebuah kehidupan yang sangat berharga.”
Itulah alasan saya terus belajar menjadi hypnotherapist yang andal dan terus membagikan semua pengetahuan hypnotherapy saya kepada para murid dengan program free life-time resit. Saya ingin mengantarkan orang-orang menjadi hypnotherapist yang melakukan hypnotherapy andal untuk menyembuhkan Indonesia![ns]
* Nathalia Sunaidi, C.Ht adalah seorang hypnotherapist, Direktur Nathalia Institute, dan penulis buku laris Jurney to My Past Live. Ia dapat dihubungi melalui web-nya: http://www.nathaliainstitute.com

June 26th, 2009 at 3:27 pm
Sungguh Luar Biasa .Bangsa ini memang dipenuhi berbagai “kepahitan” dan perlu penyembuhan . Sungguh visi yang besar, dan harus di dukung. Tq Mbak NS