Menyalahkan Orang, Hobi Kejiwaan yang Tak Diakui
Editor | Kolom Lepas | October 13th, 2009
Oleh: Lianny Hendranata*
Banyak hobi yang bisa membuat bahagia dan bangga orang yang mengklaimnya. Seperti hobi membaca, olahraga, mendesain, masak, dan masih banyak lagi hobi yang panjang sekali ragamnya jika dituliskan di sini. Tetapi, dari sekian banyak hobi yang kita akui, ada hobi yang tidak pernah kita akui baik secara tertulis maupun lisan, yaitu hobi menyalahkan orang atau pihak lain. Ternyata, penganut hobi yang tidak diakui oleh diri si empunya hobi ini, banyak jumlahnya.
Coba kita lihat tayangan televisi atau koran, mulai dari menyalahkan orang lain yang buang sampah sembarangan dan menjadi penyebab banjir. Bahkan menyalahkan alam yang tidak becus mengatur iklim. Kita mengklaim diri sebagai yang selalu benar, yang salah sih orang atau pihak lain.
Suatu kesan di mana banyak orang terjebak kebiasaan yang akhirnya menjadi kesukaannya. Sebagai hobi tak terakui, bahwa dirinya selalu menyalahkan orang lain terutama untuk hal yang tidak mengenakkan yang terjadi pada dirinya. Mungkin sulit ditemui seseorang yang mau mengakui dan mengatakan hobi saya adalah “menyalahkan diri saya sendiri, jika didapat hal yang tidak enak atau tidak diharapkan terjadi pada saya!”
James Salam, pengamat sosial berlatar belakang personal manager di perusahaan multinasional Belanda—yang bergerak dalam pelatihan interaksi personal dengan konsep Inspirasi Manajemen—mengamati tingkah laku orang dalam bersosialisasi, interaksi relasi, adaptasi dengan pasangan baru, atau tempat kerja baru. Dalam sebuah kesempatan wawancara dengan saya James mengatakan, “Banyak orang selalu menempatkan dirinya sebagai ’sentral’, minta diperhatikan. Sementara, masalah orang lain dimasabodohkan dan senangnya menempatkan diri dalam posisi menjadi ‘korban’’ dalam banyak situasi lingkup sosial relasi.”
Dengan mengatakan hal ini, bisa saja diri kita sendiri terjebak dalam pepatah: “Satu jari menunjuk hidung orang lain, maka keempat jarimu menunjuk hidung sendiri!”
Sebagai contoh, kita melihat cerita ilustrasi soal seseorang yang mau menjadi pendonor ginjal. Dengan segala niat tulus orang tersebut memakai uangnya sendiri untuk membayar segala pemeriksaan medis dan lainnya sebagai persiapan menjadi donor. Setelah semua pemeriksaan selesai dilakukan, didapat kenyataan bahwa dia tidak memenuhi standar kesehatan untuk menyumbangkan sebuah ginjalnya. Dan, pihak calon penerima donor tidak mau tahu masalah keuangan yang sudah terlanjur dikeluarkan. Dengan dalih “Salahmu sendiri kenapa punya ginjal tidak sehat?” maka proses pendonoran tidak bisa dilakukan. Dan, kenyataannya, “Saya tetap hidup dengan ginjal sendiri, bukan dengan ginjalmu!”
Nah, melalui cerita ilustrasi ini kita bisa menilai sikap “menyalahkan orang lain” atas apa yang tidak enak terjadi pada kita.
Salahkan vs. Syukuri
Daripada kita terjebak hobi “menyalahkan pihak/orang lain” mungkin kita bisa ambil jalan bijaksana berikut. Jika dalam perjalanan hidup kita berinteraksi—ketika kita menginjak kerikil tajam yang melukai diri kita—daripada kita menyalahkan kerikil tajam yang menyakiti kita, lebih bijaksana kalau kita berpikir, “Syukur kerikil ini terinjak sekarang sehingga kita bisa melangkah lebih hati-hati dalam meneruskan perjalanan relasi ini.”
Di bawah ini saya ajak pembaca—dengan seizin penulisnya yang tidak mau dituliskan namanya—untuk membaca kisah ilustrasi bagus tentang hobi tak diakui, yaitumenyalahkan orang lain. Suatu malam, seorang wanita sedang menunggu keberangkatannya di bandara dengan sisa beberapa jam sebelum jadwal keberangkatannya tiba. Untuk membuang waktu, ia membeli buku dan sekantong kue di salah satu toko di bandara itu, lalu menemukan tempat untuk menikmati kue dan membaca bukunya. Dalam keasyikannya, ia melihat seseorang di sebelahnya. Dengan begitu berani orang itu mengambil satu-dua kue yang berada di antara mereka berdua. Wanita itu berusaha mengabaikan agar tidak terjadi keributan.
Dia membaca, mengunyah kue, dan melihat jam. Sementara, “si pencuri” kue yang pemberani itu menghabiskan persediaan wanita tadi. Wanita itu semakin kesal sementara menit-menit berlalu. Ia sempat berpikir, “Setiap aku mengambil satu kue, orang ini juga mengambil satu.” Ketika hanya satu kue tersisa, ia bertanya-tanya dalam hati: “Sekarang, apa yang akan dilakukan orang itu?”
Dengan senyum tawa di wajahnya dan tawa gugup, si orang itu mengambil kue terakhir dan membaginya menjadi dua. Orang tersebut menawarkan separuh miliknya sementara ia makan yang separuhnya lagi. Dan, dengan kasarnya wanita itu merebut kue tadi tanpa sedikit pun terbesit perasaan berterima kasih. Belum pernah rasanya ia begitu kesal dalam situasi seperti itu.
Dia menarik napas lega saat penerbangannya diumumkan. Dia mengumpulkan barang miliknya dan menuju pintu gerbang. Ia menolak menoleh pada “si pencuri yang tak tahu terima kasih itu. Ketika sudah di dalam pesawat dan duduk di kursinya, ia berusaha mencari buku yang hampir selesai dibacanya. Saat ia merogoh tasnya, ia menahan napas dengan kaget. Di situ ada sekantong kue. “Kok milikku ada di sini?” tanyanya dalam hati.
Jadi, kue tadi ternyata milik orang itu dan ia mencoba berbagi dengannya. Terlambat sudah baginya untuk meminta maaf. Sebegitu malunya wanita itu hingga ia tersandar di bangku pesawat sambil mengingat perilakunya yang buruk terhadap orang tadi.
Sesungguhnya, dialah yang kasar dan tidak tahu berterima kasih. Dialah sesungguhnya pencuri kue itu. Dalam hidup ini, kisah “si pencuri kue” seperti itu sering sekali terjadi. Kita sering berprasangka buruk dan melihat orang lain dengan kacamata kita sendiri. Orang lainlah yang selalu salah, patut disingkirkan, tak tahu diri, berdosa, selalu bikin masalah, dan pantas diberi pelajaran. Padahal, kita sendiri yang mencuri kue tadi, kita sendiri yang tidak tahu berterima kasih. Kita sering memengaruhi, memberi komentar, mencemooh pendapat, memberi penilaian negatif, mencela gagasan orang lain, sementara sebetulnya kita tidak tahu betul duduk permasalahannya.
Alam memang memberikan kita akal budi untuk berpikir, tetapi bukan berarti setiap masalah harus diselesaikan dengan mengandalkan akal budi semata. Kita harus memahami apa yang ada di depan mata, menyadari situasi dan kondisi yang ada, yang sering kali sulit dapat
dimengerti melalui akal budi. Setiap penyesalan tidak akan pernah terjadi di awal dan kita tidak akan pernah bisa memutarnya kembali seperti jam demi jam. Waktu sudah terbuang percuma dalam perjalanan hidup ini. Demikian juga ulah wanita dalam kisah di atas. Bagaimana dia bisa menemukan orang yang sudah dia salahkan, bagaimana bisa menyampaikan maafnya yang menuduh orang lain yang salah?
Begitu juga dengan iklim yang sangat ekstrem yang terjadi belakangan. Dan, ini terjadi merata di seluruh permukaan bumi. Daripada kita menyalahkan si A atau si X, lebih baik kita bersyukur bahwa alam sudah memberi kita peringatan sedini mungkin. Bahwa, kelakuan manusia terhadap alamnya sudah harus diperbaiki. Maka, pencegahan-pencegahan dan sosialisasi tentang bahaya yang bisa menyebabkan timbulnya bencana alam kehancuran dunia bisa dilaksanakan. Maka, suatu kebijaksaan untuk segera membenahi dan memberi perlakuan yang nyata; bahwa dunia seperti apa yang akan kita wariskan kepada generasi selanjutnya untuk mereka tempati?
Kita memang hanyalah manusia yang tidak sempurna. Pepatah mengatakan “tidak ada gading yang tidak retak”. Tetapi, hobi tak terakui yang kita punya—yaitu senang menyalahkan orang atau pihak lain yang tidak mau terjadi pada kita—adalah suatu hobi yang perlu terus kita awasi. Kita juga harus terus berlatih untuk mengikisnya agar jiwa kita tidak menjadi penganutnya yang setia.[ln]
* Lianny Hendranata adalah penulis enam buku kesehatan, kolomnis harian Suara Pembaruan, majalah Wanita & Kesehatan, portal Okezone.com, dan majalah Indonesie yang terbit di Belanda. Selain itu, ia adalah seorang pembicara seminar, instruktur healing energy, trainer autohipnosis, konsultan kesehatan energi aura dan cakra, instruktur kesehatan dan kecantikan dengan metode Tai Chi, sekaligus Direktur Srikandi Internusa dan Inspiration Centre. Ia dapat dihubungi melalui pos-el: ray_and_mel[at]hotmail[dot]com.

Leave a Reply