Menulislah dengan Sepenuh Jiwa
Editor | Kolom Tetap | August 25th, 2009
Oleh: Sofa Nurdiyanti*
Ada banyak alasan mengapa seseorang bisa tersihir oleh sebuah kalimat dari buku, nasihat orang lain maupun dari pidato yang menggugah… Dan, satu-satunya alasan masuk akal yang dapat saya pikirkan saat ini adalah karena setiap kata mempunyai jiwa…
“Setiap kata mempunyai jiwa” merupakan sebuah kalimat yang saya baca dari sebuah buku tentang penulisan diksi dan gaya bahasa. “Layaknya manusia, setiap kata mempunyai jiwa.” Saya sempat termenung saat membaca kalimat ini. Saya merasa kalimat ini penuh inspirasi. Saya pun merasa mendapat jawaban yang tepat atas pertanyaan mengapa sampai ada begitu banyak orang tergugah dan berubah karena sebuah buku.
Susunan kata yang terangkai dalam sebuah kalimat—jika disusun dengan bahasa yang mudah dimengerti, diberi semangat, dan disuntikkan energi positif—saya rasa akan memiliki jiwa yang utuh, layaknya manusia. Itu bisa kita lihat contohnya dalam buku-buku fenomenal saat ini, seperti The Secret, La Tahzan, novel Ayat-ayat Cinta, dan buku-buku pengembangan diri lainnya yang menjadi bestseller.
Salah satu penulis yang saya sukai sedari saya kecil adalah Dale Carniege. Saya tidak pernah bosan membaca bukunya yang cukup tebal itu. Saya merasa bukan lagi membaca, tetapi seolah Dale Carniege sendiri yang menuturkan isi bukunya kepada saya. Gaya bahasa dan penuturannya yang khas membuat saya merasa mengenal dirinya dan mampu merasakan semangat yang ada pada setiap kalimatnya. Kata-katanya mempunyai jiwa yang mampu saya rasakan, walaupun hanya lewat tulisan sederhana. Saya merasa berdialog dengan Dale Carnegie sendiri.
Saya pernah membaca sebuah buku tentang kiat menulis, bahwa rahasia penulis bestseller adalah tetap berlatih menulis setiap hari dan selalu meluangkan waktu khusus untuk menulis. Penulis yang sudah terkenal sekalipun melakukan hal tersebut. Mengapa? Apalagi jika bukan untuk melatih tulisan supaya semakin berbobot dan tetap eksis di dunia kepenulisan. Mereka menulis dan terus menulis, selama bertahun-tahun, tanpa mengenal rasa bosan. Aktivitas itulah yang kemudian mampu menghadirkan ”jiwa” pada setiap tulisan mereka. Tulisan mereka dinanti, diikuti, dan mampu mengubah hidup jutaan manusia.
Soal seruan menekuni aktivitas menulis ini, kadang memang sangat bertentangan dengan banyaknya alasan yang dikemukakan oleh orang yang enggan menulis. Segudang alasan itu dijadikan sebagai benteng yang kokoh untuk membuktikan betapa tidak mampunya seseorang itu dalam menulis. Ini membuat saya geli sendiri hehehe… Sesungguhnya, kita sudah belajar menulis selama bertahun-tahun. Bahkan, hampir sepertiga umur manusia rata-rata dilibatkan dalam kegiatan tulis-menulis. Sejak kecil dan masuk sekolah dasar, kita sudah belajar menulis dan membaca. Menulis dari hal yang sederhana “Ini Budi” sampai kemudian mulai merangkai cerita singkat tentang pengalaman berlibur di rumah nenek, dst.
Kita belajar menuliskan berbagai teori dan pelajaran yang diterima di sekolah. Kita juga belajar menulis dan merangkai jawaban untuk setiap ujian yang kita tempuh. Kita membaca, menulis, dan berpikir selama bertahun-tahun. Alhasil, kemampuan kita dalam menulis meningkat seiring dengan banyaknya kosa kata yang kita kenal serta ilmu yang kita miliki.
Sungguh itu semua merupakan pengalaman yang luar biasa. Kita terus menulis selama bertahun-tahun. Namun kemudian, mengapa kita menjadi antipati ketika diminta menulis? Apa yang terjadi sebenarnya? Bagaimana kita bisa mengklaim diri sendiri tidak mampu menulis setelah bertahun-tahun “bersahabat erat” dengan aktivitas menulis?
Menurut saya, kita tidak perlu mengeluarkan uang jutaan rupiah untuk belajar menulis. Karena, kita sudah belajar menulis selama bertahun-tahun. Saya tidak sedang membujuk Anda untuk tidak kursus menulis secara profesional karena saat ini memang banyak kita temukan berbagai program pelatihan menulis. Anda tentu boleh melakukannya, karena itu hak Anda. Namun, jika ada sarana belajar gratis, mengapa tidak Anda lakukan?
Tiket yang perlu Anda keluarkan hanya satu: Ketekunan berlatih dan terus berlatih menulis. Saya rasa, kursus menulis yang Anda ikuti saat ini pun akan menjadi tidak berarti jika Anda berhenti berlatih menulis.
Setiap orang bukan mustahil untuk membuat kalimat yang memiliki jiwa. Apa pun pesan yang ingin Anda sampaikan dalam bentuk kalimat, tuliskanlah segera. Jangan khawatir pesan itu terasa belum sempurna. Melatih diri sendiri dengan tekun, belajar, dan mendengarkan pandangan orang lain adalah sarana belajar untuk menyempurnakan kalimat-kalimat tersebut.
Setiap ide adalah harta tak ternilai bagi kita semua. Semua ide bisa menjadi brilian jika kita mampu menerjemahkan ide mentah tersebut dalam rangkaian kata yang jelas. Ide brilian pun tidak akan berguna jika menguap begitu saja alias tidak tersampaikan kepada orang lain.
Banyak sekali keajaiban yang akan muncul jika setiap orang mau menuliskan idenya. Ahli akuntan menulis tentang terobosan dalam bidang akuntansi; direktur menuliskan pengalamannya memimpin perusahaan selama beberapa dekade; petani menuliskan pengalaman bertaninya, psikolog berbagi penyelesaian masalah masyarakat; guru berbagi pengalaman mengajar yang efektif; bahkan mahasiswa indekos menuliskan segala pernak-pernik kehidupan anak kos. Semua ide yang dituliskan itu bisa punya pengaruh atau bahkan menjadi kajian baru di bidang masing-masing.
Tidak peduli kemampuan menulis Anda saat ini sampai di mana, pokoknya beranikan diri untuk segera menulis. Ciptakan jejak kehidupan Anda lewat karya tulis. Tidak peduli pokok pikiran Anda terkesan kacau dan belum tersusun dengan baik. Saya sarankan sekali lagi, segera menulis sekarang! Latihan secara intensif akan sangat membantu Anda dalam menuangkan gagasan. Karena, jiwa Anda akan masuk dalam setiap kata-kata yang Anda buat. Pembaca tidak akan pernah bosan pada setiap tulisan Anda. Mereka akan menunggu dan mampu menyelami pesan Anda dengan sangat baik.
Berikanlah jiwa Anda pada setiap kata yang hendak Anda tulis. Berikanlah segenap kemampuan Anda dalam setiap tulisan yang Anda buat. Berikan terbaik yang bisa Anda lakukan dalam tulisan atau pesan yang Anda sampaikan. Setiap kata memiliki jiwa, ingatlah hal itu. Tanamkan di benak Anda dengan kuat, bahwa pesan yang Anda buat akan dimengerti oleh pembaca. Pesan Anda memiliki jiwa, yang tentu saja akan terbaca oleh jiwa-jiwa yang lainnya.
Apa pun profesi Anda saat ini, menulislah! Karena, karya Anda mungkin saja akan membawa banyak perubahan berarti bagi kita semua. Seperti ungkapan salah satu penulis yang saya kagumi, Muhammad Fauzhil Adhim, “Sungguh sebuah buku dapat mengubah dunia.” Setiap orang mampu menulis. Latihlah kemampuan Anda dalam menulis sampai tulisan Anda mempunyai jiwa. Jiwa yang mampu terbaca oleh jiwa lainnya. Selamat melatih kemampuan Anda dalam menulis dan temukan keajaiban yang tercipta berkat tulisan Anda. Hamasah![sn]
* Sofa Nurdiyanti adalah mahasiswa Psikologi Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta. Suka baca buku cerita, nonton kartun Detective Conan, Bintang, dan tertarik dengan bidang sejarah, arkeologi, bahasa, budaya, dan politik. Tetapi, sekarang ia lagi “nyasar” ke bidang psikologi. Nur aktif menulis di sejumlah website kepenulisan seperti AndaLuarBiasa.com, Pembelajar.com, dan AndrieWongso.com. Saat ini ia tengah semangat berlatih untuk menjadi penulis dan trainer. Nur dapat dihubungi melalui pos-el: nurrohmah_06[at]yahoo[dot]com.
August 29th, 2009 at 11:16 pm
Tulisan yang memiliki “jiwa” yang benar-benar hidup. Salut!
August 30th, 2009 at 10:43 pm
thx mbak sofa..tulisan mengajak makna jiwa ku menjadi lebih bersemangat lagi untuk menulis..
October 14th, 2009 at 6:41 pm
Agung : Maturnuwun Pak…
Anita
October 14th, 2009 at 6:44 pm
Anita : Yupz… semangat buat menulis, Hamasah!!!